Parenting - Ayah Bunda

Parenting - Ayah Bunda

Share

Menghindari kesalahan dalam mendidik dan membesarkan anak dan sponsored product

Mendidik anak adalah tugas dari orang tua, namun bagaimana jika kita sebagai orang tua salah dalam mendidik anak? tentu hal ini sangat ingin kita hindari, banyak sekali hal yang harus dipahami dalam mendidik anak. Page ini di sponsori oleh beberapa toko online yang menjual produk berkualitas dan kami jamin keamanan dalam transaksi anda, jadi iklan yang kami tampilkan dalam page ini sangat bisa kami pertanggungjawabkan.

Photos from Parenting - Ayah Bunda's post 27/11/2014

PRODUK SPONSOR
Baju Anak Branded DISKON 10-20%
pemesanan & Informasi
sms 089637725070

Photos 27/11/2014

Hai Bunda, berjumpa lagi dengan Parenting Ayah-Bunda. Disini Parenting Ayah-Bunda akan membahas mengenai bahaya memaksa anak untuk belajar. Wah wah … siapa sangka memaksa anak agar giat belajar dapat berbahaya bagi kembang tumbuh seorang anak. Hal ini diungkapkan oleh psikolog terkenal asal Universitas Maranatha bernama Ira Adelina M.Psi. Ia menyampaikan bahwa memaksa anak untuk belajar sangatlah tidak baik. Hal ini dianggap berbahaya karena menurutnya segala sesuatu yang mengandung unsur pemaksaan adalah hal yang tidak baik.

Ia juga menyampaikan bahwa pemaksaan belajar yang dilakukan orang tua terhadap anaknya saat usia anak berusia 0 sampai 5 tahun adalah hal yang sangat tidak dianjurkan. Katanya, pada usia tersebut seorang anak hanya perlu diarahkan. Tidak perlu hingga dipaksa untuk belajar melakukan sesuatu. Apalagi seorang anak pada usia tersebut tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual. Ya … seorang anak juga membutuhkan penguasaan pada kecerdasan emosional dan juga kecerdasan sosial. Karena itulah pemaksaan belajar pada anak dianggap hal yang tidak baik untuk proses perkembangan otak anak.

Jika orang tua masih tetap bersikukuh memaksa anak untuk menguasai kecerdasan intelektual saja, anak tersebut dapat mengalami gangguan psikologi. Bagaimana tidak, karena dalam kenyataannya anak tersebut tidak menguasai kecerdasan sosial dan emosional padahal dua jenis kecerdasan tersebut adalah penyeimbang perkembangan otak seorang anak.

Lalu, gangguan psikologi seperti apa sih yang dialami anak ketika ia mendapat tekanan dari orang tuanya? Menurut para psikolog, anak yang mengalami tekanan dari orang tuanya akan mengalami stress, sering memberontak dan merasa dirinya tidak bebas dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya.

Alasan orang tua menekan anaknya untuk belajar adalah rasa takut mereka akan nasib anak tersebut ketika besar nanti. Orang tua akan khawatir jika anaknya tidak bisa mengimbangi teman – temannya yang pandai dan cerdas. Hingga akhirnya, orang tua tersebut menyekolahkan anaknya pada usia yang masih sangat kecil. Padahal, jika usia anak terlalu dini, jelas kondisi otak anak belum stabil dalam menerima pelajaran. Alhasil, anak tersebut justru akan mengalami stress dan tertekan.

Namun bagaimana jika sudah terlanjur? Tenang Bunda, Parenting ayah bundaakan membahas mengenai cara yang harus bunda terapkan jika Bunda sudah terlanjur sering memaksa anak untuk belajar. Yuk kita simak bersama – sama.

Yang pertama dekati anak
Dekati anak untuk agar dapat mendengar apa yang ia rasakan. Dengan begitu, jika anak merasa tertekan kalian akan mengetahuinya dengan mudah dengan mendengar apa yang ia rasakan. Jangan pernah membentak dan memarahi ketika anak tidak mau belajar dan menyelesaikan tugasnya

Yang kedua, bawa ke psikolog
Psikolog akan memeriksa kondisi psikologi anak untuk mengetahui apa yang anak rasakan. Jika memang anak terbukti mengalami tekanan, psikolog akan memberikan tips untuk orang tua untuk menyembuhkan tekanan yang dialami sang anak. Jika orang tua mematuhi saran dari psikolog, dalam jangka waktu 3 hingga 6 bulan anak akan kembali normal.

Menurut pengalaman saat mengatasi masalah ini, anak akan lama untuk normal kembali biasanya dengan jangka waktu sekitar 3-6 bulan, itu juga jika Ayah dan ibunya menangani hal ini sesuai yang dianjurkan para pakar anak, yang akan memberikan pembelajaran dan pelatihan juga terhadap orang tua, bahkan para ahli ini bisa memberikan dorongan dan dukungan dari dua sisi. yaitu anak dan orang tuanya.

Bagaimana b
unda, setelah membaca penjelasan diatas, apa masih mau mengajar anak untuk memaksanya belajar? Lebih baik jangan deh Bunda kalau dampaknya sangat berbahaya buat ana Bunda. sepertinya cukup sekian artikel tentang bahaya jika memaksa anak untuk belajar, semoga bermanfaat

Photos 26/11/2014

Sepertinya membentak anak telah menjadi sebuah kebiasaan para orang tua ketika melihat sang anak tidak patuh atau pun melakukan kesalahan, para orang tua sering sekali di buat jengkel. Karena emosi, secara reflek orang tua sering sekali menasehati dengan nada yang cukup tinggi. Kebiasaan seperti ini juga biasanya lebih sering dilakukan orang tua yang cukup tempramental. Menasehati sang anak dengan melakukan bentakan tentu sangat tidak efektif dilakukan, karena ketika sang anak sangat sering dibentak, kemungkinan sang anak akan tumbuh menjadi anak yang tertutup, minder bahkan menjadi anak yang pemberontak. Sang anak juga dapat menjadi sangat tempramental karena mengikuti kebiasaan sang orang tua yang s**a membentak. Yang perlu diingat para orang tua ialah anak merupakan cerminan orang tua.

Sebuah teguran, larangan, koreksi atau pun sebuah hukuman yang terjadi ketika timbul sebuah kesalahan yang telah dilakukan oleh anak. Namun sayangnya orang tua seringkali melakukan tindakan pada saat kesalahan dilakukan oleh sang anak. Bukan dengan mencegah, membimbing dan mengarahkan sebelum kesalahan tersebut terjadi. Pada dasarnya sebuah aturan dibuat dengan mengawalinya dengan menanamkan pemahaman yang lebih pada sang anak dengan mempertimbangkan segalanya bagi tingkat perkembangan sang anak. Sebaiknya anda memastikan bahwa sang anak mengerti perilaku seperti apa yang orang tuanya harapkan. Dengan begitu kesalahan dapat diminimalisir. Ketika sang anak telah memahami aturan dan segala bentuk konsekuensinya, diharapkan sang anak tidak lagi melakukan kesalahan. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Ketika saat itu lah akan timbul rasa kecewa, marah dan kesal dari sang orang tua sebab harapannya tidak dapat terpenuhi. Hal itu seringkali diekpresikan melalui kalimat yang lantang serta kata-kata yang tidak menyenangkan, teriakan, bentakan, hingga cacian.

Bagi anak yang cukup sering mendapatkan respon yang negatif dibandingkan dengan respon yang positif, seperti bentakan, teriakan ataupun lainnya bisa membuat sang anak mengalami berberapa efek yang negatif, seperti kurangnya rasa percaya diri pada anak, pemarang, kurang inisiatif, bahkan sang anak tumbuh menjadi anak yang pemberontak. Hal ini sangat tergantung pada orang tua dan sang anak mengolahnya dengan berbagai kepribadiannya yang cukup unik. Dapat dibayangkan pada saat sang anak melakukan kesalahan, sang anak selalu disalahkan dan tidak sama sekali dihargai, maka sang anak akan mempunyai pemikiran bahwa semua yang dilakukan olehnya akan salah. Dengan begitu bisa saja sang anak menjadi tidak berani dan tidak mau melakukan sesuatu. Sebuah bentakan, cacian dan teriakan bisa dikategorikan pada kekerasan verbal dan juga emosional. Efeknya akan sangat berat dan juga berbahaya jika hal itu terjadi secara berkali-kali serta dalam kurun waktu yang sangat panjang. Jika hal ini terjadi dapat menyebabkan sang anak tersebut kesulitan dalam berpikir jernih dan juga tangkas.

Ada baiknya anda tidak berteriak dan membentak anak anda. Sebaiknya ketika anda sudah terlalu emosi, anda dapat meninggalkannya sebentar, kemudian menjelaskannya dengan baik bahwa yang ia lakukan ialah hal yang salah. Ingatlah akan terjadi dampak yang buruk pada masa depan anak anda atas bentakan atau teriakan yang anda lakukan. Akan sangat menyakitkan ketika harus mempunyai anak yang memiliki kepribadian yang rapuh pada saat menginjak dewasa nanti. Beri anak anda perhatian yang cukup agar anda mengetahui apa yang anak anda butuhkan.

Photos 26/11/2014

Hyper-parenting atau dikenal juga dengan intensive parenting atau hyper-vigilance mengacu pada pola asuh anak dimana orangtuamemiliki derajat kontrol tinggi terhadap anak. Intinya, orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak dan segala hal yang diberikan kepada anak, dalam usaha untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin bisa terjadi sekarang atau yang akan datang.

Alasan utama orangtua melakukan hal tersebut tentunya didasari oleh rasa sayang terhadap anak dan keinginan agar sang anak atau balita, tumbuh menjadi generasi yang lebih baik, terutama dibandingkan dengan keadaan dirinya dahulu. Hanya saja, orangtua macam ini memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mengejar hal tersebut dengan alasan emosional.

Selain itu, hyper-parenting terjadi karena orangtua merasa tidak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan semasa kecil. Bisa jadi mereka tidak puas dengan karir atau kehidupan mereka secara keseluruhan. Akibatnya, semua obsesi ditambah ketidakberuntungan itu dibebankan kepada anak. Orangtua berharap anak-anak bisa mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan. Padahal belum tentu hal ini sesuai dengan kebutuhan, keinginan, minat bahkan bakat anak. Apakah Anda termasuk
kedalam orangtua jenis ini?

Batas toleransi
Pada dasarnya, orangtua memang harus memberi stimulasi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Namun Anda perlu memerhatikan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Bukan hanya apa yang penting atau baik untuk anak menurut pandangan kita. Selain itu, Anda juga harus paham bahwa semua yang dilakukan ada prosesnya. Akan membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai hasil yang maksimal dan seringkali yang disebut waktu panjang itu tahunan bahkan belasan tahun.

Oleh karena itu, jangan terlalu memaksakan anak untuk mendapatkan target-target luar biasa dalam waktu singkat. Jika anak tumbuh menjadi individu yang terlalu luar biasa, perhatikan p**a hal apa yang hilang dari dirinya. Coba lihat perkembangan emosionalnya, apakah masih dalam tahapan sesuai usianya? Jika perkembangan emosionalnya tidak sesuai, maka Anda perlu mencemaskannya.

Apapun keinginan atau mimpi orangtua yang berkaitan dengan anak, sebaiknya murni berlandaskan rasa kasih sayang dan alasan ingin melihat anak balita tumbuh kembang dengan maksimal. Bukan berdasarkan kecemasan diri sendiri atau ambisi yang berlebihan, apalagi karena ego semata. Tidak apa-apa jika Anda mengikutsertakan anak kursus berenang dengan tujuan agar ia dapat menikmati liburan di pantai atau waterpark, bukan karena bertujuan agar anak lebih unggul dari anak lain.

Tidak hanya itu, memberikan kesempatan pada anak atau balita untuk belajar mengambil keputusan sendiri, memberi kesempatan bagi anak untuk beristirahat yang cukup ditengah kegiatan yang Anda jadwalkan dan membiarkan anak mengekspresikan
perasaannya tanpa diatur orangtua juga merupakan hal yang perlu Anda perhatikan saat Anda memiliki rencana-rencana untuk anak.

KONSULTASI Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi, Psikolog anak dan keluarga Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Jakarta Timur
Jakarta
543621