DLight Institute

DLight Institute

Share

Be D*Light for Awareness and Enlightenment Sang waktu dalam semesta dan Pencipta ruang dan waktu sendiri yang membuat kita bisa bertemu dalam wadah ini. Betul?

Kami dari D*LIGHT Institute meyakini bahwa Anda semua adalah bagian dari sejarah perjalanan kami dalam proses "belajar dan berbagi" semua kehendak dan perbuatan baik sebagaimana yang menjadi visi-misi House of D*LIGHT. Melalui serial ÍNSPIRASI ini perkenankanlah kami belajar dan berbagi bersama dengan Anda sekalian untuk saling menginspirasi demi Kesadaran dan Pencerahan kita masing-masing, pribad

23/06/2021

"DISELAMATKAN OLEH MUSIK"

Danny The Dog (Unleashed), film layar kaca yang berkisah tentang seorang yang “dipelihara” layaknya sebagai anjing petarung di gelanggang pemuas nafsu hewani dari para penontonnya. Danny sang anjing petarung itu diperankan oleh Jet Lee.

Dalam suatu peristiwa, orang yang "merawat" dan menjadi tuannya mengalami insiden, tapi Danny bisa selamat walau penuh luka, lalu melarikan diri, lalu bertemu dengan satu keluarga, bapak dan anak angkatnya. Sam yang berprofesi sebagai tukang reparasi piano (diperankan oleh Morgan Freeman) dan anaknya Victoria yang sedang mempersiapkan resital piano di sebuah akademi musik.

Setelah beberapa lama hidup dalam situasi baru dalam keluarga bapak dan putri, Danny mulai belajar mengenali diri dan apa arti sesungguhnya keluarga. Dia mulai memahami bahwa dia mestinya punya ayah dan ibu juga,walau tak pernah ingat lagi siapa orangtuanya.

Sebelumnya, Danny hanya tahu paman Bart (diperankan oleh Bob Hoskins), seorang rentenir dan penjudi di gelanggang adu manusia. Semua ingatan diri dan tujuan hidupnya hanya seputar hidup dan kegiatan sang paman. Kalung besi di lehernya itulah tali kekang yang membuat Danny seolah nyaman dengan diri dan tuannya. Tali kekang itu menjadi semacam tombol on off menjadi manusia atau anjing petarung. Danny hanya tahu sang pamanlah yang bisa melepas dan mengikat kembali sesuai kepentingan dan perintahnya. Segala hal tentang hidupnya ditentukan oleh sang tuan yang telah membentuk dia menjadi Danny “Sang Anjing Petarung”.

“Kau akan kembali ke dunia yang kau pahami... kau adalah petarung, kau hidup untuk bertarung. Aku memastikan masa depanmu bersamaku. Lupakan masa lalumu itu. Sekarang juga kemarilah Danny di rumahmu yang nyaman.” Kata-kata sang paman sambil melambaikan tali kekang, tali keteraturan, tali disiplin sekian lama mendidik dan melatih Danny seperti anjing petarung, termasuk hidupnya dalam kandang atau mesti menjalankan tugas menakuti atau melukai para debitur yg lalai atau gagal bayar.

Danny nampak mulai terpengaruh dan mendekati sang majikan, namun tiba-tiba Danny menahan, mengambil, dan segera membuang tali kekang itu. “Aku sudah di rumah.”

Ya, bersama keluarga baru itulah, kesadaran diri yang mempunyai masa lalu, mempunyai orangtua, terutama mulai mengenali siapa sesungguhnya ibunya, mulai diketahui dan dirasakan Danny tahap demi tahap.

Lewat penelusuran sepotong foto yang masih terus disimpannya, ternyata itu seorang perempuan muda yang sedang bermain piano di sebuah ruangan belajar. Perlahan Danny mulai mengingat-ingat beberapa kepingan ingatan yg terlintas dalam kenangannya. Dan lewat pendengaran serta memainkan nada-nada dalam piano, ingatan tentang sang ibu dalam kebahagiaan memainkan musik membawa kebahagiaan dalam diri Danny, tapi segera kemudian diinterupsi oleh potongan peristiwa tragis kematian sang ibu di tangan penjahat. Orang yang membunuh ibunya jelas dalam penglihatan kenangan itu tak lain kemudian menjadi tuannya dengan sebutan Paman Bart itu.

Padahal yang dialami Danny bukan relasi kasih sebagaimana ponakan dan paman dalam ikatan keluarga, bahkan bukan relasi hewani yang natural saling menjaga saling menguntungkan, malah sekedar relasi sepihak demi keuntungan material dan ego dan kesenangan yang menyimpang serta dominasi paksaan yang penuh kekerasan ala hewani buatan manusia!

Kisah Danny menjadi manusia, setelah bertemu bapak dan anak itu, yg mana dalam keluarga kecil itu dia kemudian bertahap mengenali interaksi manusia yg menumbuhkan, belajar hal-hal dasar dalam komunikasi manusiawi, bahkan mengenali dan menyembuhkan diri dari luka masa lalu. Lewat musik piano, Danny dituntun ke kenangan yg sdh terkubur tentang ibunya karena info pendidikan dan pelatihan yg salah, bahkan serendah-rendahnya sebagai hewan petarung. Ternyata ibunya seorang pemain Piano yg berbakat yg tiba2 menghilang karena geng rentenir penjudi. Danny direnggut dari ibunya yang masih belia dari Tiongkok yang meniti karir di New York di negeri kebebasan Paman Sam itu.

Pada saat Danny sudah mulai hidup layaknya sebagai satu keluarga yang normal, dia tertangkap lagi dan dipaksa utk bertarung lagi dalam bisnis adu manusia sampai mati itu. Danny berkali-kali menegaskan bahwa dia tak mau menyakiti orang lagi alias tak mau bertarung dengan sesamanya lagi. Tapi dipaksa, dan terjadilah pertarungan bahkan dia mesti melawan tiga empat petarung sekakigus. Danny menang tapi pamannya merugi karena Danny tidak menuntaskan pertandingan dengan kematian lawan sesuai aturan untuk menyenagkan nafsu gila penonton. Danny kemudian disiksa dan dijebloskan ke dalam kurungan jeruji besi yg telah menjadi alat pemaksa sepanjang hidupnya supaya taat buta pada kehendak dan perintah sang majikan itu.

Bagaimanapun juga, Danny nampak tegar dan malah makin penasaran dengan diri dan masa lalunya. Bukan hanya kegembiraan akan eksistensi dirinya dalam sejarah, dan fakta bahwa dia punya ibu.

Dia seolah mengalami pencerahan bahwa bisa pertama kali tidak mengikuti perintah sang majikan, untuk membunuh para lawan. Dia bisa membuktikan bahwa dia bisa saja menang, tanpa harus melakukan tindakan kekerasan apalagi pembunuhan.

Ada ungkapan terkenal bahwa hanya mereka yg mampu berperang, yang bisa menahan diri untuk tidak berperang dan siap membela perdamaian. Mungkin ungkapan ini bisa sama makna dengan ungkapan Latin: si vis pacem para belum, bila ingin damai bersiaplah berperang. Melatih diri untuk mampu berperang mungkin bisa menjadi salah satu cara orang atau negara untuk mampu memperjuangkan dan menegakkan perdamaian tanpa perang itu sendiri.

Bandingkan dengan filosofi karate tentang latihan "sekali pukul mati" dalam karate aliran Kyokushin seperti diajarkan Sosai Oyama. Semakin sang karateka menguasai teknik pukulan tertinggi, justru semakin dia mesti mengendalikan untuk tidak digunakan melukai orang lain. Itulah budo yang mesti menyertai seni beladiri karate yg paling keras itu. Tanpa Budo, Karate tidak ada isinya, kira2 demikian kata Oyama.

Dalam adegan menegangkan lainnya, sekali lagi Danny bisa membuktikan dirinya bukan saja mampu bertarung dan memenangkan pertarungan, tetapi juga mampu mengendalikan diri dari melukai dan membunuh pamannya. Padahal sang paman jelas sekali mengejek dan memprovokasi bahkan merendahkan martabat dan eksistensi Danny sendiri, yg justru baru mulai disadari dan sedang bertumbuh dalam dirinya. “Kamu itu kejam, itulah dirimu. Kamu terlahir untuk bertarung dan membunuh… Ibumu itu pelacur dan mengalami siksaan dari saya… Ayo bunuh saya, selesaikanlah sebagaimana dalam pertarungan yang telah melukai dan mengakhiri hidup para lawanmu.”

Sebaliknya si tuna netra yang belum lama menjadi bapaknya meminta Danny utk tidak berbuat kekerasan apalagi sampai membunuh sang agitator maniak darah itu. “Jangan Danny, kau akan akan dipenjara kalau melakukan itu… Jangan Danny, jangan kembali ke hidup yang lama sebagai anjing pembunuh...” Namun, Sam nampak tak tahan mendengar ocehan sang paman gadungan itu, dan tiba-tiba saja dia mengambil apa saja yang bisa dipegangnya, lalu mengayunkan ke kepala si paman maniak yang langsung tergeletak pingsan atau malah tak bernyawa lagi.

Danny kembali bisa menunjukkan kesabaran dan mengendalikan dirinya. Malah Sam yang kebapakan dan bijak itu mesti berakhir menjadi pelaku ketidaksabaran, tak mampu mengendalikan diri, ketakutan akan si lawan yang bisa saja menyerang balik, atau takut akan segala ketidakpastian, kegelapan, dan ketiadaan arah petunjuk hidup damai sebagai komunitas manusia…

Ini merupakan kontras peran yang justru menegaskan pesan moral dari film ini akan nilai keyakinan akan kemanusiaan, adanya daya jiwa dan rohani yang menjadi dasar kodrat manusia itu, walaupun ada saja manusia yang terjebak dalam topeng pencapaian palsu dan takut mengenali dan memperjuangkannya, bahkan tak sedikit pengkotbah dan pemimpin kemanusiaan yang jatuh dan tidak setia pada apa yg diajarkan dan diyakini mereka sendiri...

Peran Danny itu seperti sebuah pencerahan akan kebenaran bahwa manusia mampu melampaui dirinya, menjadi sempurna dan paripurna bahkan di dunia ini bagi yang percaya akan Tuhan dan kehidupan kekal. Tidak mesti melampiaskan amarah dan dendam, tapi tidak perlu bersikap pasrah dan pasif atas situasi penindasan atau dalam situasi pekerjaan cinta kasih terancam. (Bdk. ajaran non kekerasan atau Ahimsa dari Mahatma Gandhi, sebagaimana yang coba dijabarkannya dalam surat bertanggal 30 Juni 1918 kepada Esther Faering, seorang misionaris perempuan Denmark yang menjadi sahabatnya dan berkarya di India, dalam _Basis_ No. 11 – 12, Tahun Ke-69, 2020).

Ending kisah film ini diperlihatkan dalam suatu ruang pertunjukan musik yang diadakan khusus demi penghargaan bagi para pemenang beasiswa musik. “Saya akan membawakan musik piano, dan lagu ini saya persembahkan untuk dia yang diselamatkan oleh musik.” Demikian Victoria memaksudkan dia yang diselamatkan musik itu adalah Danny. Mengalunlah nada-nada indah Piano Sonata 11 A mayor “Andante grazioso” sebagaimana juga yang pernah dimainkan oleh ibu yang telah melahirkan dan merawat Danny di masa kecilnya itu.

Bila musik itu universal, sebagaimana cinta dan segala nilai dan ungkapan nya (Bdk. ajaran sufisme Jalaluddin Rumi, khusus terkait mistik tarian Dervish), mestinya bisa juga menjadi alat komunikasi dan perdamaian umat manusia dalam jagad semesta alam ini.

/StRk

17/11/2020

SALIB YESUS

Ketika gelombang pendapat umum berbalik melawan Yesus, Dia mengalami kesepian sebagai seorang yang memiliki pemecahan masalah hidup yang tak diinginkan seorang pun. Semua orang seakan-akan mencintai masalah-masalah mereka. Mereka sangat berpengang teguh pada masalah-masalah itu. Kita takut akan risiko baru yang muncul karena menyangkal rasa sakit dan penderitaan. Tidak ada kemungkinan lain kecuali mengambil salib-Nya sendiri, menerima segala penolakan, salah paham, kebutaan spiritual, dan penolakan mereka yang mau diselamatkan-Nya. Dia harus memikul penolakan seluruh umat manusia untuk bertobat dan hidup secara penuh. Dia telah menjalankan penebusan dosa demi ketenangan dna peristirahatan kita. Dia mempersembahkan penderitaan-Nya kepada Bapa-Nya untuk tujuan yang sama, yakni membuka jalan bagi kita untuk mencari kebijaksanaan dan rahmat guna melakukan apa yang tidak ingin kita lakukan secara sukarela.

"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:24). Permohonan yang mendalam dari korban demi cinta yang memberikan hidup-Nya bagi kita mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Ketika kita terpaku pada masalah-masalah kita dan menolak untuk mengatasinya, dan bahkan tidak ingin belajar darinya; ketika kita melarikan diri dari duka dan derita, kita tidak menyadari bahwa kita sedang menyiksa diri sendiri dengan menolak hidup baru yang datang bila kita memanggul salib dengan berani. Dalam penolakan kita terhadap rahmat, kita sendiri adalah musuh dan lawan yang paling berat, kita memilih mati dan bukan hidup, karena tidak mungkin mengambil suatu posisi netral dan sikap abstain. Kita maju terus atau kita mundur dalam hidup. Kita tidak dapat menjadi penonton karena tidak hidup adalah sama dengan mati.

Apa yang dibuktikan oleh Yesus ialah bahwa kebangkitan hanya bisa datang SETELAH kematian. Kebangkitan tidak ada sebelum kematian, sebagaimana harga damai sejahtera yang melebihi segala pengertian dan memberi kita sukacita abadi di dalam Tuhan hanya bisa datang setelah dukacita dan penderitaan melakukan karya yang menyelamatkan dalam hidup kita. Sukacita dan damai sejahtera adalah sisi kebangkitan dari dukacita dan penderitaan, dan membuat kita tidak terkalahkan dalam bagian hidup yang sudah dimenangkan. Apa pun yang kita letakkan pada kaki salib Yesus dan dibiarkan untuk ditebus secara penuh tidak dapat lagi dikuasai oleh musuh. Hal ini telah terlakasa dalam proses transformasi dan kematian menuju kehidupan.

Sebagai contoh, jika kesombongan kita telah dihancurkan secara permanen melalui penderitaan, dan kita bersama bantuan rahmat ilahi telah membawanya pada kaki salib dan membiarkannya mati di sana, maka kerendahan hati yang dihasilkannya lahir dari surga dan melampaui jangkauan lawan. Itulah kebangkitan, sukacita, dan damai sejahtera. Orang ini telah bebas dengan gilang gemilang dan tidak ada penghinaan yang akan merugikan dia lagi karena dia berada dalam tangan Tuhan dan di bawah naungan kekuatan rahmat penebusan.

Hal ini kita katakan dalam doa yang bagus, yang digunakan sebagai suatu aklamasi sesudah konsenkrasi Misa: "Tuhan, dengan salib dan kebangkitan-Mu, Engkau telah membuat kami bebas, Engkau Penebus Dunia". Apa yang Yesus inginkan disini adalah agar hal ini menjadi suatu realitas hidup kita, karena dengan demikian kita pun menjadi saksi-saksi kebangkitan.

"Be D*Light for Awareness & Enlightenment"

D*Light Institute – House of D*Light
Tomang, Jakarta Barat

To inspire, educate and entertain

Sumber: Suffering, the Unwanted Blessing: Ziarah Batin di Belantara Penderitaan oleh Frances Hogan

Image by Matius Campos Felipe via Unsplash

15/11/2020

TEMUKAN MAKNA HIDUPMU DENGAN BANTUAN LOGOTERAPI CIPTAAN VIKTOR FRANKL

Apa yang membuat hidup ini jadi bermakna? Apa yang membuat orang-orang yang berada di tengah momen-momen penderitaan, masa-masa sulit, dan malam-malam kehidupan yang kelam tetap berjuang untuk melewatinya?

Pencarian jawaban akan pertanyaan “Apa makna dari hidup ini?” sudah diajukan semenjak manusia ada di planet bumi ini. Menemukan makna dari hidupnya boleh jadi adalah yang menjadi motivasi utama seseorang dalam menjalani hidupnya. Dan konsep ini menjadi dasar bagi “Logoterapi.”

Definisi dari Logoterapi

Logoterapi kerap disebut-sebut sebagai “the Third Viennese School of Psychoterapy” yang terbentuk sekitar tahun 1930-an sebagai respons dari psikoanalisa dari Freud dan penekanan pada kekuasaan dalam masyarakat dari Adler. Tapi Logoterapi lebih dari sekadar “terapi”. Ini adalah falsafah bagi orang-orang yang tersesat dalam artian rohani, pendidikan bagi orang-orang yang mengalami kebingungan dan kegalauan, serta menawarkan dukungan untuk menghadapi penderitaan dan kesembuhan bagi orang-orang sakit (Guttman, 2008).

Logoterapi memeriksa aspek fisik, psikologis dan spiritual dari manusia, dan ini dapat dilihat dari ekspresi dari cara seorang individu berfungsi. Kerap dipandang sebagai aliran berpikir humanistik-eksistensial, namun juga dapat digunakan berbarengan dengan terapi-terapi kontemporer (McMullin, 2000).

Bertentangan dengan keinginan untuk mengalami kenikmatan (will to pleasure) menurut Freud dan keinginan untuk berkuasa (will to power) menurut Alder, Logoterapi didasarkan pada gagasan bahwa manusia didorong oleh keinginan untuk menemukan makna (will to meaning), atau hasrat untuk menemukan makna dan tujuan dalam kehidupan (Amelis & Dattilio, 2013).

Sebagai manusia, kita kerap berespons terhadap situasi dalam dua dimensi berfungsi (fisik/psikologis) dengan respons-respons otomatis yang terkondisi. Contohnya, self-talk negatif, tindakan-tindakan irasional, ledakan-ledakan amarah dan perasaan-perasaan negatif.

Hewan juga berfungsi dalam dua dimensi ini. Dimensi ketiga dalam berfungsi inilah yang membedakan manusia dari hewan dan tumbuhan. Inilah keindahan Logoterapi.

Meski manusia dapat bertahan hidup seperti layaknya hewan yang hidup dalam dua dimensi di atas (memuaskan kebutuhan fisik dan berpikir), Logoterapi menawarkan keterhubungan yang lebih mendalam dengan jiwa dan kesempatan untuk mengeksplor apa yang menjadikan kita unik sebagai manusia.

Dimensi spiritual adalah dimensi makna. Dalil-dalil dasar dari Logoterapi adalah:
• Kehidupan manusia itu memiliki makna
• Manusia rindu untuk mengalami penghayatan akan makna hidupnya, dan
• Manusia punya potensi untuk mengalami makna dalam setiap situasi hidup (Schulenberg, 2003).

Siapa itu Viktor Frankl?

Viktor E. Frankl adalah seorang profesor di bidang neurologi dan psikiatri di University of Vienna Medical School.
Psikiater dan neurolog asal Austria ini lahir pada 26 Maret 1905 dan dikenal lewat buku memoar psikologi berjudul Man’s Search for Meaning dan sebagai bapak dari Logoterapi.
Ia menulis empat puluh buah buku yang telah diterjemahkan ke dalam limapuluh bahasa, yang menunjukkan bahwa cinta, kebebasan, makna dan tanggung jawab dapat melampaui ras, kultur, agama dan benua.

Memoarnya yang terkenal diawali dengan paparan tentang pengalaman pribadi di kamp konsentrasi Auschwitz yang mengerikan. Periode tiga tahun yang dihabiskan di kamp konsentrasi itu menjadi lebih dari sekadar kisah tentang bertahan hidup. Frankl mencerminkan definisi jaman kini dari “ketahanan”.
Ia merenungkan tentang pencarian akan makna, kekuatan cinta yang transendental (melampaui), menemukan humor, dan menemukan keberanian saat berhadapan dengan kesulitan. Dalam situasi-situasi terburuk yang dapat dibayangkan, Frankl berpegang pada keyakinan bahwa kebebasan paling utama adalah kemampuan seorang individu untuk menentukan sikapnya.

Teori Viktor Frankl

Frankl memandang Logoterapi sebagai cara untuk meningkatkan terapi-terapi yang ada saat itu lewat memberi penekanan pada “dimensi makna” atau dimensi spiritual dari manusia. Tiga konsep filosofis dan psikologis yang membentuk Logoterapi ciptaan Frankl adalah: kehendak bebas (freedom of will), kehendak/keinginan untuk bermakna (will to meaning), dan makna dalam kehidupan (meaning of life) (Batthyany, 2019).

Kehendak bebas (freedom of will), menegaskan bahwa manusia bebas untuk memutuskan dan mengambil posisi/sikap terhadap kondisi internal dan eksternal. Kebebasan dalam konteks ini diartikan sebagai ruang untuk seseorang membentuk hidupnya sendiri di dalam batas-batas kemungkinan-kemungkinan tertentu. Ini memberi ruang pada klien untuk otonomi saat menghadapi penyakit psiklogis atau somatik. Intinya, kita bebas untuk menentukan respons kita dalam situasi apa pun.

Kehendak/keinginan untuk bermakna (will to meaning), menyatakan bahwa manusia tidak hanya bebas namun juga bebas untuk mencapai sasaran/tujuan dalam hidupnya. Rasa frustrasi, agresi, adiksi, depresi dan tendensi bunuh diri akan meningkat saat seorang individu tak dapat menyadari “kehendak/keinginannya untuk bermakna.” Sebagai manusia, motif utama kita adalah untuk mencari makna dan tujuan dalam hidup kita. Kita sanggup mengatasi kesenangan/kenikmatan dan menahan penderitaan demi sebuah perkara/tujuan yang bermakna.

Makna dalam kehidupan (meaning in life), dilandasi oleh gagasan bahwa makna adalah suatu realita obyektif ketimbang ilusi semata atau persepsi pribadi. Manusia memiliki baik kebebasan maupun tanggung jawab untuk memunculkan/mengeluarkan diri terbaik mereka lewat menyadari makna dalam momen/saat dalam setiap situasi.

Dapatkah kita menemukan makna dalam setiap situasi, bahkan juga dalam penderitaan yang tak dapat dielakkan? Kita dapat menemukan makna dalam hidup lewat kepingan-kepingan informasi kreatif (creative clues), nilai-nilai yang melibatkan pengalaman langsung (experiential values) dan nilai-nilai sikap (attitudinal values) (Lewis, 2011).

Hasil-hasil empiris & riset

Logoterapi memiliki aplikasi praktis dari setiap dimensi seorang individu (ontologi tiga dimensi). Dalam konteks ilmu psikologi, Logoterapi menggunakan teknik-teknik tertentu berupa inteksi paradoksal (paradoxical intention) dan derefleksi (dereflection) untuk menangani masalah kegelisahan, gangguan kompulsif, obsesi dan fobia.

Dalam konteks ilmu psikologi, Logoterapi adalah sebuah cara efektif untuk menangani penderitaan dan derita fisik serta rasa kehilangan. Dalam konteks spiritual, Logoterapi dapat menunjukkan bahwa kehidupan punya makna dan tujuan, dimana ini terlihat pada orang-orang yang menderita kekosongan eksistensial “existential vaccum” yang berwujud dalam rasa bosan, apati, kekosongan/kehampaan jiwa, dan depresi (Frankl, 2006).

1. PTSD & Stres Akut

Salah satu penerapan Logoterapi yang paling efektif adalah kemampuannya untuk memberdayakan individu, membebaskan mereka dari simptom-simptom mereka, dan meningkatkan kapasitas mereka untuk proaktif

Karena Logoterapi dibangun di saat permulaan penderitaan, maka ini adalah terapi alami untuk penanganan pengalaman-pengalaman traumatis. Logoterapi adalah pengobatan yang sangat bermanfaat bagi individu-individu yang mengalami Gangguan Stres Akut (Acute Stress Disorder) PTSD.

Dalam banyak kasus penanganan pasien dengan PTSD yang berhubungan dengan pengalaman dalam kancah peperangan, latihan-latihan Logoterapi yang memberi penekanan pada pembentukan makna, mengarah pada penurunan signifikan pada gejala-gejala stres, kegelisahan dan depresi (Schiraldi, 2000). Riset tentang efektivitas Logoterapi untuk mengobati PTSD semakin ditegaskan lewat riset kualitatif dan studi kasus.

2. Penanganan obat dan alkohol

Ada kesamaan/paralel yang jelas antara elemen spiritual dalam Alkoholics Anonymous (AA) dan konsep menemukan makna pribadi dalam Logoterapi.

Frankl membahas agresi, depresi dan adiksi terjadi saat individu mengalami kekosongan eksistential (existential vacuum) (Frankl, 2006). Kekosongan ini mengarah pada pelanggaran norma-norma sosial, gejala-gejala stres dan adiksi.

Penanganan bagi kekosongan ini, adalah tentu saja menuntun klien untuk menemukan kebebasan untuk memilih, kehendak/keinginan menemukan makna serta tanggung jawab untuk menjalani hidup dengan tujuan (Hutzell, 1990).

Logoterapi efektif untuk mengurangi keinginan berlebih untuk minuman keras dan banyaknya konsumsi minuman keras. Selain itu, Logoterapi telah berhasil meningkatkan makna hidup dan kesehatan mental di kalangan istri para peminum (Cho, 2008).

Frankl mengajukan argumen bahwa saat individu dapat bersentuhan dengan kebebasan, tanggung jawab, dan tujuan hidup, maka tak ada lagi kebutuhan atau keinginan akan bahan pengubah pikiran (mind-altering substances), seperti minuman keras atau obat terlarang.

3. Kegelisahan dan depresi

Logoterapi efektif digunakan untuk pengobatan depresi dan kegelisahan. Ada satu penelitian yang secara khusus melihat pengaruhnya pada depresi dan stres di kalangan pasien kanker serviks (Soetrisno & Moewardi, 2017).

Para peneliti mengukur tingkat kortisol (hormon stres) menggunakan Beck Depression Inventory (BDI) pada dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 15 pasien. Satu kelompok menerima penanganan Logoterapi selama totalnya enam minggu (sesi 45 menit per minggu), dan kelompok kontrol menerima penanganan standar untuk kanker.

Setelah enam minggu terjadi penurunan skor yang signifikan pada BDI dan tingkat kortisol bagi kelompok yang mendapat penanganan, sedangkan kelompok kontrol tak mengalami penurunan (Soetrisno, Moewardi, 2017). Maka, dapat ditarik kesimp**an bahwa peningkatan dalam makna hidup bagi para pasien kanker menurunkan tingkat stres dan depresi

Logoterapi juga berhasil mengurangi tingkat penderitaan dan meningkatkan makna hidup pada kelompok pasien kanker usia remaja saat dibandingkan dengan kelompok kontrol (Kang, Im, Kim, Mi-Kyung, & Songyong, 2009).

Demikian p**a, sesi Logoterapi berdurasi dua jam pada kelompok yang terdiri dari 22 orang pasien kanker payudara telah menurunkan skor BDI secara signifikan (Hagigi, Khodaei, dan Sharifzadeh, 2012). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Logoterapi adalah penanganan yang bermanfaat bagi pasien yang sedang bergulat dengan kanker atau penyakit-penyakit berat lainnya.

Salah satu quote Frankl yang paling terkenal, “Tidak begitu penting apa yang kita harapkan dari kehidupan, namun yang lebih penting adalah apa yang diharapkan oleh kehidupan dari kita” (Frankl, 1986).

“Makna hidup itu ditemukan, bukan diciptakan” (Frankl).

Quote lain yang terkait erat, “Dia yang punya alasan untuk hidup sanggup menanggung hampir semua bagaimana cara menjalani hidupnya.” (Nietzsche).

Pesan penutup

Mungkin, pertanyaan “apa makna dari kehidupan?” bukanlah sebuah pertanyaan yang tepat bagi kita. Mengajukan pertanyaan ini seolah lebih mengarah pada gejalanya, dan bukan pada masalahnya. Jika kita terus berupaya untuk menemukan makna hidup kita, baik lewat pengalaman-pengalaman baik atau buruk, kita akan mengalami kelepasan dari masalah eksistensial dan mengalami peningkatan dalam hal ketahanan dan kesejahteraan.

Saat kita telah menemukan sumber-sumber makna dan mempertalikan itu dengan nilai-nilai dan kekuatan-kekuatan diri kita, ini akan mengarah pada kebahagiaan mendalam dan kehidupan penuh makna.

"Be D*Light for Awareness & Enlightenment"

D*Light Institute – House of D*Light
Tomang, Jakarta Barat

To inspire, educate and entertain…

Alih bahasa: Boni Sindyarta
Sumber: Logotherapy: Viktor Frankl’s Theory of Meaning by Melissa Madeson, Ph.D.

Image by Keegan Houser via Unsplash

12/11/2020

Pada suatu ketika di hadapan pohon yang sedang melambai-lambaikan daun dan dahannya ditiup angin, murid bertanya kepada sang guru.

"Guru apakah yg bergerak itu, ranting atau angin?"

"Bukan ranting atau angin yang bergerak, tetapi hati dan pikiranmu." Jawab sang guru sambil menatap lembut si murid yang ragu dan sedang mencari dasar pijakan hidup.

***

Pada saat bangun dari tidur, si murid menangis. Samg Guru memperhatikan muridnya.

"Apakah kau bermimpi buruk?"

"Tidak, guru."

"Apakah kau bermimpi sedih?"

"Tidak, guru. Aku bermimpi indah."

"Tetapi kenapa kau menangis?"

"Aku menangis karena mimpi indah tak jadi kenyataan."

Hidup ini begitu indah bila dijalani dengan keberanian, apapun situasinya. Pahit manis itulah realitas yang mesti dialami. Tak ada jalan lain untuk berdiam saja tak mau berbuat apa-apa, apalagi untuk kembali bersembunyi di balik topeng ketakutan yang egoistik.

Hidup yang tak direfleksikan adalah hidup yang dangkal dan tanda tiada tanggungjawab penuh pada nilai kehidupan itu sendiri, yg ada dalam diri sendiri dan sesama bahkan lingkungan alam semesta.

@ film A Bittersweet Life: No Turning Back, No Regrets

08/11/2020

Krishna kepada Sang Kekasih
film antv terbaru: Radha Krishna

Kebenaran akan membebaskanmu kata sang bijak. Namun jika kamu tidak memiliki keyakinan dalam hatimu maka kebenaran itu tak akan pernah kau temukan. Selama dirimu masih diselimuti awan gelap kemarahan, kamu hanya akan membuat dirimu membenci dan melukai diri sendiri.

Betapa sedihnya hatiku bila kau masih dikuasai kemarahan semacam itu. Apa sebenarnya yang terjadi dengan dirimu, hanya kau sendirilah yang lebih tahu.

Hanya kuminta sadarilah segala kemarahanmu itu sampai dasar tergelapnya, ikatlah dia di sana dengan cintamu yang kuat supaya dia menjadikan dirimu kembali tenang dan siap untuk dibebaskan oleh kebenaran itu sendiri. Sebuah kebenaran bahwa cinta itu lebih kuat daripada benci.

Kebenaran itu sungguh dibuktikan oleh cinta itu sendiri, siap berkorban demi kebahagiaan sejati dari yang tercinta. Tak sampai hati menyaksikan kemarahan dan kebencian menguasai sang kecintaan.

By SteRegk

08/11/2020

*Makin Pahami Diri Sendiri Melalui Perspektif Liyan*

Dr. Max Godwin sibuk menolong banyak pasien yg tak mampu dengan mengusahakan perawatan dan pengobatan gratis melalui asuransi kesehatan...

Sementara itu dia sedang menanggung sakit kanker yg makin menggerogoti tubuhnya. Dia khawatir akan tak mampu lagi memimpin RSU itu sebagai direktur utama. Semua dokter, perawat dan pekerja kesehatan di rs itu pernah ditolongnya secara personal dan institusional.

Dalam Musim 1, Episode 22 dari "New Amsterdam" ini, isteri Max, Georgia, sedang hamil dan selalu mendukung sang direktur, yang baik hati itu dalam menjalankan tugasnya, pun dalam sakit penyakitnya itu.

Karena semakin melemah Max diperankan oleh aktor Amerika Ryan James Eggold, bersedia dibantu Dr. Helen Sharpe yang diperankan oleh Freema Agyeman si aktris cantik hitam manis blasteran Iran dan Ghana kelahiran London, sebagai direktur bagian medis.

Setelah kesibukan kerja dan segala macam masalahnya, Max selalu kembali ke rumahnya, dan disambut istrinya dengan lembut dan penuh perhatian. Max terduduk di lantai menyandarkan diri di ranjang, dan berbagi kisah terutama kekhawatirannya atas sakitnya di hadapan istrinya yang hamil tua itu, menunggu kelahiran anak yang akan diberi nama Luna.

Masih dalam keprihatinan atas situasi diri sendiri dan tanggungjawab besar di rumah sakit, tiba-tiba istrinya mengalami pendarahan, yang membuat Max kaget dan langsung mengontak rumah sakit. Max berusaha melakukan tindakan awal untuk mengatasi pendarahan itu tapi peralatan serba tak memadai.

Kebetulan Dr. Lauren Bloom yang diperankan oleh aktris cantik kulit putih Janet Montgomery datang ke rumah pada saat yang tepat. Padahal dia datang dengan maksud utk pamitan dengan Max, karena berkonflik dan tak dihiraukan Dr. Helen yang dipercaya Dr. Max untuk membantu rumah sakit umum yang sangat sibuk tersebut.

Max berterimakasih karena Lauren datang pada saat dibutuhkan, tapi sayang memang tak banyak yg bisa diperbuat kecuali menunggu ambulance datang untuk dibawa ke Rumah Sakit.

Sambil menunggu ambulance, Lauren mengambil alih penanganan darurat medis itu. Sang isteri pingsan beberapa kali yg bisa membahayakan sang janin. Dan Max tak berdaya.

"Saya sangat egois, terlalu memikirkan diri saya yg akan segera mati, padahal ternyata George sangat butuh perhatian di saat masa hamilnya ini."

Karena ambulance belum datang juga, dan situasi makin kritis maka segera akan diambil tindakan dengan resiko yg fatal. Pilihan antara hidup isteri atau anak, dan Max tak sanggup memikirkan.

Lauren minta ijin untuk ambil keputusan, supaya Max tak perlu merasa bersalah nanti, bila kehilangan dan marah karena merasa bersalah ambil keputusan.

Berdasarkan analisis kemungkinan terburuk, maka Lauren prioritaskan si bayi diselamatkan. Dan setelah Luna diselamatkan, syukurlah pada saat kritis bagi George, datanglah perlengkapan medis dan ambulans bersama Dr. Helen yang berinisatif mesti mendampinginya, dan si ibu bisa diselamatkan juga.

Dr. Lauren yang kecewa pada Dr. Helen yang sebagai direktur baru bagian medis dianggap kurang mendukung tugas dan usulannya dalam penanganan medis di rumah sakit, akhirnya menemukan kembali dirinya bahwa justru kekecewaan itu yg membuat dia datang ke rumah Max dan bisa diberi kesempatan berbuat baik. Dia merasa diselamatkan oleh ketidaknyamanan itu.

Hati nuraninya menguat, jiwanya menyegar lagi karena bisa menolong teman ambil keputusan dan dalam peristiwa melahirkan kehidupan baru yang sangat rumit dan berisiko itu.

Namun naas dalam perjalanan menuju rumah sakit, tiba-tiba ambulans itu ditabrak oleh mobil yang menerobos lampu merah di persimpangan jalan.

Apa maksud dan moral cerita dalam Episode, berjudul "Luna" yang menjadi akhir musim pertama serial tersebut?

Dalam bagian lain ada alur kisah lain yang juga menggugah naluri hati dan alam berpikir manusia khususnya para profesional dan pemimpin untuk membuat evaluasi dan sikap serta tindakan yang wajar dan tepat, dengan mulai menyadari problem diri sendiri untuk bisa memahami orang lain.

Dikisahkan seorang pasien pensiunan dini militer, Jacob, kena penyakit sindrom gangguan stres pasca trauma (PTSD) yg sering dialami mereka yang bertugas di garis depan medan perang yang menyaksikan dan mengalami peristiwa mengerikan dan kejam yang absurd dan susah diterima nurani dan akal sehat.

"Ada apa dengan otakku? Mengapa dia yg justru menyelamatkanku tapi malah kuanggap mencelakakanku dan dunia terlihat jahat semua?" Jacob mulai menyadari dan menemukan dirinya yang sebenarnya, setelah berproses di bawah bimbingan psikiater Dr. Iggy Frome.

"Pahamilah cara kerja otak. Segala malapetaka dan fakta kecelakaan memang ada bahkan tak terhindarkan. Tapi pilihan untuk tetap bangkit dari masalah dan berusaha berbuat apa yg bisa dibuat, walau sulit tapi ada cahaya bahkan ada banyak cahaya yg membantu."

Ungkapan refleksi dari narator film ini bisa menjadi penegas maksud tujuan sang sutradara supaya manusia makin mengenali diri dan prioritas hidup, termasuk mengenali perspektif liyan, pihak lain siapa saja, yang dalam spiritualitas universal lintas identitas itu didasari dan dilampaui dalam cara melihat sang Cahaya itu sendiri apapun istilahnya.

Be D*Light for Awareness & Enlightenment"

D*Light Institute – House of D*Light - Seven Grain D*Light
Tomang, Jakarta

To inspire, educate and entertain

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


DLight Cafe Jalan Mandala Raya 20 ABC Tomang
Jakarta
11440