Acara Tarhib Ramadhan 😍
Rute : Sekolah - Kantor Pos - (lanjut) Nambo - Blok M - Longkrang - Kobokan - Tegalreja - Parireja - Sekolah.
KB - TK Islam Terpadu
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from KB - TK Islam Terpadu, Education Website, Jakarta.
09/05/2019
Alhamdulillah Acara Tarhib Ramadhan telah dilaksanakan KBIT-TKIT AULADIA Banjarharjo.
Kami Mengucapkan :
Marhaban Ya Ramadhan...
Jadikan Momentum Ramadhan Sebagai Ajang Perbaikan Diri 😇
27/04/2019
INFO DARI DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
Bagi Seluruh masyarakat yang akan berencana memasukkan anaknya ke SD pada tahun ini pastikanlah umur anak kita minimal 6.5 tahun di awal pendaftaran.. Mengapa ?
Karena penerimaan murid sekarang sudah di atur oleh sistem..yg mana..
Jika anak kita berumur kurang dari 6.5 tahun maka dia tidak akan bisa diproses dgn aturan sistem ke pusat...
proses pendataannya *AKAN MERAH* sehingga akan merugikan anak kita..
Resikonya adalah..
anak harus di tinggalkan di kls 1 terlebih dahulu baru bisa tahun besoknya atau tahun depan untuk proses pendataan....
Nah dari pada psikologi anak kita terganggu karena tidak naik kelas di SD, lebih baik ditunda memasukkannya ke SD...
Bagi sekolah baik negeri maupun swasta *mohon jadi perhatian serius* tentang hal ini...agar tidak terjadi permasalahan di kemudian hari.....
Sebagai bahan pertimbangan bagi kita semua, sebenarnya secara psikologis ideal anak msk SD itu umur 7 th...krn kesiapan mental anak usia 7 sdh baik...
identik pd kesiapan mental bukan intelektual..
Sebab kalau terlalu cepat maka bisa membuat prestasi dan proses belajar anak akan menurun di kls 3 atau 4...
(kebanyakan begitu....silahkan cari info ttg anak anak dg proses belajar diusia terlalu cepat...klien saya banyak magol belajarnya diusia itu : ttd St Fitriannie, Psikolog)
Mengapa? karna kesiapan mental dan otak atau intelektual anak ditiap usia sudah ada takarannya...dan kalau tdk sesuai usia dan kesiapan mental anak maka..beban materi belajar yang berat akan membuat anak tertekan...
Keduanya yaitu kesiapan mental dan intelektuak tidak bisa di paksakan...jika itu terjadi berefek buruk nantinya...
Semoga bisa dipahami..
Kalau ada anak kita yang blm 6 thn, merasa bosan di TK yang sama...bisa saja dipindahkan ke TK yang lain utk mengulang..
Asalkan jangan ke SD...krn pendataan sistem merugikan anak nantinya...baik mental dan waktu...
Tapi TK yang benar benar menjalankan kurikulum... tdk akan membuat anak bosan belajar..
Mengapa ?
krn proses belajar ditiap level atau tingkatan ( kelompok A dan B) itu beda ....
Karena kurikulum kelompok A dan B juga beda..itu yang benar..
Jadi sekali lagi saya ingatkan p**a bahwa
Jangan tuntut anak kel A bisa baca tulis berhitung karena kurikulum untuk itu adanya di kel B.. Terkadang ada orgtua yg menuntut anak segala bisa diusia dininya..pindah sekolah karena tuntutan CaIistung Tk satu dan Tk lain tidak sama ..padahal jika melihat kurikulum kel A dan B sudah sangat jelas berbeda karena sudah disesuaikan dgn usianya
Mudah mudahan informasi ini bermanfaat tidak saja buat guru TK / paud...juga buat masyarakat yang memiliki anak diusia dini
🙏🙏🙏
PENTING UNTUK DIKETAHUI BERSAMA
Sumber Dari Dinas Pend Nasional
03/04/2019
Assalamualaikum..
Ayah dan Bunda yg dirahmati Alloh, ada informasi yang akan kami sampaikan di sini..
Dalam Rangka PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), KB-TKIT AULADIA Banjarharjo Mempersembahkan Acara :
√ Performance siswa
Menampilkan siswa-siswi KB-TKIT
dengan berbagai kebisaannya.
√ Bazar Murah
• Makanan
• Pakaian
• Sembako
• Kesehatan
Yuuuk ajak Ananda hadir di acara kami, sekaligus berkenalan dengan KB-TKIT AULADIA Banjarharjo 😍
Kami tunggu yaaa 😘
03/03/2019
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ayah Bunda, kami sudah buka pendaftaran bagi siswa baru :)
Gelombang ke 2 hanya akan kita buka jika kuota masih ada ya...
09/02/2019
Kegiatan hari ini..
Home visit plus penyerahan sertifikat kepada ketua POMG kb-TK islam terpadu Auladia..
Terimakasih bunda2 hebat...
03/02/2019
Kegiatan Bulanan Siswa : Menu Sehat 😍
Apa Menu Sehatmu hari ini?
Jangan lupa baca doa sebelum makan ya 😉
30/01/2019
Copas ilmu...
Semoga bisa menjadi sumber informasi dan bisa juga menjalankannya 😇
*TERAPI PELUK DAN RE-FRAMING*
( Novika Amalia)
_"Mbak, gimana sih caranya jadi ibu yang sabar, yang lembut, yang gak gampang marah-marah sama anak, yang gak s**a nyubit."_
Hmmm saya sebenarnya bingung kalo ditanya begitu. Karena dasarnya, saya itu punya bakat pemarah dan kasar. Tapi kalo boleh saya mau sharing pengalaman saya mengelola emosi yang masih berproses hingga sekarang.
Kalau yang mengikuti status saya dari dulu dulu, pasti tahu saya punya innerchild yang sedang saya sembuhkan. Alhamdulillah nya, Allah menjodohkan saya dengan seorang lelaki yang sebelumnya sudah punya 'kabel pengasuhan' yang baik dari orang tuanya. Sehingga, saya bisa belajar tentang menjadi orang tua yang lembut darinya dan keluarganya.
Perjalanan pengelolaan emosi saya berawal sejak hari pertama menikah. Suami saya, dengan tegas tapi lembut mengatakan bahwa tidak boleh ada marah-marah, bentak-bentak, teriak-teriak, atau pukul-pukul di keluarga kami. Baik untuk hubungan suami istri maupun orang tua ke anak.
Maka, saya coba pegang betuul nasihat suami saya ini. Tapii, tentu saja praktiknya tidak semudah dan semulus itu. Saya yang dasarnya mudah marah tidak bisa serta merta jadi istri dan ibu yang lembut.
Awalnya, setiap kali mau marah, saya memilih time out. Lariiii.... Bersembunyiii... Menenangkan diri sejenak agar siap menghadapi anak yang tantrum dengan senyuman.
Sesaat cara ini berhasil membuat saya tidak marah-marah. Tapi kemudian, setelah lama memperhatikan, suami saya komplain.
_"Kok bisa, Qairina nangis begitu mamahnya malah kabur. Menenangkan diri sendiri. Apanya yang harus ditenangkan? Siapa yang sebenarnya perlu ditenangkan?"_
Pertama mendengar komplainnya, saya 'mendidih', lalu menjawab sambil terisak, _"Papah gak tau sih gimana susahnya mengontrol emosi! Papah pilih mana, mamah marah-marah atau menenangkan diri sendiri dulu?"_
_"Kenapa harus ikut marah? Apa salah Qairina?"_
Kenapa saya harus terbawa emosi?
Lalu saya bertanya pelan, _" Lalu mamah harus bagaimana?"_
Dia menjawab tegas,
_*" Peluuuk. Peluk erat Qairina. Tenangkan emosinyaa."*_
Saya masih ngeyel. _"Bagaimana mungkin bisa memeluk dan menenangkannya kalo mamah sendiri gak tenang?"_
_" Coba dulu ajaa.
Dia melanjutkan lagi.
_"Saat anak menangis itu artinya dia sedang membutuhkan sesuatu dari kita. Dia butuh kitaa untuk membuatnya nyamaan. Jangan lari, hadapi tangisannya, berikan rasa nyaman. Peluuk. Lepas emosi kita sendiri saat memeluk anak. Insya Allah dia akan lebih mudah ditenangkan."_
Saya mencoba meresapi makna yang coba disampaikannya.
Sejak saat itu, saat menemui kondisi yang membuat saya hampir marah ke anak, saya coba praktikkan nasihatnya. Sambil otak saya terus berusaha me-reframe apa yang saya lihat dari sudut pandang yang positif. Dan setelah saya reframe banyak hal yang menyebabkan Qairina tantrum, sebenarnya memang marah-marah itu tidak diperlukan. Anak tidak akan 'berulah' kalo kita sudah memenuhi haknya dengan sebaik-baiknya.
Anak menyobek-nyobek buku?
Ah mungkin saya yang kurang menstimulasi motorik halusnya sehingga dia belum cekatan memegang dan membolak-balikkan buku. Tak perlu marah-marah, kasih senyuman, ajak anak merapikan buku yang disobek sambil bermain.
Anak berteriak-teriak karena keinginannya gak diturutin?
Ah mungkin saya kurang memperhatikannya saat dia bersikap baik, sehingga dia 'mencari perhatian' dengan cara berteriak. Peluk, minta maaf, biarkan dia me-release emosinya, setelah reda tanyakan apa keinginannya baik-baik.
Anak rewel minta ditemenin bermain padahal saya capek habis p**ang kerja atau habis melakukan seabrek pekerjaan rumah tangga?
Ah bukan salahnya. Saya yang belum menunaikan kewajiban saya menemaninya bermain. Dia hanya meminta haknya. Tak adil jika saya memintanya mengerti kalo saya capek, dia hanya seorang balita, saya lah orang yang dewasa. Maka, tarik nafas, cuci muka/wudhu, kembali temui anak dan ajak dia bermain ses**anya dengan sepenuh jiwa dan raga.
Anak bikin rumah berantakan?
Alhamdulillah rumahnya jadi lebih hidup. Alhamdulillah itu artinya anak sehat. Ingat saat dia tergolek lemas di bangsal rumah sakit. Rumah rapi, tapi tak ada tawa yang bergema di udaranya. Penuhi dulu hati dengan syukur, lalu ajak merapikan mainan sama-sama sambil bernyanyi atau main games. Kalo tetap tidak mau, atau hanya mau membantu setengah-setengah pun tak apa, tak perlu dipaksa. Cukup contohkan kalo habis bermain, mainan harus dirapikan kembali.
Anak rewel di tempat umum atau di tempat antrian?
Ah mungkin saya membuatnya bosan sehingga dia rewel. Atau saya tidak cukup membawa mainan atau buku yang bisa membuatnya tenang. Atau saya yang terlalu memaksa mengajaknya ikut tanpa terlebih dulu bertanya kesediannya.
Nah, ternyata memeluk sambil me-reframe pikiran sendiri ituu bisa jadi emosional healing buat saya. Alhamdulillah, saya jadi lebih bisa mengelola emosi.
Belakangan, 'terapi peluk' dan me-reframe pikiran ini juga saya terapkan untuk suami. Saat saya sebal, marah, atau ada unek-unek yang ingin disampaikan, saya memeluk suami. Awalnya gengsiiii, masa sih lagi sebel malah peluk peluk suami, tapi alhamdulillah ini bisa menjaga kelembutan saya sebagai seorang istri. Paling tidak, jadi tidak marah-marah dan ngomel-ngomel sama suami. 😁
Saat lagi marah, saya peluuk suami sambil bisikin, _"Mamah lagi sebel sama papah."_
Biasanya dia akan tertawa sambil bertanya, _"Hahaha.. lagi marah kok meluk?
_"Hahaha kalo begitu jangan marah."_
Dan... mengalirlah dialog diantara kami, biasanya suami akan kuras habis unek-unek saya. Kalo saya lagi emosi banget, ceritanya bisa tersendat-sendat karena sambil terisak. Tapi dia dengarkan sampai saya puas ngomong. Baru dia kasih alasan, balasan, dan kritikan balik ke saya. Lalu kami saling berkompromi dan saling meminta maaf.
Kalo posisinya dia yang marah sama saya. Saya peluuk juga. Ngomong sambil takut-takut. _"Papah jangan marah d**g sama mamah. Nanti Allah gak ridho sama mamah. Nanti syetan seneng, tepuk tangan bersorak sorai liat kita marahan.
Biasanya kalo dibegituin, jadi reda marahnya. Mungkin kasian kalo istrinya gak diridhoi Allah. Atau kasian bayangin istrinya meluk tiang listrik. 😁
Alhamdulillah terapi peluk dan me-reframe ini berhasil diterapkan di keluarga saya. Meskipun tetaap, praktiknya sungguh up and down. Tapi alhamdulillah bisa bikin saya minimaal gak pake bentak, nyubit, atau mukul anak. Minimal tidak ada lukaa yang saya tinggalkan untuknya. Kalo kesel kesel dikit ya manusiawi, cuma tetap diusahakan hilang sama sekali.
Memeluk memungkinkan kita untuk menghidupkan sensor cinta untuk orang tersayang kita.
Memeluk memungkinkan kita untuk menyamankan diri sendiri lewat sentuhan fisik dengan orang tercinta.
Memeluk memungkinkan kita untuk menyampaikan bahasa cinta yang paling terasa.
Memeluk tidak memungkinkan kita untuk saling berteriak, saling membentak, atau saling memarahi meski sedikit saja.
Memeluk membantu kita melepas emosi yang menjalari pikiran dan jiwa kita.
Jadi, ayo peluk orang-orang tercinta kita apapun keadaannya.
Peluk ketika merasa senang. Peluk ketika merasa sedih. Bahkan peluk ketika merasa marah. Dan rasakanlah sensasi emotional healing nya.copas
30/01/2019
Kegiatan Belajar Mengajar di kelas penuh dengan keceriaan. Anak-anak mengikutinya dengan menyenangkan 😍
30/01/2019
Assalamualaikum wr wb
Awali hari dengan membaca Bissmillahirrohmanirrohiim..
Semoga aktivitas kita membawa keberkahan.
Amin 😇
29/01/2019
Bunda, jangan lupa ajak Ananda untuk membaca doa sebelum tidur yaaa.. 😍😇
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jakarta