K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani, Education Website, Jakarta.

Mbah Moen Mengitsbat Sunan Kudus Bukan Ba Alawi 13/03/2026

Mbah Moen Mengitsbat Sunan Kudus Bukan Ba Alawi – RMI PWNU Banten

Mbah Moen Mengitsbat Sunan Kudus Bukan Ba Alawi Gus Rumail mengatakan bahwa motifnya dalam melakukan penelitian nasab Ba Alawi adalah membahagiakan KH. Maimun Zubair Ra (Mbah Moen). Menurut

13/03/2026

تهنئة لأية الله السيد مجتبى خامنى من السيد عباس الشربوني احد علماء السنة في اندونيسيا

06/03/2026

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakah Wahabi disebut Islam?

Fenomena orientasi keberagamaan kelompok Wahabi-Salafi yang lebih memprioritaskan permusuhan terhadap kelompok Syiah (sesama Muslim) dibandingkan menghadapi hegemoni imperialisme global (Amerika-Israel) layak dicermati. Dengan pendekatan tekstualis-literal, kelompok ini terjebak dalam tatharruf (sikap ekstrem) yang mengabaikan prinsip ukhuwah Islamiyah dan maslahah ammah, sehingga menciptakan anomali politik yang memperlemah posisi umat Islam di kancah internasional.

Dalam tradisi pemikiran Islam moderat (Wasathiyah), musuh bersama umat adalah ketidakadilan dan penjajahan (isti’mar). Namun, ideologi Wahabi membangun fondasi gerakannya di atas pemurnian akidah yang sangat sempit. Akibatnya, mereka menciptakan kategorisasi "musuh dari dalam" yang dianggap lebih berbahaya daripada "musuh dari luar". Logika ini menjadi akar mengapa dalam konflik Iran-Israel, konten creator Wahabi justru memberikan dukungan masiv terahadap Amerika-Israel yang telah membunuh cucu Rasulullah yang juga pemimpin Iran Sayyid Ali Khamenei.

Sikap mendukung pihak luar (Amerika-Israel) daripada sesama Muslim (Syiah) lahir dari cara baca teks yang kaku. Mereka sering mengutip fatwa-fatwa klasik tentang Barra’ (berlepas diri) terhadap orang yang dalam terminologinya masuk dalam kategori ahli bid’ah (Syiah) secara membabi buta, tanpa melihat konteks Siyasah Syar'iyyah (politik Islam) yang lebih besar. Dalam konflik abadi antara Islam-Israel, ketika Iran atau kelompok perlawanan lainnya menghadapi Amerika-Israel, Wahabi lebih memilih mendukung hancurnya umat Islam Syiah meski di tangan pihak yang jelas-jelas menindas umat Islam di Palestina.

Sikap ini merupakan bentuk tatharruf (ekstremisme) nyata. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya". Dengan mengafirkan Syiah secara kolektif dan memutus solidaritas saat mereka melawan penjajah, kelompok Wahabi telah melakukan malpraktik teologis. Mereka terjebak dalam "Takfiri Geopolitik"—di mana kebencian sektarian telah menutupi kewajiban membela sesama muslim dan keadilan.

Perjuangan umat Islam dunia dalam upaya memerdekakan Palestina diselandungi oleh Wahabi dengan memecah solidaritas umat Islam untuk Palestina. Narasi sektarian yang mereka embuskan melemahkan dukungan bulat umat Islam terhadap perjuangan Palestina, hanya karena faksi-faksi pejuang tertentu mendapat dukungan dari Iran.

Secara tidak langsung, sikap tekstualis ini menjadi "karpet merah" bagi kepentingan Amerika-Israel untuk memecah belah kekuatan umat Islam di Timur Tengah melalui narasi “Sunni-Syi’ah”. Perlindungan terhadap nyawa dan kedaulatan umat Islam (terlepas dari madzhabnya) seharusnya menjadi prioritas di atas perdebatan teologis yang belum usai.

ulama Wahabi-Salafi sangat bergantung pada otoritas politik di Arab Saudi, fatwa keagamaan luar negeri mereka seringkali selaras dengan kepentingan negara. Ketika negara mereka terlibat rivalitas geopolitik dengan Iran, para ulamanya akan mengeluarkan fatwa yang mendukung posisi tersebut, bahkan jika harus terlihat beraliansi secara tidak langsung dengan Amerika atau Israel. Sikap seperti ini adalah penyimpangan ilmiyah yang besar. Tidak mendukung sesama Muslim (meski berbeda madzhab) saat mereka menghadapi agresi dari pihak yang jelas-jelas menjajah (Israel), adalah pengkhianatan terhadap ukhuwah Islamiyah. Mereka terlalu fokus pada teks-teks kebencian sektarian sehingga buta terhadap realitas kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah.

Wahabi sebagai gerakan fundamentalis-tekstualis telah gagal membedakan antara perbedaan pendapat (khilafiyah) dengan pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan persaudaraan Islam. Dukungan mereka terhadap agresi Amerika-Israel atas dasar kebencian kepada Syiah bukan hanya kesalahan pengambilan sikap politik, melainkan penyimpangan moral yang serius dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer. Sudah saatnya umat Islam kembali pada jalur Wasathiyah yang mendahulukan persatuan melawan kezaliman di atas kebencian sektarian.

Di tengah arus narasi takfiri yang sering digaungkan kelompok tekstualis-wahabi, sangat penting untuk mengulang kembali kesalahan metodologis (manhaji) dari kaum Wahabi dalam memahami agama. Apakah sebenarnya mereka memahami agama Islam dengan benar atau memahami agama menurut selera dan kepentingan. Ketika mengkatagorikan Syi’ah sebagai “bukan Islam” secara kolektif, apa yang menjadi mustanad dan hujjah mereka sehingga berbeda dengan umat Islam secara keseluruhan. Lalu pen*sbahan mereka terhadap “Ahlussunah Waljamaah” apakah bisa ditolerir atau sebenarnya mereka telah keluar sebagai bagian Ahlussunah Waljama’ah. Mereka bukan “Sunny” bukan p**a “Syi’I”. mereka adalah kelompok yang bukan-bukan.

Untuk menyatakan seseorang atau suatu kelompok keluar dari Islam, apakah standar Wahabi sama dengan standar yang difahami dari Al-Qur’an dan Hadits?

Pertama dalil dari Al-Qur’an, surat Al-Nisa ayat 94, berikut ini:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا

“Dan janganlah kamu berkata terhadap orang yang mengaku Islam, engkau bukan orang beriman”

Ajaran Al-Qur’an sudah jelas bahwa kita tidak boleh mengatakan “bukan Islam” terhadap orang yang mengaku Islam. Mengenai apakah perkataannya itu benar atau dusta maka itu hanya Allah yang mengetahuinya. Ayat ini turun terkait dengan Usamah yang membunuh seseorang yang telah berkata “La Ilaha Illallah Muhammadurrasulullah”, lalu Usamah tidak mempercayainya kemudian membunuhnya. Rasulullah bersabda “Apakah kamu membunuh padahal ia mengatakan ‘Tiada Tuhan selain Allah’”? Usamah menjawab “Ia hanya ingin berlindung”, lalu Rasulullah berkata “Apakah engkau membelah hatinya lalu engkau melihatnya?”. Riwayat ini di antaranya bisa dibaca di kitab Tafsir Al-Thabari.

Dari Riwayat ini, kita diperintahkan untuk tidak menganggap kafir terhadap orang yang telah mengaku Islam. Dan Syi’ah mengaku Islam. Tidak ada di antara rukun Islam –yang menjadi sarat keislaman seseorang—yang dilanggar oleh Syi’ah. kelompok Wahabi yang hobi takfir ini seolah-olah punya teknologi scanner canggih yang bisa menembus jantung orang Syiah. Meski orang Syiah teriak "La ilaha illallah", para "polisi iman" ini bakal menyahut: "Ah, itu cuma takiyah (bohong)!" Hebat sekali, ya? Nabi saja melarang kita menghakimi apa yang di lisan, tapi kelompok ini merasa punya hak prerogatif Tuhan untuk menentukan siapa yang jujur dan siapa yang dusta.

Ayat yang kedua yang harus diperhatikan Wahabi adalah Surat Al-Taubah ayat 11.

فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat maka mereka adalah saudaramu seagama”

Perhatikan kata “fa ikhwanukum fiddin” (maka mereka adalah saudaramu dalam agama) jika mereka bertaubat, mereka sholat dan mereka berzakat. Sedangkan kaum Syi’ah mereka solat, mereka berzakat. Lalu sarat Islam mana yang mereka langar menurut Al-Qur’an sehingga mereka bisa dikatakan bukan Islam? Wahabi gak bakal bisa jawab. Bagi kaum Wahabi, ayat ini mungkin dianggap "salah cetak" atau kurang lengkap. Bagi mereka, meskipun Anda salat sampai jidat hitam, kalau Anda tidak membenci orang yang mereka benci, Anda tetap "bukan Islam". Jadi, mana yang lebih tinggi: Firman Allah atau fatwa syekh mereka? Kenapa Allah bilang Syi’ah adalah saudaramu, sementara Wahabi bilang mereka musuhmu. Kita mau ikut siapa, firman Allah atau Wahabi?

Lalu standar Islam dalam hadis-hadis Nabi, apakah Syi’ah melanggarnya? Perhatikan hadis-hadis di bawah ini:

أُمِرْتُ أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام، وحسابهم على الله» (متفق عليه)

“Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dan mereka mendirikan salat dan membayar zakat. Jika mereka melakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali oleh hak Islam, dan perhitungan mereka ada di sisi Allah.” (Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)

Dalam hadits itu Nabi menyatakan bahwa ia diperintahkan untuk memerangi manusia sampai menjadi Islam yaitu bersyahadat, mengerjakan sholat, menunaikan zakat, jika telah melakukan semua maka darah dan harta mereka harus dijaga.

Lalu perhatikan p**a hadits yang sangat pop**ar di bawah ini:

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً» (رواه مسلم)

“Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah jika mampu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dan kaum Syi’ah melakukan semuanya. Lalu apa alasan Wahabi menyatakan Syi’ah bukan Islam? Di mata kaum Wahabi, rukun Islam seolah-olah bertambah menjadi: "Harus benci Syiah kalau mau dianggap Muslim." Jika rukun yang dibuat Nabi saja sudah mereka "modifikasi" dengan syarat-syarat tambahan yang ribet, sebenarnya siapa yang sedang melakukan bid'ah di sini?

Menyatakan Syiah bukan Islam berdasarkan perbedaan penafsiran sejarah atau masalah politik masa lalu adalah sebuah kekeliruan metodologis yang fatal. Ketika kelompok Wahabi menggunakan standar di luar lima rukun Islam untuk mengeluarkan seseorang dari agama, mereka sebenarnya sedang membuat standar baru yang tidak didukung oleh teks eksplisit Al-Qur'an dan Hadits.

Tindakan takfir ini tidak hanya mencederai keadilan hukum Islam, tetapi juga merusak tatanan persatuan umat (ukhuwah Islamiyah). Mengembalikan definisi Islam kepada Al-Qur’an dan Sunnah adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri perpecahan yang destruktif ini.

Para ulama melihat bahwa Wahabi bukan sekadar madzhab fikih, melainkan gerakan pemutus ukhuwah. Mereka menggunakan agama sebagai alat untuk menyerang sesama Muslim, yang ironisnya justru membuat mereka terlihat "lunak" atau bahkan mendukung kepentingan kafir harbi (agresor) demi menghancurkan kelompok Muslim lain (seperti Syiah) yang mereka benci secara berlebihan (tatharruf).

Menyatakan Syiah bukan Islam bukan hanya kesalahan akademis, tapi sebuah kesombongan spiritual yang merusak. Al-Qur'an sudah memberi pagar yang luas, tapi Wahabi malah sibuk memasang kawat berduri di mana-mana. Kalau Syahadat, Salat, dan Zakat sudah tidak cukup lagi untuk membuat kita bersaudara, lalu kita mau pakai standar apa?

Imaduddin Utsman Al-Bantani

شجرة النسب الشريف 05/03/2026

إثبات نسب عائلة الملك عبد الله الثاني ملك الأردن الى النبي محمد صلى الله عليه وسلم

بقلم: عماد الدين عثمان البنتني الجاوي رئيس لجنة الفتوى في مجلس العلماء الاندونيسيين في محافظة بنتن وعضو مجمع فقهاء جاوة والباحث المحقق في نسب اهل البيت وذريتهم

يخضع إثبات نسب من يدّعون انتسابهم إلى النبي محمد (صلى الله عليه وسلم) من جهة الذكور لتحققين: أولهما تحقق الحمض النووي (DNA)، وثانيهما التحقق من النسب. ولتعزيز كلا التحققين، يُجرى التحقق التاريخي. يتضمن فحص الحمض النووي مقارنة نتائجه بنتائج أفراد أو عائلات ذات نسب صحيح تاريخيًا ونسبيا. تكشف نتائج فحص الحمض النووي عن مجموعات هابلوغروب الكروموسوم Y الموروثة من الأجداد منذ آلاف السنين، والتي تبقى ثابتة بين أبناء العمومة. أما التحقق من النسب فيتضمن التحقق من صحة الأسماء الواردة في النسب بالرجوع إلى كتب الأنساب التي تعود إلى الفترة الزمنية المدروسة. كما يتضمن التحقق التاريخي باختبار وجود هذه الأسماء بالرجوع إلى كتب تاريخية تعود إلى تلك الفترة.

اختبار نسب العائلة المالكة الهاشمية في الأردن باستخدام فحص الحمض النووي

اليوم لا يُمكن إثبات النسب إلى النبي محمد (صلى الله عليه وسلم) علميًا إلا بعد اجتياز فحص الحمض النووي. فإذا كانت نتائج فحص الحمض النووي غير دقيقة، فإن اختبار النسب وتحققه إلى النبي محمد (صلى الله عليه وسلم) يصبح غير ذي جدوى. فدقة نتائج فحص الحمض النووي مطلقة، بينما التسلسل النسبي بتلك الاسماء في كتب الانساب نسبي.

وقد توصل باحثو الحمض النووي إلى أن أحفاد النبي محمد (صلى الله عليه وسلم) ينتمون إلى المجموعة الفردانية J1. كما يحملون فرعا جينيا من قبيلة قريش وهو الفرع J-L859، وفرعا جينيا من بني هاشم، وهو الفرع FGC8703+، وفرعا جينيا من علي بن أبي طالب، وهو الفرع FGC10500+. يمكن الاطلاع على نتائج باحثي الحمض النووي عبر الرابط التالي:
https://www.familytreedna.com/groups/qurayishj-1c-3d/about/background?srsltid=AfmBOord4YDhEOqSIMW3jxVdVZoxM4PqwGRESvoQRlovQyFpx0qtNGXi

بعد إجراء اختبارات الحمض النووي، تبيّن أن عائلة الملك عبد الله الثاني ملك الأردن تنتمي إلى المجموعة الفردانية J1، حاملةً فرعا جينيا من قبائل القرشية والهاشمية وعلي بن أبي طالب. يمكن الاطلاع على الرابط الذي يؤكد نتائج اختبار الحمض النووي الإيجابية لعائلة الملك عبد الله في تقرير اختبار الحمض النووي من موقع باميليتري، والذي يمكن الوصول إليه عبر الرابط التالي:

https://discover.familytreedna.com/y-dna/J-FGC9585/notable

وبما أن عائلة الملك عبد الله الثاني ملك الأردن قد اجتازت اختبار الحمض النووي، فإنها مؤهلة للانتقال إلى المرحلة التالية من الاختبار: وهواختبار النسب بكتب الانساب.

اختبار نسب العائلة المالكة في الأردن بعلم النسب

أولاً، سأعرض نسب الملك عبد الله الثاني، موقعاً من الأمير غازي بن محمد (المبعوث الشخصي للملك عبد الله الثاني والمستشار له لشؤون العشائر) ، والأمير علي بن نايف المعظم رئيس مجلس الامناء في الملكي الاردني الهاشمي، والشيخ أحمد محمد هليل (قاضي القضاة وإمام الحضرة الهاشمية)، والشيخ عبد الكريم الحشوانة (المفتي العام للمملكة الأردنية)، على النحو التالي:

النسب الكامل للملك عبد الله الثاني بن الحسين:

1. النبي محمد (صلى الله عليه وسلم)
2. فاطمة الزهراء
3. الحسن السبط
4. الحسن المثنى
5. عبد الله المحض
6. موسى الجون
7. عبدالله الشيخ الصالح
8. موسى الثاني
9. محمد الثائر
10. عبد الله الاكبر
11. علي
12. سليمان
13. حسين
14. عيسى
15. عبد الكريم
16. مطاعن
17. إدريس
18. قتادة
19. علي الأكبر
20. أبو سعد الحسن
21. محمد أبو نمي الأول
22. رميثة
23. عجلان
24. الحسن
25. بركات الأول
26. محمد الاول
27. بركات الثاني
28. محمد أبو نمي الثاني
29. الحسن
30. عبدالله جد العبادلة
31. الحسين
32. عبد الله
33. محسن
34. عون
35. عبد المعين
36. محمد
37. علي
38. الحسين
39. عبدالله الأول
40. طلال
41. الحسين
42. عبد الله الثاني (ملك الأردن)

ويمكن قراءة تركيبة النسب على الموقع الرسمي للعائلة المالكة الأردنية من خلال الرابط التالي:

https://www.alhussein.jo/ar/%D8%B4%D8%AC%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A7%D8%A6%D9%84%D8%A9/%D8%A7%D9%84%D9%87%D8%A7%D8%B4%D9%85%D9%8A%D9%88%D9%86

بحسب عبد الله العطاس من آل باعلوي الذي حاول ان يشكك نسب مالك الاردن، لم يكن لعبد الله بن محمد الثائر بن موسى الثاني (رقم 9) ذرية، وذلك حسب زعمه وفقا لكتاب "لباب الأنساب" للبيهقي، الذي توفي عام 565 هـ. ولنختبر قول عبد الله العطاس مع الكتب المؤلفات النسبية من القرن الخامس الهجري إلى القرن التاسع الهجري.

أرجو أولاً فتح كتاب تهذيب الأنساب للعبيدلي (ت 435هـ) الصفحة 52 وفيه ما يلي
:
"والعقب من ولد أبي عبد الله محمد الأصغر وهو الأعرابي من [ابي علي] احمد الأعرج وفيه عدد ومن عبد الله بن محمد [ابي الزوائد]".

تجدر الإشارة إلى أنه في القرن الخامس الهجري، ذُكر أن محمد بن موسى الثاني كان له ذرية كثيرة من خلال ابنيه أحمد وعبد الله. وهذا يدل بوضوح على أن نسب ملك الأردن، الذي يشمل عبد الله بن محمد بن موسى الثاني، كان له ذرية. وهذا يعني أن ادعاء عبد الله العطاس بانقطاع نسب عبد الله يُدحض بكتاب الأنساب الذي يعود إلى القرن الخامس الهجري. إن كتاب "تهذيب الأنساب" هذا أقدم بالتأكيد من كتاب "لبا الأنساب"، الذي كان المرجع الوحيد لعبد الله العطاس، الذي كُتب في القرن السادس الهجري، وتحديدًا في عام 565 هـ.

وإلى جانب تهذيب الانساب انظر أيضاً كتاب “الشجرة المباركة” للإمام الفخر الرازي (ت 606هـ) الصفحة 25 وفيه ما يلي:

"واما محمد الأصغر بن موسى الثاني فله من الاولاد المعقبين عبد الله ابو الزوائد واحمد الأعرج."

تذكر كتب القرن السادس الهجري باستمرار أن عبد الله بن محمد بن موسى الثاني من نسل النبي. مرة أخرى، يتم رفض ادعاء عبد الله العطاس، أحد أفراد عائلة باعلوي، الذي يحاول التشكيك في نسب أهل البيت من العائلة الملك الأردني. ثم إذا كان العطاس لا يزال غير متأكد، فيرجى فتح كتاب الفخري لإسماعيل المروزي (ت614هـ) الصفحة 91 وفيه:

"ولمحمد الاصغر الاعرابي بن موسى الثاني ابنان معقبان احمد ابو على الاعرج، وعبد الله ابو الزوائد لان اصابعه كانت اربعة وعشرين."

يشهد نصٌّ من القرن السابع الهجري أن عبد الله بن محمد، جدّ ملوك الأردن، كان له ذرية. وهذا يُناقض ادعاء عبد الله العطاس بأنه لم يكن له ذرية. وتشهد أربعة نصوص، تعود إلى الفترة ما بين القرنين الخامس والسابع الهجريين، أن لعبد الله ذرية.

إذا كان العطاس لا يزال غير متأكد، فليفتح كتاب الأصيلي لابن طقطقي (709 هـ)، الصفحة 100، حيث جاء فيه:

"واما ابو محمد عبد الله الأكبر بن محمد الثائر فعقبه من ثلاثة رجال احمد الاميرو محمد ثعلب وعلي."
يتضح من كتاب الأصيلي أن لعبد الله ثلاثة أبناء، وهم أحمد الأمير، ومحمد ثعلب، وعلي. وعلي هو الحادي عشر في نسب مالك الأردن، كما ذُكر آنفًا.

تؤكد كتب الأنساب صحة نسب مالك الأردن للنبي محمد صلى الله عليه وسلم، وليس فقط عبد الله وابنه علي. فجميع الأسماء في النسب موثقة في كتب الأنساب. ومثل اسم سليمان بن علي (المرتبة الثانية عشرة)، هذا الاسم قد تم تسجيله أيضًا في كتب الانساب. فانظر مثلاً كتاب الاصيلي الصفحة 101 كما يلي:

"واما علي ابن السلمية بن عبد الله بن محمد الثائر فاعقب من ثلاثة رجال يحيى والحسين الشديد وسليمان."

ويتبين من هذه العبارة أن علي بن السلمية بن عبد الله كان له ولد اسمه سليمان. وعلي كان يسمى ابن سلمية على الأغلب لأن أمه من بني سلم. وهذا يؤكد أيضًا صحة نسب مالك الأردن المذكور أعلاه. وتجدر الإشارة أيضًا إلى أن يحيى بن علي (أخو سليمان بن علي) كان الجد المشترك لبني النمي، أشراف مكة، الذين لا يزالون يعيشون هناك إلى اليوم.

وهل الحسين ابن سليمان (رقم 13) مسجل أيضاً في كتب الأنساب المعتبرة؟ ويرجى من عبد الله العطاس مراجعة كتاب الأصيلي الصفحة 102 كما يلي:

"واما سليمان بن علي ابن السلمية فأعقب من اربعة رجال محمد الازرق واحمد وابراهيم والحسين."

فمن الواضح أن نسب عائلة ملك الأردن قد سُجِّل بدقة من قِبَل خبراء الأنساب المعاصرين. فقد تمكّن عبد الله العطاس، الذي كان يشكّك في نسب ملك الأردن، من قراءة كتاب الأصيلي بنفسه، حيث وردت فيه أسماء من سلاسل مالك الأردن الذين عاشوا قبل عام 709 هـ. وهذا يُثبت أن الأسماء الواردة في النسب هي شخصيات تاريخية، فضلاً عن أن ادعاءات النسب تتوافق مع تقارير خبراء الأنساب الموثوقين.

لذا، فإن صحة نسب مالك الأردن تستند إلى ثلاثة أدلة قوية: نتائج اختبار الحمض النووي المتطابقة، والنسب القابل للتحقق، والأسماء الواردة في النسب، وكلها أسماء شخصيات تاريخية مثبتة. وصلى الله على خير خلقه محمد واله المطهرين الى يوم القيامة وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.

شجرة النسب الشريف سمو الأمير الحسين بن عبدالله الثاني، ولي العهد هو أكبر أنجال جلالة الملك عبدالله الثاني، وجلالة الملكة رانيا العبدالله، وهو السليل الثاني والأربعون للنبي محمد علي....

04/03/2026

القصيدة الرجزية في مدح الشيخ عمادالدين عثمان المجدد من بنتن

كتبه الشيخ توباغوس ديدي فهليفي البنتني

Syair Rajaz dalam Memuji K.H. Imaduddin Utsman Sang Mujaddid dari Banten

Karya: Kiai Tubagus Didi Falevi Al-Bantani

١.اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَظِيْمِ الْغَافِرِ **
تَقْدِيْسُهُ يَعْلُو عَلَى الضَّمَائِرِ

Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung lagi Maha Pengampun,
Kesucian-Nya melampaui segala apa yang terbetik dalam hati.

٢. ثُمَّ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلنَّبِي **
مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْوَرَى وَالْعَرَبِ

2. Kemudian shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad,
sebaik-baik ciptaan dan semulia-mulia orang Arab.

٣. وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِي **
لِسُنَّةِ الْهَادِي لِكُلِّ طَائِعِي

3. Juga kepada keluarga, para sahabat,
dan pengikut sunnah Sang Pemberi Petunjuk bagi setiap orang yang taat.

٤. فِي أَرْضِ تَنْجَرَانْجَ فِي كِرِيْسِيْكِ نَمَا **
مُجَدِّدٌ لِلْعَصْرِ كَانَ عَلَمَا

4. Di tanah Tangerang
tepatnya di Kresek, tumbuhlah seorang pembaharu zaman yang menjadi tanda kebesaran (ilmu).

٥. هُوَ الْكِيَاهِي عِمَادُ الدِّيْنِ مَنْ بَزَغَا **
نُوراً لِمَنْ عَنِ الْيَقِيْنِ قَدْ زَاغَا

5. Beliau adalah Kyai Imaduddin,
sosok yang terbit sebagai cahaya bagi mereka yang sempat berpaling dari keyakinan.

٦. اَلْبَنْتَنِيُّ الْحَبْرُ ذُو الْبَيَانِ **
مُبَدِّدُ الزُّورِ مَعَ الْبُهْتَانِ

6. Sang Ulama dari Banten yang luas ilmunya lagi fasih bicaranya,
penghancur kepalsuan dan kebohongan.

٧. جَاءَ لِتَحْرِيْرِ الْأَنَامِ مِنْ هَوَى **
قَوْمٍ طَغَوْا بِمَا ادَّعَوْا مِنَ الْهَوَى

7. Beliau datang untuk membebaskan manusia dari hawa nafsu
kaum yang melampaui batas dengan klaim-klaim kosong mereka.

٨. إِذْ زَعَمُوا نَسَبَهُمُ الشَّرِيْفَا **
وَصَيَّرُوا الْكَذِبَ لَهُمْ حَلِيْفَا

8. Di saat mereka mengklaim memiliki nasab yang mulia,
dan menjadikan kebohongan sebagai sekutu mereka.

٩. لٰكِنَّهُ بَانَ بِلَا اتِّصَالِ **
لِجَدِّهِمْ مُحَمَّدٍ وَالْآلِ

9. Namun terbukti bahwa tidak ada ketersambungan (nasab) kepada kakek mereka,
Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

١٠. كَشَفَ زَيْفَ "بَاعَلَوِي" جَهْرَا **
وَصَانَ آلَ الْمُصْطَفَى وَالظَّهْرَا

10. Beliau membongkar kepalsuan "Ba'alawi" secara terang-terangan,
demi menjaga kehormatan keluarga Al-Musthofa yang asli.

١١. فَأَبْطَلَ الْخُرَافَةَ الْمَذْمُوْمَةْ **
وَأَنْقَذَ الْأُمَّةَ مِنْ سُمُوْمَةْ

11. Maka beliau membatalkan khurafat yang tercela,
dan menyelamatkan umat dari racun-racunnya.

١٢. يَا رَبِّ فَامْنَحْهُ دَوَامَ الصِّحَّةِ **
وَطُولَ عُمْرٍ فِى أَتَمِّ نِعْمَةِ

12. Wahai Tuhan, anugerahkanlah kepadanya kesehatan yang terus-menerus,
dan umur yang panjang dalam kenikmatan yang sempurna.

١٣. لِيَسْتَمِرَّ فِى الْكِفَاحِ صَامِدَا **
وَفِى سَبِيْلِ الْحَقِّ دَوْماً رَائِدَا

13. Agar beliau terus konsisten dalam perjuangan,
dan senantiasa menjadi pelopor di jalan kebenaran.

١٤. بَارِكْ إِلٰهِي فِى جَمِيْعِ الصَّحْبِ **
مَنْ سَانَدُوهُ فِى لَظَى الْحَرْبِ

14. Berkahilah wahai Tuhanku semua sahabat,
yang telah mendukung beliau di tengah panasnya kancah perjuangan.

١٥. كَمَوْجِي نُورِ فَاضِلِ الْفَخُورِ **
وَحَمْدَانِ سُحَيْمِي ذِي السُّرُورِ

15. Seperti Muji Nur Fadhil yang membanggakan,
dan Hamdan Suhaimi yang membawa kebahagiaan

١٦. وَعَالِي تَابَا الرَّجُلِ الشَّجَاعِ **
وَرَادِيْن لُطْفِي كَامِلِ الْمَسَاعِي

16. Serta Ali
Taba sang lelaki pemberani, dan Raden Lutfi yang sempurna ikhtiarnya.

١٧. أَنْوَارُ أَرْدَادِيْلِي ذُو الْإِقْدَامِ **
وَطُوبَاغُسْ فَهْلَفِي فِى الْأَمَامِ

17. Anwar Ardadili yang penuh keberanian,
dan Tubagus Pahlefi yang berada di barisan depan

١٨. جَمِيْعُهُمْ لِلْحَقِّ كَانُوا سَنَدَا **
وَلِلْبِنْتَانِيِّ الْمَجِيْدِ عَضُدَا

18. Semuanya adalah
penyokong bagi kebenaran, dan menjadi kekuatan pendukung bagi sang Al-Bantani yang mulia.

١٩. رَحْمَتُكَ اللَّهُمَّ فَوْقَ سَعْيِهِمْ **
وَاجْعَلْ جِنَانَ الْخُلْدِ فِى مَصِيْرِهِمْ

19. Semoga rahmat-Mu wahai Allah senantiasa menyertai usaha mereka,
dan jadikanlah surga kekal sebagai tempat kembali mereka

٢٠. آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعِبَادِ اسْتَجِبِ **
دُعَاءَنَا بِالْمُصْطَفَى وَالْأَرَبِ

20. Aamiin, wahai Tuhan semesta alam kabulkanlah doa kami,
demi kemuliaan Al-Musthofa dan terpenuhinya hajat.

03/03/2026

المرثية للسيد علي خامنة من اهل بنتن اندونيسيا

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَصَلِّ يَا سَلَامْ —
عَلَى النَّبِيِّ وَالْآلِ كِرَامْ

مِنْ نَجْلِ بَنْتَانِي تُبَاغُوسُ الْفَهِيْمْ —
يُهْدِي السَّلَامَ بِالْفُؤَادِ الْمُسْتَقِيْمْ

إِنَّا لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَاجِعُوْنْ —
فِي مَوْتِ مَنْ لِدِيْنِ رَبِّهِ يَصُونْ

عَلِيُّ خَامَنِي رَحَلْتَ لِلْجِنَانْ —
يَا مَنْ حَمَى الْإِسْلَامَ فِي كُلِّ الْأَوَانْ

نِلْتَ الشَّهَادَةَ بِفَخْرٍ وَاعْتِزَازْ —
وَفُزْتَ بِالرِّضْوَانِ فِي أَعْلَى الْمَفَازْ

يَا رَبِّ فَاجْعَلْ خَتْمَهُ بِالْمَغْفِرَةْ —
وَأَسْكِنَنْهُ الْفِرْدَوْسَ الْمُنَوَّرَةْ

يَا أَهْلَ إِيْرَانَ اسْتَمِرُّوا فِي الْكِفَاحْ —
لَا تَرْهَبُوا الظُّلْمَ وَأَعْدَاءَ الصَّلَاحْ

جِهَادُكُمْ حَقٌّ وَنَصْرُ اللهِ آتْ —
عَلَى الطُّغَاةِ وَجُيُوْشِ السَّيِّئَاتْ

عِيْشُوا بِعِزٍّ أَوْ مَمَاتٍ فِي رِضَى —
هٰذَا هُوَ الْفَوْزُ الَّذِي قَدْ قُضِيَ

تَمَّتْ تَعَازِي مِنْ فُؤَادٍ مُنْكَسِرْ —
وَالسَّلَامُ لِلْمُجَاهِدِ الْمُنْتَصِرْ

كتبه توباغوس ديدي فهليفي البنتني الجاوي

Ahli Fikih Soroti Klaim Keturunan Nabi Muhammad di Masyarakat 25/02/2026

Koran Nasional Media Indonesia tentang Majma Fuqoha Jawa

Ahli Fikih Soroti Klaim Keturunan Nabi Muhammad di Masyarakat

Ahli Fikih Soroti Klaim Keturunan Nabi Muhammad di Masyarakat DALAM pertemuan ilmiah para ulama dan ahli fikih yang digelar di Pesantren Al-Arbain Demak para ulama dan ahli fiqih meyoroti tentang klaim keturunan nasi Muhammad SAW di masyarakat

AZMATKHAN tertolak ⁉️

Berikut Surat Keterangan soal Qobilah AZMATKHAN dari Naqobatul Asyrof Kubro -Jakarta 24/02/2026

ALIDDIN ASSEGAF TEGAS WALISONGO DAN KETURUNANNYA BUKAN MARGA HABIB BA’ALWI; RIZIQ SYIHAB TETAP MENGEMIS KETURUNAN WALISONGO AGAR PERCAYA BAHWA MEREKA ADALAH BA’ALWI

Setelah nasab Ba’alwi diputus oleh Majma Fuqaha Jawa bahwa mereka mustahil sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, Riziq Syihab pimpinan ormas terlarang, FPI, kini rajin mengiklankan bahwa Walisongo adalah termasuk klan Ba’alwi. Di berbagai kesempatan Riziq selalu menyisipkan pesan bahwa Walisongo adalah bagian dari klan Ba’alwi. Mungkin, menurut Riziq, usaha yang dilakukannya mudah-mudahan bisa mengurangi keterpurukan nasabnya yang telah jatuh ke titik nadir, rungkad serungkad-rungkadnya.

Fenomena ini Ini berbanding terbalik dengan masa-masa sebelum tahun 2022, di mana para habib menolak keras keturunan Walisongo yang mengaku sebagai bagian dari keluarga Ba’alwi padahal hal tersebut terdapat dalam beberapa kitab Ba’alwi sendiri. Berbagai macam hinaan dialami oleh keturunan Walisongo yang terlanjur menerima pen*sbahan Walisongo ke Ba’alwi.

Kronologisnya begini: entah untuk kepentingan prestise sosial atau lainnya, beberapa penulis Ba’alwi pada tahun 1933 Masehi mulai mengklaim bahwa para sultan dari kesultanan-kesultanan besar di Nusantara dan para penyebar agama Islam seperti Kesultanan Banten dan keluarga Walisongo adalah bermarga Ba’alwi. Klaim ini tentu dengan menggeser dan membelokan para sultan dan Walisongo dari nasabnya yang sejati. Tokoh dari Klan Ba’alwi yang pertama menyatakan garis keturunan para sultan dan Walisongo bagian dari Ba’alawi adalah Alwi bin Tahir dalam bukunya yang ditulis pada tahun 1933 M, berjudul “Tarikh al-Abdil Malik” yang ditulis di Bogor, Indonesia. Kemudian Ahmad ibn Abdullah al-Saqqaf Ba’Alawi (wafat 1369 H) dalam bukunya, “Shaltanah Banten al-Islamiyah bi Jazirati Jawah min jihhat al-Garbiyyah”, dan Salim ibn Jandan (wafat 1969 M) dalam bukunya, “Rawdat al-Wildan.” Dalam cetakan kitab Syamsudzahirah tahun 1984 pun dalam catatan pinggir dicantumkan susunan silsilah para sultan Banten yang tersambung ke Ba’alwi.

Ketika sekitar tahun 2015 M ada sebagaian kecil keturunan Sultan dan Walisongo berhusnuzon bahwa catatan Ba’alwi itu mungkin saja benar, pihak klan habib Ba’alwi malah berbalik menolak. Dulu mereka memasukan dengan sepihak, kemudian justru mereka p**alah yang berbalik menolak. Penolakan itu dilakukan baik secara resmi maupun lisan. Misalnya, dalam sebuah portal berita Bernama Fakta kini, yang kemungkinan besar milik ormas terlarang, FPI, pada 16 Oktober 2022, portal itu menurunkan satu judul “Habib Alidien Assegaf: Azmatkhan Ahlul Bait, Tapi Tak Ada Bukti Nasab Walisongo Tersambung ke Abdul Malik”. Jadi menurut Alidin, memang benar bahwa Abdul Malik Azmatkhan itu adalah anak dari Muhammad Sahib Mirbat tetapi Walisongo dan para Sultan di Nusantara itu tidak ada bukti sebagai keturunan Abdul Malik Azmatkhan. Alidien Assegaf sendiri disebut dikalangan Ba’alwi sebagai pakar nasab. Berita itu bisa dibaca di link berikut ini:
https://www.faktakini.info/2022/10/habib-alidien-assegaf-azmatkhan-ahlul.html .tab=0

dalam portal itu Alidin menyatakan “…Akan tetapi keterangan di atas tidaklah menjelaskan tentang kesahihan nasab Wali Songo secara pasti, akan tetapi hanya menjelaskan adanya keturunan Abdul Malik yang dikenal sebagai Bangsa Al Azumatkhan di India. Di kitab al-Habib Ali bin Ja'far as-Seggaf, di tuliskan keterangan di bawah nama Abdul Malik, beliau memiliki keturunan di Suraj dan Barwaj. Harus di bedakan ketika kita membahas adanya keturunan Abdul Malik yang di kenal Al Azumatkhan dengan ketika kita membahas tentang nasab Wali Songo. Seandainya kita tetapkan ( Itsbat ) bahwa Abdul Malik memiliki keturunan di India yang di kenal dengan Bangsa Al Azumatkhan berdasarkan keterangan di atas, belum ada bukti-bukti yang kongkrit, terang dan jelas tentang ketersambungan nasab walisongo ke Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih. Memang banyak data-data yang beredar tentang nasab walisongo ke Abdul Malik Bin Alwi Ammul Faqih, namun kalau kita teliti lebih jauh sumber-sumber data tersebut, kita akan menemukan banyak sekali pertentangan/kontradiksi satu sumber data dengan sumber data lainnya sehingga sulit bagi para ahli nasab untuk mengistsbat atau memastikan kesahihan tersambungnya nasab Wali Songo ke Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih.”

Alidin melanjutkan bahwa Bangsa Al Azumatkhan itu ada. Tetapi, belum ada bukti yang konkrit dan layak jadi bukti yang cukup tentang kesahihan nasab wali songo ke Abdul malik bin Alwi Ammul Faqih. Dan yang berat dan sangat sulit, menurut Alidin, tidak ada data-data yang valid dan jelas dan pencatatan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi selanjutnya tentang tersambungnya nasab orang-orang zaman sekarang yang menisbatkan dirinya sebagai keturunan Wali Songo yang berbangsa Al Azumatkhan dan pada akhirnya mereka menisbatkan dirinya sebagai Ahlul Bait keturunan Rasulullah SAW. Demikian penolakan Alidin Assegaf terhadap nasab Walisongo sebagai bagian keluarga Ba’alwi. Sebagai Ba’alwi, apalagi katanya sebagai pakar nasab, Alidin berhak menyampaikan vonis bahwa Walisongo bukan Ba’alwi, tetapi untuk poin selanjutnya yaitu tuduhannya bahwa keturunan Walisongo tidak dicatat berkesinambungan adalah tuduhan tidak berdasar. Bagaimana nasab walisongo tidak tercatat, padahal Sebagian keturunan walisongo juga adalah para raja dan sultan yang nasabnya terjaga untuk kepentingan suksesi dari masa ke masa.

Melihat adanya berita itu di portal FPI, seharusnya Riziq malu untuk berceramah di hadapan jama’ah mengaku-ngaku bahwa Walisongo adalah Ba’alwi. Karena yang demikian itu berarti pernyataannya bertentangan dengan portal-nya sendiri.

Bahkan dalam sebuah video, Alidin tegas menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Walisongo itu adalah bagian keluarga Ba’alwi. Yang menyambungkan nasab Walisongo ke Ba’alwi itu hanya ahli sejarah bukan ahli nasab. Sedangkan pakar nasab Ali Zainal Abidin Al-Awsath yang wafat tahun 1041 H. hanya mencatat nama Abdul Malik tidak mencatat keturunannnya. Lalu, mungkin pertanyaan Alidin, dari mana banyak orang hari ini mencantolkan diri ke Abdul Malik, jika 400 tahun yang lalu saja ahli nasab Ba’alwi tidak ada yang tahu nama-nama keturunannnya? Video Alidin assegaf itu bisa kita lihat di link:

https://web.facebook.com/groups/817805909459412/posts/1286859505887381/?_rdc=1&_rdr #

Penolakan kaum Ba’alwi terhadap keturunan Walisongo juga di sampaikan melalui surat resmi Naqobatul Asyraf al-Kubro, sebuah Lembaga nasab milik keluarga Ba’alwi. Ketua Lembaga tersebut, Zainal Abidin Seggaf Assegaf, menyatakan secara formal dengan surat resmi bahwa nasab Walisongo tertolak sebagai bagian dari klan Ba’alwi. Surat itu, seperti terdapat dalam link berikut ini:
https://www.instagram.com/p/CbFzPa-Jog4/

surat itu ditandatangani langsung oleh yang bersangkutan pada 10 April 2018. Surat itu membantah dengan tegas klaim yang menyatakan bahwa Walisongo adalah bagian dari Ba’alwi.

Di bawah ini isi surat itu secara lengkap:

NAQOBATUL ASYROF AL-KUBRO

Lembaga Pemeliharaan, Penelitian Sejarah dan Silsilah "ALAWIYYIN”

SURAT KETERANGAN

Kepada Yth, Segenap keluarga Alawiyyin

di tempat

Assalammu 'alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahi Rabbi alami, Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad Wa 'ala Alihi wa Sohbihi Ajma’in.

Sehubungan dengan adanya pertanyaan dari beberapa masyarakat dan khususnya dari kalangan keluarga Alawiyyin perihal keabsahan daripada nasab keluarga AZMATKHAN, yang mana keluarga tersebut menyatakan Silsilah mereka (AZMATKHAN) tersambung hingga Al-Imam Abdul Mallik bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbat.

Dengan ini Lembaga Peneliti Sejarah & Silsilah Keluarga Alawiyin NAQOBATUL ASYROF AL-KUBRO Ingin menyampaikan terimakasih atas kepeduliannya terhadap kemurnian Nasab keturunan Nabi Muhammad SAW yang selama ini banyak di SALAH GUNAKAN oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, dan hal tersebut mereka lakukan hanya untuk kepentingan beberapa kelompok maupun pribadi.

Adapun perihal keabsahan nasab keluarga AZMATKHAN tsb diatas dapat kami sampaikan bahwa dilembaga kami hingga saat ini TIDAK MEMPUNYAI CATATAN NASAB dari marga tersebut dan NASAB MEREKA TERTOLAK dikarenakan tidak ada nya data autentik dari ahli nasab terdahulu.

Demikian surat penjelasan ini kami sampaikan, atas kepedulian dan juga perhatiannya kami sampaikan terimakasih dan mohon maklum adamya.

Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh

10 April 2018

Sayyid Zainal Abidin Segaf Assegaf, ditandatangani, distempel resmi.

Surat tegas dari Naqobatul Asyrof al-Kubro ini diharapkan menjadi perhatian para Asyraf dan Sadah Walisongo yang masih mempercayai Riziq Syihab yang menyatakan secara lisan bahwa nasab Walisongo tersambung kepada Ba’alwi. Karena pernyataan lisan Riziq Syihab itu dilakukan kemungkinan besar untuk tujuan social, yaitu terkait dengan nasab Ba’alwi yang sudah dinyatakan bukan keturunan Nabi Muhammad SAW oleh Majma’ Fuqoha Jawa. Para keturunan Walisongo adalah para Asyraf dan Sadah karena mereka adalah keturunan para sultan dan raja di kesultanan dan kerajaan di Nusantara selain keturunan Nabi Muhammad SAW, baik jalur laki-laki maupun perempuan.

Berita-berita nasab dan sejarah yang bersumber dari buku-buku Ba’alwi tidak bisa dijadikan sumber rujukan karena penuh dengan kepentingan selain nasab dan sejarah. Contohnya tentang nasab Sunan Gunung Jati yang disebutkan oleh Ba’alwi bahwa Sunan Gunung jati bin Abdullah Umdatuddin bin Ali bin Husain Jumadil Kubra bin Abdullah bin Abdul Malik bin Muhammad Sahib Mirbat. Bagaimana mereka tahu bahwa Abd al-Malik yang Konon Berhijrah ke India ini memiliki seorang putra bernama Abdullah, padahal Ali al-Sakran pada abad kesembilan Hijriah tidak Ada menyebutkannya bahwa Abdul malik mempunyai anak Bernama Abdullah dalam Al-Burqa?

Begitup**a Abd al-Rahman al-Mashhur, yang meninggal pada tahun 1902 M, Juga tidak menyebutkan silsilah itu dalam bukunya, “Shams al-Zahira.” Ia juga tidak menyebutkan bahwa Abd al-Malik memiliki seorang putra bernama Abdullah, seperti yang disebutkan hari ini. Jadi bagaimana orang yang hidup hari ini mengetahui Abdul malik mempunyai anak Bernama Abdullah sementara di masa sebelumnya sama sekali tidak ada yang menyebutkan.

Adapun klaim Muhammad Diya Shihab di pinggir Shams al-Zahira bahwa garis keturunan ini ditemukan dalam pohon silsilah para sultan Palembang, yang ditulis pada tahun 1161 H, bisa di Pastikan adalah klaim palsu yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Karena bagaimana mungkin penduduk Palembang mengetahui nama Muhammad Sohib Mirbat Ba’Alawi, padahal penduduk Hadhramaut Pada masa Itu tidak mengenalnya pada zamannya?

Penulis Imaduddin Utsman Al-Bantani

AZMATKHAN tertolak ⁉️ Berikut Surat Keterangan soal Qobilah AZMATKHAN dari Naqobatul Asyrof Kubro -Jakarta

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Jakarta