05/10/2021
Nama : Sinta Adriana
Nim : 105200155
Lokal : 3E
Prodi : Ilmu Pemerintah
Dosen Pengampu : Fransisco Chaniago S.Sos,.M.Pd
Pahlawan yang dikenal dengan kegigihannya berjuang di Tanah Jambi itu memiliki nama kecil Raden Thaha Jayadiningrat. Menginjak usia remaja, Raden Thaha sudah menonjolkan karakter sebagai seorang pemimpin. Anak Raja Kerajaan Melayu Jambi itu merupakan sosok yang berpendirian Teguh dan tegas dalam mengambil keputusan, bersikap terbuka, lapang dada, berjiwa kerakyatan, dan taat menjalankan agama Islam. Tidak sampai di sana, untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang ajaran agama Islam Raden Thaha menuntut ilmu agama di Kesultanan Aceh. Selama dua tahun, dia memperdalam ajaran Islam. Dari sanalah, selain mendapatkan ilmu agama, dia juga mendapatkan pendidikan tentang kebangsaan. Semangat juang untuk menegakkan Islam dan tekad untuk menentang imperialisme Belanda selalu tertanam dalam jiwanya. Konon, saat itu Belanda sudah menjadi musuh kesultanan Aceh dan Jambi. Dengan semangat dan tekad itu, Sultan Aceh kemudian menyematkan nama imbuhan padanya, yakni Saifuddin. Kata itu diambil dari bahasa Arab yang berarti 'pedang agama'. Sejak saat itulah, Raden Thaha mulai dikenal dengan nama Raden Thaha Saifuddin. Kembali dari perantauannya, Raden Thaha yang p**ang dari Aceh disambut tulus oleh ayahnya, Sultan Muhammad Fachruddin Dia diberi kepercayaan sebagai duta keliling yang tugasnya mempererat hubungan persahabatan dan ukhuwah Islamiyah dengan kerajaan-kerajaan sahabat di Malaya, Tumasik (Singapura), juga di Patani (Siam). Dalam lawatannya jualah, Raden Thaha Saifuddin sekaligus menimba pengalaman dari tempat yang dia kunjungi. Dalam pidato pengukuhannya, dia menyatakan rasa tidak senang terhadap Belanda. Itu p**a yang menjadi alasan Sultan Thaha Saifuddin membatalkan semua perjanjian yang telah dibuat sultan-sultan terdahulu. Dia menganggap perjanjian itu tidak adil, juga sangat merugikan rakyat dan Kesultanan Jambi. Mendengar pernyataan itu, pemerintah Belanda memberi wewenang kepada residen yang berkedudukan di Palembang untuk berunding, agar Kesultanan Jambi mau mengakui pemerintahan Belanda. Dalam rundingan itu disebutkan, Sultan Thaha Saifuddin tetap berkuasa, namun wilayah kekuasaannya diakui sebagai pinjaman dari pemerintahan Belanda. Pertempuran terus meluas hingga ke daerah-daerah di wilayah Jambi. Dalam peperangan panjang itu, Sultan Thaha Saifuddin beserta pasukannya melakukan gerilya ke daerah Uluan, guna menghindari kepungan musuh.Berbagai taktik dilakukan dalam pertempuran itu.
Dalam pertempuran sengit itu, Sultan Thaha dan pasukannya sempat melumpuhkan pertahanan Belanda di Batang Asai. Selain itu, bersama pasukannya, dia juga berhasil menenggelamkan kapal perang Hotman milik Belanda. Selama menjabat, Sultan Thaha Saifuddin melakukan banyak hubungan diplomasi dengan beberapa negara, seperti Turki, Inggris, dan Amerika. Tujuannya, untuk memperoleh bantuan persenjataan dan amunisi, guna menghadapi pertempuran dengan Belanda. Masa perlawanan terhadap Belanda di bawah kepemimpinan Sultan Thaha berlangsung sekitar 46 tahun. Sekali waktu dalam pertempuran yang sengit, dini hari 27 April 1904 di Betung Bedarah, Sultan Thaha Saifuddin tak henti-hentinya mengumandangkan takbir.
Dalam pekikan takbir itu p**a, akhirnya Tuhan menjemputnya. Dia gugur dalam peperangan itu, pada usia 88 tahun sebagai Kesuma Bangsa. Sepeninggal Sultan Thaha Saifuddin, perjuangan melawan Belanda tidak sampai di situ. Satu di antara pengikut setianya, Muhammad Thahir, yang lebih dikenal dengan Raden Mattaher melanjutkan perjuangannya, memegang panji Kerajaan Melayu dan rakyat Jambi. Raden Mattaher adalah seorang panglima perang gerilya yang dikenal dengan sebutan 'Singa Kumpeh' ini tidak membiarkan seorang pun Belanda bercokol di negeri Jambi. Namun, setelah beberapa tahun bergerilya, dia pun gugur pada 1907.