31/08/2025
-----------------------------------
KEMARAHAN YANG MERUSAK
-----------------------------------
🧭 Ketimpangan dan Ledakan Emosi
Dalam beberapa pekan terakhir, publik Indonesia dikejutkan oleh aksi penjarahan. Di tengah ekonomi yang lesu, flexing pejabat, dan ketidakadilan yang dirasakan rakyat, kemarahan sosial meledak dalam bentuk destruktif. Bagi sebagian orang, merusak properti dianggap sebagai simbol perlawanan. Sebuah pelampiasan atas rasa muak yang telah lama terpendam.
Namun, di balik semua itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemarahan membenarkan kehancuran? Apakah perlawanan yang kehilangan akhlak masih bisa disebut perjuangan?
🌙 Refleksi Spiritual: Merusak Adalah Pekerjaan Termudah
Islam tidak memuliakan tangan yang merobohkan, tapi tangan yang membangun, menyembuhkan, dan menjaga amanah bumi. Dalam Surah Al-A’raf ayat 56, Allah berfirman:
Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.
Ayat ini bukan sekadar larangan ekologis, tapi juga etika sosial. Merusak tatanan, rumah, atau martabat orang lain—meski mereka salah—tetap bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Bahkan dalam perang, Nabi Muhammad ﷺ melarang merusak tanaman, membakar rumah, atau menyakiti yang tak bersenjata.
Mereka yang bangga karena merusak, sesungguhnya sedang memamerkan kemalasan spiritualnya. Karena menghancurkan tidak butuh ilmu, tidak butuh akhlak, dan tidak butuh keberanian. Yang sulit adalah membangun di tengah luka, menyembuhkan di tengah kecewa, dan menjaga martabat di tengah amarah.
🕊️ Menolak Tanpa Merusak
Sebagian mungkin berkata: “Kami menjarah karena muak. Karena ketimpangan. Karena flexing para pejabat yang hidup di atas penderitaan rakyat.” Tapi Islam mengajarkan bahwa kezaliman tidak bisa dibalas dengan kezaliman. Dalam maqashid syariah, tujuan hukum Islam adalah menjaga jiwa, harta, akal, agama, dan kehormatan. Penjarahan melanggar semuanya.
Jika ketimpangan sosial adalah luka, maka jawaban kita bukan palu, tapi pengobatan. Jika flexing pejabat adalah racun, maka penawarnya bukan api, tapi advokasi (kegiatan terencana dan sistematis yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memperjuangkan suatu ide, tujuan, atau kepentingan, terutama dalam bentuk perubahan kebijakan, hukum, atau aturan demi terwujudnya keadilan sosial).
Kita boleh marah, tapi jangan kehilangan martabat. Karena dalam Islam, kemuliaan bukan milik yang paling lantang, tapi yang paling sabar dalam memperbaiki.
🌱 Jalan Perbaikan (Ishlah) Adalah Jalan Para Nabi
Perlawanan sejati bukan tentang menghancurkan, tapi tentang membangun tatanan baru yang lebih adil. Nabi Musa tidak menghancurkan istana Fir’aun, tapi membebaskan kaumnya dengan kesabaran. Nabi Muhammad ﷺ tidak membalas hinaan Quraisy dengan kekerasan, tapi dengan akhlak dan keteguhan.
Maka,
- Jika kita ingin menolak ketidakadilan, mari kita tolak dengan kemuliaan.
- Jika kita ingin melawan ketimpangan, mari kita lawan dengan keberanian spiritual.
Karena
- merusak adalah pekerjaan termudah.
- memperbaiki adalah tugas para penjaga nurani.