26/08/2026
Edward Colston dan perdagangan budak Inggris menyisakan pertanyaan yang tak bisa dijawab tuntas oleh sejarah: apakah seorang dermawan kota pernah menyesali sumber kekayaannya?
Colston, pedagang kelahiran Bristol pada 1636, terlibat dalam Royal African Company sejak 1680 dan kemudian menjadi wakil gubernurnya. Perusahaan ini memperdagangkan orang-orang Afrika yang diperbudak melintasi Atlantik. Dalam perannya, Colston disebut terlibat dalam keputusan tentang pembelian, penjualan, dan pengangkutan manusia.
Di sisi lain, ia dikenal luas sebagai penyumbang bagi sekolah, gereja, rumah sakit, almshouse, dan lembaga-lembaga lain di Bristol. Artikel yang dibahas memperkirakan sumbangannya sepanjang hidup mencapai sekitar ÂŁ83.000.
Di situlah ketegangannya berada. Bukan pada apakah amal itu benar-benar ada, melainkan pada pertanyaan apakah warisan kedermawanan dapat dipisahkan dari sistem eksploitasi manusia yang turut membiayainya.
Catatan yang masih bertahan tidak memuat surat, buku harian, atau perintah dari Colston yang mendokumentasikan penyesalan atau pertobatannya. Itu tidak membuktikan apa yang ia rasakan secara pribadi—tetapi juga berarti sejarah tidak dapat memberi jawaban pasti.
Patungnya yang pernah menjadi simbol penghormatan di Bristol kini mengingatkan bahwa kota-kota tidak hanya memilih siapa yang dikenang, tetapi juga bagaimana mereka menghadapi luka yang tersembunyi di balik nama, gedung, dan sumbangan.