Majelis Kaum Hawa Al Badariyah

Majelis Kaum Hawa Al Badariyah

Share

TA'LIMUL MUTA'ALIM AMIN YAA ROBBAL'ALAMIN

INI HANYALAH HALAMAN YANG KAMI BUAT UNTUK MEMBERIKAN ILMU" YANG TELAH DI SAMPAIKAN OLEH GURU/PIMPINAN MAJELIS TA'LIM DENGAN MERANGKUM MENJADI SESUATU YANG GAMPANG DI PELAJARI,PAHAMI DAN MENGAMBIL MANFAAT DARI PELAJARAN TERSEBUT DAN MENDAPATKAN PAHALA SEBAGAIMANA PAHALA ORANG YG BERTHOLABUL'ILMI ..

19/06/2014

Mengenal Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari (Wafat 32 H)

Abu Dzaar al-Ghifari Nama aslinya adalah Jundab bin Junadah dinisbatkan kepada kakeknya Junadah yang berasal dari Ghifar, ia seorang Kinani. Abu Dzarr orang yang ahli ibadah sebelum diutusnya Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Ia adalah sahabat kelima yang lebih dulu masuk Islam, Ia baru bisa Hijrah setelah perang Khandaq.

Abu Dzarr seorang yang zuhud tidak pernah menyimpan makanan untuk hari esok. Namun dimasa pemerintahan Utsman, ia mengajak orang orang untuk mendirikan semacam baitul mal, hal ini didorong rasa kemanusiaan namun Utsman bin Affan tidak tertarik akan gagasan itu dan selanjutnya ia mengasingkan ke Rabadzah dan menetap disitu sampai wafatnya. Pada saat wafatnya yang kebetulan Ibnu Mas’ud lewat ke Rabadzah dan menshalatkannya jenazahnya.

Abu Dzaar meriwayatkan hadits dari Umar, Ibnu abbas, Ibnu Umar dan lainnya. Yang diriwayatkan darinya antara lain Al-Hanaf bin Qais, Abdurahman bin Ghanam dan Atha’.

Sanad paling shahih yng berpangkal daripadanya ialah yang diriwayatkan dari penduduk syam dari jalur Sa’id bin Abdil Aziz, dar Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu Dzarr.

Abu Dzarr meriwayatkan hadits sebanyak 281 hadits.

Beliau ini adalah seorang sahabat yang masuk Islam dari sejak dini. Semasa Jahiliah beliau ini telah melarang minum khamar dan beliau tidak pernah ikut menyembah berhala oleh sebab itu beliau terkenal orang takwa. Dia selalu mengajak fakir miskin agar integrasi dengan orang kaya. Beliau ini mengikuti penaklukan Baitulmakdis bersamakhalifah Umar bin Khatab. Rasulullah pernah bersabda tentang beliau “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Abu Zar, yang hidup menyendiri, mati menyendiri dan akan dibangkitkan sendiri p**a”.

Meski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.

Di masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.

Kepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, abu Dzar menegur, “Kalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,” katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.

Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara’ dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah . Saat Rasul akan berp**ang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata “Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.” Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shaleh.

Abu Dzar terlahir dengan nama Jundab. Dulu, ia adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.

Namun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.

Di tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner berkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah. Di tempat inilah ia mendapat kabar dari Anis, tentang kehadiran Rasulullah dengan ajaran Islam.

Abu Dzar segera menemui Rasulullah . Melihat ajarannya yang sejalan dengan sikap hidupnya selama ini, akhirnya ia pun masuk Islam. Tanpa ragu-ragu, ia memproklamirkan keislamannya di depan Ka’bah, saat semua orang masih merahasiakan karena khawatir akan akibatnya. Tentu saja pernyataan ini menimbulkan amarah warga Mekkah. Ia pun dipukuli dan hampir saja terbunuh bila Abbas, paman Rasulullah , tidak melerai dan mengingatkan warga Mekkah bahwa Abu Dzar adalah warga Ghiffar yang akan menuntut balas jika mereka membunuhnya.

Sejak itu, Abu Dzar menghabiskan hari-harinya untuk mencapai kejayaan Islam. Tugas pertama yang diembankan Rasul di pundaknya adalah mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Ternyata, bukan hanya ibu dan saudaranya, namun hampir seluruh kaumnya yang s**a merampok pun akhirnya masuk Islam. Sikap hidupnya yang menentang keras segala bentuk penumpukkan harta, ia sampaikan juga kepada mereka. Namun, tak semua menyukai tindakannya itu. Di masa Khalifah Utsman, ia mendapat kecaman dari kaum Quraisy, termasuk salah satu tokohnya, Muawiyah bin Abu sufyan.

Suatu kali pernah Muawiyah yang kala itu menjadi Gubernur Syiria, mengatur perdebatan antara Abu Dzar dengan para ahli tentang sikap hidupnya. Tujuannya agar Abu Dzar membolehkan umat menumpuk kekayaannya. Namun, usaha itu tak menggoyahkan keteguhan pandangannya. Karena jengkel, Muawiyah melaporkan kepada Khalifah Utsman ihwal Abu Dzar. Khalifah segera memanggil Abu Dzar. Memenuhi panggilan Khalifah, Abu Dzar mendapat sambutan hangat di Madinah.

Namun, ia pun tak kerasan tinggal di kota Nabi tersebut karena orang-orang kaya di kota itu pun tak menyukai seruannya utnuk pemerataan kekayaan. Akhirnya Utsman meminta Abu Dzar meninggalkan Madinah dan tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah.

Di kampung inilah Abu Dzar wafat karena usia lanjut pada 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah. Jasadnya terbaring di jalur kafilah itu hanya ditunggui jandanya. Hampir saja tak ada yang menguburkan sahabat Rasulullah ini bila tak ada kafilah haji yang menuju Mekkah. Kafilah haji itu segera berhenti dan menshalati jenazah dengan imam Abdullah ibn Masud, seorang sarjana Islam terkemuka masa itu. Beliau wafat pada tahun 32 H.

11/12/2013

LARANGAN MEMANDANG dan BERSENTUHAN LAWAN JENIS dan Kewajiban Memelihara Aurat

وَ لاَ تَقْرَبُوا الزّنى اِنَّه كَانَ فَاحِشَةً، وَ سَآءَ سَبِيْلاً. الاسراء:32

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [QS. Al-Israa’ : 32]

قُلْ لّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ، ذلِكَ اَزْكى لَهُمْ، اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. النور:30

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. [QS. An-Nuur : 30]

وَ قُلْ لّلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوْبِهِنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ ابآئِهِنَّ اَوْ ابآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بِنِى اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اَخَوَاتِهِنَّ اَوْ نِسآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اوُلِى اْلاِرْبَةِ مِنَ الرّجَالِ اَوِ الطّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلى عَوْرَتِ النّسَآءِ، وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ، وَ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. النور:31

Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur : 31]

قَالَ جَرِيْرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ نَظْرِ اْلفَجْأَةِ فَاَمَرَنِى اَنْ اَصْرِفَ بَصَرِى. مسلم

Jarir bin Abdullah berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang melihat (wanita) dengan tidak sengaja, maka sabdanya, “Palingkanlah pandanganmu”. [HR. Muslim]

smoga bermanfaat

11/12/2013

Ijazah qunut nazilah dari Kiyai Kholil Bisri:

اللهم اغفر لامة محمد
اللهم ارحم امة محمد
اللهم انصر امة محمد
اللهم اصلح امة محمد
اللهم ف*ج عن امة محمد
اللهم اكشف كربة امة محمد
اللم اكشف عنا البلاء والغلاء والوباء والشدائد والمحن والفتن ما ظهر منها وما بطن
من بلدتنا هذه خاصة وبلدان المؤمنين عامة انك على كل شيئ قدير
اللهم تقبل منا انك انت السميع العليم وتب علينا يا مولانا انك انت التواب الرحيم
وصلى الله على سيدنا محمد النبي الامي وعلى اله وصحبه وبارك وسلم

Photos 14/11/2013

14 Nov 2013/10 Muharram 1435 H, sbg hari Asyura atau Orphan's Day atau juga dikenal umat muslim Indonesia sbg hari Lebaran Anak Yatim..Sudahkah kita menyisihkan sebagian rizki kita utk mereka?? selamat menderma, semoga hidup kita semakin diberkahi dan selalu berkelimpahan.

31/10/2013

Macam – Macam Hati (nasehat habib Abdullah bin Alwi Al-haddad)

Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih suci dari keburukan, yang tunduk kepada yang haaq (kebenaran) dan petunjuk yang diliputi kebaikan. Di dalam Hadits dikatakan,

Hati itu ada 4 macam :

1. Hati yang tidak berselaput, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Ini hati orang mukmin.
2. Hati yang hitam tak tentu tempatnya. Ini hati orang kafir.
3. Hati yang terbelenggu diatas kulitnya. Ini hati orang munafik.
4. Hati yang mendatar, padanya terdapat iman dan nifaq (kemunafikan).

Perumpamaan iman yang meliputinya seperti batang tumbuhan yang disirami air tawar. Sedangkan perumpamaan nifaq seperti setumpuk kudis yang diselaputi nanah dan darah busuk. Maka yang mana di antara keduanya berkuasa, kesitulah hati tertarik.

Hati yang ke-4 inilah yang terdapat pada kebanyakan kaum muslimin. Amalnya bercampur aduk sehingga keburukannya lebih banyak daripada kesempurnaannya. Dalam Hadits lain dikatakan,

“Sesungguhnya iman itu bermula muncul di dalam hati sebagai sinar putih, lalu membesar, hingga seluruh hati menjadi putih. Sedangkan nifaq itu bermula muncul di dalam hati seperti noda-noda hitam, lalu menyebar, hingga seluruh hati menjadi hitam.”

Sesungguhnya iman akan bertambah dengan cara menambah amal saleh disertai keikhlasan. Sedangkan nifaq akan bertambah dengan cara mengerjakan amal buruk, seperti meninggalkan perkara wajib dan melakukan larangan agama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

“Barangsiapa melakukan dosa, maka akan tumbuh dalam hatinya setitik hitam. Jika ia bertobat, maka terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika ia tidak bertobat, maka menyebarlah titik hitam itu sehingga seluruh hatinya menjadi hitam.”

Hal ini sesuai dengan firman Allah,

“Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka selalu kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. 83:14)

Seorang manusia tidak akan ditimpa suatu musibah, kecuali karena dosanya sendiri. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an,

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri.” (QS. 42:30)

Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Jika pun sudah terlanjur, maka hendaklah bersegera bertaubat. Bukankah dikatakan di dalam Al-Qur’an,

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

“(Dialah) Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang pedih siksanya, Yang mempunyai karunia. Tiada tuhan selain Dia dan hanya kepada-Nya-lah tempat kembali.” (QS. 40:3)

“Dan tiada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (QS. 40:13-14)

[Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

29/10/2013

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

Para Pecinta Habaib dan Ulama juga Sahabat Link Setia Pecinta Kump**an Foto Ulama dan Habaib dalam kesatuan Himpunan Santri Indonesia
Kami mengucapkan banyak banyak terima kasih atas Perjuangan antum membela Ahlussunnah Wal Jama'ah Dari Aqidah Sesat Khawarij Islam ( Meluruskan Ajaran Wahabi Penebar Fitnah dan Juga Dukung MUI Keluarkan Fatwa Syi'ah Sesat Dan Haram Di Indonesia

Sedikit kami uraikan pengetahuan Guru Guru kami, Semoga membawa Barokah dan Hidayah bagi kita semuanya
aamiin ya robbal aalamiin....

PONDOK PESANTREN DARUL HADIST ALFAQIHIYYAH
MALANG JAWA TIMUR

PENDIRI PON-PES DARUL HADIST ALFAQIHIYYAH ALHAFID AL MUSNID AL QUTUB ALHABIB ABDULLOH BIN SAMAHATUL IMAN AL ALAMAH AL HABIB ABDUL QODIR BIN AHMAD BIL FAQIH

PENGASUH 2 PON-PES DARUL HADIST ALFAQIHIYYAH MALANG

ALHAFID ALALAMAH ALHABIB ABDULLOH BIN ABDUL QODIR BIN AHMAD BIL FAQIH (ALM)

SAYYID ABDUL QODIR BIN HABIB ABDULLOH BIL FAQIH ( PUTRA HABIB ABDULLOH BIL FAQIH) SEBAGAI PENGASUH DAN DEWAN GURU DARUL HADIST ( Kanan )

HABIB MUHAMMAD BIN HABIB ABDULLOH BIL FAQIH (Tengah) PUTRA HABIB ABDULLOH BIL FAQIH(SEBAGAI DEWAN GURU DAN PENGASUH DARUL HADIST)

HABIB ABDURRAHMAN BIL FAQIH (DEWAN GURU DAN PENGASUH PON-PES DARUL HADIST) ( Kiri )

HABIB SOLEH BIN AHMAD BIN SALIM ALAYDRUS (DEWAN GURU PON-PES DARUL HADIST DAN MENANTU AL HABIB ABDULLOH BIL FAQIH)

SEKILAS TENTANG PON-PES DARUL HADIST ALFAQIHIYYAH

Sekitar tahun 1999 saya ta’lim di pon-pes Darul Hadist di bawah asuhan Habib Muhammad Bil Faqih . Pon-pes Darul hadist terletak di Jl.aries Munandar kota Malang Jawa timur.Sistem pembelajaran yang diajarkan kepada santri-santrinya hingga saat ini tidak mengalami perubahan masih menggunakan sistem salafi seperti yang telah di terapkan oleh pendirinya Alhabr Al habib Abdul qodir Bin Ahmad Bil Faqih begitupun sepeninggalan beliu di asuh oleh putra beliau Al hafidz Al habib Abdulloh Bin Abdul qodir Bil faqih dan sekarang diasuh oleh putra Beliau Al Habib Muhammad Bin Abdulloh bil faqih sebagai generasi kertiga .

Disamping mempelajari kitab-kitab salaf juga diadakan pembacaan rotib setiap ba’da Magrib dan subuh,juga pembacaan maulid nabi setiap senin pagi dan malam jumat serta dzikir-dzikir lainnya yang telah di ijazahkan dari Pendiri Pon-pes Al habr habib abdul qodir bil faqih.

Pon-pes Darul hadist banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka, seperti Habib Muhammad ba’bud (alm) pendiri pon-pes Darun Nasyi’in malang,Habib syech ali al jufri , Prof Dr Qurais Syihab,Kh.Alwi Muhammad Madura dan masih banyak yang lainnya .Benar seperti yang dikatakan oleh Habib ali bin muhammad al habsyi kwitang

“TIDAKLAH SESEORANG YANG BELAJAR KE PESANTREN DARUL HADIST INI KECUALI ORANG TERSEBUT ADALAH ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG”
Habib Ali al habsyi kwitang

kebesaran Darul Hadist merupakan bukti kebesaran eksistensi dari pendirinya Al Habr Habib Abdul Qodir Bil Faqih bukan besar dan megah serta ribuan santri yang menjadi ukuran hebatnya suatu pesantren tapi ketinggian dan kedalaman ilmu pengasuhnya yang menjadikan pesantren tersebut terkenal.Para santri yang belajar di pesantren Darul Hadist asal mau belajar sunggu-sungguh,mentaati peraturan pondok dan bisa menerapkan rasa ta’zhim kepada gurunya insya Alloh akan mendapatkan ilmu yang bermamfaat dan barokah .

MAQOM HABIB ABDUL QODIR BIL FAQIH DAN HABIB ABDULLOH BILFAQIH beserta Ayahanda Beliau berada di TPU KASIN KOTA MALANG . . .

Kh.Dimyati ardani ( Muallim Dimyati )

Kota Malang Dewan Guru Pon-pes Darul Hadist Al-Faqihiiyah Li Ahlissinnah Wal Jama'ah

28/10/2013

Kesalahfahaman dalam penilaian bid'ah terhadap Usholli

Akhir-akhir ini banyak pemahaman baru yang muncul ditengah-tengah fiqih yang sangat meresahkan umat, membuat umat awam semakin pusing dan sebagainya. Diantaranya adalah tuduhan bahwa mengucapkan Usholli sebelum shalat ada bid'ah dengan alasan hal seperti ini tidak pernah di buat oleh Rasulullah SAW. Untuk meluruskan kesimpangsiuran ini marilah kita kaji bersama-sama.

Dalam Bab Ibadaat (ilmu ibadah berupa shalat, zakat,puasa, haji, wudhu dll), dan Bab Mu'amalat (Jual Beli, riba, jaminan, penyewaan dll), dan Munakaahaat (Nikah, talak, dll) dan Jinayat (bab pidana, diat, dll) kita tidak bisa mencari hadits hadits sendiri., karena itu sudah baku dari Imam Imam Madzhab kita, mereka itu adalah Mengungguli para Muhadits,

Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali) ia hafal 1 juta hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan ia adalah murid Imam Syafii, maka adakah kita meragukan Fatwa Imam Imam ini?, mereka telah mendahului kita dalam mencari hadits hadits shahih, mereka telah mendahului kita mencari riwayat yg benar dan menyingkirkan yg batil, kita tak lagi perlu memasaknya karena mereka telah menghidangkan untuk kita.

Imam Syafii hidup jauh sebelum Imam Bukhari dan beberapa Muhaddits besar lainya, Imam Bukhari Lahir 30 tahun setelah kelahiran Imam Ahmad bin Hanbal, maka mereka belum mengklasifikasikan hadits hadits Bukhari, Muslim atau lainnya.

dan Madzhab Syafii pun ditelaah ulang oleh berpuluh puluh Muhadditsin lainnya, seperti Imam Nawawi, Imam Rafii, Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy, yg kesemuanya bermadzhab syafii, tentunya merekapun akan protes kalau Syafii membuat kesalahan.

perlu kita ketahui bahwa Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1 juta hadits ini ia hanya mampu mencatatkan sekitar 27.ribu hadits dalam Musnadnya (Musnad Ahmad), karena dimasanya hanya ada tulisan tangan, maka ia tak sempat menuliskan 1 juta hadits itu, ada yg mengatakan bahwa kitabnya sudah dimusnahkan oleh musuh musuh islam, maka kemanakah hadits yg 973 ribu sisanya itu?, (1 juta hadits, yg ada kini hanya 27 ribu) , sirna dimakan zaman..

demikian p**a Imam Syafii, yg juga tak punya waktu banyak untuk menulis hadits yg ia hafal secara keseluruhannya.. lalu?

yah.. mereka masih menyisakan madzhabnya, murid muridnya menulis madzhab beliau.

Imam Syafii berijtihad mewajibkan Lafadz niat dalam shalat (lafadh didalam hati, bukan dilafadkan lisan, karena melafadzkan niat dg lisan adalah sunnah, demikian dalam madzhab syafii), karena imam Syafii banyak menemukan ummat ini tak mendahului dengan niat, dan langsung masuk dalam shalat, sedangkan niatnya masih ragu apakah shalat sunnat atau fardhu, dhuhur atau asar, maka Imam Syafii ber Ijtihad dengan Istinbath Hadits Niat, untuk mewajibkan lafadz niat dalam hati pada takbiratul ihram.

menurut Madzhab Imam Syafii dalam niat itu bila shalat fardhu maka diwajibkan 3 hal : Alqashd (Ushalli/aku niat shalat) lalu Fardhiyyah (Fardhu) dan yg terakhir adalah Ta'yiin(dhuhur,asar maghrib dll). maka bila sayat shalat dhuhur misalnya, maka yg wajib adalah "Ushalli fardhuddhuhur ". selain itu adalah sunnah, dan untuk shalat sunnah maka hanya yg pertama dan ketiga yaotu Alqashd dan Ta'yiin (misalnya shalat sunnah wudhu maka ucapannya Ushalli sunnatulwudhu) (didalam hati, melafadkannya adalah sunnah).

Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar dan ratusan Imam Imam muhaddits lainnya tdk menentangnya bahkan mengikutinya, tak satupun yg mengatakannnya bid'ah munkarah.

orang orang itu yg membid'ahkannya adalah orang orang berilmu dangkal, mereka tak mengerti mana Ijtihad dan mana bid'ah hasanah dan mana bid'ah munkarah,

saudaraku, saya ada cerita lucu yg singkat, sekedar memperjelas kebodohan mereka, "ada seekor keledai yg setiap hari dibebani untuk membawa garam ke pasar, ia mesti membawanya dibahunya setiap hari melewati sungai.

sesekali air sungai pasang, ia pun sedikit terbenam di air, dan karung garamnya pun terendam air, ketika sampai di seberang ia rasakan bebannya meringan, karena garam mencair terkena air..

nah.. iapun berpendapat (pendapat otak keledai) bahwa kalau aku menyelamkan sedikit bebanku, maka beban ini jadi ringan, maka iapun berbuat seperti itu setiap hari walau air tak pasang, ia sedikit membenamkan dirinya di sungai, maka bebannya berkurang.

suatu hari ia dibebani kapas.., keledai tak tahu apa yg dibawanya, ia hanya tahu kalau aku dibebani dan bebanku kubenamkan di air maka akan meringankannya, namun ketika ia membenamkan tubuhnya di air, maka apa yg terjadi???, ia tenggelam dan mati..

mengapa?, ia membawa kapas, ringan.. namun bila dibenamkan di air maka akan 10X lebih berat dari bebannya,

nah demikianlah para ulama menggelari orang yg tak berilmu namun ingin berfatwa dengan fatwa para Muhaddits, kejadikan diatas diberi nama "Qiyas Himariy" (pemecahan masalah seekor keledai).

Imam Syafii hafal jutaan hadits, mempunyai murid Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1 juta hadits, pernah datang seorang calo9n murid kepada Imam Ahmad bin hanbal, maka ia memberinya catatan 10 ribu hadits, seraya berkata : "hafalkan ini secepatnya lalu datanglah padaku lagi nanti". maka muridnya itu menghafal 10 ribu hadits itu dengan susah payah, setelah ia hafal, ia kembali kepada sang Imam dg wajah berseri seri, ia menyangka ia sudah menjadi M***i atau menyandang gelar Muhaddits, maka Imam Ahmad berkata, "10 ribu hadits yg kau hafalkan itu kesemuanya adalah hadits palsu.., hadits yg tak dipakai, aku hanya menyuruhmu menghafal semua itu sekedar untuk mempertajam hafalanmu dan sebagai latihan, sebab bila kau salah ya tak apa apa karena semua hadits itu adalah hadits palsu, ini hanya sekedar latihan saja, dan kau belum menghafal satu hadits Rasulullah saw pun!"

demikian mereka itu wahai saudaraku, lalu yg ber Ijtihad mengenai Lafaz niat takbiratul ihram itu adalah Guru Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam syafii rahimahullah, yg hidup jauh sebelum Imam Bukhari, nah.. adakah kita masih melirik pada fatwa kaum sempalan ini yg bila anda tanya berapa syarat sah shalat mereka tak tahu?
wallahu'alam

14/10/2013

Segenap Pimpinan & Pengurus Majelis Ta'lim dan Tadzkir AL-BADARIYAH Lil Ustadzah, Mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H"

09/10/2013

Wasiat kyai Maja tentang Ahlulbait
kepada Bangsa Jawa

Wasiat Jihad Kyai Maja Muhammad Al
Jawad: Den sira para satria nagari mentaram,
nagari jawi heng dodotira sumimpen, watak
wantune sayyidina ngali, sumimpen
kawacaksane sayyidina ngali, sumimpen
kawacaksane sayyidina kasan, sumimpen
kakendale sayyidina kusen, den seksana hing
wanci suro landa bakal den sira sirnaake saka
tanah jawa, krana sinurung pangribawaning
para satrianing muhammad yaitu ngali,
kasan, kusen. Sira padha lumaksananna
yudha kairing takbir lan shalawat, yen sira
gugur hing bantala, cinandra, guguring
sakabate sayyidina kusen hing Nainawa,sira
kang wicaksana hing yudha,pinates tampa
sesilih ali basya (babad prang
dipanegara,karya pujangga yasadipura II,
surakarta).

Terjemahan sbb: Wahai kalian satria
mataram, negara jawa tersimpan dalam
pemahaman kalian. Pada kalian tersimpan
Watak prilaku, kebijaksanaan sayyidina ali
dan sayyidina hasan. Tersimpan keberanian al
husain, perhatikanlah pada waktu suro
belanda akan kalian hilangkan dr tanah jawa,
krn terdorong kekuatan para satria
muhammad yaitu ali,hasan dan husain.
Berperanglah teriring takbir dan shalawat,
jika kalian syahid maka akan tercatat spt
syahid nya para sahabat al husain di nainawa.
Engkau yang bijaksana dalam peperangan,
pantas mendapat julukan Ali Basya
memang banyak ulama yang telah lahir dan
wafat di negeri ini. di jaman sekarang
terdapat ribuan ulama dan santri dari
berbagai mazhab dalam Islam di Nusantara.
Tapi ana kira adakah yang punya jasa seperti
jasa Kyai Maja dalam mendampingi P
Diponegoro melawan kolonial Belanda?
Perang Diponegoro ini adalah perang kolonial
terbesar di dunia dengan musuh yg saat itu
merupakan kekuatan perang darat terkuat di
dunia, korban mereka juga terbesar di antara
perang kolonialisme lainnya di dunia, tercatat
8000 orang kulit putih asli tewas dalam
perang tersebut
Dari babad prang diponegoro ini tak bisa
dipungkiri lagi bahwa kyai Maja adalah
adalah seorang penganut ahlulbait, dilihat
dari wasiatnya. memang mazhb sunni juga
menghormati Imam Ali, Imam Hasan dan
Imam Husein, akan tetapi peristiwa Karbala
tidak pernah menjadi bagian yang cukup
penting dari fragmen sejarah sunni. Akan
tetapi ternyata Kyai Maja menyinggung
peristiwa Karbala atau yang diseutu oleh
beliau dengan kata Nainawa dalam wasiatnya
tersebut.
juga apabila kita melihat dari namanya:
Muhammad Al Jawwad, walaupun ada yang
berkata bahwa beliau katanya bernama
Muhammad Khalifah, atau Iman Abdul Arif,
tapi sumber dari babad prang dipanegara yg
berasal dari pujangga kraton surakarta
yasadipura II yg beliau lahir pd kisaran
perang tersebut menyatakan bahwa nama
beliau adalah Muhammad Al Jawwad. Nama
ini sangat berbau Syiah Imamiyah,
Muhammad Al Jawwad adalah nama Imam
Mazhab Syiah yang ke 9.
tidak ada dalam khasanah sunni maupun
syiah zaidiyah atau ismailiyah nama
"Jawwad" digunakan sebagai nama populer
bagi penamaan nama anak-anak mereka.
Hikayat Karbala dari tanah Melayu
Meski tampak lusuh, kitab itu tetap terawat.
Beberapa bagian yang robek coba ditautkan
dengan sejenis perekat. Tiap-tiap lembarnya
menebarkan wangi kapur barus yang
menjaganya dari kerusakan. Tersimpan
dalam ruangan bersuhu 16°C, seperti juga
kisah di dalamnya, Hikayat Muhammad
Hanafiah, nama kitab itu, memang tak lekang
oleh zaman.
Tak banyak orang tahu bahwa hikayat berusia
hampir empat ratus tahun ini menyimpan
kisah sedih keluarga
Rasulullah saw: kisah pembunuhan Hasan
karena racun dan Husain di padang Karbala.
Boleh jadi inilah catatan paling awal dalam
bahasa melayu tentang peristiwa berdarah
tersebut. Liau Yock Fang dari Jurusan
Pengajian Melayu, Universitas Nasional
Singapura, mencatat bahwa fragmen
(sepanjang 60 halaman) hikayat ini sudah
tersimpan di Perpustakaan Universitas
Cambridge, sejak tahun 1604. Dalam salah
satu bagian naskah yang dimiliki
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
(PNRI), tertulis tahun tahun 1191 H atau
bertepatan dengan 1771 M sebagai waktu
penyalinan naskah.
Menurut Drs. Sanwani, salah seorang
pustakawan PNRI, lembaga ini memiliki
sembilan naskah Hikayat Muhammad
Hanafiah. “Beberapa halaman dari tiga
naskah di antaranya telah lapuk dan hampir
tidak dapat dibaca,” ungkap Sanwani.
Selebihnya naskah dalam kondisi yang baik
dan tulisan di dalamnya jelas terbaca.
Kesembilan bagian naskah ditulis di atas
kertas eropa dengan ukuran naskah rata
antara 25 X 20 cm sampai 33 X 21 cm dan
banyak baris sekitar 15 sampai 21 baris.
“Jumlah halaman bervariasi dari 170-an
halaman sampai ada yang berjumlah 600
halaman. Semuanya ditulis dengan tulisan
Arab Jawi dan dalam bahasa Melayu,”
ujarnya.
Sebagian besar peneliti meyakini Hikayat
Muhammad Hanafiah berasal dari sumber
Arab. Tapi, Filolog tenar asal Belanda, Van
Ronkel punya cerita lain. Setelah menyelediki
fragmen Cambridge, Ronkel berpendapat
bahwa hikayat ini merupakan terjemahan
dari bahasa Persia. Alasannya, pujian yang
melimpah kepada kedua putra Ali, Hasan dan
Husain, pemakaian gelar pengembara untuk
Nabi saw yang dalam bahasa Persia adalah
Nabi, dan kesesuaian isinya dengan dua
naskah versia Persia yang tersimpan di British
Museum. L.F. Brakel yang pernah menyunting
Hikayat Muhammad Hanafiah untuk
memperoleh gelar doktor kesusasteraannya
dari Universitas Leiden mengukuhkan
pendapat Van Ronkel dengan beberapa bukti
baru. Pertama, bahwa pembagian bab dalam
naskah Melayu sama dengan naskah Persia.
Kedua, dalam bahasa Persia, hubungan
kekerabatan dalam bahasa Arab pada nama
Muhammad bin Hanafiah, dinyatakan oleh
apa yang dinamakan ezafat:e ‘yang tidak
dinyatakan’ sehingga menjadi Muhammad
Hanafiah. Karena mengabaikan ezafat:e tadi,
penyalin Melayu telah salah menuliskan nama
tersebut, yakni Muhammad Hanafiah bukan
Muhammad bin Hanafiah. Ketiga, banyak
nama orang yang ditulis dalam bentuk Persia,
seperti Ummi Kulsum dan Immi Salamah.
Meskipun demikian, Brakel juga tidak
memungkiri kemungkinan hikayat ini
merujuk kepada sebuah kitab sejarah dalam
bahasa Arab, Maqtal al-Husain, karya Abu
Mikhnaf. Karya Abu Mikhnaf ini merupakan
catatan paling awal karena sebagian besar
sejarahwan Muslim merujuknya ketika
menulis tentang pembataian keluarga Nabi
saw tersebut.
Tiap-tiap naskah Hikayat Muhammad
Hanafiah, seperti dituturkan Sanwani,
berkisah tentang hal yang berbeda meskipun
masih berikisar seputar terbunuhnya kedua
cucu kesayangan Rasulullah tersebut. Naskah
pertama paling banyak mengisahkan tentang
gugurnya anak-anak Ali, Hasan dan Husain di
Karbala pada masa kekuasaan Yazid.
Meskipun jelas, beberapa bagian tampak
sudah lapuk dan robek. Isi naskah pertama
ini, seperti dikatakan Sanwani, sudah pernah
dikerjakan oleh seorang peneliti Belanda,
Prof. Pijnappel pada tahun 1870. “Sayangnya
kita tidak memiliki hasil penelitian itu,”
lanjut pustakawan lulusan IKIP Jakarta ini.
Naskah kedua mengawali cerita dengan kisah
nabi-nabi lama, mistik nur Muhammad, kisah
Fatimah dari Siria, masa muda Nabi
Muhammad, perkawinan Nabi saw, hingga
zaman Khalifah Ali. Naskah ketiga
mengisahkan persahabatan Muhammad bin
Hanafiah dengan beberapa orang. Ia
mendapat luka dalam perang tetapi dengan
keajaiban lukanya sembuh. Yazid dapat
mengalahkan musuh-musuhnya lalu
kemenakannya ditunjuk menjadi raja
Damaskus dan kawin dengan cucu Abu Bakar.
Akhirnya Muhammad Hanafiah berhasil
mengalahkan musuh-musuhnya seorang diri.
Berbeda dengan naskah-naskah yang lain,
naskah keempat Hikayat Muhammad
Hanafiah yang dimiliki PNRI memiliki cerita
yang sangat berbelit-belit. Selain itu,
bahasanya pun s**ar dipahami. Naskah
kelima merupakan bagian terpanjang, yakni
mencapai 600 halaman. Tebalnya naskah ini,
salah satunya, disebabkan oleh hurufnya yang
sangat besar. Satu hal lagi, selain naskah
keenam, yang kelima ini merupakan bagian
yang memuat waktu penyalinan dengan
lengkap, yaitu 11 Rabi’ul Awwal 1288 H.
Naskah yang keenam yang bertanggal 6
Sya’ban 1281 H ini memuat kisah kematian
Yazid pada bab III, tetapi di dalamnya, tidak
diceritakan kemenangan Muhammad bin
Hanafiah yang banyak dibicarakan dalam
naskah-naskah lain. Naskah ketujuh
merupakan sebuah eksemplar yang baik
meski sebagian rusak. Naskah ini
mengisahkan tentang perikehidupan Nabi
saw secara panjang lebar.
Naskah kedelapan dimulai dengan uraian
tentang kewajiban-kewajiban bagi para
pengikut Nabi saw, sementara kelahiran
Hasan dan Husain baru terdapat pada
halaman 88. Naskah terakhir memuat cerita
peperangan antara Ali dengan Muawiyah,
pembunuhan Hasan dengan racun dan
Husain di padang Karbala oleh Yazid.
Kemudian dilanjutkan dengan pembalasan
dari Muhammad bin Hanafiah kepada Yazid.
Yazid dapat dikalahkan tetapi Muhammad
bin Hanafiah malang juga nasibnya. Ia mati
bersama musuh-musuhnya dalam sebuah gua.
Dengan kandungan yang sarat nilai, naskah-
naskah Hikayat Muhammad Hanafiah jelas
sangat berharga untuk diteliti. Tetapi
penelitian filologi yang menuntut keahlian
interdisiplin tampaknya kurang diminati para
peneliti dan mahasiswa kita. “Justru peneliti
asing yang banyak meneliti-meneliti naskah-
naskah kita,” ungkap Sanwani. Ibarat
peribahasa “kacang lupa akan kulitnya”, kita
kerap memandang sebelah mata terhadap
warisan budaya nenek moyang. [irman
abdurrahman]
Dan Muawiyah pun Menolak Beristri
Dari banyak kisah yang dituturkan dalam
Hikayat Muhammad Hanafiah, peristiwa
Karbala, termasuk cerita yang mengawali dan
mengikutinya, paling banyak menyita
halaman dari hikayat ini.
Bagian kedua ini biasa disebut dengan
Hikayat Maktal Husain. Berikut petikannya
yang sengaja ditransliterasi sesuai ragam
bahasa aslinya.
Tatkala Husain masih muda, ada malaikat
yang kedua sayapnya tertunu, turun ke dunia.
Husain menyapu bahu malaikat itu dengan
tangannya. Dengan takdir Allah, sayap
malaikat itu pun baik lalu ia kembali ke
udara. Jibrail berkata bahwa malaikat itu
tidak akan turun ke bumi melainkan pada
waktu Husain dibunuh oleh segala munafik.
Adapun semasa Hasan dan Husain masih
kecil itu, Jibrail selalu turun ke dunia
bermain-main dengan mereka. Sekali
peristiwa, sehari sebelum hari raya, Jibrail
membawa pakaian untuk Hasan dan Husain.
Hasan memilih pakaian hijau dan diramalkan
akan mati kena racun; Husain memilih
pakaian merah dan diramalkan mati
terbunuh di Padang Karbala. Muawiyah
mendengar bahwa dari keturunannya akan
lahir pembunuh cucu Muhammad dan
bersumpah tidak mau beristeri. Pada suatu
malam, ia pergi buang air dan beristinjak
dengan batu. Zakarnya disengat oleh kala. Ia
tidak terderita sakitnya. Menurut tabib,
sakitnya hanya akan hilang jika ia berkawin.
Maka berkawinlah ia dengan seorang
perempuan tua yang tidak boleh beranak lagi.
Dengan takdir Allah, perempuan tua itu
melahirkan seorang anak yang diberi nama
Yazid.
Setelah Ali wafat, Muawiyah menjadi raja.
Sekali peristiwa, Muawiyah mengirim seorang
utusan pergi meminang Zainab, anak Jafar
Taiyar untuk menjadi isteri anaknya, yaitu
Yazid. Zaainab menolak pinangan Yazid,
tetapi menerima pinangan Amir Hasan.
Karena itu Yazid pun berdendam dalam
hatinya, hendak membunuh Amir Hasan dan
Amir Husain, bila ia naik kerajaan. Sekali
peristiwa, Yazid ingin berkawin dengan isteri
Abdullah Zubair yang sangat baik parasnya.
Muawiyah berja menipu Abdullah Zubair
menceraikan isterinya. Isteri Abdullah Zubair
tiada mau menjadi isteri Yazid. Sebaiknya,
isteri Abdullah Zubair itu berkawin dengan
Amir Husain. Yazid makin berdendam dalam
hatinya, “Jika aku kerajaan, yang Hasan dan
Husain itu kubunuh juga, maka puas hatiku.”
Maka berapa lamanya, Muawiyah pun
matilah dan kerajaan pun jatuh ke tangan
Yazid. Mulailah Yazid melaksanakan niatnya
untuk membunuh Amir Hasan dan Amir
Husain. Ia berhasil memujuk seorang
hulubalang di Madinah (menurut suatu
cerita, salah seorang isteri Hasan sendiri)
meracuni Hasan. Setelah Hasan wafat,
pikirannya tidak lain daripada membunuh
Husain saja. Ia mengirim surat kepada
Utbah, seorang hulubalang di Madinah, dan
memintanya membunuh Husain dengan
menjanjikan harta dan anugerah. Seorang
hulubalang yang bernama Umar Saad
Malsum juga dikirim untuk membunuh
Utbah. Biarpun begitu, Utbah masih tidak
berani membunuh Husain. Katanya jika
Husain ada di dalam Madinah, mereka tidak
dapat mengalahkannya. Karena itu mereka
meminta raja Kufah, Ubaidullah Ziyad
namanya, supaya menipu Husain ke Kufah.
Husain menerima jemputan raja Kufah untuk
pergi ke Kufah. Ummi Salamah mengingatkan
Husain tentang bahaya yang mengancamnya.
Pada malam itu Husain juga bermimpi
berjumpa dengan segala nabi dan malaikat.
Nabi Muhammad memberitahu bahwa surga
sudah berhias menantikan ketibaannya.
Sungguhpun begitu, Husain berangkat juga
ke Kufah bersama-sama dengan pengikutnya
yang tidak banyak itu.
Hatta berapa lamanya sampailah mereka ke
suatu tempat. Unta dan kuda Husain
merebahkan dirinya, tiada mau berjalan lagi.
Mereka lalu mendirikan kemah di situ.
Adapun segala kayu yang mereka tetak,
berdarah balak. Baharulah mereka ketahui
bahwa tempat itu ialah Padang Karbala,
tempat kematian Husain yang diramalkan
Nabi Muhammad dahulu. Hatta mereka pun
kekurangan air, karena air sungai sudah
ditebat oleh tentera Yazid. Air yang di dalam
kendi kulit juga sudah terbuang, karena
digorek tikus. Apa boleh buat. Terpaksalah
mereka menahan dahaga yang sangat. Maka
mulai peperangan itu. Pengikut Husain, satu
demi satu syahid. Akhirnya anaknya sendiri,
Kasim dan Ali Akbar, juga mati. Barulah
ketika itu Husain teringat meminta bantuan
kepada saudaranya, Muhammad Hanafiah,
yang menjadi raja Buniara. Sesudah itu ia
pun terjun ke dalam medan perang. Banyak
musuh dibunuhnya. Sekali peristiwa, ia
berjaya menghampiri sungai. Biarpun begitu,
ia tidak meminum air itu, karena teringat
kepada sahabat taulannya yang mati syahid
disebabkan dahaga itu. Maka Husain pun
lemahlah lalu gugur ke bumi. Betapa pun
demikian, tiada seorang pun berani
menghampirinya. Akhirnya Samir Laain yang
susunya seperti susu anjing lagi hitam itulah
yang maju ke depan dan memenggal leher
Husain. Adapun Husain syahid itu pada
sepuluh hari bulan Muharam, harinya pun
hari Jumaat. Tatkala Husain syahid itu, arasy
dan kursi gempar, bulan dan matahari pun
redup, tujuh hari tujuh malam lamanya alam
pun kelam kabut.
Setelah Husain syahid, maka segala isi rumah
Rasul Allah terampaslah oleh tentera Yazid.
Akan tetapi, seorang pun tiada berani
menghampiri Ummi Salamah. Seorang
lasykar yang merampas anak perempuan
Ummi Salamah, dengan kudrat Allah,
matanya menjadi buta. Yazid berjanji akan
memberi diat kematian Husain, jika Ummi
Salamah rela dengan dia. Ummi Salamah
menolak. Yazid sangat marah. Apabila
Fatimah, anak perempuan Ummi Salamah,
meminta air minum, yang diberikannya ialah
kepala Husain yang diceraikan dari badannya.
Bangsa Indonesia, Kembalilah ke
Kit'ahnya!
mau tidak mau harus diakui bahwa sekarang
ini pihak yg menjadi musuh utama Islam
adalah kaum nasrani. aksi utama mereka
(kaum nasrani) adalah aksi misionaris secara
diam-diam yg hanya mengandalkan materi
semata, memblow-up kemiskinan yg dialami
kaum muslimin. Dan dalam hal ini kaum
muslim sunni masih rentan terhadap
ancaman pemurtadan. apalagi wahabi dan
JIL, keduanya sangat eksklusif sehingga tidak
menyentuh masyarakat. masyarakat
Indonesia yang miskin tetap saja miskin, dan
mereka juga tidak mampu memperkuat
intelektual masyarakat miskin Indonesia
sehingga walaupun miskin tetap mampu tegar
menghadapi pengaruh keduniawian yang
dihembuskan para misionaris kristen dan
katholik.
Tapi hal ini (ancaman pemurtadan) sulit
terjadi pada Islam mazhab Syiah. kekuatan
argumentasi, akal pikiran, filsafat, logika,
hikmah bertujuan kepada hati nurani yg akan
menuntun pada kehendak Allah, menjadikan
Islam mazhab Syiah kuat menghadapi segala
tantangan hidup di dunia materi, termasuk
kemiskinan.
Oleh karena itu jarang sekali terjadi, atau
bahkan hampir tidak pernah terjadi suatu
kasus seorang penganut islam mazhab Syiah
menjadi murtad, keluar dari keyakinannya
dan menjadi penganut nasrani. paling-paling
suatu kasus yang terjadi adalah kasus seorang
syiah yang berpindah mazhab menjadi sunni.
tapi hal ini tidak mengapa karena ia tetap
seoran pengucap syahadat (tetap seorang
muslim).
Maka dari itu jika kaum muslimin bangsa
Indonesia dapat kembali ke kit'ahnya semula
yaitu kembali sebagai penganut Islam mazhab
syiah, yaitu keyakinan leluhurnya dulu yang
telah berhasil mencerahi dan mengislamkan
pribumi Nusantara, maka dapat dipastikan
bahwa keyakinan bangsa penjajah, yaitu
keyakinan nasrani tidak akan mendapat
tempat lagi di hati penduduk bumi nusantara
untuk selamanya.
Kita harus kembali menyambut seruan Al-
Husein. Hanya dijalan Al-Husein jihad
fisabilillah dalam bentuk apapun akan dapat
kita lakukan
Oleh karena itu alangkah baiknya jika bangsa
Jawa menyambut seruan al-husein,
sebagaimana yang telah dilakukan oleh
leluhurnya dahulu, serta yg telah diamalkan
oleh Pangeran Diponegoro dan Kyai Maja.
Mereka adalah orang-orang yang menyambut
seruan Al-Husein, cucu baginda Rasulullah.
tak pelak dengan ketaatan mereka
menyambut seruan para kesatria Mustafa,
yaitu Ali, Hasan dan Husein, mereka dapat
menghinakan para penjajah nasrani yang
kafir dan zalim.
perjuangan Pangeran Diponegoro dan Kyai
Maja adalah perjuangan bersenjata,
kemudain perjuangan mereka diikuti oleh
penerusnya B**g Tomo, B**g Karno, Dr
Cipto, HOS Cokro di masa selanjutnya,
Kemudian bangsa Indonesia berhasil bebas
mengusir penjajah oleh Sri Sultan HB IX dan
Pak Harto. Tapi apakah perjuangan selesai.
Belum, sekarang tongkat kepemimpinan
estafet perjuangan jatuh ke tangan bangsa
Iran. apabila Indonesia berhasil
menginspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk
merdeka dari penjajahan, maka bangsa Iran
berhasil menginspirasi bangsa-bangsa di
dunia bebas dari dua hal yaitu belenggu
konspirasi hegemoni barat dan belenggu
boneka jahat. Bentuk kejahatan yang berupa
boneka barat berada di timur tengah.
sedangkan untuk situasi di Indonesia adalah
kejahatan konspirasi antara barat dengan
orang-orang non-muslim warga indonesia
sendiri yang memusuhi kaum muslimin di
Indonesia secara diam-diam dan bekerjasama
dengan korporasi barat untuk menindas
bangsanya sendiri secara ekonomi dan
pendidikan.
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yanga
mempunyai akar yang sama dengan bangsa
Iran, yaitu sama-sama keturunan Imam Musa
Al-Kazhim, hendaknya dapat mengetahui
arah perjuangan global ini, dan merapatkan
barisan dengan bangsa Iran dan bangsa-
bangsa di dunia lainnya yang menentang para
boneka jahat dan hegemoni global yang amat
menyengsarakan semua umat segala lapisan
di dunia.
Dalam hal ini orang Jawa mempunyai
tanggung jawab yang paling berat, sudah
saatnya manusai Jawa kembali lagi ke
kit'ahnya, memenuhi wasiat Kyai Maja. hanya
dengan mengikuti ahlulbait nabi, maka orang
jawa dapat kembali lagi kepada fitrah
kemuliaannya. apabila orang-orang Jawa
menjadi penganut syiah, maka orang-orang
dari suku lainnya juga akan mengikutinya.
Apabila hal ini terjadi maka maka bangsa
Indonesia dapat dipastikan akan mengalami
kejayaannya kembali dan menjadi bagian
penting dari tentara shahibuz zaman Al-
Mahdi Al Muntazar yg akan membimbing
muslimin untuk memuliakan Islam dan
menghinakan musuh-musuh Allah dan Rasul-
Nya, yang mana saat ini tanda-tanda bahwa
kemunculan beliau Al-Mahdi sudah dekat,
telah bermunculan.
Apabila sudah seperti itu maka bangsa
Indonesia dalam keislamannya akan
mencapai derajat keislaman dengan level yg
tertinggi sampai dengan hari kiamat nanti.

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Mampang , JAKARTA SELATAN
Jakarta