08/01/2026
Kritik Utama terhadap Sistem Pendidikan: Buku ini mengkritik sekolah sebagai "candu" yang membius masyarakat, menciptakan ketergantungan pada ijazah dan seragam, sambil gagal memenuhi fungsi asli sebagai tempat belajar bebas dan menyenangkan. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah sering kali lebih menekankan kompetisi dan bisnis daripada pengembangan watak, pengetahuan, dan keterampilan.
Asal Usul dan Evolusi Sekolah: Kata "sekolah" berasal dari bahasa Yunani "skhole" yang berarti waktu luang untuk belajar, tetapi kini telah berubah menjadi institusi kaku yang menimbulkan trauma, seperti kasus bunuh diri siswa akibat ujian nasional.
Alternatif Pendidikan: Buku menyarankan pendidikan alternatif yang lebih fleksibel, seperti belajar dari kehidupan sehari-hari, tanpa seragam atau ujian ketat, untuk menghasilkan individu kreatif dan mandiri, meskipun tantangannya adalah resistensi dari sistem mapan.
Konteks Indonesia: Di Indonesia, sekolah dipengaruhi politik dan bisnis, seperti proyek buku pelajaran dan seragam, yang memperburuk ketimpangan sosial. Buku ini menekankan perlunya reformasi untuk mengembalikan pendidikan ke esensi humanis.
Nada dan Gaya: Ditulis dengan humor, satire, dan keberanian, buku ini mengajak pembaca merenung tanpa memprovokasi revolusi, tetapi mengakui kompleksitas isu pendidikan di tengah globalisasi.
Latar Belakang Buku
Buku "Sekolah itu Candu" karya Roem Topatimasang pertama kali terbit pada 1998 oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta, dan menjadi best seller dengan cetak ulang hingga edisi ke-13 pada 2018 oleh INSISTPress. Buku ini berawal dari tulisan-tulisan penulis semasa mahasiswa pada 1970-an, yang direvisi dan diterbitkan ulang pada 2010. Dengan tebal sekitar 178 halaman, buku ini menggabungkan gaya pamflet subversif dengan elemen fiksi, seperti tokoh Sukardal dari tahun 2222 yang menemukan naskah "terlarang" tentang sekolah. Pengantar oleh Roy Tjong menekankan buku ini sebagai "bacaan makar" yang menggugat kemapanan pendidikan di tengah krisis ekonomi Indonesia era 1990-an.
Struktur Buku
Buku ini terdiri dari prolog, 14 bab utama, dan epilog, yang membahas sejarah, kritik, dan alternatif pendidikan. Berikut adalah daftar isi lengkap:
Bagian Judul Halaman
Prolog Sekolah Masa Lalu 1-4
Bab 1 Sekolah: dari Athena ke Cuernavaca 5-12
Bab 2 Sekolah Disana-sini 13-30
Bab 3 Seragam Sekolah 31-38
Bab 4 Dirikanlah Sekolah 39-52
Bab 5 Sekolah dan Perusahaan 53-60
Bab 6 Sekolah Anak-anak Laut 61-70
Bab 7 Sekolah Anak Perusahaan 71-78
Bab 8 Robohnya Sekolah Rakyat Kami 79-90
Bab 9 Involusi Sekolah 91-112
Bab 10 Jalan Sekolah 113-118
Bab 11 Sekolah itu Candu 119-128
Bab 12 Selamat Tinggal, Sekolah! 129-136
Bab 13 Sekolah Sudah Mati 137-144
Bab 14 Sekolah: dari Analogi ke Alternatif 145-156
Epilog Sekolah Masa Depan 157-163
Tema Utama
Buku ini menyoroti bagaimana sekolah telah menyimpang dari makna asalnya sebagai waktu luang untuk belajar, menjadi alat kapitalisme yang menciptakan ketimpangan. Penulis, seorang aktivis, menggunakan humor untuk mengkritik tanpa menimbulkan kontroversi berlebih, sambil mengakui bahwa reformasi pendidikan memerlukan keterlibatan semua pihak.
Buku "Sekolah itu Candu" karya Roem Topatimasang merupakan karya kritik pendidikan yang ikonik di Indonesia, pertama kali diterbitkan pada 1998 oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta, dan menjadi salah satu buku terlaris dengan cetak ulang berulang kali hingga edisi ke-13 pada 2018 oleh INSISTPress. Dengan tebal sekitar 178 halaman, buku ini berawal dari kump**an tulisan penulis semasa mahasiswa pada paruh kedua 1970-an, yang ditulis sebagai pengantar diskusi kampus tentang kegelisahan terhadap dunia pendidikan. Tulisan-tulisan itu direvisi, dengan penambahan catatan kaki dan beberapa tulisan baru, hingga selesai pada 1988 dan diterbitkan ulang pada 1994 serta 2010. Gaya penulisan santai, penuh humor, satire, dan anekdot membuat buku ini mudah dibaca, meskipun isinya berani menggugat kemapanan sistem pendidikan. Buku ini digolongkan sebagai pamflet Illichian, terinspirasi dari pemikiran Ivan Illich tentang desekolahisasi masyarakat, dan dianggap sebagai "bacaan makar" yang subversif di masa krisis ekonomi Indonesia.
Narasi buku dibingkai dengan elemen fiksi: tokoh Sukardal, seorang petani dari tahun 2222, yang tanpa sengaja menemukan naskah tua berjudul "Sekolah!" di Museum Bank Naskah Nasional, diberi label "Bacaan Terlarang Golongan A" oleh Badan Sensor Nasional. Naskah ini dianggap berbahaya karena bisa memprovokasi pemikiran kritis tentang sekolah. Sukardal muncul di prolog dan epilog, sementara bab tengah fokus pada analisis faktual. Struktur buku terdiri dari prolog, 14 bab utama, epilog, indeks, dan biodata penulis, dengan total 16 bagian jika termasuk prolog dan epilog. Daftar isi mencakup topik dari sejarah sekolah hingga alternatif pendidikan, dengan ilustrasi kartun yang menambah nuansa jenaka.
Prolog: Sekolah Masa Lalu (Halaman 1-4)
Bagian ini memperkenalkan Sukardal di tahun 2222, yang menemukan naskah terlarang di museum bawah tanah. Naskah itu samar-samar, tapi judulnya "Sekolah!" membuatnya penasaran. Prolog menggambarkan sekolah sebagai institusi masa lalu yang gagal, di mana teknologi arsitektur-mutakhir seperti gedung pencakar langit (skyscraper) digunakan untuk museum naskah, tapi sekolah sendiri dianggap usang. Ini menyiapkan nada kritis buku.
Bab 1: Sekolah dari Athena ke Cuernavaca (Halaman 5-12)
Bab ini membahas asal usul kata "sekolah" dari bahasa Yunani "skhole" yang berarti waktu luang untuk belajar (leisure devoted to learning). Di Athena kuno, sekolah adalah tempat orang-orang bebas bertanya dan belajar tanpa keterpaksaan. Evolusi ke Cuernavaca, Meksiko, merujuk pada pemikiran Ivan Illich di CIDOC (Centro Intercultural de Documentaciรณn), yang mengkritik sekolah modern sebagai institusi yang membatasi kebebasan. Penulis menekankan bagaimana sekolah berubah dari kegiatan sukarela menjadi wajib, menciptakan lagu seperti "Gaudeamus Igitur" yang berarti "bersenang-senanglah selagi muda".
Bab 2: Sekolah Disana-sini (Halaman 13-30)
Membahas variasi sekolah di berbagai tempat, dari Yunani kuno hingga modern. Contoh: Di Yunani, sekolah seperti akademi Plato; di India, seperti ashram; di Cina, seperti akademi Konfusius. Penulis mengkritik bagaimana sekolah modern, termasuk di Indonesia, sering kali kaku dan tidak adaptif, seperti kasus sekolah di pedalaman yang sulit diakses. Bab ini menyoroti perbedaan antara sekolah ideal (seperti oasis atau taman) dan realitas (seperti pasar atau pabrik).
Bab 3: Seragam Sekolah (Halaman 31-38)
Kritik terhadap seragam sekolah sebagai simbol keseragaman yang membatasi individualitas. Penulis menceritakan kisah siswa yang dihukum karena jilbab atau pakaian berbeda, dan bagaimana seragam menjadi alat politik, seperti pengaruh Revolusi Iran. Ini memperburuk trauma siswa dan menciptakan konformitas paksa.
Bab 4: Dirikanlah Sekolah (Halaman 39-52)
Bab ini ironis tentang pendirian sekolah sebagai bisnis. Penulis mengkritik bagaimana sekolah dibangun untuk keuntungan, bukan pendidikan, seperti proyek buku Inpres yang sarat korupsi. Ini terkait dengan kebijakan pemerintah yang membuat pendidikan menjadi komoditi.
Bab 5: Sekolah dan Perusahaan (Halaman 53-60)
Sekolah dilihat sebagai "pabrik" yang mempersiapkan tenaga kerja untuk perusahaan. Penulis mengkritik program link and match yang gagal menghasilkan lulusan siap pakai, malah menambah pengangguran.
Bab 6: Sekolah Anak-anak Laut (Halaman 61-70)
Membahas pendidikan untuk anak nelayan atau masyarakat maritim, yang sering kali tidak relevan dengan kehidupan mereka. Penulis menyarankan pendidikan kontekstual yang menyesuaikan dengan lingkungan.
Bab 7: Sekolah Anak Perusahaan (Halaman 71-78)
Kritik sekolah elit untuk anak karyawan perusahaan, yang memperburuk ketimpangan sosial. Ini menciptakan generasi yang terbiasa dengan privilese.
Bab 8: Robohnya Sekolah Rakyat Kami (Halaman 79-90)
Potret kerusakan infrastruktur sekolah di daerah pedesaan, seperti bangunan roboh dan akses sulit, yang mencerminkan kegagalan pemerintah dalam pendidikan rakyat.
Bab 9: Involusi Sekolah (Halaman 91-112)
Menggunakan konsep involusi (kemunduran) Clifford Geertz untuk menggambarkan pendidikan yang semakin rumit tapi tidak efektif, seperti birokrasi berlebih dan kurikulum ideologis.
Bab 10: Jalan Sekolah (Halaman 113-118)
Bahas akses fisik ke sekolah, seperti jalan rusak di pedalaman, yang menghambat pendidikan.
Bab 11: Sekolah itu Candu (Halaman 119-128)
Bab inti: Sekolah seperti candu yang membius masyarakat dengan janji kesuksesan melalui ijazah, tapi menciptakan ketimpangan dan materialisme.
Bab 12: Selamat Tinggal, Sekolah! (Halaman 129-136)
Ajakan untuk meninggalkan model sekolah konvensional, menuju desekolahisasi seperti ide Illich.
Bab 13: Sekolah Sudah Mati (Halaman 137-144)
Argumen bahwa sekolah modern "mati" karena gagal adaptasi, seperti kasus Eko yang dikeluarkan tapi sukses mandiri.
Bab 14: Sekolah dari Analogi ke Alternatif (Halaman 145-156)
Menawarkan analogi sekolah sebagai oasis (Bylinsky), kebun (Nyerere), atau taman (Montessori, Ki Hajar Dewantara). Saran alternatif: pendidikan non-formal, belajar dari kehidupan, tanpa ujian ketat.
Epilog: Sekolah Masa Depan (Halaman 157-163)
Sukardal kembali, merenung masa depan pendidikan yang lebih humanis dan bebas. Buku ditutup dengan harapan reformasi.
Secara keseluruhan, buku ini mengajak pembacaโterutama pendidik, orang tua, dan pemudaโuntuk berpikir kritis tentang pendidikan, tanpa memprovokasi secara berlebihan. Kekurangannya: bahasa agak kolot untuk pembaca milenial, dan beberapa isu kurang relevan di era digital. Namun, pesannya tetap aktual, terutama di Indonesia di mana pendidikan masih menghadapi isu akses, kualitas, dan ketimpangan. Buku ini direkomendasikan untuk siapa saja yang ingin memahami akar masalah pendidikan dengan sudut pandang segar dan diplomatis.
Key Citations
- [RESUME DIALEKTIS : Roem Topatimasang: Sekolah itu Candu](http://www.humanisfisipunhas.or.id/2021/11/resume-dialektis-roem-topatimasang.html)
- [Sekolah Mengejar Ilmu atau Mengejar Ijazah? Resensi Buku Sekolah Itu Candu](https://identitasunhas.com/sekolah-mengejar-ilmu-atau-mengejar-ijazah-resensi-buku-sekolah-itu-candu/)
- [[REVIEW BUKU] Sekolah Itu Candu Karya Roem Topatimasang](https://www.penadiksi.com/2024/05/review-buku-sekolah-itu-candu-karya.html)
- [Sekolah Itu Candu โ Roem Topatimasang](https://bibliodit.wordpress.com/2016/04/19/sekolah-itu-candu-roem-topatimasang/)
- [Resensi Buku Sekolah Itu Candu, Roem Topatimasang](http://www.perempuanmembaca.com/2020/07/resensi-buku-sekolah-itu-candu-roem.html)
- [Review : Sekolah Itu Candu](https://scrumaka.wordpress.com/2019/05/25/review-sekolah-itu-candu/)
- [Sekolah Itu Candu](https://www.salamyogyakarta.com/sekolah-itu-candu/)
- [(BOTD 36) Review Buku Sekolah itu Candu Karya Roem Topatimasang](https://gerakan1week1book.wordpress.com/2018/12/06/botd-36-ulasan-buku-sekolah-itu-candu-karya-roem-topatimasang/)
- [Sekolah itu Candu by Roem Topatimasang](https://www.goodreads.com/book/show/1464719.Sekolah_itu_Candu)