24/04/2026
Pagi itu, seperti biasanya anak-anak pergi ke taman atas untuk melakukan observasi dan berkegiatan bebas. Disana anak-anak menemukan potongan batang dan dahan-dahan kering yang ditumpuk. Bagi orang dewasa, itu mungkin hanya sisa-sisa. Sesuatu yang nantinya akan dibersihkan.
Tapi tidak untuk anak-anak saat itu.
Mereka mulai mendekati tumpukan itu. Memperhatikan. Menyentuh permukaan kasar yang ada. Lalu mulai memilih-milih bagian mana yang sekiranya bisa mereka gunakan.
Tidak ada instruksi.
Tidak ada contoh.
Satu persatu diangkat, diseret pelan, lalu sandarkan.
Sempat terjatuh. Kemudian mencoba lagi dengan cara yang berbeda.
Perlahan, bentukan akhirnya mulai terlihat. Dari potongan yang terbengkalai, menjadi bentuk yang mulai berdiri. Yaitu sebuah tenda sederhana.
Mungkin tidak terlihat rapi, mungkin juga tidak terlihat simetris. Tapi cukup untuk membuat beberapa anak masuk ke dalamnya untuk duduk, dan merasa punya ruangnya sendiri.
Di momen itu, kami melihat bahwa sesuatu yang sudah “selesai” bagi kita, justru bisa menjadi “awal” bagi anak-anak dan segala kreatifitasnya.
Sisa pohon yang ditebang, bisa berubah jadi ruang untuk berpikir, mencoba, dan menciptakan. Kami pun mulai berpikir bahwa, barangkali di tangan anak, segala sesuatunya tidak pernah benar-benar habis. Bahwa banyak hal yang terlihat sepele, justru memiliki nilai fungsi yang tak ada habisnya jika kita mau memberi sedikit ruang kepada anak untuk memperhatikan, mengeksplorasi, dan menuangkan idenya.
Dan di Taman Tumbuh, anak-anak terbiasa dengan kesempatan itu 🍃✨🌸🌞