02/03/2017
NIAT MENCARI ILMU
Abu Hanifah ra berkata: "Tiada artinya suatu ilmu kecuali untuk diamalkan, sedang pengamalan ilmu berujud meninggalkan orientasi duniawi demi ukhrawi."
Maka sebaiknya manusia jangan lupa diri (lengah) dari hal apapun yang bermanfaat dan berbahaya di dunia dan akhiratnya; kemudian mengambil yang bermanfaat dan menghindari apa yang berbahaya baginya, agar kelak akal dan amal perbuatannya tidak menjadi hujjah (alasan) yang membebani sehingga memperberat siksa atas dirinya -kami berlindung kepada Allah dari murka dan siksa-Nya-.
Penuntut ilmu wajib niat sewaktu belajar, sebab niat itu merupakan pokok segala perbuatan, berdasarkan sabda Nabi saw:
ุฅููููู
ูุง ุงููุฃูุนูู
ูุงูู ุจูุงูููููููุฉู
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya." (hadits shahih)
Dan diriwayatkan dari Rasulullah saw:
"Banyak amal perbuatan yang bentuknya perbuatan duniawi, kemudian menjadi amal ukhrawi karena bagus niatnya; dan tidak sedikit amal perbuatan yang bentuknya ukhrawi, kemudian menjadi perbuatan duniawi sebab buruk niatnya."
Sebaiknya bagi penuntut ilmu dalam belajarnya berniat mencari Ridha Allah, kebahagiaan akhirat, membasmi kebodohan diri sendiri dan sekalian orang-orang bodoh, mengembangkan agama dan mengabadikan Islam; sedangkan berbuat zuhud dan taqwa itu tidak sah jika tanpa ilmu."
Syaikh terhormat Ustadz Imam Burhanuddin Shahibul Hidayah mendendangkan sair gubahan sebagian para Ulama:
Hancur lebur, orang alim tidak teratur,
lebih hancur, orang jahil ibadah ngawur.
Kedua-duanya fitnah besar, menimpa alam semesta
bagi orang yang menganutnya, sebagai dasar agama.
Dan dalam menuntut ilmu hendaklah diniatkan juga untuk mensyukuri atas kenikmatan akal dan kesehatan badan; hendaklah tidak mencari popularitas, tidak untuk mencari harta dunia, juga tidak mencari kehormatan di mata penguasa dan semacamnya.
Sumber:
Kitab Ta'limul Muta'allim karya Syaikh Az Zarnuji