Majlis Ta'lim Tarbiyatul Qur'an

Majlis Ta'lim Tarbiyatul Qur'an AL Qur'an merupan Kalamullah yang sangat mulia, dimana didalamnya banyak menjelaskan kehidupan baik

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih ...
11/01/2022

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

وَالْعَصْرِ
"Demi masa"

إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَفِى خُسْرٍ
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian,"
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Asr 103: Ayat 1- 3)

AMALAN MALAN NISFU SYA'BAN,MEMBACA QS. YASIN 3 KALI"Membaca Surat Yasin sebanyak 3 kali, 30 kali atau ratusan kali, atau...
27/03/2021

AMALAN MALAN NISFU SYA'BAN,
MEMBACA QS. YASIN 3 KALI

"Membaca Surat Yasin sebanyak 3 kali, 30 kali atau ratusan kali, atau mengkhatamkan Al‐Qur'an secara keseluruhan tidak dilarang oleh agama. Dengan tujuan agar hajatnya dikabulkan oleh Allah Ta'ala,"

Menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan berdoa dan membaca Surah Yasin merupakan perkara yang baik. Ini termasuk ibadah yang tidak dilarang dalam agama.

Sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat Islam Indonesia, membaca Yasin 3 kali dengan tujuan agar umurnya dipanjangkan oleh Allah, rezekinya dimurahkan dan diberikan husnul khatimah oleh Allah tidak pernah dilarang oleh agama. Membaca Surah Yasin 3 kali dan kemudian bertawassul kepada Allah berkat bacaan ayat suci Al-Qur'an adalah ibadah yang baik.

Terkait tawassul dengan amalan memiliki dalil kuat yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim berikut ini:
Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al Khaththab radhiyallahu 'anhuma, berkata, saya mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelum kamu berangkat bepergian, sehingga terpaksa menempati sebuah gua untuk bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini kecuali jika engkau semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

Seorang dari mereka itu berkata: "Ya Allah, saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu (daun-daunan untuk makanan ternak). Saya belum lagi p**ang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya sayapun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap p**a di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsing, anak-anak kecil sama menangis karena kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum. "Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapanglah kes**aran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang sepupu wanita yang merupakan orang tercinta bagiku dari sekalian manusia (dalam sebuah riwayat disebutkan, saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kes**aran. Ia pun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan 120 Dinar padanya dengan syarat ia menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya s**a dikumpuli dalam 1 tempat tidur). Setelah saya dapat menguasai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya) sepupuku itu lalu berkata, "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya cincin adalah kemaluan). Maka jangan melenyapkan kegadisanku melainkan dengan perkawinan yang sah. Lalu aku pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. "Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kes**aran yang sedang kami hadapi ini. Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih belum dapat keluar dari dalamnya."

Orang ketiga berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya kembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata, 'Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata, Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata, Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab, saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian ini dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kami dari kes**aran yang sedang kami hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan merekapun keluar dari gua itu". (Muttafaq 'Alaih)

Apa yang dilakukan oleh para ulama sejak dahulu di Negeri Syam dan di beberapa negeri lainnya dalam menghidupkan malam Nisfu Sya'ban sudah cukup menjadi hujjah dan contoh bagi umat Islam saat ini.

Wallahu A'lam

Majlis Ta'lim Tarbiyatul Qur'an

PENDIDIKAN ANAK DI USIA DINI PENENTU MASA DEPAN Kelahiran anak merupakan amanat dari Allah SWT kepada bapak dan ibu seba...
23/03/2021

PENDIDIKAN ANAK DI USIA DINI PENENTU MASA DEPAN

Kelahiran anak merupakan amanat dari Allah SWT kepada bapak dan ibu sebagai pemegang amanat yang harusnya dijaga, dirawat, dan diberikan pendidikan. Itu semua merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua kepada anaknya.

Anak dilahirkan tidak dalam keadan lengkap dan tidak p**a dalam keadaan kosong. Ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Memang ia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa, akan tetapi anak telah dibekali dengan pendengaran, penglihatan, dan kata hati.[7]

Dengan diberikannya penglihatan, pendengaran, dan kata hati tersebut, diharapkan orang tua harus mampu membimbing, mengarahkan, dan mendidiknya dengan ekstra hati-hati karena anak sebagai peniru yang ulung. Oleh karena itu semaksimal mungkin orang tua memberikan pelayanan terhadap anaknya. Pelayanan yang maksimal akan menghasilkan suatu harapan bagi bapak ibunya, tiada lain suatu kebahagiaan hasil jerih payahnya. Sebab anak adalah sumber kebahagiaan, kesenangan, dan sebagai harapan dimasa yang akan datang.[8] Harapan-harapan orang tua akan terwujud, tatkala mereka mempersiapkan sedini mungkin pendidikan yang baik sebagai sarana pertumbuhan dan perkembangan bagi anak.

Memang diakui bahwa mengemudikan bahtera rumah tangga yang baik, yang sakinah, dan yang maslahah merupakan tugas kewajiban yang sangat rumit, tidak kalah rumitnya dengan mengelola sebuah pabrik, dan tidak kalah canggihnya dengan mengemudikan pesawat terbang karena orang tua harus siap untuk memperpadukan sekian banyak unsur dan dimensi mulai dari dimensi sikap mental, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan lain sebagainya. Sebagai kewajiban dari orang tua, dalam hal ini adalah pemegang amanat, maka barang siapa yang mampu menjaga amanat tersebut akan diberi pahala, dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan janji Allah SWT dalam firmanya, QS.al-Kahfi (18) : 46.

اَلـْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيـْنَةُ الْحَيوةِ الدُّنـْيَا وَالْـبـقِيـتُ الصلِحتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبـِّكَ ثَوَابـًا وَّخَيْرٌ أمَـلاً –(الكهف:46)-



Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahala disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. Al-Kahfi : 46)[9]

Dalam mendidik anak, tentunya harus ada kesepakatan antara bapak ibu sebagai orang tua, akan dibawa kepada pendidikan yang otoriter atau pendidikan yang demokratis atau bahkan yang liberal, sebab mereka penentu pelaksana dalam keluarga.

Dalam kehidupan masyarakat terkecil, yaitu keluarga, suami secara fungsional adalah penanggung jawab utama rumah tangga (keluarga) sedangkan istri adalah mitra setia yang aktif konstruktif mengelola rumah tangga. Operasionalisasi kehidupan berkeluarga sebaiknya dilakukan berdasarkan amar makruf nahi munkar.

Salah satu wujud amar makruf nahi munkar dalam kehidupan berkeluarga adalah memberikan pendidikan kepada putra putrinya berdasarkan ajaran Islam. Antara keluarga satu dengan keluarga lainnya mempunyai prinsip dan sistem sendiri-sendiri dalam mendidik anaknya. Namun orang tua jangan terbuai atau melupakan terhadap ajaran-ajaran Islam, terutama dalam hal pendidikan anak sebagaimana yang telah dicontohkan Rasul saw. sebagai pembawa panji-panji Islam, Rasul SAW tidak pernah mendidik putra-putrinya dengan pendidikan keras dan tidak dengan membebaskan anak-anaknya, tetapi beliau dalam mendidik keluarganya terutama kepada anak-anaknya adalah dengan limpahan kasih sayang yang amat besar.[10] Senada dengan yang dikatakan oleh sahabat Anas ra. yaitu “aku tidak mendapatkan seseorang yang kasih sayangnya pada keluarganya melebihi Rasulullah SAW.”[11]

Seorang muslim sepatutunya mencontoh teladan yang telah diberikan Rasul SAW, dalam memuliakan putra putrinya. Beliau dalam mendidik anak-anaknya melalui ajaran wahyu Ilahi yaitu dengan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Dengan pemberian kasih sayang tersebut, diharapkan dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebab anak merupakan aset masa depan. Sebagai orang tua dapat meneladani ajaran-ajaran Rasul SAW tersebut, melalui para pemikir dan pemerhati pendidikan (anak) dalam Islam. Salah satu pemerhati pendidikan (anak) dalam Islam yang memberikan gambaran yang benar sesuai dengan ajaran Islam adalah Ulwan. Ia memberikan pandangannya dalam mendidik anak dalam keluarga melalui metode-metode yang harus diterapkan dalam pendidikan anak termasuk dalam hal pendidikan moral. Apabila metode-metode tersebut diterapkan, niscaya apa yang menjadi harapan bersama sebagai muslimin yaitu tumbuhnya para generasi Islam yang tangguh dan sebagai penebar kebenaran, dapat direalisasikan.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Peny...
04/02/2017

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
2. dan bulan apabila mengiringinya,
3. dan siang apabila menampakkannya,
4. dan malam apabila menutupinya ,
5. dan langit serta pembinaannya,
6. dan bumi serta penghamparannya,
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,
12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,
13. lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya".
14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),
15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Peny...
04/02/2017

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik,”
2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),”
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (p**a) benci” kepadamu.
4. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
5. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?”
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”
8. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
9. “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”
10. “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
11. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”

Address

Jatibarang
52261

Opening Hours

Monday 18:00 - 20:00
Tuesday 18:00 - 20:00
Wednesday 18:00 - 20:00
Friday 18:00 - 20:00
Saturday 18:00 - 20:00
Sunday 18:00 - 20:00

Telephone

Telepon*

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majlis Ta'lim Tarbiyatul Qur'an posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category