22/08/2020
Pola laku efek dari Pola Asuh dan Pola Didik
Di masa pandemi ini, kita banyak menjumpai orang-orang yang begitu peduli dan empati tinggi tapi disatu sisi ada juga yang "tambeng" bahkan ada yang menghembuskan isu "konspirasi" untuk pandemi. Tidak sedikit bahkan yang mengambil keuntungan dari pandemi ini.
Kenapa bisa terjadi seperti itu ? Padahal tidak sedikit orang-orang yang berperilaku negatif itu mengenyam bangku kuliah bahkan ada yang profesor.
Bukankah, selayaknya tingkat pendidikan itu mampu membuka cakrawala berfikir seseorang untuk menjadi lebih arif dan bijaksana ?
Bukankah, selayaknya ilmu yang mereka miliki bisa membuat mereka berfikir lebih jernih dalam menghadapi suatu masalah dan akhirnya bisa menjadi "problem solving" dari masalah yang ada ?
Tapi, mengapa masih ada dari kaum yang mengaku "memiliki intelektual lebih" justru seperti gagap menghadapi masalah bahkan ada yang justru mengambil kesempatan untuk menguntungkan dirinya ata sekelompok orang tertentu ?
Dari pengamatan saya, untuk di Indonesia (karena saya tinggal di Indonesia dan belum tinggal secara lama di negara yang lain untuk melakukan pengamatan/observasi) pola laku tidak ada kaitannya dengan tingkat pendidikan yang dienyam seseorang.
Pola Laku lebih banyak dipengaruhi oleh Pola Asuh dan Pola Didik sejak seseorang dalam kandungan.
Pola Asuh dan Pola Didik yang tepat dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga, akan membentuk karakter seseorang yang akan memunculkan pola laku. Jadi, jika Pola Asuh dan Pola Didik diawal tidak tepat maka akan munculnya generasi-generasi yang tidak sesuai fitrahnya.
Generasi yang sesuai fitrah itu yang bagaimana ?
#
Ditulis oleh Yeh Teri # Menulis untuk menstimulus # Diagfrasa tidak mengahalangi seseorang untuk berkarya dalam literasi #
# Yeh Teri adalah nama pena dari salah satu guru SDIT Presiden Islamic School #