23/06/2021
"DISELAMATKAN OLEH MUSIK"
Danny The Dog (Unleashed), film layar kaca yang berkisah tentang seorang yang “dipelihara” layaknya sebagai anjing petarung di gelanggang pemuas nafsu hewani dari para penontonnya. Danny sang anjing petarung itu diperankan oleh Jet Lee.
Dalam suatu peristiwa, orang yang "merawat" dan menjadi tuannya mengalami insiden, tapi Danny bisa selamat walau penuh luka, lalu melarikan diri, lalu bertemu dengan satu keluarga, bapak dan anak angkatnya. Sam yang berprofesi sebagai tukang reparasi piano (diperankan oleh Morgan Freeman) dan anaknya Victoria yang sedang mempersiapkan resital piano di sebuah akademi musik.
Setelah beberapa lama hidup dalam situasi baru dalam keluarga bapak dan putri, Danny mulai belajar mengenali diri dan apa arti sesungguhnya keluarga. Dia mulai memahami bahwa dia mestinya punya ayah dan ibu juga,walau tak pernah ingat lagi siapa orangtuanya.
Sebelumnya, Danny hanya tahu paman Bart (diperankan oleh Bob Hoskins), seorang rentenir dan penjudi di gelanggang adu manusia. Semua ingatan diri dan tujuan hidupnya hanya seputar hidup dan kegiatan sang paman. Kalung besi di lehernya itulah tali kekang yang membuat Danny seolah nyaman dengan diri dan tuannya. Tali kekang itu menjadi semacam tombol on off menjadi manusia atau anjing petarung. Danny hanya tahu sang pamanlah yang bisa melepas dan mengikat kembali sesuai kepentingan dan perintahnya. Segala hal tentang hidupnya ditentukan oleh sang tuan yang telah membentuk dia menjadi Danny “Sang Anjing Petarung”.
“Kau akan kembali ke dunia yang kau pahami... kau adalah petarung, kau hidup untuk bertarung. Aku memastikan masa depanmu bersamaku. Lupakan masa lalumu itu. Sekarang juga kemarilah Danny di rumahmu yang nyaman.” Kata-kata sang paman sambil melambaikan tali kekang, tali keteraturan, tali disiplin sekian lama mendidik dan melatih Danny seperti anjing petarung, termasuk hidupnya dalam kandang atau mesti menjalankan tugas menakuti atau melukai para debitur yg lalai atau gagal bayar.
Danny nampak mulai terpengaruh dan mendekati sang majikan, namun tiba-tiba Danny menahan, mengambil, dan segera membuang tali kekang itu. “Aku sudah di rumah.”
Ya, bersama keluarga baru itulah, kesadaran diri yang mempunyai masa lalu, mempunyai orangtua, terutama mulai mengenali siapa sesungguhnya ibunya, mulai diketahui dan dirasakan Danny tahap demi tahap.
Lewat penelusuran sepotong foto yang masih terus disimpannya, ternyata itu seorang perempuan muda yang sedang bermain piano di sebuah ruangan belajar. Perlahan Danny mulai mengingat-ingat beberapa kepingan ingatan yg terlintas dalam kenangannya. Dan lewat pendengaran serta memainkan nada-nada dalam piano, ingatan tentang sang ibu dalam kebahagiaan memainkan musik membawa kebahagiaan dalam diri Danny, tapi segera kemudian diinterupsi oleh potongan peristiwa tragis kematian sang ibu di tangan penjahat. Orang yang membunuh ibunya jelas dalam penglihatan kenangan itu tak lain kemudian menjadi tuannya dengan sebutan Paman Bart itu.
Padahal yang dialami Danny bukan relasi kasih sebagaimana ponakan dan paman dalam ikatan keluarga, bahkan bukan relasi hewani yang natural saling menjaga saling menguntungkan, malah sekedar relasi sepihak demi keuntungan material dan ego dan kesenangan yang menyimpang serta dominasi paksaan yang penuh kekerasan ala hewani buatan manusia!
Kisah Danny menjadi manusia, setelah bertemu bapak dan anak itu, yg mana dalam keluarga kecil itu dia kemudian bertahap mengenali interaksi manusia yg menumbuhkan, belajar hal-hal dasar dalam komunikasi manusiawi, bahkan mengenali dan menyembuhkan diri dari luka masa lalu. Lewat musik piano, Danny dituntun ke kenangan yg sdh terkubur tentang ibunya karena info pendidikan dan pelatihan yg salah, bahkan serendah-rendahnya sebagai hewan petarung. Ternyata ibunya seorang pemain Piano yg berbakat yg tiba2 menghilang karena geng rentenir penjudi. Danny direnggut dari ibunya yang masih belia dari Tiongkok yang meniti karir di New York di negeri kebebasan Paman Sam itu.
Pada saat Danny sudah mulai hidup layaknya sebagai satu keluarga yang normal, dia tertangkap lagi dan dipaksa utk bertarung lagi dalam bisnis adu manusia sampai mati itu. Danny berkali-kali menegaskan bahwa dia tak mau menyakiti orang lagi alias tak mau bertarung dengan sesamanya lagi. Tapi dipaksa, dan terjadilah pertarungan bahkan dia mesti melawan tiga empat petarung sekakigus. Danny menang tapi pamannya merugi karena Danny tidak menuntaskan pertandingan dengan kematian lawan sesuai aturan untuk menyenagkan nafsu gila penonton. Danny kemudian disiksa dan dijebloskan ke dalam kurungan jeruji besi yg telah menjadi alat pemaksa sepanjang hidupnya supaya taat buta pada kehendak dan perintah sang majikan itu.
Bagaimanapun juga, Danny nampak tegar dan malah makin penasaran dengan diri dan masa lalunya. Bukan hanya kegembiraan akan eksistensi dirinya dalam sejarah, dan fakta bahwa dia punya ibu.
Dia seolah mengalami pencerahan bahwa bisa pertama kali tidak mengikuti perintah sang majikan, untuk membunuh para lawan. Dia bisa membuktikan bahwa dia bisa saja menang, tanpa harus melakukan tindakan kekerasan apalagi pembunuhan.
Ada ungkapan terkenal bahwa hanya mereka yg mampu berperang, yang bisa menahan diri untuk tidak berperang dan siap membela perdamaian. Mungkin ungkapan ini bisa sama makna dengan ungkapan Latin: si vis pacem para belum, bila ingin damai bersiaplah berperang. Melatih diri untuk mampu berperang mungkin bisa menjadi salah satu cara orang atau negara untuk mampu memperjuangkan dan menegakkan perdamaian tanpa perang itu sendiri.
Bandingkan dengan filosofi karate tentang latihan "sekali pukul mati" dalam karate aliran Kyokushin seperti diajarkan Sosai Oyama. Semakin sang karateka menguasai teknik pukulan tertinggi, justru semakin dia mesti mengendalikan untuk tidak digunakan melukai orang lain. Itulah budo yang mesti menyertai seni beladiri karate yg paling keras itu. Tanpa Budo, Karate tidak ada isinya, kira2 demikian kata Oyama.
Dalam adegan menegangkan lainnya, sekali lagi Danny bisa membuktikan dirinya bukan saja mampu bertarung dan memenangkan pertarungan, tetapi juga mampu mengendalikan diri dari melukai dan membunuh pamannya. Padahal sang paman jelas sekali mengejek dan memprovokasi bahkan merendahkan martabat dan eksistensi Danny sendiri, yg justru baru mulai disadari dan sedang bertumbuh dalam dirinya. “Kamu itu kejam, itulah dirimu. Kamu terlahir untuk bertarung dan membunuh… Ibumu itu pelacur dan mengalami siksaan dari saya… Ayo bunuh saya, selesaikanlah sebagaimana dalam pertarungan yang telah melukai dan mengakhiri hidup para lawanmu.”
Sebaliknya si tuna netra yang belum lama menjadi bapaknya meminta Danny utk tidak berbuat kekerasan apalagi sampai membunuh sang agitator maniak darah itu. “Jangan Danny, kau akan akan dipenjara kalau melakukan itu… Jangan Danny, jangan kembali ke hidup yang lama sebagai anjing pembunuh...” Namun, Sam nampak tak tahan mendengar ocehan sang paman gadungan itu, dan tiba-tiba saja dia mengambil apa saja yang bisa dipegangnya, lalu mengayunkan ke kepala si paman maniak yang langsung tergeletak pingsan atau malah tak bernyawa lagi.
Danny kembali bisa menunjukkan kesabaran dan mengendalikan dirinya. Malah Sam yang kebapakan dan bijak itu mesti berakhir menjadi pelaku ketidaksabaran, tak mampu mengendalikan diri, ketakutan akan si lawan yang bisa saja menyerang balik, atau takut akan segala ketidakpastian, kegelapan, dan ketiadaan arah petunjuk hidup damai sebagai komunitas manusia…
Ini merupakan kontras peran yang justru menegaskan pesan moral dari film ini akan nilai keyakinan akan kemanusiaan, adanya daya jiwa dan rohani yang menjadi dasar kodrat manusia itu, walaupun ada saja manusia yang terjebak dalam topeng pencapaian palsu dan takut mengenali dan memperjuangkannya, bahkan tak sedikit pengkotbah dan pemimpin kemanusiaan yang jatuh dan tidak setia pada apa yg diajarkan dan diyakini mereka sendiri...
Peran Danny itu seperti sebuah pencerahan akan kebenaran bahwa manusia mampu melampaui dirinya, menjadi sempurna dan paripurna bahkan di dunia ini bagi yang percaya akan Tuhan dan kehidupan kekal. Tidak mesti melampiaskan amarah dan dendam, tapi tidak perlu bersikap pasrah dan pasif atas situasi penindasan atau dalam situasi pekerjaan cinta kasih terancam. (Bdk. ajaran non kekerasan atau Ahimsa dari Mahatma Gandhi, sebagaimana yang coba dijabarkannya dalam surat bertanggal 30 Juni 1918 kepada Esther Faering, seorang misionaris perempuan Denmark yang menjadi sahabatnya dan berkarya di India, dalam _Basis_ No. 11 – 12, Tahun Ke-69, 2020).
Ending kisah film ini diperlihatkan dalam suatu ruang pertunjukan musik yang diadakan khusus demi penghargaan bagi para pemenang beasiswa musik. “Saya akan membawakan musik piano, dan lagu ini saya persembahkan untuk dia yang diselamatkan oleh musik.” Demikian Victoria memaksudkan dia yang diselamatkan musik itu adalah Danny. Mengalunlah nada-nada indah Piano Sonata 11 A mayor “Andante grazioso” sebagaimana juga yang pernah dimainkan oleh ibu yang telah melahirkan dan merawat Danny di masa kecilnya itu.
Bila musik itu universal, sebagaimana cinta dan segala nilai dan ungkapan nya (Bdk. ajaran sufisme Jalaluddin Rumi, khusus terkait mistik tarian Dervish), mestinya bisa juga menjadi alat komunikasi dan perdamaian umat manusia dalam jagad semesta alam ini.
/StRk
17/11/2020
15/11/2020
08/11/2020
08/11/2020