09/10/2013
Wasiat kyai Maja tentang Ahlulbait
kepada Bangsa Jawa
Wasiat Jihad Kyai Maja Muhammad Al
Jawad: Den sira para satria nagari mentaram,
nagari jawi heng dodotira sumimpen, watak
wantune sayyidina ngali, sumimpen
kawacaksane sayyidina ngali, sumimpen
kawacaksane sayyidina kasan, sumimpen
kakendale sayyidina kusen, den seksana hing
wanci suro landa bakal den sira sirnaake saka
tanah jawa, krana sinurung pangribawaning
para satrianing muhammad yaitu ngali,
kasan, kusen. Sira padha lumaksananna
yudha kairing takbir lan shalawat, yen sira
gugur hing bantala, cinandra, guguring
sakabate sayyidina kusen hing Nainawa,sira
kang wicaksana hing yudha,pinates tampa
sesilih ali basya (babad prang
dipanegara,karya pujangga yasadipura II,
surakarta).
Terjemahan sbb: Wahai kalian satria
mataram, negara jawa tersimpan dalam
pemahaman kalian. Pada kalian tersimpan
Watak prilaku, kebijaksanaan sayyidina ali
dan sayyidina hasan. Tersimpan keberanian al
husain, perhatikanlah pada waktu suro
belanda akan kalian hilangkan dr tanah jawa,
krn terdorong kekuatan para satria
muhammad yaitu ali,hasan dan husain.
Berperanglah teriring takbir dan shalawat,
jika kalian syahid maka akan tercatat spt
syahid nya para sahabat al husain di nainawa.
Engkau yang bijaksana dalam peperangan,
pantas mendapat julukan Ali Basya
memang banyak ulama yang telah lahir dan
wafat di negeri ini. di jaman sekarang
terdapat ribuan ulama dan santri dari
berbagai mazhab dalam Islam di Nusantara.
Tapi ana kira adakah yang punya jasa seperti
jasa Kyai Maja dalam mendampingi P
Diponegoro melawan kolonial Belanda?
Perang Diponegoro ini adalah perang kolonial
terbesar di dunia dengan musuh yg saat itu
merupakan kekuatan perang darat terkuat di
dunia, korban mereka juga terbesar di antara
perang kolonialisme lainnya di dunia, tercatat
8000 orang kulit putih asli tewas dalam
perang tersebut
Dari babad prang diponegoro ini tak bisa
dipungkiri lagi bahwa kyai Maja adalah
adalah seorang penganut ahlulbait, dilihat
dari wasiatnya. memang mazhb sunni juga
menghormati Imam Ali, Imam Hasan dan
Imam Husein, akan tetapi peristiwa Karbala
tidak pernah menjadi bagian yang cukup
penting dari fragmen sejarah sunni. Akan
tetapi ternyata Kyai Maja menyinggung
peristiwa Karbala atau yang diseutu oleh
beliau dengan kata Nainawa dalam wasiatnya
tersebut.
juga apabila kita melihat dari namanya:
Muhammad Al Jawwad, walaupun ada yang
berkata bahwa beliau katanya bernama
Muhammad Khalifah, atau Iman Abdul Arif,
tapi sumber dari babad prang dipanegara yg
berasal dari pujangga kraton surakarta
yasadipura II yg beliau lahir pd kisaran
perang tersebut menyatakan bahwa nama
beliau adalah Muhammad Al Jawwad. Nama
ini sangat berbau Syiah Imamiyah,
Muhammad Al Jawwad adalah nama Imam
Mazhab Syiah yang ke 9.
tidak ada dalam khasanah sunni maupun
syiah zaidiyah atau ismailiyah nama
"Jawwad" digunakan sebagai nama populer
bagi penamaan nama anak-anak mereka.
Hikayat Karbala dari tanah Melayu
Meski tampak lusuh, kitab itu tetap terawat.
Beberapa bagian yang robek coba ditautkan
dengan sejenis perekat. Tiap-tiap lembarnya
menebarkan wangi kapur barus yang
menjaganya dari kerusakan. Tersimpan
dalam ruangan bersuhu 16°C, seperti juga
kisah di dalamnya, Hikayat Muhammad
Hanafiah, nama kitab itu, memang tak lekang
oleh zaman.
Tak banyak orang tahu bahwa hikayat berusia
hampir empat ratus tahun ini menyimpan
kisah sedih keluarga
Rasulullah saw: kisah pembunuhan Hasan
karena racun dan Husain di padang Karbala.
Boleh jadi inilah catatan paling awal dalam
bahasa melayu tentang peristiwa berdarah
tersebut. Liau Yock Fang dari Jurusan
Pengajian Melayu, Universitas Nasional
Singapura, mencatat bahwa fragmen
(sepanjang 60 halaman) hikayat ini sudah
tersimpan di Perpustakaan Universitas
Cambridge, sejak tahun 1604. Dalam salah
satu bagian naskah yang dimiliki
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
(PNRI), tertulis tahun tahun 1191 H atau
bertepatan dengan 1771 M sebagai waktu
penyalinan naskah.
Menurut Drs. Sanwani, salah seorang
pustakawan PNRI, lembaga ini memiliki
sembilan naskah Hikayat Muhammad
Hanafiah. “Beberapa halaman dari tiga
naskah di antaranya telah lapuk dan hampir
tidak dapat dibaca,” ungkap Sanwani.
Selebihnya naskah dalam kondisi yang baik
dan tulisan di dalamnya jelas terbaca.
Kesembilan bagian naskah ditulis di atas
kertas eropa dengan ukuran naskah rata
antara 25 X 20 cm sampai 33 X 21 cm dan
banyak baris sekitar 15 sampai 21 baris.
“Jumlah halaman bervariasi dari 170-an
halaman sampai ada yang berjumlah 600
halaman. Semuanya ditulis dengan tulisan
Arab Jawi dan dalam bahasa Melayu,”
ujarnya.
Sebagian besar peneliti meyakini Hikayat
Muhammad Hanafiah berasal dari sumber
Arab. Tapi, Filolog tenar asal Belanda, Van
Ronkel punya cerita lain. Setelah menyelediki
fragmen Cambridge, Ronkel berpendapat
bahwa hikayat ini merupakan terjemahan
dari bahasa Persia. Alasannya, pujian yang
melimpah kepada kedua putra Ali, Hasan dan
Husain, pemakaian gelar pengembara untuk
Nabi saw yang dalam bahasa Persia adalah
Nabi, dan kesesuaian isinya dengan dua
naskah versia Persia yang tersimpan di British
Museum. L.F. Brakel yang pernah menyunting
Hikayat Muhammad Hanafiah untuk
memperoleh gelar doktor kesusasteraannya
dari Universitas Leiden mengukuhkan
pendapat Van Ronkel dengan beberapa bukti
baru. Pertama, bahwa pembagian bab dalam
naskah Melayu sama dengan naskah Persia.
Kedua, dalam bahasa Persia, hubungan
kekerabatan dalam bahasa Arab pada nama
Muhammad bin Hanafiah, dinyatakan oleh
apa yang dinamakan ezafat:e ‘yang tidak
dinyatakan’ sehingga menjadi Muhammad
Hanafiah. Karena mengabaikan ezafat:e tadi,
penyalin Melayu telah salah menuliskan nama
tersebut, yakni Muhammad Hanafiah bukan
Muhammad bin Hanafiah. Ketiga, banyak
nama orang yang ditulis dalam bentuk Persia,
seperti Ummi Kulsum dan Immi Salamah.
Meskipun demikian, Brakel juga tidak
memungkiri kemungkinan hikayat ini
merujuk kepada sebuah kitab sejarah dalam
bahasa Arab, Maqtal al-Husain, karya Abu
Mikhnaf. Karya Abu Mikhnaf ini merupakan
catatan paling awal karena sebagian besar
sejarahwan Muslim merujuknya ketika
menulis tentang pembataian keluarga Nabi
saw tersebut.
Tiap-tiap naskah Hikayat Muhammad
Hanafiah, seperti dituturkan Sanwani,
berkisah tentang hal yang berbeda meskipun
masih berikisar seputar terbunuhnya kedua
cucu kesayangan Rasulullah tersebut. Naskah
pertama paling banyak mengisahkan tentang
gugurnya anak-anak Ali, Hasan dan Husain di
Karbala pada masa kekuasaan Yazid.
Meskipun jelas, beberapa bagian tampak
sudah lapuk dan robek. Isi naskah pertama
ini, seperti dikatakan Sanwani, sudah pernah
dikerjakan oleh seorang peneliti Belanda,
Prof. Pijnappel pada tahun 1870. “Sayangnya
kita tidak memiliki hasil penelitian itu,”
lanjut pustakawan lulusan IKIP Jakarta ini.
Naskah kedua mengawali cerita dengan kisah
nabi-nabi lama, mistik nur Muhammad, kisah
Fatimah dari Siria, masa muda Nabi
Muhammad, perkawinan Nabi saw, hingga
zaman Khalifah Ali. Naskah ketiga
mengisahkan persahabatan Muhammad bin
Hanafiah dengan beberapa orang. Ia
mendapat luka dalam perang tetapi dengan
keajaiban lukanya sembuh. Yazid dapat
mengalahkan musuh-musuhnya lalu
kemenakannya ditunjuk menjadi raja
Damaskus dan kawin dengan cucu Abu Bakar.
Akhirnya Muhammad Hanafiah berhasil
mengalahkan musuh-musuhnya seorang diri.
Berbeda dengan naskah-naskah yang lain,
naskah keempat Hikayat Muhammad
Hanafiah yang dimiliki PNRI memiliki cerita
yang sangat berbelit-belit. Selain itu,
bahasanya pun s**ar dipahami. Naskah
kelima merupakan bagian terpanjang, yakni
mencapai 600 halaman. Tebalnya naskah ini,
salah satunya, disebabkan oleh hurufnya yang
sangat besar. Satu hal lagi, selain naskah
keenam, yang kelima ini merupakan bagian
yang memuat waktu penyalinan dengan
lengkap, yaitu 11 Rabi’ul Awwal 1288 H.
Naskah yang keenam yang bertanggal 6
Sya’ban 1281 H ini memuat kisah kematian
Yazid pada bab III, tetapi di dalamnya, tidak
diceritakan kemenangan Muhammad bin
Hanafiah yang banyak dibicarakan dalam
naskah-naskah lain. Naskah ketujuh
merupakan sebuah eksemplar yang baik
meski sebagian rusak. Naskah ini
mengisahkan tentang perikehidupan Nabi
saw secara panjang lebar.
Naskah kedelapan dimulai dengan uraian
tentang kewajiban-kewajiban bagi para
pengikut Nabi saw, sementara kelahiran
Hasan dan Husain baru terdapat pada
halaman 88. Naskah terakhir memuat cerita
peperangan antara Ali dengan Muawiyah,
pembunuhan Hasan dengan racun dan
Husain di padang Karbala oleh Yazid.
Kemudian dilanjutkan dengan pembalasan
dari Muhammad bin Hanafiah kepada Yazid.
Yazid dapat dikalahkan tetapi Muhammad
bin Hanafiah malang juga nasibnya. Ia mati
bersama musuh-musuhnya dalam sebuah gua.
Dengan kandungan yang sarat nilai, naskah-
naskah Hikayat Muhammad Hanafiah jelas
sangat berharga untuk diteliti. Tetapi
penelitian filologi yang menuntut keahlian
interdisiplin tampaknya kurang diminati para
peneliti dan mahasiswa kita. “Justru peneliti
asing yang banyak meneliti-meneliti naskah-
naskah kita,” ungkap Sanwani. Ibarat
peribahasa “kacang lupa akan kulitnya”, kita
kerap memandang sebelah mata terhadap
warisan budaya nenek moyang. [irman
abdurrahman]
Dan Muawiyah pun Menolak Beristri
Dari banyak kisah yang dituturkan dalam
Hikayat Muhammad Hanafiah, peristiwa
Karbala, termasuk cerita yang mengawali dan
mengikutinya, paling banyak menyita
halaman dari hikayat ini.
Bagian kedua ini biasa disebut dengan
Hikayat Maktal Husain. Berikut petikannya
yang sengaja ditransliterasi sesuai ragam
bahasa aslinya.
Tatkala Husain masih muda, ada malaikat
yang kedua sayapnya tertunu, turun ke dunia.
Husain menyapu bahu malaikat itu dengan
tangannya. Dengan takdir Allah, sayap
malaikat itu pun baik lalu ia kembali ke
udara. Jibrail berkata bahwa malaikat itu
tidak akan turun ke bumi melainkan pada
waktu Husain dibunuh oleh segala munafik.
Adapun semasa Hasan dan Husain masih
kecil itu, Jibrail selalu turun ke dunia
bermain-main dengan mereka. Sekali
peristiwa, sehari sebelum hari raya, Jibrail
membawa pakaian untuk Hasan dan Husain.
Hasan memilih pakaian hijau dan diramalkan
akan mati kena racun; Husain memilih
pakaian merah dan diramalkan mati
terbunuh di Padang Karbala. Muawiyah
mendengar bahwa dari keturunannya akan
lahir pembunuh cucu Muhammad dan
bersumpah tidak mau beristeri. Pada suatu
malam, ia pergi buang air dan beristinjak
dengan batu. Zakarnya disengat oleh kala. Ia
tidak terderita sakitnya. Menurut tabib,
sakitnya hanya akan hilang jika ia berkawin.
Maka berkawinlah ia dengan seorang
perempuan tua yang tidak boleh beranak lagi.
Dengan takdir Allah, perempuan tua itu
melahirkan seorang anak yang diberi nama
Yazid.
Setelah Ali wafat, Muawiyah menjadi raja.
Sekali peristiwa, Muawiyah mengirim seorang
utusan pergi meminang Zainab, anak Jafar
Taiyar untuk menjadi isteri anaknya, yaitu
Yazid. Zaainab menolak pinangan Yazid,
tetapi menerima pinangan Amir Hasan.
Karena itu Yazid pun berdendam dalam
hatinya, hendak membunuh Amir Hasan dan
Amir Husain, bila ia naik kerajaan. Sekali
peristiwa, Yazid ingin berkawin dengan isteri
Abdullah Zubair yang sangat baik parasnya.
Muawiyah berja menipu Abdullah Zubair
menceraikan isterinya. Isteri Abdullah Zubair
tiada mau menjadi isteri Yazid. Sebaiknya,
isteri Abdullah Zubair itu berkawin dengan
Amir Husain. Yazid makin berdendam dalam
hatinya, “Jika aku kerajaan, yang Hasan dan
Husain itu kubunuh juga, maka puas hatiku.”
Maka berapa lamanya, Muawiyah pun
matilah dan kerajaan pun jatuh ke tangan
Yazid. Mulailah Yazid melaksanakan niatnya
untuk membunuh Amir Hasan dan Amir
Husain. Ia berhasil memujuk seorang
hulubalang di Madinah (menurut suatu
cerita, salah seorang isteri Hasan sendiri)
meracuni Hasan. Setelah Hasan wafat,
pikirannya tidak lain daripada membunuh
Husain saja. Ia mengirim surat kepada
Utbah, seorang hulubalang di Madinah, dan
memintanya membunuh Husain dengan
menjanjikan harta dan anugerah. Seorang
hulubalang yang bernama Umar Saad
Malsum juga dikirim untuk membunuh
Utbah. Biarpun begitu, Utbah masih tidak
berani membunuh Husain. Katanya jika
Husain ada di dalam Madinah, mereka tidak
dapat mengalahkannya. Karena itu mereka
meminta raja Kufah, Ubaidullah Ziyad
namanya, supaya menipu Husain ke Kufah.
Husain menerima jemputan raja Kufah untuk
pergi ke Kufah. Ummi Salamah mengingatkan
Husain tentang bahaya yang mengancamnya.
Pada malam itu Husain juga bermimpi
berjumpa dengan segala nabi dan malaikat.
Nabi Muhammad memberitahu bahwa surga
sudah berhias menantikan ketibaannya.
Sungguhpun begitu, Husain berangkat juga
ke Kufah bersama-sama dengan pengikutnya
yang tidak banyak itu.
Hatta berapa lamanya sampailah mereka ke
suatu tempat. Unta dan kuda Husain
merebahkan dirinya, tiada mau berjalan lagi.
Mereka lalu mendirikan kemah di situ.
Adapun segala kayu yang mereka tetak,
berdarah balak. Baharulah mereka ketahui
bahwa tempat itu ialah Padang Karbala,
tempat kematian Husain yang diramalkan
Nabi Muhammad dahulu. Hatta mereka pun
kekurangan air, karena air sungai sudah
ditebat oleh tentera Yazid. Air yang di dalam
kendi kulit juga sudah terbuang, karena
digorek tikus. Apa boleh buat. Terpaksalah
mereka menahan dahaga yang sangat. Maka
mulai peperangan itu. Pengikut Husain, satu
demi satu syahid. Akhirnya anaknya sendiri,
Kasim dan Ali Akbar, juga mati. Barulah
ketika itu Husain teringat meminta bantuan
kepada saudaranya, Muhammad Hanafiah,
yang menjadi raja Buniara. Sesudah itu ia
pun terjun ke dalam medan perang. Banyak
musuh dibunuhnya. Sekali peristiwa, ia
berjaya menghampiri sungai. Biarpun begitu,
ia tidak meminum air itu, karena teringat
kepada sahabat taulannya yang mati syahid
disebabkan dahaga itu. Maka Husain pun
lemahlah lalu gugur ke bumi. Betapa pun
demikian, tiada seorang pun berani
menghampirinya. Akhirnya Samir Laain yang
susunya seperti susu anjing lagi hitam itulah
yang maju ke depan dan memenggal leher
Husain. Adapun Husain syahid itu pada
sepuluh hari bulan Muharam, harinya pun
hari Jumaat. Tatkala Husain syahid itu, arasy
dan kursi gempar, bulan dan matahari pun
redup, tujuh hari tujuh malam lamanya alam
pun kelam kabut.
Setelah Husain syahid, maka segala isi rumah
Rasul Allah terampaslah oleh tentera Yazid.
Akan tetapi, seorang pun tiada berani
menghampiri Ummi Salamah. Seorang
lasykar yang merampas anak perempuan
Ummi Salamah, dengan kudrat Allah,
matanya menjadi buta. Yazid berjanji akan
memberi diat kematian Husain, jika Ummi
Salamah rela dengan dia. Ummi Salamah
menolak. Yazid sangat marah. Apabila
Fatimah, anak perempuan Ummi Salamah,
meminta air minum, yang diberikannya ialah
kepala Husain yang diceraikan dari badannya.
Bangsa Indonesia, Kembalilah ke
Kit'ahnya!
mau tidak mau harus diakui bahwa sekarang
ini pihak yg menjadi musuh utama Islam
adalah kaum nasrani. aksi utama mereka
(kaum nasrani) adalah aksi misionaris secara
diam-diam yg hanya mengandalkan materi
semata, memblow-up kemiskinan yg dialami
kaum muslimin. Dan dalam hal ini kaum
muslim sunni masih rentan terhadap
ancaman pemurtadan. apalagi wahabi dan
JIL, keduanya sangat eksklusif sehingga tidak
menyentuh masyarakat. masyarakat
Indonesia yang miskin tetap saja miskin, dan
mereka juga tidak mampu memperkuat
intelektual masyarakat miskin Indonesia
sehingga walaupun miskin tetap mampu tegar
menghadapi pengaruh keduniawian yang
dihembuskan para misionaris kristen dan
katholik.
Tapi hal ini (ancaman pemurtadan) sulit
terjadi pada Islam mazhab Syiah. kekuatan
argumentasi, akal pikiran, filsafat, logika,
hikmah bertujuan kepada hati nurani yg akan
menuntun pada kehendak Allah, menjadikan
Islam mazhab Syiah kuat menghadapi segala
tantangan hidup di dunia materi, termasuk
kemiskinan.
Oleh karena itu jarang sekali terjadi, atau
bahkan hampir tidak pernah terjadi suatu
kasus seorang penganut islam mazhab Syiah
menjadi murtad, keluar dari keyakinannya
dan menjadi penganut nasrani. paling-paling
suatu kasus yang terjadi adalah kasus seorang
syiah yang berpindah mazhab menjadi sunni.
tapi hal ini tidak mengapa karena ia tetap
seoran pengucap syahadat (tetap seorang
muslim).
Maka dari itu jika kaum muslimin bangsa
Indonesia dapat kembali ke kit'ahnya semula
yaitu kembali sebagai penganut Islam mazhab
syiah, yaitu keyakinan leluhurnya dulu yang
telah berhasil mencerahi dan mengislamkan
pribumi Nusantara, maka dapat dipastikan
bahwa keyakinan bangsa penjajah, yaitu
keyakinan nasrani tidak akan mendapat
tempat lagi di hati penduduk bumi nusantara
untuk selamanya.
Kita harus kembali menyambut seruan Al-
Husein. Hanya dijalan Al-Husein jihad
fisabilillah dalam bentuk apapun akan dapat
kita lakukan
Oleh karena itu alangkah baiknya jika bangsa
Jawa menyambut seruan al-husein,
sebagaimana yang telah dilakukan oleh
leluhurnya dahulu, serta yg telah diamalkan
oleh Pangeran Diponegoro dan Kyai Maja.
Mereka adalah orang-orang yang menyambut
seruan Al-Husein, cucu baginda Rasulullah.
tak pelak dengan ketaatan mereka
menyambut seruan para kesatria Mustafa,
yaitu Ali, Hasan dan Husein, mereka dapat
menghinakan para penjajah nasrani yang
kafir dan zalim.
perjuangan Pangeran Diponegoro dan Kyai
Maja adalah perjuangan bersenjata,
kemudain perjuangan mereka diikuti oleh
penerusnya B**g Tomo, B**g Karno, Dr
Cipto, HOS Cokro di masa selanjutnya,
Kemudian bangsa Indonesia berhasil bebas
mengusir penjajah oleh Sri Sultan HB IX dan
Pak Harto. Tapi apakah perjuangan selesai.
Belum, sekarang tongkat kepemimpinan
estafet perjuangan jatuh ke tangan bangsa
Iran. apabila Indonesia berhasil
menginspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk
merdeka dari penjajahan, maka bangsa Iran
berhasil menginspirasi bangsa-bangsa di
dunia bebas dari dua hal yaitu belenggu
konspirasi hegemoni barat dan belenggu
boneka jahat. Bentuk kejahatan yang berupa
boneka barat berada di timur tengah.
sedangkan untuk situasi di Indonesia adalah
kejahatan konspirasi antara barat dengan
orang-orang non-muslim warga indonesia
sendiri yang memusuhi kaum muslimin di
Indonesia secara diam-diam dan bekerjasama
dengan korporasi barat untuk menindas
bangsanya sendiri secara ekonomi dan
pendidikan.
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yanga
mempunyai akar yang sama dengan bangsa
Iran, yaitu sama-sama keturunan Imam Musa
Al-Kazhim, hendaknya dapat mengetahui
arah perjuangan global ini, dan merapatkan
barisan dengan bangsa Iran dan bangsa-
bangsa di dunia lainnya yang menentang para
boneka jahat dan hegemoni global yang amat
menyengsarakan semua umat segala lapisan
di dunia.
Dalam hal ini orang Jawa mempunyai
tanggung jawab yang paling berat, sudah
saatnya manusai Jawa kembali lagi ke
kit'ahnya, memenuhi wasiat Kyai Maja. hanya
dengan mengikuti ahlulbait nabi, maka orang
jawa dapat kembali lagi kepada fitrah
kemuliaannya. apabila orang-orang Jawa
menjadi penganut syiah, maka orang-orang
dari suku lainnya juga akan mengikutinya.
Apabila hal ini terjadi maka maka bangsa
Indonesia dapat dipastikan akan mengalami
kejayaannya kembali dan menjadi bagian
penting dari tentara shahibuz zaman Al-
Mahdi Al Muntazar yg akan membimbing
muslimin untuk memuliakan Islam dan
menghinakan musuh-musuh Allah dan Rasul-
Nya, yang mana saat ini tanda-tanda bahwa
kemunculan beliau Al-Mahdi sudah dekat,
telah bermunculan.
Apabila sudah seperti itu maka bangsa
Indonesia dalam keislamannya akan
mencapai derajat keislaman dengan level yg
tertinggi sampai dengan hari kiamat nanti.