03/07/2017
SELAMAT ULANG TAHUN KIAI KU
(Mengenal Lebih Dekat KH Said
Aqil Siroj)
Tak kenal maka tak sayang.
Barangkali peribahasa itu tepat
untuk menggambarkan keadaan
Indonesia akhir-akhir ini, dimana
orang tak hanya tak kenal dan
tak sayang, tetapi bahkan justru
memfitnah, membenci dan
memaki, dengan orang yang
belum dikenalnya di media. Tak
terkecuali, berbagai fitnah, berita
palsu (hoax) dan makian yang
dialamatkan kepada Prof Dr KH
Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum
Ormas Islam terbesar di dunia:
Nahdlatul Ulama (NU).
Untuk itu, tulisan ini sedikit
mengupas profil beliau, sosok
santri yang dulu pernah
menjabat sebagai Ketua Majelis
Wali Amanat Universitas
Indonesia (MWA UI) itu
dinobatkan oleh Republika
sebagai Tokoh Perubahan Tahun
2012 karena kontribusinya dan
komitmennya dalam mengawal
keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dan
berperan aktif dalam perdamaian
dunia, khususnya di kawasan
Timur Tengah.
***
Ketika usia negara ini masih belia
– delapan tahun – dan para
pendiri bangsa baru beberapa
tahun menyelesaikan “status
kemerdekaan” Indonesia di
Konferensi Meja Bundar (KMB)
pada 1949, di sebuah desa
bernama Kempek, Palimanan,
Cirebon, Jawa Barat, senyum
bahagia KH Aqil Siroj
mengembang. Tepat pada 3 Juli
1953, Pengasuh Pesantren
Kempek itu dianugerahi seorang
bayi laki-laki, yang kemudian
diberi nama Said.
Said kecil kemudian tumbuh
dalam tradisi dan kultur
pesantren. Dengan ayahandanya
sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu
dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri
– Ayah Said – merupakan putra
Kiai Siroj, yang masih keturunan
dari Kiai Muhammad Said
Gedongan. Kiai Said Gedongan
merupakan ulama yang
menyebarkan Islam dengan
mengajar santri di pesantren dan
turut berjuang melawan
penjajah Belanda.
“Ayah saya hanya memiliki
sepeda ontel, beli rokok pun
kadang tak mampu. Dulu setelah
ayah memanen kacang hijau,
pergilah ia ke pasar Cirebon.
Zaman dulu yang namanya mobil
transportasi itu sangat jarang
dan hanya ada pada jam-jam
tertentu,” kenang Kiai Said dalam
buku Meneguhkan Islam
Nusantara; Biografi Pemikiran
dan Kiprah Kebangsaan (Khalista:
2015).
Setelah merampungkan mengaji
dengan ayahanda maupun ulama
di sekitar Cirebon, dan umur
dirasa sudah cukup, Said remaja
kemudian belajar di Pesantren
Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang
didirikan oleh KH Abdul Karim
(Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia
belajar dengan para ustadz dan
kiai yang merawat santri, seperti
KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan,
dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.
Setelah selesai di tingkatan
Aliyah, ia melanjutkan kuliah di
Universitas Tribakti yang
lokasinya masih dekat dengan
Pesantren Lirboyo. Namun
kemudian ia pindah menuju Kota
Mataram, menuju Ngayogyokarta
Hadiningrat. Di Yogya, Said
belajar di Pesantren Al-
Munawwir, Krapyak dibawah
bimbingan KH Ali Maksum (Rais
Aam PBNU 1981-1984). Selain
mengaji di pesantren Krapyak, ia
juga belajar di IAIN Sunan
Kalijaga, yang ketika itu KH Ali
Maksum menjadi Guru Besar di
kampus yang saat ini sudah
bertransformasi menjadi UIN itu.
Ia merasa belum puas belajar di
dalam negeri. Ditemani istrinya,
Nurhayati, pada tahun 1980, ia
pergi ke negeri kelahiran Nabi
Muhammad SAW: Makkah Al-
Mukarramah. Di sana ia belajar di
Universitas King Abdul Aziz dan
Ummul Qurra, dari sarjana
hingga doktoral. Di Makkah,
setelah putra-putranya lahir,
Kang Said – panggilan akrabnya
– harus mendapatkan tambahan
dana untuk menopang keluarga.
Beasiswa dari Pemerintah Saudi,
meski besar, dirasa kurang untuk
kebutuhan tersebut. Ia kemudian
bekerja sampingan di toko
karpet besar milik orang Saudi di
sekitar tempat tinggalnya. Di toko
ini, Kang Said bekerja membantu
jual beli serta memikul karpet
untuk dikirim kepada pembeli
yang memesan.
Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz
juga sering berpindah-pindah
untuk mencari kontrakan yang
murah. “Pada waktu itu, bapak
kuliah dan sambil bekerja. Kami
mencari rumah yang murah
untuk menghemat pengeluaran
dan mencukupkan beasiswa
yang diterima Bapak,” ungkap
Muhammad Said, putra sulung
Kang Said.
Dengan keteguhannya hidup
ditengah panasnya cuaca
Makkah di siang hari dan
dinginnya malam hari, serta
kerasnya hidup di mantan “tanah
Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan
karya tesisnya di bidang
perbandingan agama: mengupas
tentang kitab Perjanjian Lama
dan Surat-Surat Sri Paus Paulus.
Kemudian, setelah 14 tahun
hidup di Makkah, ia berhasil
menyelesaikan studi S-3 pada
tahun 1994, dengan judul:
Shilatullah bil-Kauni fit-
Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah
SWT dan Alam: Perspektif
Tasawuf). Pria yang terlahir di
pelosok Jawa Barat itu
mempertahankan disertasinya –
diantara para intelektual dari
berbagai dunia – dengan
predikat Cumlaude.
Ketika bermukim di Makkah, ia
juga menjalin persahabatan
dengan KH Abdurrahman Wahid
(Gus Dur). “Gus Dur sering
berkunjung ke kediaman kami.
Meski pada waktu itu rumah
kami sangat sempit, akan tetapi
Gus Dur menyempatkan untuk
menginap di rumah kami. Ketika
datang, Gus Dur berdiskusi
sampai malam hingga pagi
dengan Bapak,” ungkap
Muhammad Said bin Said Aqil.
Selain itu, Kang Said juga sering
diajak Gus Dur untuk sowan ke
kediaman ulama terkemuka di
Arab, salah satunya Sayyid
Muhammad Alawi Al-Maliki.
Setelah Kang Said mendapatkan
gelar doktor pada 1994, ia
kembali ke tanah airnya:
Indonesia. Kemudian Gus Dur
mengajaknya aktif di NU dengan
memasukkannya sebagai Wakil
Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar
ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus
Dur “mempromosikan” Kang Said
dengan kekaguman: “Dia doktor
muda NU yang berfungsi sebagai
kamus berjalan dengan disertasi
lebih dari 1000 referensi,” puji
Gus Dur. Belakangan, Kang Said
juga banyak memuji Gus Dur.
“Kelebihan Gus Dur selain cakap
dan cerdas adalah berani,”
ujarnya, dalam Simposium
Nasional Kristalisasi Pemikiran
Gus Dur, 21 November 2011
silam.
Setelah lama akrab dengan Gus
Dur, banyak kiai yang
menganggap Kang Said mewarisi
pemikiran Gus Dur. Salah satunya
disampaikan oleh KH Nawawi
Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren
Sidogiri, Pasuruan, ketika
kunjungannya di kantor PBNU
pada 25 Juli 2011. Kunjungan
waktu itu, merupakan hal yang
spesial karena pertama kalinya
kiai khos itu berkunjung ke PBNU
– di dampingi KH An’im
Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai
Nawawi menganggap bahwa
Kang Said mirip dengan Gus Dur,
bahkan dalam bidang ke-
nyelenehan-nya.
“Nyelenehnya pun juga sama,”
ungkap Kiai Nawawi, seperti
dikutip NU Online. “Terus
berjuang di NU tidak ada
ruginya. Teruslah berjuang
memimpin, Allah akan selalu
meridloi,” tegas Kiai Nawawi
kepada orang yang diramalkan
Gus Dur menjadi Ketua Umum
PBNU di usia lebih dari 55 tahun
itu.
Menjaga NKRI dan mengawal
perdamaian dunia
Pada masa menjelang
kemerdekaan, tepatnya pada
tahun 1936, para ulama NU
berkumpul di Banjarmasin untuk
mencari format ideal negara
Indonesia ketika sudah merdeka
nantinya. Pertemuan ulama itu
menghasilkan keputusan yang
revolusioner: (1) negara Darus
Salam (negeri damai), bukan
Darul Islam (Negara Islam); (2)
Indonesia sebagai Negara
Bangsa, bukan Negara Islam.
Inilah yang kemudian
menginspirasi Pancasila dan UUD
1945 yang dibahas dalam Sidang
Konstituante – beberapa tahun
kemudian. Jadi, jauh sebelum
perdebatan sengit di PPKI atau
BPUPKI tentang dasar negara
dan hal lain sebagainya, ulama
NU sudah terlabih dulu
memikirkannya.
Pemikiran, pandangan dan
manhaj ulama pendahulu
tentang relasi negara dan agama
(ad-dien wa daulah) itu, terus
dijaga dan dikembangkan oleh
NU dibawah kepemimpinan Kang
Said. Dalam pidatonya ketika
mendapat penganugerahan
Tokoh Perubahan 2012 pada
April 2013, Kiai Said menegaskan
sikap NU yang tetap
berkomitmen pada Pancasila dan
UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di
Situbondo-pen) ini kan
dilaksanakan di Pesantren
Asembagus pimpinan Kiai As’ad
Syamsul Arifin. Jadi, pesantren
memang luar biasa pengaruhnya
bagi bangsa ini. Meski saya
waktu itu belum menjadi
pengurus PBNU,” kata Kiai Said,
mengomentari Munas Alim Ulama
NU 1983 dan Muktamar NU di
Situbondo 1984 yang
menurutnya paling fenomenal
dan berdampak dalam
pandangan kebangsaan.
Sampai kini, peran serta NU
dalam hal kebangsaan begitu
kentara kontribusinya, baik di
level anak ranting sampai
pengurus besar, di tengah
berbagai rongrongan ideologi
yang ingin menggerogoti
Pancasila sebagai dasar negara.
Hal ini tercermin dalam berbagai
kegiatan dan program NU yang
selalu mengarusutamakan
persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam konteks ini, Kiai Said
sangat berpengaruh karena
kebijakan PBNU selalu diikuti
kepengurusan dibawahnya –
termasuk organisasi sayapnya.
Salah satu peran yang cukup
solutif, misalnya, ketika beliau
menaklukkan Ahmad Mushadeq
– orang yang mengaku sebagai
Nabi di Jakarta dan menimbulkan
kegaduhan nasional – lewat
perdebatan panjang tentang
hakikat kenabian (2007).
“Alhamdulillah, doa saya diterima
untuk bertemu ulama, tempat
saya bermudzakarah (diskusi).
Sekarang saya sadar kalau
langkah saya selama ini salah,”
aku Mushadeq. Disisi lain, Kang
Said juga mengakui kehebatan
Mushadeq. “Dia memang hebat.
Paham dengan asbabun nuzul Al-
Qur’an dan asbabul wurud
Hadits. Hanya sedikit saja yang
kurang pas, dia mengaku Nabi,
itu saja,” jelas Kiai Said seperti
yang terekam dalam Antologi NU:
Sejarah, Istilah, Amaliah dan
Uswah (Khalista & LTN NU Jatim,
Cet II 2014).
Kiai yang mendapat gelar
Profesor bidang Ilmu Tasawuf
dari UIN Sunan Ampel Surabaya
ini bersama pengurus NU juga
membuka dialog melalui forum-
forum Internasional, khususnya
yang terkait isu-isu terorisme,
konflik bersenjata dan
rehabilitasi citra Islam di Barat
yang buruk pasca serangan
gedung WTC pada 11 September
2001. Ia juga kerapkali membuat
acara dengan mengundang
ulama-ulama dunia untuk
bersama-sama membahas
problematika Islam kontemporer
dan masalah keumatan.
Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta
Besar Amerika untuk Indonesia
Robert O. Blake berkunjung ke
kantor PBNU. Ia menginginkan
NU terlibat dalam penyelesaian
konflik di beberapa negara.
“Kami berharap NU bisa
membantu penyelesaian konflik
di negara-negara dunia,
khususnya di Syria dan Mesir. NU
Kami nilai memiliki pengalaman
membantu penyelesaian konflik,
baik dalam maupun luar negeri,”
kata Robert, seperti dilansir NU
Online. “Sejak saya bertugas di
Mesir dan India, saya sudah
mendengar bagaimana peran NU
untuk ikut menciptakan
perdamaian dunia,” imbuhnya.
Raja Yordania Abdullah bin Al-
Husain (Abdullah II) juga
berkunjung ke PBNU. Ia ditemui
Kiai Said, meminta dukungan NU
dalam upaya penyelesaian konflik
di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak
ada organisasi masyarakat yang
bisa menjadi penengah, seperti
di Indonesia. Jika ada konflik,
bedil yang bicara,” ungkap Kiai
Said.
Selain itu, menguapnya kasus
SARA di Indonesia belakangan
juga kembali marak muncul ke
permukaan. “Munculnya
kerusuhan bernuansa agama
memang sangat sering kita
temukan. Hal ini menunjukkan
bahwa bangsa Indonesia harus
terus belajar pentingnya
toleransi dan kesadaran
pluralitas. Sikap toleransi
tersebut dibuktikan oleh Kaisar
Ethiopia, Najashi (Negus) ketika
para sahabat ditindas oleh
orang-orang Quraisy di Mekkah
dan memutuskan untuk hijrah ke
Ethiopia demi meminta suaka
politik kepadanya. Kaisar Negus
yang dikenal sebagai penguasa
beragama Nasrani itu berhasil
melindungi para sahabat Nabi
Muhammad SAW dari ancaman
pembunuhan kafir Quraisy,” tulis
Kiai Said dalam Dialog Tasawuf
Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan
Relasi Antarumat Beragama
(Khalista, LTN PBNU & SAS
Foundation, Cet II, 2014).
Menghadapi potensi konflik
horisontal itu, NU juga tetap
mempertahankan gagasan Darus
Salam, bukan Darul Islam, yang
terinspirasi dari teladan Nabi
Muhammad dalam Piagam
Madinah. Dalam naskah tersebut,
nabi membuat kesepakatan
perdamaian, bahwa muslim
pendatang (Muhajirin) dan
muslim pribumi (Anshar) dan
Yahudi kota Yastrib (Madinah)
sesungguhnya memiliki misi
yang sama, sesungguhnya satu
umat. Yang menarik, menurut
Kiai Said, Piagam Madinah –
dokumen sepanjang 2,5 halaman
itu – tidak menyebutkan kata
Islam. Kalimat penutup Piagam
Madinah juga menyebutkan:
tidak ada permusuhan kecuali
terhadap yang dzalim dan
melanggar hukum. “Ini berarti,
Nabi Muhammad tidak
memproklamirkan berdirinya
negara Islam dan Arab, akan
tetapi Negara Madinah,” terang
Kiai Said.
Selain itu, menurutnya, faktor
politis juga kerapkali
mempengaruhi, bukan akidah
atau keyakinan. “Seperti di masa
Perang Salib, faktor politis dan
ekonomis lebih banyak
menyelimuti renggangnya
keharmonisan kedua umat
bersaudara tersebut di
Indonesia. Dengan demikian,
kekeruhan hubungan Islam-
Kristen tidak jarang
dilatarbelakangi nuansa politis
yang sama sekali tidak ada
kaitannya dengan agama itu
sendiri,” ungkapnya, dalam buku
Tasawuf Sebagai Kritik Sosial:
Mengedepankan Islam sebagai
Inspirasi bukan Aspirasi.
***
Ditengah agenda Ketua Umum
PBNU yang sedemikian padat,
Kiai Said dewasa ini diterpa
berbagai fitnah, hujatan dan
bahkan makian dari urusan yang
remeh-temeh sampai yang
menyangkut urusan negara. Ia
dituduh agen Syiah, Liberal, antek
Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-
fitnah lain oleh orang yang
sempit dalam melihat agama dan
konsep kemanusiaan dan
kebangsaan.
Meski demikian, ia toh manusia
biasa – yang tak luput dari salah,
dosa dan kekurangan – bukan
seorang Nabi. Artinya, kritik
dalam sikap memang wajar
dialamatkan, tetapi tidak dengan
hujatan, fitnah, dan berita palsu,
melainkan dengan kata yang
santun. Terkait hal ini, dalam
suatu kesempatan ia memberi
tanggapan kepada para haters-
nya. Bukannya marah, Kiai Said
justru menganggap para
pembenci dan pemfitnah itu
yang kasihan. Dan sebagai orang
yang tahu seluk beluk dunia
tasawuf, tentu dia sudah
memaafkan, jauh sebelum
mereka meminta maaf atas
segenap kesalahan. Wallahu
a’lam.