DPD Hidayatullah Kota Jambi

DPD Hidayatullah Kota Jambi Menebar Sunnah Dengan Penuh Hikmah

24/08/2021

Bismillah

Seruan DPP Hidayatullah Sambut Bulan Suci Ramadhan 1440 HijriyahJAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, dalam bebe...
22/04/2019

Seruan DPP Hidayatullah Sambut Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriyah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, dalam beberapa hari lagi insya Allah kita akan kembali berjumpa dengan bulan mulia, syahrun mubarak, Ramadhan 1440 H. Tanpa terasa waktu setahun telah kita jalani, semoga perjalanan setahun terakhir tersebut benar-benar meningkatkan kualitas hidup kita dalam segala bentuknya.

Dalam rangka menadah limpahan keberkahan bulan Ramadhan, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menerbitkan seruan Ramadhan sebagai penekanan kembali dari seruan-seruan serupa yang telah pernah diterbitkan, untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan agar kita secara bersama-sama dapat meraih lebih banyak barakah, meningkatkan amal shalih, dan memberikan lebih banyak manfaat.

“Kesuksesan dalam meraih potensi Ramadhan adalah kepentingan kita bersama, oleh karena itu, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menghimbau kepada seluruh jajaran di Wilayah, Daerah, maupun Cabang untuk meningkatkan komunikasi, silaturrahim, dan koordinasi dengan jajaran di atasnya. Mari kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik baiknya agar kita memperoleh kekuatan spiritual yang dapat kita jadikan sebagai modal untuk berjuang di jalan-Nya,” Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr KH Nashirul Haq, dikutip dari lembar seruan Ramadhan 1440 DPP Hidayatullah, Senin (22/4/2019).

Beliau mengatakan, Ramadhan adalah saat untuk berlatih dan membuktikan diri bahwa kita mampu menahan diri dari segala perbuatan yang sia-sia, apalagi yang menimbulkan dosa.

Di bulan Ramadhan, lanjutnya, kita memiliki kemerdekaan dan kedaulatan penuh untuk memutuskan sesuatu, karena pengaruh syaitan telah sangat dikurangi, dan karena itulah manusia dapat membuktikan bahwa dirinya bukanlah golongan syaitan yang s**a melakukan kejahatan.

Pada sisi yang lain, Ramadhan juga memiliki dimensi materi (maliyah), di mana kaum muslimin biasa menunaikan kewajiban membersihkan hartanya dalam tahun berjalan. Realitasnya, jumlah harta zakat, infaq, maupun shadaqah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan lebih besar dibanding jumlah dana sejenis pada 11 bulan lainnya.

“Ummat Islam, khususnya di Indonesia, dapat memenuhi perintah agamanya untuk membuat kaum miskin bergembira, selama bulan Ramadhan dan seterusnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, seruan Ramadhan DPP Hidayatullah mencakup dimensi tersebut, yang sama-sama perlu dicermati dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Hidayatullah sesuai tingkatannya masing-masing yakni persiapan diri menghadapi Ramadhan dan upaya pencapaian target Ramadhan.

“Mari kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik baiknya agar kita memperoleh kekuatan spiritual yang dapat kita jadikan sebagai modal untuk berjuang di jalan-Nya. Akhirnya, kepada Allah SWT jualah kita memohon, agar kiranya dimudahkan dalam segala upaya, dan diterima amal kita sebagai bagian dari perjuangan membangun peradaban Islam,” pungkasnya.(ybh/hio)

Kemenangan harus diupayakan, bukan dengan berpangku tangan:Nabi Musa 'alaihissalam tetap diperintahkan berusaha, walau u...
21/04/2019

Kemenangan harus diupayakan, bukan dengan berpangku tangan:

Nabi Musa 'alaihissalam tetap diperintahkan berusaha, walau usahanya menurut nalar manusia dan kebiasaan, tiada artinya, yaitu memukulkan tongkat ke lautan.

Allahu Akbar! tatkala sisa usaha yang bisa ia lakukan diiringi dengan kesempurnaan tawakkal, maka menghasilkan buah yang luar biasa, di luar nalar manusia.

Maryam 'alaihassalam, yang sedang lapar, dan dalam kondisi lemah karena baru saja melahirkan, diperintahkan untuk berusaha mendapatkan makanan, yaitu menggoyangkan batang pohon kurma.

Hasilnya sungguh luar bisa, walau dengan sisa sisa tenaganya yang lemah, buah buah kurma masak yang segar berjatuhan di hadapan Maryam.

Padahal kalau dipikir, Allah Ta'ala kuasa untuk membelah lautan dan menjatuhkan buah kurma tanpa perlu memerintahkan mereka berdua untuk menjalani usaha yang secara tradisi sangat kecil nilainya.

Demikian p**a dengan Nabi Muhammad ketika berhijrah, sejatinya Allah kuasa menyelamatkan beliau tanpa harus bersembunyi di dalam gua yang sempit dan kecil.

Namun itulah sunnatullah, beliau harus memberi keteladanan bahwa tawakkal bukan berarti berpangku tangan, namun tetap menjalankan usaha bahkan sisa sisa usaha yang masih bisa dilakukan, dan selanjutnya percayakan hasilnya kepada Allah Ta'ala Yang Maha Kuasa .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Semoga menyegarkan.

Dr. Muhammad Arifin Badri

Presidenmu Tidak Sekejam Al Hajjaj, Tetap Wajib TaatIngatlah jika ada yang merasa bahwa hasil Pilpres tidak sesuai harap...
21/04/2019

Presidenmu Tidak Sekejam Al Hajjaj, Tetap Wajib Taat

Ingatlah jika ada yang merasa bahwa hasil Pilpres tidak sesuai harapannya, siapa pun Presiden terpilih tetap wajib ditaati. Sekejam apa pun dia, sejelek apa pun orangnya tetap wajib didengar. Itulah seorang muslim dan rakyat yang baik. Walau pemimpinmu sekejam Al Hajjaj bin Yusuf, tetap wajib ditaati.

Siapa Al Hajjaj bin Yusuf?
Imam Adz Dzahabi menyebutkan tentang Al Hajjaj bin Yusuf, “Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, s**a menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4: 343)

Apa saja kekejaman Al Hajjaj?

Al Hajjaj pernah berkata di mimbar Wasith (di kota Wasith), “‘Abdullah bin Mas’ud adalah pemimpin golongan munafiq. Kalau aku menemuinya aku akan basahkan muka bumi dengan darahnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 149)

Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan ini termasuk kekurangajaran Al Hajjaj, semoga Allah memburukkannya, dan termasuk kelancangannya mengungkapkan perkataan yang buruk, serta menumpahkan darah tanpa haq. Beliau dengki dengan qira’ah (bacaan) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu karena menyelisihi qira’ah pada mushaf induk yang dihimpunkan manusia pasa masa ‘Utsman.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 149)

Al Qa’qa’ bin Ash Shalt berkata: “Al Hajjaj pernah berkhuthbah lalu beliau mengatakan dalam khuthbahnya, “Sesungguhnya Ibnu Az Zubair mengubah Kitab Allah.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9: 140)

Bagaimanakah Sikap Sahabat Nabi Ketika Al Hajjaj Menjadi Pemimpin?
Apakah jika kita dapati pemimpin yang tidak kita senangi, yang tidak sesuai harapan kita, lantas kita berontak? Ternyata tidak. Jalan nubuwwah memerintahkan kita untuk tetap taat dan bersabar terhadapnya.

Perhatikan hadits berikut,

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم –

Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 7068).

Hadits di atas menunjukkan tidak bolehnya keluar dari ketaatan pada pemimpin, siapa pun dia selama ia memerintahkan selain dalam perkara maksiat.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa menolak masfadat (kerusakan) yang lebih besar dengan mengambil mafsadat yang lebih ringan. Seandainya Anas bin Malik mewasiatkan untuk memberontak tentu akan timbul kerusakan yang besar ketika itu. Namun beliau perintahkan untuk bersabar sebagaimana wasiat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.

Intinya, kita sebagai rakyat tetap taat pada Presiden yang terpilih, siapa pun itu, meski tidak kita s**ai. Dalam hadits disebutkan,

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Selama Presiden tersebut seorang muslim dan mengerjakan shalat, wajib ditaati. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)

Jangan sampai kita disebut mati jahiliyyah. Orang jahiliyyah itu tidaklah memiliki pemimpin. Mereka ingin hidup bebas tanpa ada yang memerintah mereka. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang tidak s**a sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 7053 dan Muslim no. 1849). Yang dimaksud tidak s**a sesuatu pada pemimpin adalah selain kekufuran yang nyata. Sedangkan keluar dari ketaatan barang sejengkal yang dimaksud adalah tidak taat pada pemimpin walau hanya sedikit.

Pemimpin adalah Cerminan dari Rakyatnya
Ingatlah bahwa pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, ini sudah sunnatullah.

Jika rakyat itu shalih, cerdas, dan baik, maka pemimpinnya seperti itu p**a.

Jika rakyat itu fasik, s**anya maksiat, maka pemimpinnya adalah cerminan dari rakyatnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah kami jadikan sebagaian orang zhalim sebagai pemimpin bagi orang zhalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.” (QS. Al An’am: 129).

Para ulama berkata,

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.” (catatan: Ungkapan ini dijadikan sebagai judul sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi)

Alkisah ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak di kritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!” Sahabat Ali Menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!” (Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).

Semoga kita bisa semakin bercermin dan introspeksi diri. Apakah kita sudah baik ataukah belum?

Jangan Lupa Doakan yang Terbaik untuk Presidenmu
Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)

Semoga Allah berikan pada kita pemimpin yang amanah, yang terus bisa memperjuangkan Islam. Hanya Allah yang memberi taufik.(/MAT)

Ka’ab bin Malik dan Ujian Kejujuran Pemimpin PublikKEJUJURAN bagaikan mutiara sangat indah yang mampu menarik pesona set...
21/04/2019

Ka’ab bin Malik dan Ujian Kejujuran Pemimpin Publik

KEJUJURAN bagaikan mutiara sangat indah yang mampu menarik pesona setiap manusia. Kalau ada yang lebih indah dari mutiara, maka kejujuran adalah perhiasan terindah yang berada dalam jiwa. Ia memang susah dicari dan s**ar didapatkan karena tak gampang dilakukan. Untuk menggapainya, perlu perjuangan dan pengorbanan. Karenanya, banyak sekali yang gagal menghadapi ujian ini.

Perhatikan efek yang ditimbulkan dari kejujuran! Para Nabi dipilih karena kejujuran. Abu Bakar menjadi Sahabat yang tercinta di mata Nabi di antaranya karena kejujuran dan terdepan dalam membenarkan setiap apa saja yang dikatakan Nabi. Para sahabat Nabi itu mulia karena kejujuran mereka.

Meski demikian, kejujuran tidak akan mendapatkan tempat pada hati orang yang tak menghargai keindahan nilai akhlak mulia. Kejujuran tidak akan mampu ditampung oleh manusia yang membebaskan diri dari nilai-nilai luhur. Memang untuk mempertahankan dan meneguhkan diri agar senantiasa konsisten memegang eratnya penuh dengan dilema, penuh dengan onak duri dan rintangan. Kejujuran memang penuh risiko. Namun bak mutiara, apakah mutiara itu mampu didapat tanpa menyusuri ke dalam samudera?

Nabi Muhammad ﷺ diutus ke Jazirah Arab yang sangat mengindahkan kejujuran, oleh Dzat yang memerintahkan kejujuran, melalui Jibril; makhluk yang patuh dan penuh kejujuran. Sahabat yang mengitarinya digembleng dan dilatih sedemikian rupa agar senantiasa jujur dalam segala hal. Tentu saja ada juga pengecualian-pengecualian seperti misalnya dalam konteks peperangan. Namun secara umum kejujuran benar-benar didawami secara sungguh-sungguh.

Pembaca yang budiman pernah mendengar Sahabat yang bernama Ka`ab bin Malik? Beliau merupakan Sahabat yang lulus dari ujian kejujuran ini. Kepahlawanannya bertolak dari peristiwa kejujuran yang ia pegang teguhi. Ketika perang Tabuk (9 H) terjadi, dia absain tidak ikut padahal ia mampu, akibat bujukan nafsu hingga menunda-nunda waktu, perbuatan ini harus dibayar mahal berupa sanksi yang sangat-sangat berat. Karena perbuatannya ini, dia diisolasi bicara selama 50 malam, bahkan istri tercintanya yang halal baginya diperintah meninggalkannya ketika malam ke empat puluh.

Suatu kondisi yang begitu berat baginya. Dia benar-benar diuji, betapa getirnya balasan orang-orang yang tak taat dan menunda-nunda perintah Nabi ﷺ. Betapa merananya, hidup di tengah-tengah keluarga dan saudara sesama Muslim, namun sama sekali tak mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka. Itu adalah sanksi yang sangat wajar bagi Sahabat sekaliber Ka’ab bin Malik.

Menariknya, betapa beratnya ujian yang dihadapi, beliau tetap bisa teguh tegar memegang erat kejujuran. Ia menyadari betul sebenarnya ia mampu bersilat lidah, karena dia penyair Islam yang kondang. Tapi hati kecilnya menolak kebohongan itu. Kebohongan apapun akan nampak di mata Allah ta`ala. Kalau ia ngotot (bersikeras) berbohong pasti akan turun wahyu yang akan membeberkan kedoknya.

Lebih pelik lagi, di sela-sela menjalani sanksinya, sebenarnya bukan hanya ia merasa sesak dadanya di tengah kelapangan bumi, namun ia juga mendapat godaan lain berupa bujukan dan rayuan dari utusan penguasa Gassan untuk bergabung dengan mereka. Ia tetap teguh tegar, bahkan menyobek-nyobek surat ajakan mereka. Pada akhirnya Ka`ab bin Malik lulus dalam ujian kejujuran ini. Rasulullah ﷺ sampai mengatakan: “Selamat atas kebaikan di hari yang telah kamu lalui sejak engkau dilahirkan ibumu.”

Ka`ab Radhiyallahu ‘anhu gembira bukan main. Sejak saat itu p**a ia berkomitmen pada Rasul ﷺ: “Saya akan senantiasa memegang prinsip kejujuran selama nyawa ini masih bersemayam dalam raga”.

Ia pun benar-benar membuktikannya hingga akhir hayatnya. Berangkat dari kejujuran hingga mati dalam kejujuran. Inilah kunci dari kepahlawanan Ka`ab bin Malik. Ia mampu mengolah dan mengarahkan hatinya untuk senantiasa jujur dalam berbuat dan bertutur. Cermin hatinya selalu memantulkan kejujuran.*/ HIDAYATULLAH.COM

21/04/2019

Address

Perumnas Aurduri 1
Jambi
36124

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when DPD Hidayatullah Kota Jambi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to DPD Hidayatullah Kota Jambi:

Shortcuts

Share

Category