Agama Adalah Nasehat

Agama Adalah Nasehat

Share

Nasehat ialah upaya pemurnian/perbaikan terhadap sesuatu. Agama ini, tegak dengan nasehat. Dan tidak akan tegak agama seseorang, kecuali dengan nasehat.

11/11/2018

# Jagalah shalatmu…

Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(wajib-mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan penuh kepatuhan'.

Dua perintah Allah dalam ayat diatas:

1. Menjaga shalat, terutama shalat wustha, yaitu shalat ashar.

Makna menjaga shalat sendiri disini bisa berupa: 1) menjaga shalat itu sendiri (agar jangan ditinggalkan), 2) menjaga waktu-waktu shalat (agar jangan sampai shalat diakhir waktu apalagi sampai diluar waktu), 3) menjaga shalat agar dapat dilakukan secara berjama'ah di rumah-rumah Allah (agar dapat benar-benar menegakkan shalat itu sendiri.

2. Berdiri dihadapan Allah dengan penuh kepatuhan.

Ketika shalat pun, bukan hanya sekedar shalat. Seseorang harus melaksanakannya dengan penuh kepatuhan, ketundukan, kerendahan sehingga dia dapat benar-benar mewujudkan penghambaannya kepada Allah.

Diantara cara terbaik mengamalkan ayat ini adalah dengan senantiasa MENJAGA SHALAT 5 WAKTU SECARA BERJAMA'AH DI MASJID, BERSAMA IMAM, DI AWAL WAKTUNYA.

Ketika seseorang shalat wajib berjama'ah di masjid, bersama imam di awal waktunya. maka dia 1) sudah pasti shalat, 2) shalatnya dilaksanakan berjama'ah dan ini keutamaan besar, 3) shalatnya dilaksanakan pada sebaik-baiknya tempat dimuka bumi, yaitu rumah Allah, masjid; 4) shalatnya bersama imam dan didalamnya juga terdapat keutamaan besar apabila bisa takbiratul ihram bersama imam; 5) dan biasanya, jika dilakukan di masjid bersama imamnya, maka ini rata-rata dilaksanakan diawal waktunya. Maka lihatlah bagaimana shalat berjama'ah dimasjid mengumpulkan banyak keutamaan dalam satu amalan.

Sebaliknya, kebanyakan yang tidak memperhatikan waktu shalat, terlena dengan kesibukannya... sehingga tidak bersiap ketika sudah masuk waktu shalat... Hingga akhirnya ia pun terhalangi dari: 1) shalat berjamaah di masjid, 2) di awal waktunya, 3) bersama imam...

Dan biasanya; ketika seseorang lalai dari shalat berjamaah di masjid bersama imam di awal waktu, terjatuh pada hal-hal yang kurang utama:

1. Biasanya terhalangi datang sebelum adzan,

2. Atau paling tidak terhalangi datang sebelum iqamah.

3. Atau Bahkan mungkin terhalangi takbiratul ihram bersama imam...

4. Atau terhalangi dari shaff awal;

5. Atau bahkan malah tidak secara sempurna shalat bersama imam karena masbuk.

6. Bahkan mungkin biasanya baru shalat di pertengahan waktu, atau bahkan malah mendekati akhir waktu;

7. Yang mungkin itu tidak lagi dilakukan secara berjama'ah, tidak p**a di masjid.

8. Biasanya tidak lagi mengerjakan shalat sunnah qabliyah atau bahkan tanpa ba'diyah juga.

9. Biasanya kualitas shalat (dari segi pengerjaan) kurang maksimal dibandingkan jika ia shalat berjamaah bersama imam di awal waktu.

10. Apabila ia terlalaikan hingga akhirnya malah shalat di akhir waktu; maka kebanyakan shalat hanya menunaikan yang rukun dan yang wajibnya saja... tidak dapat maksimal mengamalkan sunnah-sunnah dalam shalat...

(Dll)

Alangkah mengherankan seorang yang tidak merasa rugi, bahkan biasa-biasa saja; ketika ia jatuh pada perkara-perkara diatas...

Maka hendaknya kita selalu jaga waktu, dan ingat waktu... persiapkan diri ketika menjelang shalat... maka semoga kita dapat merasakan kelezatan dalam shalat tersebut dan meraup berbagai keutamaan yang besar dibaliknya...

20/10/2018

# Jagalah pandangan kita

Allah berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka MENUNDUKKAN PANDANGANnya, dan memelihara kemaluannya… yang demikian itu adalah LEBIH SUCI bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat…” (QS. An Nuur: 30) Dan kewajiban ini juga berlaku bagi wanita, sebagaimana disebutkan pada ayat setelahnya.

Allah menyatakan bahwa menundukkan pandangan itu LEBIH SUCI bagi kita, yaitu bagi hati kita. Maka dengan menjaga pandangan, kita telah menjaga hati kita dari kekotorannya. Sebaliknya, apabila seseorang meliarkan pandangannya, maka tentu hatinya akan membuat hatinya terkotori. Dan patut diingat, pengaruh pandangan itu bukan hanya pada saat itu juga; jika ia diserap hati, maka ia akan terus datang membayanginya.

Dan yang dilarang dalam Islam, bukan hanya pandangan liar, PANDANGAN KHIANAT pun termasuk yang dilarang.

Allah juga berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat” (Ghafir: 19)

Dikatakan ibnu ‘Abbas (secara makna) bahwa yang dimaksud dengan pandangan mata yang khianat adalah seorang yang curi-curi pandang pada wanita apabila dia lengah. Tapi ketika dia diperhatikan, maka dia menundukkan pandangannya. (Simak tafsiir ibnu katsiir)

Para ulama berkata:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَنْ مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ لله أَوْرَثَ الله قَلْبَهُ حَلاَوَةً إِلىَ يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.”

Dalam petikan diatas sungguh terdapat keutamaan yang amat besar bagi orang yang menundukkan pandangan; yaitu dianugerahi manisnya iman.

Maka sebaliknya, siapa yang meliarkan pandangannya, maka ia akan dihalangi mendapatkan kelezatan iman, disebabkan terkotori hatinya akibat pandangan liarnya.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan (dari titik hitam tersebut)

وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

Apabila ia (malah) kembali (menambah maksiatnya; tidak meninggalkannya dan tidak bertaubat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.

وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ - كَلاَّ . بَلْ . رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Itulah yang diistilahkan "ar raan" yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

(HR. At Tirmidziy, Ibnu Maajah, Ibnu Hibban, Ahmad dan selainnya)

Ketatnya larangan Allah tentang pandangan ini dikarenakan inilah pintu masuk pertama dari syaithan untuk menggelincirkan anak-cucu adam hingga akhirnya menjerumuskan mereka dari zina. Bahkan ketika Allah melarang zina; tidaklah Allah melarangnya dengan larangan: “janganlah kalian berzina”, tapi lebih dari itu, yang dilarang Allah adalah segala apa yang mendekatkan kita pada zina.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

Bahkan segala dosa yang mengantarkan pada zina, juga dinilai zina; meskipun dosa paling besar dari zina dibenarkan dengan kemaluannya.

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا ، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا ، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan dengan ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya” (HR. Al Bukhari)

Maka ini menjadi nasehat bagi para wanita; agar mereka jangan sampai menjadi kaki-tangan syaythan dalam menjerumuskan manusia kepada kebinasaan... Jangan sampai merekalah yang menjadi sebab tersebarnya kemaksiatan...

Maka hendaknya mereka menutup aurat mereka dengan sempurna, dan tidak memamerkan kecantikan mereka... termasuk juga disini memposting foto/video mereka di sosial media... Tidakkah mereka takut dengan tumpukan dosa disebabkan telah menjadi pemuas nafsu org yg tidak menjaga pandangannya!? Maka hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan pertolonganNya...

Maka hendaknya kita benar-benar meresapkan ini dalam hati kita, benar-benar menjaga diri kita dari segala tipuan syaythan, dan hendaknya memperbanyak membaca doa berikut:

اللهم اغفر ذنوبنا، وطهر قلوبنا ، وحصِّن فروجنا

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, sucikanlah hati-hati kami, dan jagalah kemaluan-kemaluan kami… (aamiin)

Semoga bermanfaat…

19/10/2018

Rasuulullaah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.”

(Hadits Shahiih, diriwayatkan at-Tirmidzi, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dan selain mereka).

Kata Rabii' bin Khaytsam:

لو فارق ذكر الموت قلبي ساعة واحدة لفسد

Seandainya hatiku tidak mengingat mati, meskipun itu cuma sekali dalam sesaat; pasti ia akan rusak....

(Kutip dari Maraqil 'Ubudiyyah, hal 52 [pdf])

Dulu ulama selalu berusaha introspeksi diri; agar mereka selalu mengingat mati... agar menjaga hati mereka agar tidak rusak...

Adapun kita, seakan tidak pernah khawatir akan kematian; tidak khawatir hati tidak pernah ingat mati; tidak kepikiran tentang kematian; tidak peduli dimana dan dalam kondisi bagaimanakah kita hendak diwafatkan... Sehingga rusaklah amalan kita (perkataan maupun perbuatan)...

Maka diantara cara terbaik agar segera hijrah dan bertaubat... dan agar selalu tetap diatas ketaatan... Ingat mati... Bagaimanakah jika kita dimatikan dalam kondisi detik sekarang ini?

Maka ini tentu akan menggerakkan lisan untuk beristighfar dan berdzikir; dan akan menggerakkan anggota tubuh untuk segera meninggalkan keburukan dan bersegera serta bersemangat untuk beramal shaalih...

Semoga kita dianugerahi hati yang selalu mengingatkan kita tentang kematian... Dan dianugerahkan istri/suami, teman dekat yang selalu mengingatkan kita tentang aakhirat dan kematian.. aamiin..

[[Simak lebih lanjut: https://goo.gl/GZfUAz]]

14/10/2018

# Yang SYIRIK tetaplah SYIRIK, meski dinamakan 'adat', 'budaya' atau 'kearifan lokal'...

Menyembelih untuk selain Allah, merupakan bentuk memalingkan peribadatan kita pada selainNya. Dengan melakukan hal ini, maka tidak ada kesamaran bagi siapapun juga, orang tersebut telah MENYEKUTUKAN ALLAH (dalam peribadatan).

Hal ini seperti MEMBERI SESAJEN pada JIN LAUT, dalam rangka mencari keselamatan, atau memohon perlindungan mereka, atau alasan lain. Ini semua senyata-nyatanya KESYIRIKAN yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Sungguh Allah telah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: ‘Sungguh shalatku, SEMBELIHANKU (kurbanku), hidupku dan matiku HANYALAH UNTUK ALLAH, Tuhan semesta alam, TIADA SEKUTU BAGI-NYA; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (Qs. al-An’aam: 162-163)

Jangan namakan kesyirikan seperti ini dengan nama-nama yang menyamarkan kebatilannya. Dan jangan sekali-kali berlaku 'sok bijak' dengan malah MEMBELA amalan kemungkaran ini.

Dan kita dapati para pembela kesyirikan dan musyrikin ini, adalah orang yang ternyata justru MEMBENCI tauhiid dan orang-orang yang berusaha menegakkan tauhid.

Semoga kita termasuk orang yang diberi petunjuk oleh Allah dengan mencintai apa yang dicintaiNya dan membenci apa yang dibenciNya.

Allah berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Tetapi Allah menjadikan kalian CINTA kepada KEIMANAN dan menjadikan KEIMANAN itu INDAH di dalam HATI KALIAN...

وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

serta menjadikan kalian BENCI kepada KEKAFIRAN, KEFASIKAN, dan KEDURHAKAAN. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al-Hujurat: 7).

Maka semoga kita termasuk orang yang mengikuti jalan yang lurus...

03/04/2018

Diantara PEMBATAL KEISLAMAN, apabila seseorang menganggap 'adat'/'kebiasaan'/'aturan' LEBIH BAIK daripada syari'at Islam...

Contohnya seperti jika seseorang sampai menyangka

=> Konde (membuka rambut [yang ia aurat]) lebih baik daripada mengenakan jilbab

=> Suara kidung (entah apa maknanya) lebih baik daripada suara ADZAN (yg padahal disebutkan Rasulullah sebagai: SERUAN YG SEMPURNA)....

Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka cari/kehendaki!? (Maka hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?

(QS Al-Ma'idah: 50)

Jadi, hanya ORANG YANG YAKIN pada Allah dan agamaNya saja yang menetapkan bahwa syari'atNya lebih baik dari segalanya... Adapun orang yang RAGU-RAGU bahkan MENDUSTAKAN; tidak mengherankan bila mereka lebih meninggikan jahiliyyah diatas syari'ah...

Tidak ada masalah dan tidak ada pertentangan antara Islam dan Nusantara (selama tidak ada padanya penyalahan terhadap syariat)...

Yang masalah itu, orang-orang yang MENG-AGAMAKAN nusantara, lantas membawa-bawa Islam pada kemungkaran yang telah membudaya...

Kita berlindung kepada Allah dari kekufuran dan kemunafikan... Dan memohon padaNya agar kita selalu ditetapkan diatas Islam... hingga kita wafat diatasnya..

Aamiin...

( *staAgamaJilid2)

Photos 31/03/2018

# Ancaman amat keras bagi yang mendatangi dukun dan bertanya padanya; terlebih lagi jika sampai membenarkannya

Mendatangi dukun itu nggak sekedar: "pergi ke tempat praktek"-nya aja. Termasuk juga: "sengaja melihat kolom dukun di majalah/koran", termasuk juga: "buka website dukun", termasuk juga: "putar siaran tv tentang dukun".

1. SIAPA SAJA yang melakukan hal ini, maka SHALATnya TIDAK DITERIMA selama 40 hari

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatangi tukang ramal, kemudian bertanya padanya tentang sesuatu apapun... maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim)

2. SIAPA SAJA yang mendatangi dukun, LANTAS MEMPERCAYAI apa yang dikabarkannya, maka dia TELAH KAFIR dengan apa yang diturunkan kepada Rasulullah shallalaahu 'alayhi wa sallam:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa yang MENDATANGI dukun atau tukang ramal, LALU ia MEMBENARKANNYA, maka ia berarti TELAH KAFIR pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad dengan sanad yang hasan)

Semoga Allah menjaga kita serta keluarga kita dari kekufuran dan kesyirikan; serta mewafatkan kita dalam keadaan muslim.

Aamiin.

04/02/2018

"Telah Kami mudahkan Al-Qur'an sebagai dzikir (untuk dibaca, dihafal dan dipahami), maka adakah yang mau mengambil pelajaran!?"

Berkata ibnu Katsiir:

أي سهلنا لفظه ويسرنا معناه لمن أراده ليتذكر الناس

Yaitu: Kami mudahkan lafazh/bacaan-nya (untuk diucap dan dihafal); dan Kami mudahkan (cara memahami) maknanya. Bagi siapa yang menginginkannya, agar dia (Nabi Muhammad) memberi pelajaran kepada manusia.

كما قال : كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولوا الألباب

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْك مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ [[Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shad: 29)]]

وقال تعالى : فإنما يسرناه بلسانك لتبشر به المتقين وتنذر به قوما لدا

Dan juga sebagaimana firmanNya.: فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا [[Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (Maryam: 97)]]

قال مجاهد "ولقد يسرنا القرآن للذكر" يعني هونا قراءته

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran. (Al-Qamar: 17) Yaitu mudah untuk dibaca.

وقال السدي يسرنا تلاوته على الألسن

As-Suddi mengatakan, maknanya yaitu Kami mudahkan bacaannya bagi semua lisan (bahasa).

وقال الضحاك عن ابن عباس لولا أن الله يسره على لسان الآدميين ما استطاع أحد من الخلق أن يتكلم بكلام الله عز وجل

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: seandainya Allah tidak memudahkan Al-Qur'an bagi lisan manusia, niscaya tiada seorang makhluk pun yang mampu berbicara dengan Kalamullah.

قلت ومن تيسيره تعالى على الناس تلاوة القرآن ما تقدم عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف

Dan menurut hemat saya (ibnu katsiir), di antara dalil yang membuktikan dimudahkan-Nya Al-Qur'an bagi manusia untuk membacanya ialah sabda Nabi. yang mengatakan: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ [[Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan tujuh dialek]]

((Kemudian beliau berkata tentang makna: ‘fa hal min muddakir’))

وقوله "فهل من مدكر" أي فهل من متذكر بهذا القرآن الذي قد يسر الله حفظه ومعناه؟

Adapun firmanNya :فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [[maka adakah orang yang mengambil pelajaran. (Al-Qamar: 17)]]. Yakni adakah orang yang mengambil pelajaran dan peringatan dari Al-Qur'an ini yang telah dimudahkan untuk dihafal dan dipahami maknanya?

وقال محمد بن كعب القرظي فهل من منزجر عن المعاصي؟

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa adakah orang yang mendapat peringatan darinya hingga ia meninggalkan kemaksiatan?

(Sampai pada perkataan beliau)

عن مطر هو الوراق في قوله تعالى "فهل من مدكر" هل من طالب علم فيعان عليه

dari Matar Al-Warraq sehubungan dengan makna firman-Nya :فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [[maka adakah orang yang mengambil pelajaran]]. Yaitu adakah orang yang menimba ilmu darinya dan menjadikan Al-Qur'an sebagai penolong yang membimbingnya?

[Dikutip secara online dari tafsiir ibnu katsiir]

Semoga bermanfaat

10/12/2017

Nabi Ya'quub memohonkan kepada Allah agar menyatukannya kembali bersama Yuusuf, dan baru Allaah ijabah puluhan tahun kemudian...

Nabi Zakariyya (dan Nabi Ibraahiiim)... Terus menerus memohonkan kepada Allah agar dikaruniai keturunan; dan baru Allah ijabah di penghujung hidupnya...

((Inspirasi dari perkataan ust Syafiq Basalamah dalam salah satu pengajian beliau))

Lihat... Mereka Nabi... Makanan, minuman, pakaian, kendaraan, pekerjaan & tempat tinggal PASTI HALAL... Amalnya PASTI IKHLASH... Doanya PASTI MUSTAJAB... Tapi ada yang ijabahnya DITUNDA...

Sementara kita? Sudah makanan, minuman, pakaian, kendaraan & pekerjaannya masih banyak syubhatnya (bahkan mungkin jelas-jelas haram)... Dari amalnya? Udah yang wajib ditinggalin, yang haram pun dikerjain... Udah gitu doanya musiman, nggak khusyu, nggak pake muja muji Allaah, nggak pake shalawat... Maunya doa DIIJABAH... SEGERA p**a...

Introspeksi diri aja dulu... Tinggalin pekerjaan yang haram, makanan & minuman yg haram... Kerjain yg wajib-wajib... Jauhi yang haram-haram... Doanya selalu dibaca, khusyu', penuh husnuzhann, dengan adab-adab, tidak pernah putus asa...

Kalau uda ngamalin semua... PASTI doa kita diijabah... Pengijabahan dari Allah kan ada 3: (1) Langsung diijabah sesuai dengan doa yg kita pinta, (2) dihindarin dari mudharat yg senilai, (3) disimpen di aakhirat... Pun, kalo kita terus menerus berdoa, kan juga sama aja terus menerus ibadah, terus menerus ngapusin dosa, terus-menerus nambah pahala, terus-menerus ngangkatin derajat...

Kalau tahu ini... Inget ini... Bukannya harusnya kita berbahagia dengan doa-doa kita? Bukankah hal ini semakin menjadikan kita lebih dekat denganNya, setelah sebelumnya kita amat sombong mengangkat tangan dan bermunajat padaNya? Yang sebelumnya kita, amat angkuh untuk sujud dan meminta padaNya? Harusnya kita berbahagia dengan taufiqNya ini... Dan jangan lupakan Dia, dan jangan tinggalkan doa kalau nanti doa kita diijabahNya...

Ingat juga... Bisa jadi yang kita pinta itu BELUM kita raih karena memang kita belum siap, bahkan bisa jadi PENUNDAAN ini sebagai persiapan dari Allaah (utk pengokohan iman kita) sehingga kitapun akan siap ketika meraihnya... atau bahkan mungkin Allaah sedang siapkan bagi kita, suatu yang JAUH LEBIH BAIK, dari apa yang kita pinta padaNya...

Yang pasti, jika memang sudah menempuh segala cara yang disyariatkan, selalu tekun diatasnya, selalu sabar, selalu berharap, nggak pernah putus asa... Harus selalu ingat, Allaah nggak pernah nyia-nyia'in hambaNya yang tulus, ikhlash, dan jujur dalam beriman kepadaNya...

Teladanilah bagaimana sang kekasih Allah, Ibraahiim yang ucapannya diabadikan Allah dalam firmanNya:

وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

..Dan aku akan berdoa pada Tuhanku,
PASTI aku TIDAK AKAN KECEWA dengan doaku padaNya

Ini keyakinan yang amat luar biasa... Hushnuzhann yang amat besar terhadap Allah, yang merupakan tujuannya dalam berdoa...

Maka temp**ah sebab-sebab terkabulnya doa, jauhi segala hal yang menghalanginya, ucapkan doa dengan penuh khusyu, penuh keyakinan, dan hushnuzhann pada Allah.. maka PASTI kita akan diijabahNya...

Rasuulullaah shalllaahu 'alayhi wa sallam bersabda:

‎ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan”

[at Tirmidziy, dengan sanad yang hasan]

Ingat juga, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, bahwa Allaah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu

(HR al-Bukhaariy, Muslim, dan selain keduanya)

Semoga kita dianugerahkan Allah taufiiq untuk selalu berdoa hanya padaNya, selalu yakin padaNya, serta selalu berprasangka baik padaNya... Serta selalu menjaga adab-adab doa, berusaha mengamalkan sebab-sebab yang menjadikan ia terijabah, serta menjauhi sebab-sebab yang menghalangi terijabahnya doa-doa kita... Aamiin.

Semoga yang sedikit ini menjadi bekal kita atau penyemangat, atau hiburan bagi siapa aja yg hendak atau sedang memintakan sebagian karunia dan rahmatNya...

05/12/2017

Nabi mempermisalkan tawakkal yang sebenar-benar tawakkal itu sebagaimana apa yang DIPERBUAT burung.

1. Burung keluar di pagi hari (karena kalau diam saja, pasti tidak akan dapat makanan)

2. Ketika keluar, tentu bukan keluar yang gak jelas... Dia akan mencari tempat-tempat yang punya potensi untuknya mendapatkan makanan...

3. Nah, dalam proses pencarian ini... dari awal sampai akhir... ia sandarkan hatinya pada Allah... Allah-lah yang akan memberinya petunjuk, Allah-lah yang akan memberinya inspirasi, Allah-lah yang akan memberinya jalan-jalan, hingga mengantarkannya pada jatah yang telah ditetapkan untuknya.

4. Maka setelah ia mendapatkan jatahnya, ia pun p**ang dengan hati yang merasa cukup dengan pemberianNya.

Siapa yang mengumpulkan hal ini dalam dirinya, maka ia telah bertawakkal kepada Allah, dengan sebenar-benarnya tawakkal.

Rasulullah bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian BENAR-BENAR akan diberi rizki sebagaimana Dia memberi rizki pada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan p**ang sore hari dalam keadaan kenyang”

Permasalahannya:

1. Mungkin kitanya yang belum benar-benar mencari jalan-jalan rizki, sebagaimana burung terbang kesana-kemari mencari rizkinya.

2. Mungkin kitanya yang kurang bertaqwa kepada Allah... Sehingga Dia tidak memberikan pada kita petunjuk, jalan, inspirasi, maupun semangat. Karena siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti ditunjukkan jalan olehNya.

3. Mungkin kitanya yang kurang penyandaran hatinya pada Allah... Merasa sudah cukup usaha saja, lupa pada Allah, yang Dialah pemberi petunjuk, inspirasi dan jalan... Sehingga Dia pun membiarkan kita pada diri kita sendiri.

4. Kalaupun sudah menempuh diatas, tapi BELUM mendapatkan jalan dan inspirasi. Maka adakah kita berputus asa padaNya? Adakah kita berhenti berdoa padaNya?! JUSTRU DISITULAH UJIANNYA... Harusnya kita terus meminta padaNya, selalu berprasangka baik padaNya, selalu bersabar dalam mencari jalan dan selalu bersabar untuk selalu berdoa dan berharap padaNya... Ingat, terkadang seseorang baru mendapatkan jalan-jalan dan inspirasi; setelah BERTAHUN-TAHUN berusaha mencarinya...

Maka adakah kita telah bertawakkal kepada Allah, dengan sebenar-benarnya tawakkal? Ingat! Allah tidak bohong, Rasuulullaah shallallaahu 'alayhi wa sallam juga tidak bohong... Mungkin kitanya saja yang kurang tawakkal dan taqwanya...

Semoga bermanfaat..

19/10/2017

# Agar dicintai Allah dan makhluqNya

Abul 'Abbâs Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu berkata:

أَتَىَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ، فَقَالَ:

Ada seorang pria yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاس

‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.”

فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاس

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.”

Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan

---

Faidah hadits:

1. Keutamaan Zuhud.

Dan yang dimaksudkan dengan zuhud terhadap sesuatu ialah keberpalingan darinya, meremehkannya, tidak merasa butuh dengannya, karena merasa tercukupi dengan sesuatu yang lebih baik darinya.

2. Kita zuhud terhadap dunia, karena kita beriman kepada aakhirat.

Kita tahu dunia itu fana lagi menipu. Kita tahu bahwa Allah amat sangat menghinakan dunia, lebih dari bangkai kambing yang cacat.

Dan kita tahu bahwa aakhirat adalah suatu yang abadi lagi pasti. Kita pun tahu bahwa Allah menyediakan balasan terbaik disana.

Maka hendaknya kita merasa cukup dengan apa-apa yang dijanjikanNya dari kehidupan yang kekal, dan jangan sampai kita tertipu dengan dunia sehingga kita malah menghancurkan kehidupan aakhirat kelak yang pasti kita temui yang ia kekal abadi.

3. Penghinaan terhadap dunia, dan kecintaan Allah terhadap orang-orang yang zuhud terhadapnya.

Kebanyakan orang mengira bahwa siapa yang dilapangkan dunia, maka berarti dia itu dimuliakan Allah. Tidak mesti demikian, terlebih lagi jika kekayaan dunianya malah digunakannya untuk kedurhakaan terhadap Allah. Maka ini justru merupakan kehinaan baginya.

Sebaliknya, Allah justru mencintai seorang yang berpaling, meremehkan, dan tidak merasa butuh terhadap dunia; karena sifat ini tidaklah dimiliki, kecuali oleh orang yang telah kokoh keimanannya terhadapNya dan hari aakhirat.

Dan bukan yang dimaksud dengan zuhud terhadap dunia, adalah tidak mencari nafkah. Bukan demikian. Yang dimaksudkan disini adalah seorang yang tetap mencari nafkah, dalam rangka menjaga kehormatan dirinya dan menunaikan tanggung jawabnya; hanya saja hatinya disibukkan dengan aakhirat, dunia hanya sekedar di tangannya saja, tidak di hatinya. Maka meskipun ia kaya raya, ia tidak merasa butuh dengannya. Dan jika ia miskin, maka ia tidak merasa hina dengannya.

4. Manusia akan mencintai seorang yang zuhud dari apa yang mereka miliki.

Maka hendaknya kita tidak dengki terhadap apa-apa yang dimiliki manusia.

Pertama, karena apa-apa yang dimilikinya merupakan ketentuan Allah. Maka adakah kita hendak merasa benci dengan apa yang sudah ditaqdirkan Allah untuknya.

Kedua, apa-apa yang dimilikinya semuanya adalah milik Allah. Jika demikian, maka hendaknya kita meminta kepada Allah atas karuniaNya. Tidak perlu menghinakan diri dengan merengek-rengek pada manusia terhadap apa yang dimilikinya​. Ingat, Allah cinta jika dipinta, sedangkan manusia benci diminta-minta. Berharaplah pada Allah dan mintalah kepadaNya, dan jangan pernah sekalipun berharap apalagi meminta-minta pada makhluq, dalam perkara apapun juga.

Siapa yang mengaplikasikan ini, maka ia akan memperoleh kecintaan Allah, dan makhluqNya.

Maka Semoga kita termasuk orang-orang yang dianugerahkan Allah memiliki sifat Zuhud (terhadap dunia dan apa-apa yang ada di tangan manusia) sehingga semoga kita termasuk orang-orang yang dicintaiNya dan dicintai makhluqNya. Aamiin.

22/08/2017

# Telah masuk bulan Dzulhijjah, mari BERSEMANGAT memperbanyak amal shalih di 10 hari pertama ini…

Allah berfirman: وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ [[“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)]]

Imam al-Thabari dalam menafsirkan “Wa Layaalin ‘Asyr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh (awal Dzulhijjah) berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” [Tafsiir ath-Thabariy]

Tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu, melainkan karena keagungan sesuatu tersebut. Dan patutlah kita benar-benar memperhatikan terhadap sumpah tersebut (Majmu Fatawa wa Rasa`il ibnu ‘Utsaymin). Maka ini menunjukkan akan kemuliaan dan keagungan 10 hari dzulhijjah, dan sebagai peringatan bagi kita, agar hendaknya kita benar-benar memperhatikan hal ini.

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أفضل أيام الدنيا أيام العشر

“Sebaik-baik hari dunia adalah sepuluh awal bulan dzulhijjah”. (HR. al-Bazzar, al-Baihaqi, dan selainnya; dengan sanad yang hasan)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر –

“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh awal bulan dzulhijjah.

قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟

Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?

قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. (HR. al-Bukhari)

Dan sungguh, telah diriwayatkan bahwa seorang taabi’iin, Sa’iid ibnu Jubair, SANGAT BERSUNGGUH-SUNGGUH BERIBADAH di 10 hari awal dzulhijjah ini sampai-sampai orang-orang menyangka bahwa beliau akan kewalahan, karena dahsyatnya ibadah beliau…

Sampai-sampai beliau berkata:

لا تطفئوا سرجكم ليالي العشر

“Jangan matikan lampu kalian di malam-malam sepuluh awal bulan dzulhijjah”.

Artinya, beliau memerintahkan agar kaum muslimin makmurkanlah malamnya dengan ibadah di 10 malam ini.

------------------

Lantas amalan apa saja yang hendaknya kita lakukan di 10 hari terakhir ini?

1. (bagi yang mampu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

“Dari umrah ke umrah adalah kafarah (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”. (HR al-Bukhaariy, Muslim dan selainnya). Ditanyakan pada beliau: Apa tanda kemabruran haji?, maka beliau menjawab: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ طِيْبُ الْكَلاَمِ ((Selalu memberi makan dan bagus perkataannya)) [HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim dengan sanad yang shahiih]

Beliau juga bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima' dan tidak p**a melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Beliau juga bersabda:

مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحاَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Siapa yang keluar untuk melaksanakan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Siapa yang keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat. (Diriwayatkan ath-Thabraaniy dalam al-Awsath)

2.

Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [QS: Al Hajj : 34]

Diriwayatkan ibnu Majaah, dengan sanad yang lemah:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.”

Hendaknya pelaksanaan kurban ini dilakukan pada hari ke 10, karena ia masih termasuk hari-hari yang paling mulia. Adapun bagi yang hendak berkurban, hendaknya ia TIDAK MEMOTONG RAMBUTnya (termasuk ketiak dan bulu kemaluan) dan KUKUnya hingga ia menyembelih hewan kurbannya.

3.

Allah berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan. (Al-Hajj : 28)

Berkata ibnu ‘Abbas berkata: “berdzikirlah kalian di hari-hari yang ditentukan, yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah.” (HR al-Bukhaariy)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”. (HR. Ahmad)

Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.

Tsabit bin Aslam berkata: كَانَ النَّاسُ يُكَبِّرُونَ أَيَّامَ الْعَشْرِ حَتَّى نَهَاهُمُ الْحَجَّاجُ " وَالأَمْرُ بِمَكَّةَ عَلَى ذَلِكَ إِلَى الْيَوْمِ، يُكَبِّرُ النَّاسُ فِي الأَسْوَاقِ فِي الْعَشْرِ [[“Orang-orang biasa bertakbir pada sepuluh hari pertama hingga Al-Hajjaaj (bin Yuusuf Ats-Tsaqafiy) melarang mereka”. Dan di Makkah hal itu masih dilakukan hingga hari ini, dimana orang-orang bertakbir di pasar-pasar pada waktu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”]]

4.

Abu Umamah radhiallahu ‘anhu pernah bertanya pada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ.

“Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga.”

قَال: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

Beliau bersabda, “Hendaknya engkau (memperbanyak) shawm, karena tidak ada yang semisal dengannya.” (HR. Ahmad).

Dan yang terpuncaknya yang tidak boleh kita lewati, adalah SHAWM ARAFAH, karena Rasuululllaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari ‘Arafah yang mengharapkan pahala dari Allah dapat menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR Muslim)

5.

Terutama shalat-shalat di siang hari: seperti shalat rawatib, dan shalat dhuha. Demikian p**a, sangat dianjurkan juga bersungguh-sungguh shalat di malam hari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ.

“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.” (HR Muslim)

Terkait dengan shalat rawatib, beliau bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) 12 rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (HR Muslim)

12 Raka’at tersebut adalah 2 raka’at fajar, 4 raka’at sebelum zhuhur, 2 raka’at setelah zhuhur, 2 raka’at sebelum maghrib dan 2 raka’at setelah ‘isya.

Demikian p**a, mengerjakan 4 raka’at setelah zhuhur, karena beliau bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

“Siapa yang (wafat dalam keadaan) menjaga shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi, ibnu maajah dan selainnya; dengan sanad yang shahih)

Demikian p**a, 4 raka’at sebelum ashr, beliau bersabda:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ العَصْرِ أَرْبَعاً

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar”. (HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Demikian p**a memperbanyak shalat muthlaq diantara maghrib dan ‘isya. Allah berfirman: تتجافى جنوبهم عن المضاجع يدعون ربهم خوفا وطمعا ومما رزقناهم ينفقون [[Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka; merkea berdoa pada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan khawatir, dan mereka menafkahkan Rizki yang Kami anugerahkan pada mereka]], berkata Anas bin Maalik:

أن هذه الآية نزلت في رجال من أصحاب النبي - صلى الله عليه وسلم - ، كانوا يصلون فيما بين المغرب والعشاء

Ayat ini turun berkaitan dengan seorang shahabat yang selalu shalat sunnah diantara maghrib dan ‘isya. [Tafsiir ath-Thabariy, diriwayatkan p**a oleh Abu Daawud dengan sanad yang shahiih]

Berkata Hudzayfah radhiyallaahu ‘anhu:

جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ

Aku datang kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, dan shalat maghrib bersama beliau. Setelah beliau shalat maghrib, maka beliau berdiri dan shalat, dan terus shalat hingga beliau shalat ‘isya. (HR Ahmad, dengan sanad yang shahiih)

Demikian p**a, 4 raka’at setelah ‘isya, berkata ‘Abdullah bin ‘Amru ibn ‘Ash, ‘Aa`isyah, dan ibnu Mas’uud:

مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَقَدْرِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Siapa yang shalat empat raka’at setelah ‘Isyaa’ setara dengan empat raka'at pada waktu Lailatul-Qadr” (Semua sanad-sanadnya shahiih)

Adapun memperbanyak shalat dhuha, maka ini berdasarkan hadits Mu’aadzah, yang beliau pernah bertanya kepada ‘Aa-isyah:

كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى ؟

Berapa raka’at yang biasa dilakukan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pada shalat dhuha?

Berkata ‘Aa-isyah:

أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ

Empat raka’at, dan beliau menambah sebanyak apa (yang Allaah) kehendaki (HR Muslim); Simak lebih lengkapnya keutamaan shalat dhuha disini: https://goo.gl/wzopGg.

Kemudian mengamalkan amalan-amalan lain berupa berbakti pada kedua orang tua, menyambung silaturrahim, menebarkan salam, amar ma’ruf nahi munkar, memperbanyak sedekah, dan lain-lain; yang hendaknya kita benar-benar maksimalkan dalam 10 hari ini.

Semoga Allah memberi taufiqNya kepada kita semua agar dapat senantiasa mengingatNya, bersyukur pada segala nikmatNya dan selalu memperbaiki ibadah kita padaNya, aamiin.

Semoga bermanfaat.

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jakarta