10/11/2025
UPACARA MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN NASIONAL 10 NOVEMBER 1945.
Pertempuran Besar 10 November 1945 di Surabaya
Pada pagi hari 10 November 1945, pasukan Inggris melancarkan serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara. Bom dijatuhkan di berbagai titik kota, tank dan pasukan bersenjata berat mulai bergerak maju.
Namun rakyat Surabaya tidak tinggal diam. Dengan persenjataan sederhana — bambu runcing, senjata rampasan, hingga taktik gerilya — mereka melawan habis-habisan pasukan Inggris yang jauh lebih modern.
Tokoh-tokoh penting seperti B**g Tomo memegang peran besar dalam membakar semangat rakyat melalui siaran radio. Suaranya yang lantang menggema ke seluruh penjuru kota, menyerukan agar rakyat tidak gentar menghadapi penjajah:
“Allahu Akbar! Merdeka atau mati! Sekali merdeka tetap merdeka!”
— Seruan B**g Tomo, 10 November 1945.
Pertempuran berlangsung sengit selama tiga minggu. Ribuan rakyat Surabaya gugur sebagai martir perjuangan. Namun, keberanian mereka menjadi simbol bahwa bangsa Indonesia tidak akan tunduk pada penjajahan dalam bentuk apa pun.
Makna Sejarah 10 November 1945
Pertempuran Surabaya bukan hanya soal perang fisik, tetapi tentang semangat nasionalisme dan persatuan.
Tanggal 10 November 1945 kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah gugur demi mempertahankan kemerdekaan.
Makna penting dari peristiwa ini antara lain:
Mengajarkan arti keberanian dan pengorbanan.
Menumbuhkan semangat persatuan di tengah perbedaan.
Meneguhkan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan.
Menjadi simbol perjuangan rakyat melawan penindasan.
Tokoh-Tokoh Penting dalam Pertempuran Surabaya
B**g Tomo (Sutomo)
Pahlawan yang dikenal melalui pidatonya yang membakar semangat rakyat Surabaya untuk terus berjuang melawan penjajah.
Mochammad Hasyim Ashari
Pendiri Nahdlatul Ulama yang mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari kewajiban agama.
Doel Arnowo dan Abdul Wahab Hasbullah
Tokoh-tokoh lokal yang memimpin barisan rakyat dan ulama dalam pertempuran Surabaya.
Rakyat Surabaya
Ribuan pemuda, pelajar, dan masyarakat umum berjuang tanpa pamrih, menjadikan pertempuran ini sebagai simbol “perang rakyat” pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan.