01/08/2026
Sujud dalam Islam menempatkan bagian tubuh yang paling sering menjadi lambang kehormatan—wajah—di titik paling rendah: lantai. Dalam sebuah penjelasan devotional yang berpusat pada Surah An-Najm النجم, gerakan ini tidak diperlakukan sekadar sebagai posisi salat, melainkan sebagai jawaban tubuh ketika manusia mengakui bahwa nikmat, ilmu, dan pertanggungjawaban hidupnya berujung kepada Allāh سبحانه و تعالى.
Porosnya adalah ayat terakhir Surah An-Najm, surah ke-53 dalam Qur'ān: فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا, “So prostrate yourselves before Allah and worship Him.” Dalam mushaf, ayat seperti ini dikenal melalui tanda sajdah, ۩, yang dalam tradisi pembacaan Qur’an menandai tempat sujud yang dianjurkan. Sumber tersebut membaca akhir surah ini sebagai titik balik: setelah wahyu menyebut petunjuk, tanggung jawab pribadi, usaha manusia, dan kembalinya segala urusan kepada Allah, respons yang paling tepat bukan hanya persetujuan lisan, tetapi penyerahan diri dalam ibadah.
Di sinilah sujūd menjadi bahasa yang sangat konkret. Dalam ibadah, ia digambarkan sebagai meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki di atas tanah, hanya untuk Allah. Bagian tubuh yang biasanya diangkat ketika manusia merasa tinggi justru direndahkan. Bukan untuk menghinakan manusia, melainkan untuk menata ulang posisinya: hamba di hadapan Tuhan.
Tulisan itu menghubungkan sujūd dengan dua kata kunci: tawāḍuʿ, kerendahan hati, dan shukr, syukur. Kerendahan hati tidak hanya berarti tidak sombong di hadapan manusia, tetapi sadar bahwa diri tidak berdiri sendiri di hadapan Pencipta. Syukur pun tidak berhenti sebagai perasaan batin; ia mesti tampak dalam ucapan dan tindakan. Karena itu, dalam kerangka sumber ini, sujud menjadi bentuk syukur yang bergerak dari hati ke tubuh.
Beberapa ayat Qur’ān yang dikutip dipakai untuk memperkuat arah itu. Qur’an 31:18 dan 25:63 dihadirkan untuk menolak kesombongan dan menggambarkan hamba yang berjalan dengan rendah hati. Qur’an 14:7 dan 16:53 dipakai untuk menegaskan bahwa nikmat berasal dari Allah dan syukur memiliki akibat rohani. Sementara bagian-bagian dari Surah An-Najm, seperti 53:3-4, 53:38, 53:39, dan 53:42, dibaca sebagai rangkaian pesan: wahyu bukan hawa nafsu, tanggung jawab tidak dapat dipindahkan, manusia terkait dengan usahanya, dan tujuan akhir kembali kepada Allah.
Sumber tersebut juga mengutip laporan hadith dari Sahih Muslim dan Sahih al-Bukhari untuk menunjukkan bahwa Prophet Muhammad ﷺ melakukan dan mengajarkan sujud dalam salat, dalam kedekatan kepada Allah, dan dalam konteks syukur. Dalam tradisi devotional yang disajikan, Sujūd ash-Shukr, sujud syukur, muncul sebagai cara tubuh merespons nikmat atau kabar yang menggembirakan. Namun penerapan, rincian hukum, dan cakupannya tetap sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pembahasan keagamaan yang dirujuk sumber, bukan sebagai kesimp**an independen di luar tradisi yang dikutipnya.
Ada p**a lapisan tafsir. Sumber itu menyebut Ibn Kathir, Al-Tabari, Maududi, dan Nouman Ali Khan sebagai penafsir atau pengajar yang memahami akhir Surah An-Najm sebagai perpindahan dari pengetahuan menuju ibadah. Artinya, ayat tidak berhenti pada informasi tentang Tuhan dan akhir kehidupan; ia menuntun pembaca kepada sikap. Dalam pembacaan seperti ini, wahyu yang dipahami seharusnya melahirkan tindakan yang merendahkan diri di hadapan Yang disembah.
Salah satu bagian paling kuat, tetapi juga harus dijaga batas kepastiannya, adalah kisah yang dinisbatkan kepada tradisi tentang pembacaan Surah An-Najm secara terbuka. Sumber menyebut adanya laporan bahwa ketika akhir surah dibacakan, orang-orang yang hadir ikut bersujud, termasuk dari kalangan Quraysh. Nama al-Lāt, al-'Uzzā, dan Manāt muncul dalam konteks surah yang menolak penyembahan selain Allah. Tetapi peristiwa seperti ini, sebagaimana disajikan sumber, harus tetap diperlakukan sebagai riwayat dalam tradisi Islam yang dikutip, bukan sebagai rekonstruksi sejarah yang dapat dipastikan secara independen dari keterangan sumber tersebut.
Justru di antara keyakinan, praktik, dan riwayat itulah makna sujud menjadi jelas. Ia bukan gerakan kosong. Ia adalah disiplin tubuh untuk melawan kecenderungan merasa cukup dengan diri sendiri. Ia mengubah syukur yang sering hanya menjadi perasaan pribadi menjadi tindakan yang teratur, terlihat, dan berulang. Dalam sujud, manusia tidak sedang kehilangan martabatnya; ia sedang mengakui dari mana martabat itu berasal.
Maka ketika sumber ini menyebut sujūd sebagai ungkapan tertinggi dari kerendahan hati dan rasa terima kasih, maksudnya bukan karena tubuh lebih penting daripada hati. Sebaliknya, tubuh menjadi saksi bahwa hati tidak berhenti pada pengakuan. Pada titik terendahnya, manusia menempatkan seluruh keberhasilan, kebutuhan, pengetahuan, dan harapannya di hadapan Tuhan yang ia sembah.