13/10/2024
Musuh Terbesar itu Comfort Zone!
Di AS, orang India, Korea, Jepang dan China sangat maju dalam segala bidang. Mereka serius dan fokus untuk berkembang.
Orang India malah lebih hebat. Mereka menjadi CEO di hampir semua perusahan besar seperti Google, FB, microsoft, dsb. Mereka pekerja keras untuk kelas atas yang berhubungan dng intelektualitas, kerja otak.
(Tambahan info Mercy Sihombing : ketika CEO Microsoft Internasional, Satya Nadella, ngotot bertemu dua anak saya Christo dan Christie karena kaget ada dua ansk kecil (waktu itu Christo masih 10 tahun) yang sudah bekerja ketas j
Orang Yahudi? Mereka di atas semuanya. Orang Yahudi pekerja keras dan pekerja cerdas. Mereka menguasai semua bidang kehidupan. Kuncinya karena selalu ingin maju dan berani inovasi. Ibarat catur, mereka sudah berpikir 5 langkah di depan kita.
(Tambahn info dari Mercy Sihombing : Just info, waktu aku berkesempatan ke kantor teknologi di China, ternyata banyak orang Yahudi berpasport Israel di sana)
Orang Indonesia? Sama seperti latino, kebanyakan profesinya pekerja di pabrik2, delivery newspaper atau piza. Mereka pekerja keras, tetapi untuk kelas bawah yang utamakan otot, bukan otak. Herannya, banyak yang puas dengan kondisi ini karena bagi mereka yang penting tinggal di US.
Mungkin mereka sudah hidup dalam comfort zone, tak mau maju lagi. Sudah nyaman dengan yang ada. Mungkin juga mereka tak punya kepercayaan diri dan keberanian untuk maju. Padahal secara sosial mentalitas ini membuat mereka sangat rapuh.
Apa kesimpulan ini? Ternyata menjadi pekerja keras tidak cukup. Kita harus menjadi pekerja cerdas. Untuk itu harus berani fight, punya ambisi untuk maju terus dan siap berkompetisi dng siapa pun. Setiap saat adalah kesempatan untuk mengembangkan diri.
Jangan pernah tinggal dalam sangkar comfort zone, kenyamanan. Lawan terberat seseorang untuk meraih 'the best' adalah puas dng kondisi "good". Orang merasa puas dengan apa yang ada. Dan tak mau maju lagi. Pdhal dunia terus maju. Diam di tempat artinya tercecer dan tertinggal jauh di belakang.
Selagi masih hidup dalam waktu yang artinya kesempatan, terbanglah setinggi langit. Raihlah semua kesempatan. Explorelah semua potensi dan kapasitas yang Tuhan berikan. Jangan pernah tunda apa pun yang bisa membuat kita lebih maju krn ternyata hidup adalah kompetisi yang brutal. Mereka yang tidak siap akan tertinggal dan terkubur oleh kemajuan peradaban.
Copas dari
Albertus M Patty
Maryland, 11 Oktober 2024