10/08/2020
Resesi Ekonomi, sudah atau belum?
Oleh : Eko Supriyatno
Pengertian Resesi
Dalam ekonomi makro, yang dimaksud resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun (Wikipedia)
Sementara menurut Forbes,
resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Resesi dapat disebabkan oleh sejumlah faktor yakni Guncangan Ekonomi yang sangat tiba-tiba (baca: seperti pandemi corona), Utang yang sangat besar, Gelembung Aset, Hiper-Inflasi dan Deflasi.
Selama resesi yang terjadi adalah orang kehilangan pekerjaan, perusahaan menghasilkan sedikit penjualan dan output ekonomi negara secara keseluruhan menurun
Resesi berakibat penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.
Resesi sering diasosiasikan dengan deflasi atau bisa juga stagflasi.
Pertumbuhan Ekonomi Q2
Kita tahu pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal
pertama memang bernilai
positif 2.79 persen.
Namun di kuartal kedua akibat pandemi corona yang makin tinggi dan luas eskalasinya ekonomi Indonesia bertumbuh minus 5.32 persen
Per definisi kondisi Indonesia belum dapat dikatakan resesi.
Kita akan lihat apakah di kuartal ketiga akan mengalami pertumbuhan negatif atau
positif.
Jika pertumbuhannya negatif, maka secara definisi sudah dapat dikatakan Indonesia masuk dalam masa resesi
Nah yang menarik untuk kita ulas adalah bagaimana proyeksi ekonomi di kuartal ketiga nanti dan apa yang pemerintah akan lakukan
Untuk menjawabnya kita harus melihat dari beberapa sudut pandang
Yang pertama adalah baca data historis.
Yang saya maksud adalah data tentang kenapa pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tumbuh negatif
Dan yang kedua adalah instrumen apa yang akan dikerjakan oleh pemerintah untuk mencegah pertumbuhan minus di kuartal ketiga
Saya akan ulas yang pertama,
yakni alasan kenapa ekonomi di kuartal kedua minus.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II (Q2) 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen year on year (yoy).
Angka ini jelas memburuk dari Q1 2020 yang mencapai 2,97 persen.
Padahal Q2 tahun 2019 mencapai plus 5,05 persen
Yang menyedihkan adalah Pertumbuhan ekonomi Q2 2020 ini juga yang terburuk sejak krisis moneter tahun 1998.
Sementara itu pada Q2 tahun 2008 lalu, saat krisis finansial global melanda, Indonesia masih sanggup tumbuh 2,4 persen.
Lalu secara keseluruhan sepanjang tahun 2008 meskipun krisis ternyata ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 6,1 persen
Kontraksi Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Q2 tahun 2020 ini disebabkan oleh kontraksi di berbagai komponennya.
Dari komponen pengeluaran misalnya.
Konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi 57,85 persen dari PDB tumbuh minus 5,51 persen.
Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) atau indikator investasi yang menyumbang 30,61 persen dari PDB juga minus 8,61 persen.
Ekspor yang memegang porsi 15,69 persen PDB tumbuh minus 11,66 persen.
Impor dengan porsi 15,52 persen tumbuh minus 16,96 persen.
Konsumsi pemerintah dengan porsi 8,67 persen dari PDB tumbuh minus 6,9 persen.
Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) dengan porsi 1,36 persen tumbuh minus 7,76 persen.
Pada Q2 tahun 2020, BPS juga mencatat sebagian besar sektor mengalami pertumbuhan negatif.
Penyebab pertumbuhan minus memang karena supply dna demand mengalami masalah di sektor2 tsb.
Beberapa yang masih positif antara lain informasi dan komunikasi, jasa keuangan, pertanian, real estate, jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan pengadaan air
Jika sektor-sektor positif tersebut pada kuartal ketiga tumbuh terus secara positif dan saat yang sama sektor lainnya bila diakumulasi juga tumbuh positif maka Ekonomi Indonesia pada kuartal terakhir akan positif
Tapi menurut hemat saya jika pandemi ini masih terus membesar maka kemungkinan new normal terus diberlakukan.
Padahal prasyarat ekonomi membaik adalah sektor kesehatan dapat teratasi.
Tanpa itu, rasanya sangat sulit mengharap ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif di akhir tahun 2020.
beberapa hari yang lalu, jokowi membentuk sebuah komite Penanganan C 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)
Intinya adalah bagaimana penanganan corona dan ekonomi berjalan beriringan.
Kalau kita perhatikan gembar-gembornya lebih dominan di ekonomi.
Sementara kita juga tahu kemungkinan tercepat vaksin dapat diberikan paling cepat januari atau februari tahun 2021.
Ini mengindikasikan bahwa kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 akan negatif.
Dalam skenario buruk, perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh minus 3,9 persen jika terjadi gelombang kedua Covid-19.
Dan jika demikian maka resesi ekonomi bakal benar-benar terjadi di Indonesia.
Karena itu tidak jalan lain, pemerintah harus mendoromg sektor yang tumbuh positif di kuartal kedua agar pertumbuhannya lebih tinggi.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai penggerak ekonomi.
Dengan cara ini konsumsi akan menggerakan Investasi
Dapat juga pemerintah menurunkan harga BBM dan Listrik sebagai bagian dari insentif penggerak ekonomi
Sektor yang juga harus benar-benar diperhatikan adalah UMKM.
sebab sektor ini menyumbang lebih dari 90% bagi tenaga kerja di Indonesia
Alokasi bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sebesar Rp124 triliun harus segera terealisir.
Jika lambat terserap maka sangat fatal akibatanya.
Dan bila betul-betul terserap, maka Anggaran tersebut dapat mencakup insentif pajak, relaksasi dan restrukturisasi kredit dan perluasan modal kerja UMKM untuk menekan dampak pandemi, khususnya pada masyarakat menengah ke bawah.
Nah beberapa kata kunci di atas tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Setidaknya jikapun negatif tidak terlampau dalam.
Buat UMKM bersiaplah menghadapinya dengan ikut ambil bagian sesuai kompetensi dan bidang masing-masing.
Semoga bermanfaat
Jangan lupa bantu share channel ini ya π
Great Coach indonesia
Tumbuhkan bisnis anda dengan cara yang benar, agar kuat dan mampu menghadapi semua tantangan bisnis | www.greatcoachindonesia.com