Di masa pandemi ini, laju ekonomi diprediksi merosot atau setidaknya melambat. Namun ada pihak lain yang lebih diuntungkan, misal pendiri platform komunikasi seperti Zoom, Amazon, Alibaba dll. Mengapa bisa begitu? Saya coba uraikan dengan sederhana dalam video ini. Silahkan kunjungi jika berkenan :)
Full movie click: https://youtu.be/o13lTpq9ZL4
Belajar Merdeka
Ruang untuk menyediakan informasi pendidikan yang memerdekakan manusia. Muatan di sini merupakan hasil diskusi bulanan di Studio Sang Akar, Tebet.
13/06/2017
Sosok Merdeka: Martin Siregar. Lahir di Medan setengah abad yang lalu. Masa mudanya dihabiskan untuk menggeluti persoalan-persoalan sosial, utamanya anak jalanan. Sejak tahun 1986, ia telah menjalankan program bersama anak-anak jalanan di Medan. Niat bekerja bersama masyarakat semakin terfokus setelahia drop out dari perguruan tinggi. Pada tahun 1990 ia memulai program pengorganisasian anak pedesaan di Tapanuli Utara Sumatera Utara 1990
Merasa bosan diMedan, 1996 tanpa pegangan yang jelas hijrah ke Pontianak Kalimantan Barat. Setelah luntang lantung tak tentu arah akhirnya menemukan tempat berlabuh. Sering berkomunikasi dengan pers mahasiswa Universitas Tanjung Pura. Pada tahun itu p**a ia menikah dengan gadis Dayak Sanggau : Idawaty cantik jelita yang kini bersama sama membesarkan anak tunggal mereka Jati Theresia Mortanca Siregar
Kembali ke Medan pada tahun 2007, ia terlibat dalam Program Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh Barat. Dalam kesempatan inilah menemukan rongsokan berlumpur akibat bencana Tsunami (2005), rangka sepeda ontel Gazelle (1932). Sepeda ini dipermak sedemikian rupa, sehinggabisa digunakan kembali dan menjadi kendaraan utamanya selama di Meulaboh dan di Medan.
Menerbitkan buku : “Istriku” Kump**an Cerpen Unkonvensionil Jilid I atas kerja sama Ford Foundation – IKAPI Kalbar (2003). Tahun 2008 di Medan menerbitkan “Kawan Kentalku Bason” Kump**an Cerpen Unkonvensionil II atas dukungan The Camp Connection 77. Buku ke tiganya: “BAH: Kump**an Renungan Singkat Unkonvensionil”.
Tengah 2010 merasa jenuh kerja di dunia perLSMan, bersama keluarga hijrah ke dusun Bali, desa Sebarra kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kapuas, Kalimantan Barat. Ia menekuni pekerjaan barunya sebagai petani karet tradisionil di tanah leluhur keluarga.
[Profil ringkas Martin Siregar diambil dari https://profilpenulis.wordpress.com/2013/09/18/martin-siregar/]
Kita Pasti Menang Telah tegak berdiri Sarikat persaudaraan Telah tertulis sejarah indah
03/11/2016
Cara pengajaran universal dan alamiah menyadarkan bahwa semua teori tentang pendidikan, termasuk pendidikan emansipatoris-pendidikan yang katanya akan mengemansipasikan-, berpusat pada figur gurunya sendiri. Bila sang guru sendiri tidak teremansipasi, sok tahu dan beranggapan dia yang paling pakar sehingga semua orang lain perlu ia cerahkan, maka pada saat itu jugalah kegelapan oligarki sedang menebarkan cakarnya....
Makalah Filsafat Pendidikan Jacques Rancière – Romo A. Setyo Wibowo – Jaringan Pendidikan Alternatif
28/10/2016
Pendidikan Moderen Mengasingkan dari Alam.....Tidak tahu bagaimana caranya menyapa penduduk desa. Tidak paham sama sekali caranya berinteraksi dengan alam. Gagal bermasyarakat. Gagal menyesuaikan hidup dengan alam......
Mencermati Wawasan Rabindranath Tagore (Bagian III) Pendidikan Moderen Mengasingkan dari Alam Selanjutnya, kita akan melihat penjelasan Tagore dalam mendukung sang pelajar untuk lebih mempererat hubungan dengan alam. Di sini, penting untuk di…
24/10/2016
Membebaskan anak seperti itu lebih baik dari pada membatasi gerak dan pemikiran, seperti hanya melakukan pengajaran di dalam ruang kelas.
Mencermati Wawasan Rabindranath Tagore (Bagian II) Memerdekakan Sang Pelajar Ketiga hal yang menjadi visi pendidikan Tagore tidaklah berdiri terpilah. Pertama, Memerdekaan sang pelajar; kedua, mempererat kekerabatan sang pelajar dengan alam;…
17/10/2016
Mencermati Wawasan Rabindranath Tagore* (Bagian 1)
Wawasan tentang pendidikan Rabindranath Tagore diyakini masih relevan untuk digunakan dunia hari ini maupun esok. Bahkan, harapanya wawasan Tagore bisa dijadikan dasar pendidikan untuk masa depan. Seperti itulah anggapan yang diajukan oleh Mohammad A. Quayum, seorang pendidik di International Islamic University Malaysia. Professor kelahiran Bangladesh, 62 tahun lalu ini, dengan sangat meyakinkan dan runut menjelaskan alasan terhadap keyakinanya tersebut. Dia menelusuri pemikiran Tagore tentang pendidikan yang sangat luas melalui beberapa dokumen surat-menyurat, bahan kuliah, interview maupun esai dari Tagore, baik dari Bahasa Bangladesh maupun Inggris—yang semua itu mendasari tiga institusi pendidikan yang dibangun Tagore; Santiniketan (1901), Visva-Bharati (1921) and Sriniketan (1922).
Dalam penyelidikan naskah Tagore yang sangat mendalam ini, Quayum dengan tegas menekankan bahwasanya—ide dasar Tagore dalam pendidikan adalah ‘menolak pembelajaran mekanis modern yang hanya fokus pada pengembangan pemahaman individu yang diarahkan untuk mendukung kreatifitas, imaginasi dan kesadaran moral seorang pelajar’. Pendidikan tidak hanya untuk mencapai sukses dan progress belajar semata! Namun lebih dari itu, pendidikan haruslah diarahkan untuk ‘pencerahan jiwa’. Menanamkan benih semangat untuk bersimpati. Saling melayani. Mau berkorban diri untuk sesama dan semesta; sehingga semua itu akan membawa para pelajar melampaui egosentrisme (egocentrism), entosentrisme (entocentrism) menjadi kesadaran global (worldcentrism). Selanjutnya, mari kita telusuri temuan Quayum untuk menjelaskan argumentasinya di atas.
Quayum merujuk wawasan Tagore yang menolak pendidikan modern yang hanya diarahkan pada pembangunan individu belaka, salah satunya berdasarkan bahan kuliahnya yang ditujukan untuk para guru ‘To Teachers’ ketika berkunjung ke China, 1919. Tagore menjelaskan bahwa ‘pendidikan harus diarahkan untuk memampukan seorang anak untuk memahami dan memenuhi tujuan pada zamannya, bukanya diarahkan untuk menciptakan kebiasaan yang menciptakan pengkotakan/pemisahan di antara sesama’. Manusia di dunia ini beragam. Maka itu haruslah, sebagai pendidik, mengarahkan untuk menumbuhkan cinta kasih dan saling menghormati sesame. Dalam interviewnya, Tagore tak pernah lelah mengingatkan ini. Misalnya dalam interview tahun 1919 yang didokumenkan dengan judul ‘On Some Educational Questions’; dia menekankan bahwa esensi pendidikan itu adalah untuk menghancurkan belenggu dari sempitnya pemahaman individual seseorang yang pada akhirnya diarahkan untuk menumbuhkan semangat persatuan. Bukan malah untuk menyeragamkan! Karena sejatinya keseragaman itu bukanlah tumbuh secara alamiah.
Tiga prinsip dari visi pendidikan Rabindranath Tagore yaitu satu, memberikan kebebasan bagi sang pelajar; dua, menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kekerabatan yang sehat dengan alam; dan tiga, mengembangkan kreatifitas dan imaginasi sang pelajar. Ketiga hal ini akan uraikan dalam bagian berikutnya (II)…
Bagus Yaugo Wicaksono
Jakarta, 17 Oktober 2016
*Tulisan ini tak lain hanya menyarikan studi dari Mohammad A. Quayum yang dengan tekun menyarikan pemikiran-pemikiran pendidikan dari Rabindranth Tagore. Bagi yang tertarik untuk membacanya lebih lengkap, silahkan merujuk pada tulisan beliau ‘Education for Tomorrow: The Vision of Rabindranath Tagore’ yang diterbitkan oleh Asian Studies Review, 2016
Mencermati Wawasan Rabindranath Tagore [Bagian I] Mencermati Wawasan Rabindranath Tagore[1] (Bagian 1) Wawasan tentang pendidikan Rabindranath Tagore diyakini masih relevan untuk digunakan dunia hari ini maupun esok. Bahkan, harapany…
16/08/2016
Tulisan ini memberikan opini tentang system pendidikan di India, di era transisi penjajahan oleh Inggris. Thesis utamanya adalah system pendidikan yang diusung oleh Inggris (yang telah menjajah wilayah India selama 1858-1947) tak lain sebagai bentuk berbeda untuk melanggengkan penjajahanya. Pendapatnya tersebut dikuatkan dengan konstruksi pikir dari wilayah kebijakan sampai pada pelaksanaan di lapang.
Dia memulai tulisanya dengan menunjukan sebuah system pendidikan yang ideal. Berikut petikanya:
Hence we find that an ideal system of education should satisfy the following conditions:
It must awaken in boys a sense of their duty to humanity and the nation;
It must form the national type of character;
It must accustom boys to the national modes of life and thought which are around them;
It must make them fit for some form of activity, by which they should develop their nature and carry out their Dharma.
Atas dasar inilah kemudian dia menelaah system pendidikan yang pada waktu itu dikembangkan (yang kalau boleh sedikit luga ‘dipaksakan') oleh Inggris. Yang dalam faktanya, dia sama sekali tidak menemukan unsur-unsur itu. Malah, ada indikasi, system pendidikan menghilangkan kesemuanya.
Mula-mula, Mardayal menelaah kebijakan pendidikan dalam pemerintahan Idia waktu itu. Dalam penyelidikanya, dia menemukan adanya dokumen-dokumen yang menyatakan bahwa kebijakan pendirian sekolah-sekolah dan universitas tak lain untuk menjadi alat pengganti penjajahan. Dalam dokumen-dokemen yang telaah secara teliti dan meyakinkan itu, terbesit kekhawatiran Negara-negara penjajah dan trend pada waktu itu untuk mengubah kepemilikan wilayah jajahan mereka dengan cara-cara yang lebih halus. Dengan cara seperti ini, maka keuntunganya adalah system pendidikan akan bisa mendekatkan masyarakat india dengan orang-orang inggris, di mana mereka akan merasa lebih saling menghargai. Dan hal ini akan menurunkan tensi kemarahan dan keinginan untuk memberontak kepada para penguasa.
Setelah membongkar niat penjajah dalam menyediakan pendidikan, dia lalu meneruskannya dengan merekonstruksi proses ‘asimilasi’ dalam praktek social. Proses dini dilakukan dengan merasuki keluarga-keluarga kaya dan berpendidikan. Secara perlahan, aktifitas sehari-hari keluarga ini seolah duplikasi dari budaya Ingris. Dari mulai Bahasa, selera makan, kebiasaan harian, bacaan pengetahuan dan sastra dll. Kemudian kaum atas ini mencontohkan atau juga dicontoh oleh para kolega, saudara maupun orang-orang disekelilingnya. Tentunya kaum inilah yang pertama kali mendapat transfer pengetahuan pertama kali dari sekolah dan universitas. Lalu kemudian sekolah-sekolah dibangun untuk mempercepat laju penjajahan baru tersebut. Mereka akan Anglo-saxon kan. Hal ini yang di akhir bab disebutnya ‘..(j)adi jelaslah bahwa system pendidikan bermaksud untuk menciptakan sebuah revolusi dalam berbagai aspek termasuk institusi-institusi, Bahasa, kewajiban dan tata-krama, agama, dan kesemuanya itu untuk menciptakan dan mengembangkan sebuah kelas manusia, bangsa india sebagai wujud fisiknya (Indian as blood and color), tetapi dengan citarasa/selera, opini, moral dan pendidikan ala orang Inggris’.
Tak hanya berhenti di sini, analisis Hardayal juga menjangkau politisasi system pendidikan ini dilanggengkan. Terkait dengan ini, dia mengaitkanya dengan ‘kontrol terhadap opini publik’. Radiasi dari proyek penaklukan gaya baru ini melebar sampai wilayah non sekolah dan universitas. Mereka meringsek kedalam masyarakat secara umum. Mula-mula mereka menggunakan kekuatan fisik, termasuk diantaran membolehkan ancaman bahkan hukuman fisik bagi penentangnya. Namun anggapan sudah mulai terbantah dengan situasi social kala itu. ‘the body can be restrained or controlled by power; but who shall forge a fetter for the National Mind and Spirit?’ Dengan hanya mengandalkan bedil dan rantai tak akan menjamin untuk menaklukan semangat nasionalisme mereka.
Satu-satunya jalan sudah semakin terang, system pendidikan haruslah menyediakan suatu upaya untuk menghancurkan semangat nasionalisme. Sengaja hal ini diciptakan untuk mengaburkan semangat dari para orang tua mereka yang menggebu-gebu untuk berontak. Ketika para pemudi/a ini mendapat propaganda dari sekolah, tentang kebebasan, tentang hal-hal lain yang tidak ada kaitanya dengan kemerdekaan India, makam cepat atau lambat mereka telah terpisah dari cara berfikir orang tua mereka. Tidak hanya pada sekolah pada umumnya, universitas dan pelatihan bagi angkatan perang muda juga dirasuki. Mereka dijejali dengan patriotism palse, ala Ingris-India. Calon-calon pilar keamanan Negara inilah yang nantinya, sebagai salah satu penjaga keberadaan Ingris di India. Dengan begitu, penjajahanpun semakin langgeng.
Bahkan dalam tata kelola menagemen pemerintahan pun menjadi ajang politisasi. Mereka seolah-olah memberi kepercayaan kepada para kaum atas bangsa India yang telah mendapatkan pengetahuan di sekolah. Mereka diberi ruang dalam hal-hal administrasi. Hal ini seolah-olah ingin menyamakan bahwa lulusan sekolah taka da bedanya dengan orang-orang asli Ingris. Namun, menariknya, Hardayal mengungkap situasi tersebut sebagai sebuah kebohongan yang luarbiasa memalukan dan keji. Alasan utama para penjajah ini memberi ruang pada pribumi kerena mereka ingin menghemat pengeluaran. Sebab, bagi orang asli Inggris pasti akan meminta gaji selangit. Untuk kebutuhan administrasi se India, maka akan banyak sekali pengeluaran. Untuk itu, posisi-posis juru tulis, arsip dan hal-hal lain yang tidak ada kait mengaitnya dengan pengambilan keputusan ini diisi oleh pribumi. Alasan lain adalah mereka sengaja ingin menciptakan sebuah birokrasi ketergantungan dari bangsa pejajah.
Dan selanjutnya, system pendidikan digunakan untuk menusuk jantung perekonomian India. Merek amembuka lebar jalur perdagangan melalui budaya yang dibawa ke anak-anak di India. Trendnya adalah meng Ango-saxon kan bangsa India dengan cara memasukan berbagai hasil produksi dari Inggris. Dengan begitu, taka da satupun bagian dalam social yang lepas dari mangsa kebudayaan penjajah.
Diakhir bukunya, Hardayal memberikan dampak-dampak dari system pendidikan karya penjajah sebagi berikut:
Degradasi nasionalisme dan degradasi moral bagi masyarakat Indian semisal:
Bahasa, sesuatu yang menjadi Ibu bagi suatu bangsa, di India semakin di geser. Hal yang nyata adalah para kaum atas, yang menjadi otak dari bangsa India, mereka berfikir, berefleksi dan menerjemahkan pikiranya kedalam Bahasa ingris, dalam paper-paper akademis. Ironisnya, hal itu bukan ditujukan bangsa luar, tak lebih sebagai percakapan kaum elit di dalam propinsi, semisal di Lahore. Kedepanya, secara pasti, pengetahuan local akan hilang. Begitu juga kaum bawah, akan menganggap bersosial yang benar adalah dengan cara berbahasa Inggris. Sendangkan Bahasa Ibu, Sangekerta dan Hindi, Bangli, Marathi dll, akan menguap begitu saja.
Sejarah, adanya penulisan ulang sejarah yang dilakukan oleh bangsa non-Idia. Hal ini berdampak pada hilangnya makna terbentuk dan bersatunya India. Dan berakhir dengan hilangnya ke penghargaan pada nasionalisme.
Sastra, keberadaan system pendidikan sekolah telah menjungkirbalikan kekayaan local. Kurikulum sekolah dan universitas tidak mengajarkan untuk menelaah sastra local seperti dalam karya-karya Upanishads atau Smrities. Mereka akan lulus kuliah dengan memperkaya diri dengan ilmu dari luar, bukanya menelaah ulang hasil pemikiran dari orang-orang yang lama hidup diwilayah mereka. Ketika pendalaman sastra local mulai hilang, jalan satu-satunya hanyalah berpegang pada pemikiran dan filosofi luar, khususnya Inggris. Lalu Inda menghilang.
Kehidupan social berganti dengan gaya Ingrris. Melalui system pendidikan ini, kebiasaan dan kewajiban social berganti dengan aturan hokum dan konvensi baru.
Karakter kebangsaan yang berubah; membentuk (1) idealism baru, (2) patriotism baru, (3) keberanian ala Inggris
Konsekuensi lain dengan adanya sekolah dan universitas versi Ingrris adalah:
Degradasi social bagi ras Hindu
Munculnya prestis dalam birokrasi
Hilangnya pemerintah ala India
Adanya perluasan pengaruh Ingrris ke Negara India
Bertumbuhnya industry yang belum tentu diharapkan oleh bangsa India
Sumber buku:
Our Educational Problems, Hardayal M.A, 2012 (first published 1922)
Jakarta, 16 Agustus 2016
Bagus Yaugo Wicaksono
Permasalahan Pendidikan di India: Mengulik Permasalahan Pendidikan dari Prespektif Politik Tulisan ini memberikan opini tentang system pendidikan di India, di era transisi penjajahan oleh Inggris. Thesis utamanya adalah system pendidikan yang diusung oleh Inggris (yang tela…
'Belajar, bukan bersekolah: Agenda Deschooling untuk Indonesia Abad 21 : Kembali Ke Rumah'
..(s)aya berkesimp**an bahwa saat ini sekolah justru banyak menimbulkan masalah. Bahkan sekolah bisa menjadi tempat yang paling buruk bagi anak. Alih-alih anak-anak belajar kejujuran, kemandirian dan keberanian, serta kreativiti, yang dipelajari di banyak sekolah justru kecurangan, ketergantungan, dan ketakutan, serta kejumudan.
Desain sekolah telah p**a memungkinkan model industrialisasi yang eksploitativ yang membentuk sebuah peradaban industri yang kita kenal saat ini. Model inilah yang mengantarkan kita pada keruntuhan ekonomi dan lingkungan melalui pengembangan gaya hidup yang konsumtiv dan tinggi-energi. (diambil dari pengantar kata buku ini: Daniel Mohammad Rosyid)
Kita sering mendiskusikan sektor pendidikan seakan-akan itu sektor yang berdiri sendiri, lepas dari sektor-sektor yang lain. Padahal kalau terjadi perubahan dalam undang-undang pendidikan, terjadi juga perubahan dalam sektor-sektor lain. Dan banyak hal yang ternyata saling berkaitan, bukan hanya karena menteri baru punya kebijaksanaan baru. Dan dalam semua perubahan itu ada kekuatan luar yang sangat berpengaruh. Menurut aku, satu militer dan satu lagi modal. Makanya kalau kita mau kotak-katik pendidikan, harus paham juga politik. Dan kalau dikotak-katik lagi, semua berhubungan dengan apa yang terjadi pada tahun 65........ Tahun 65 itu titik balik kemenangan modal dan bedil tadi. Sehingga mau ngomong apapun, pendidikan, kesenian, agama, dsb, kita harus paham apa yang terjadi tahun 65 itu. (Ariel Heryanto, Juni 1995)
Kapitalisme dan Pendidikan - himpunariel Situs ini dibikin pertama kali pada Oktober 2011 untuk menghimpun tulisan-tulisan Ariel Heryanto, ilmuwan sosial Indonesia, yang sebagian besar tersebar di internet. Situs ini juga berupaya menghimpun rekaman gambar-suara, rekaman suara, berita, transkrip wawancara serta tautan artikel di jurnal, ba...
14/06/2016
Ketika dia menyadari bahwa keidentikan diri seseorang itu adalah mengulang keterpisahan dan cenderung menginkorporasi Yang Lain, maka apa jadinya jika pendidikan itu selalu diarahkan untuk menjadi lebih otonom?
Menyadari hal ini maka, Levinas mengusulkan pendekatan pendidikan yang mengutamakan heteronomy sebagai dasar pendidikan itu. Heteronomy dalam pandangan Levinas ini adalah situasi di mana diri seseorang atau sang Aku tunduk pada Yang Lain ‘the state of subjection to the other’.
Mengenal Konsep Pendidikan Levinas Pandangan teori pendidikan dari Levinas ini didapat dari sudut pandang Thomas Hidya Tjaya, dalam kuliah extension course di Driyakara. Thomas menggambil pemikiran Levinas untuk digunakan sebagai ba…
13/11/2015
Mereka Merdeka! tidak Tunduk pada institusi pendidikan yang menjinakan!
Dua Remaja Ciptakan Teorema Matematika Pembuka Jalan Antar-Galaksi Dua remaja telah menciptakan sebuah teorema matematika yang bisa membantu membuka perjalanan antar-galaksi.
11/11/2015
Kasarnya, pendidikan terbelah dalam dua sisi yang sama sekali berbeda; pendidikan untuk penjinakan dan pendidikan untuk memerdekakan. Tulisan ringkas Mikael Kudiai berikut mampu menyuguhkan pendidikan sebagai alat penjinakan.
Pemekaran dan Proses Pemusnahan Manusia Papua Melalui Pendidikan
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Address
Jakarta