22/08/2017
# Telah masuk bulan Dzulhijjah, mari BERSEMANGAT memperbanyak amal shalih di 10 hari pertama ini…
Allah berfirman: وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ [[“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)]]
Imam al-Thabari dalam menafsirkan “Wa Layaalin ‘Asyr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh (awal Dzulhijjah) berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” [Tafsiir ath-Thabariy]
Tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu, melainkan karena keagungan sesuatu tersebut. Dan patutlah kita benar-benar memperhatikan terhadap sumpah tersebut (Majmu Fatawa wa Rasa`il ibnu ‘Utsaymin). Maka ini menunjukkan akan kemuliaan dan keagungan 10 hari dzulhijjah, dan sebagai peringatan bagi kita, agar hendaknya kita benar-benar memperhatikan hal ini.
Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
أفضل أيام الدنيا أيام العشر
“Sebaik-baik hari dunia adalah sepuluh awal bulan dzulhijjah”. (HR. al-Bazzar, al-Baihaqi, dan selainnya; dengan sanad yang hasan)
Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر –
“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh awal bulan dzulhijjah.
قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟
Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?
قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. (HR. al-Bukhari)
Dan sungguh, telah diriwayatkan bahwa seorang taabi’iin, Sa’iid ibnu Jubair, SANGAT BERSUNGGUH-SUNGGUH BERIBADAH di 10 hari awal dzulhijjah ini sampai-sampai orang-orang menyangka bahwa beliau akan kewalahan, karena dahsyatnya ibadah beliau…
Sampai-sampai beliau berkata:
لا تطفئوا سرجكم ليالي العشر
“Jangan matikan lampu kalian di malam-malam sepuluh awal bulan dzulhijjah”.
Artinya, beliau memerintahkan agar kaum muslimin makmurkanlah malamnya dengan ibadah di 10 malam ini.
------------------
Lantas amalan apa saja yang hendaknya kita lakukan di 10 hari terakhir ini?
1. (bagi yang mampu)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Dari umrah ke umrah adalah kafarah (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”. (HR al-Bukhaariy, Muslim dan selainnya). Ditanyakan pada beliau: Apa tanda kemabruran haji?, maka beliau menjawab: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ طِيْبُ الْكَلاَمِ ((Selalu memberi makan dan bagus perkataannya)) [HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim dengan sanad yang shahiih]
Beliau juga bersabda:
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima' dan tidak p**a melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)
Beliau juga bersabda:
مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحاَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Siapa yang keluar untuk melaksanakan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Siapa yang keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat. (Diriwayatkan ath-Thabraaniy dalam al-Awsath)
2.
Allah berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [QS: Al Hajj : 34]
Diriwayatkan ibnu Majaah, dengan sanad yang lemah:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.”
Hendaknya pelaksanaan kurban ini dilakukan pada hari ke 10, karena ia masih termasuk hari-hari yang paling mulia. Adapun bagi yang hendak berkurban, hendaknya ia TIDAK MEMOTONG RAMBUTnya (termasuk ketiak dan bulu kemaluan) dan KUKUnya hingga ia menyembelih hewan kurbannya.
3.
Allah berfirman:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan. (Al-Hajj : 28)
Berkata ibnu ‘Abbas berkata: “berdzikirlah kalian di hari-hari yang ditentukan, yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah.” (HR al-Bukhaariy)
Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”. (HR. Ahmad)
Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.
Tsabit bin Aslam berkata: كَانَ النَّاسُ يُكَبِّرُونَ أَيَّامَ الْعَشْرِ حَتَّى نَهَاهُمُ الْحَجَّاجُ " وَالأَمْرُ بِمَكَّةَ عَلَى ذَلِكَ إِلَى الْيَوْمِ، يُكَبِّرُ النَّاسُ فِي الأَسْوَاقِ فِي الْعَشْرِ [[“Orang-orang biasa bertakbir pada sepuluh hari pertama hingga Al-Hajjaaj (bin Yuusuf Ats-Tsaqafiy) melarang mereka”. Dan di Makkah hal itu masih dilakukan hingga hari ini, dimana orang-orang bertakbir di pasar-pasar pada waktu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”]]
4.
Abu Umamah radhiallahu ‘anhu pernah bertanya pada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ.
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga.”
قَال: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ
Beliau bersabda, “Hendaknya engkau (memperbanyak) shawm, karena tidak ada yang semisal dengannya.” (HR. Ahmad).
Dan yang terpuncaknya yang tidak boleh kita lewati, adalah SHAWM ARAFAH, karena Rasuululllaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa hari ‘Arafah yang mengharapkan pahala dari Allah dapat menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR Muslim)
5.
Terutama shalat-shalat di siang hari: seperti shalat rawatib, dan shalat dhuha. Demikian p**a, sangat dianjurkan juga bersungguh-sungguh shalat di malam hari.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ.
“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.” (HR Muslim)
Terkait dengan shalat rawatib, beliau bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ
“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) 12 rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (HR Muslim)
12 Raka’at tersebut adalah 2 raka’at fajar, 4 raka’at sebelum zhuhur, 2 raka’at setelah zhuhur, 2 raka’at sebelum maghrib dan 2 raka’at setelah ‘isya.
Demikian p**a, mengerjakan 4 raka’at setelah zhuhur, karena beliau bersabda:
مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ
“Siapa yang (wafat dalam keadaan) menjaga shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi, ibnu maajah dan selainnya; dengan sanad yang shahih)
Demikian p**a, 4 raka’at sebelum ashr, beliau bersabda:
رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ العَصْرِ أَرْبَعاً
“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar”. (HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Demikian p**a memperbanyak shalat muthlaq diantara maghrib dan ‘isya. Allah berfirman: تتجافى جنوبهم عن المضاجع يدعون ربهم خوفا وطمعا ومما رزقناهم ينفقون [[Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka; merkea berdoa pada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan khawatir, dan mereka menafkahkan Rizki yang Kami anugerahkan pada mereka]], berkata Anas bin Maalik:
أن هذه الآية نزلت في رجال من أصحاب النبي - صلى الله عليه وسلم - ، كانوا يصلون فيما بين المغرب والعشاء
Ayat ini turun berkaitan dengan seorang shahabat yang selalu shalat sunnah diantara maghrib dan ‘isya. [Tafsiir ath-Thabariy, diriwayatkan p**a oleh Abu Daawud dengan sanad yang shahiih]
Berkata Hudzayfah radhiyallaahu ‘anhu:
جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ
Aku datang kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, dan shalat maghrib bersama beliau. Setelah beliau shalat maghrib, maka beliau berdiri dan shalat, dan terus shalat hingga beliau shalat ‘isya. (HR Ahmad, dengan sanad yang shahiih)
Demikian p**a, 4 raka’at setelah ‘isya, berkata ‘Abdullah bin ‘Amru ibn ‘Ash, ‘Aa`isyah, dan ibnu Mas’uud:
مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَقَدْرِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Siapa yang shalat empat raka’at setelah ‘Isyaa’ setara dengan empat raka'at pada waktu Lailatul-Qadr” (Semua sanad-sanadnya shahiih)
Adapun memperbanyak shalat dhuha, maka ini berdasarkan hadits Mu’aadzah, yang beliau pernah bertanya kepada ‘Aa-isyah:
كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى ؟
Berapa raka’at yang biasa dilakukan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pada shalat dhuha?
Berkata ‘Aa-isyah:
أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ
Empat raka’at, dan beliau menambah sebanyak apa (yang Allaah) kehendaki (HR Muslim); Simak lebih lengkapnya keutamaan shalat dhuha disini: https://goo.gl/wzopGg.
Kemudian mengamalkan amalan-amalan lain berupa berbakti pada kedua orang tua, menyambung silaturrahim, menebarkan salam, amar ma’ruf nahi munkar, memperbanyak sedekah, dan lain-lain; yang hendaknya kita benar-benar maksimalkan dalam 10 hari ini.
Semoga Allah memberi taufiqNya kepada kita semua agar dapat senantiasa mengingatNya, bersyukur pada segala nikmatNya dan selalu memperbaiki ibadah kita padaNya, aamiin.
Semoga bermanfaat.