PDU University

PDU University

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from PDU University, College & University, Jalan Yos Sudarso, kompleks Gedung Walikota Jakarta Utara, Jakarta.

Sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengajarkan berbagai cabang ilmu agama berlandaskan pada pemahaman Ahlu Sunnah wal Jama'ah Al-Asy'ariyyah, berpedoman pada warisan kitab-kitab klasik karya Ulama-Ulama terdahulu dan dikemas dengan metode perkuliahan modern.

PDF Drive - Search and download PDF files for free. 22/09/2017

Untuk semua ikhwan dan akhwat, bagi yang ingin membutuhkan buku (.pdf) berkaitan dengan subjek / bidang atau topik apa?
Buka browser dan ketik:
www.pdfdrive.net
Anda akan mendapatkan akses ke jutaan buku yang Anda butuhkan, gratis.
Download tak terbatas

Anda dapat menelusuri berdasarkan judul atau pengarang, dll.
Saat ini 274376478 buku tersedia secara gratis dan setiap menit, sekitar 50 buku baru ditambahkan ke database.
Semua unduhan gratis๐Ÿ˜Š.

PDF Drive - Search and download PDF files for free. PDF Drive is your search engine for PDF files. As of today we have 289,342,507 e-books for you to download for free. No ads, no download limits, enjoy it and don't forget to bookmark and share the love!

21/09/2017

* Manusia Seperti Sebuah BUKU *

Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian

Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.

Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis.

Ada buku yg menarik dibaca,
ada yg sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di 'edit' lagi.

Tapii hebatnya,
seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin.
Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya.

Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkanNYA.

Terima kasih ya Allah, untuk hari yg baru ini...
*SELAMAT TAHUN BARU*
1439 HIJRIAH

Smg kita senantiasa dapat mengisi halaman buku kehidupan kita dgn hal2 yg baik .

Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yg senantiasa tunduk, bekti dan patuh kepada-NYA.

Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak2 kita dan siapapun setelah kita nanti.
Aamiin YRA,,,๐Ÿ™๐Ÿ™

21/08/2017

HARI RAYA IDUL ADHA 1438 H DI INDONESIA: JUM'AT WAGE, 01 SEPTEMBER 2017 M.

Alhamdulillah dengan rahmat Allah SWT insya Allah tahun 2017 ini NU bersama pemerintah RI dan Muhammadiyah akan merayakan bersama Hari Raya Idul Adha, 10 Dzul-Hijjah 1438 H. pada hari Jum'at Wage, 1 September 2017 M. dengan rekap hasil perhitungan ilmu falak sistem "Nautical Almanac" sebagai berikut:

REKAP HASIL PERHITUNGAN AWAL DZUL- HIJJAH & HARI RAYA IDUL ADHA 1438 H. / 2017 M. MENURUT SISTEM HISAB KONTEMPORER โ€œNAUTICAL ALMANACโ€
(RUKYATUL HILAL: SELASA WAGE, 22 AGUSTUS 2017 M.)

AL-HASIB: MUHAMMAD THOBARY SYADZILY
(1. Ketua Kajian Lembaga Dakwah PBNU, 2. Tim Pakar Hisab & Rukyat Kemenag RI, 3. Ketua Lajnah "Al-Falakiyah" PWNU Provinsi Banten)

=====================================================================

Pusat Observasi Bulan (POB) : Pelabuhanratu, Sukabumi - Indonesia
Lintang Tempat (ร˜ ) : -7o 1' 44,6'' Lintang Selatan
Bujur Tempat ( ฮป ) : 106o 33' 27,8'' Bujur Timur
Tinggi Tempat/ Elevasi ( EL ) : 52,865 meter di atas Permukaan Laut

======================================================================

1. Ijtimaโ€™ ( ุงุฌุชู…ุงุน / Konjungsi / New Moon ) akhir bulan Dzul-Qa'dah 1438 H. terjadi pada hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 M. pada pukul 01 : 30 : 00 WIB (Dinii hari)

2. Matahari Terbenam ( ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ/ Sunset ) hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 di Pelabuhanratu, Sukabumi pada pukul 17 : 54 : 00 WIB

3. Hilal Terbenam ( ุบุฑูˆุจ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Moonset ) pada pukul 18 : 26 : 35 WIB

4. Umur Hilal (ุนู…ุฑ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Age of the Crescent Moon ) = 16 jam 24 menit

5. Greenwich Hour Angle (GHA) Bulan hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 pukul 10:54 GMT = 333 o 54 ' 19,2 ''

6. Deklanasi Bulan hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 pukul 10:54 GMT = 9 o 37 ' 6,6 ''

7. Horizontal Parallax Bulan hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 pukul 10:54 GMT = 0 o 58 ' 30 ''

8. Semi Diameter Bulan hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 pukul 10:54 GMT = 0 o 15 ' 54 "

9. Tinggi Hakiki / Geosentris Hilal ุงุฑุชูุงุน ุงู„ู‡ู„ุงู„ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ูŠ ) / True or Geocentric Altitude of the Crescent Moon) = 8 o 8 ' 42,21 '' = 8,1 derajat ( di atas ufuk / above horizon )

10. Tinggi Lihat / Toposentris Hilal ( ุงุฑุชูุงุน ุงู„ู‡ู„ุงู„ ุงู„ู…ุฑุฆูŠ/ Apparent or Topocentric Altitude of the Crescent Moon ) = 7 o 45 ' 43,74 '' = 7,8 derajat ( di atas ufuk / above horizon )

11. Lama Hilal di atas ufuk ( ุงู„ู‡ู„ุงู„ ููˆู‚ ุงู„ุฃูู‚ ู…ูƒุซ / Long of the Crescent ) = 32 menit 35 detik

12. Azimuth Matahari ( ุณู…ุช ุงู„ุดู…ุณ / Azimuth of the Sun ) = 281 o 35 ' 25 '' atau 281,6 derajat

13. Azimuth Hilal ( ุณู…ุซ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Azimuth of the Crescent ) = 280 o 49 ' 10 o atau 280,8 derajat

14. Posisi Hilal 0 o 46 ' 15 '' atau 0,8 derajat di sebelah Selatan Matahari Terbenam dalam keadaan terlentang dengan kemiringan sebesar 5 o 40 ' 16,53'' atau 5,7 derajat

15. Lebar Nurul Hilal (ุณู…ูƒ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Crescent Widht) = 0 o 15 ' 43,96 '' = 0,2622 jari

16. Berdasarkan Ilmu Astronomi: Ketinggian Hilal Toposentris / Marโ€™i tersebut di atas sebesar 7 o 45 ' 43,44 '' atau 7,8 derajat ( di atas ufuk ) sudah "Imkan ar-Rukyat" sehingga hilal kemungkinan besar bisa dilihat atau dirukyat dengan menggunakan teropong atau teleskop. Dengan demikian: Awal bulan Dzul-Hijjah 1438 H. di Indonesia jatuh pada hari Rabu Kliwon, 23 Agustus 2017 M.

17. Hari Raya Idul Adha, 10 Dzul-Hijhah 1438 H. di Indinesia jatuh pada hari Jum'at Wage, 1 September 2017 M.

CATATAN:
***********
1. Perhitungan diambil berdasarkan pada data Bulan (Moon) dan Matahari (Sun) dari "The Nautical Almanac for the Year 2017", di mana data Bulan dan Matahari tersebut merupakan hasil pantauan satelit ruang angkasa, NASA (National Aeronautics Space and Administration).

2. Keputusan selanjutnya menunggu pengumuman hasil "Sidang Itsbat" Kementerian Agama RI di Jakarta pada hari Selasa malam Rabu, 22 Agustus 2017 M.

3. Selamat Hari Raya Idul Adha, 10 Dzul-Hijjah 1438 H. / 2017 M. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga segala bentuk amal ibadah kita diterima Allah SWT !!!
Amiin yaa rabbal 'alamiin.

Kota Tangerang, 20 Agustus 2017

Wassalam
Thobary Syadzily

***********************************************
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #
***********************************************

HARI RAYA IDUL ADHA 1438 H. DI SAUDI ARABIA: JUM'AT WAGE, 01 SEPTEMBER 2017 M.

REKAP HISAB AWAL DZUL-HIJJAH 1438 H / 2017 M DI MEKKAH, SAUDI ARABIA
MENURUT SISTEM HISAB KONTEMPORER โ€œNAUTICAL ALMANACโ€
(RU'YATUL HILAL: SELASA WAGE, 22 AGUSTUS 2017 M.)

Al-Hasib: KH. Muhammad Thobary Syadzily
(1. Ketua Kajian Lembaga Dakwah PBNU, 2. Tim Pakar Hisab & Rukyat Kemenag RI, dan 3. Ketua "Lajnah al-Falakiyyah" PWNU Provinsi Banten)

=====================================================================

Pusat Observasi Bulan (POB) : Mekkah, Saudi Arabia
Lintang Tempat (ร˜ ) : 21o 25' 22,00'' Lintang Utara
Bujur Tempat ( ฮป ) : 39o 49' 31,00'' Bujur Timur
Tinggi Tempat/ Elevasi ( EL ) : 10 meter di atas Permukaan Laut

======================================================================

1. Ijtimaโ€™ ( ุงุฌุชู…ุงุน / Konjungsi / New Moon ) akhir bulan Dzul-Qaโ€™dah 1438 H terjadi pada hari Selasa Wage, 22 Agustus 2017 M. pada pukul 21 : 30 : 00 Waktu Mekkah Setempat (malam hari)

2. Matahari Terbenam ( ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ/ Sunset ) pada pukul 18 : 46 : 00 Waktu Mekkah Setempat

3. Hilal Terbenam ( ุบุฑูˆุจ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Moonset ) pada pukul 19 : 18 : 22 Waktu Mekkah Setempat

4. Umur Hilal (ุนู…ุฑ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Age of the Crescent Moon ) = 9 jam 16 menit

5. Greenwich Hour Angle (GHA) Bulan pada tgl 22 Agustus 2017 pukul 15:46 GMT = 44 o 23' 02''

6. Deklanasi Bulan tgl 22 Agustus 2017 pukul 15:46 GMT = 8 o 47 ' 31,73''

7. Horizontal Parallax Bulan 22 Agustus 2017 pukul 15:46 GMT = 0 o 58 ' 24 ''

8. Semi Diameter Bulan tgl 01 September 2016 pukul 15:37 GMT = 0 o 15 ' 54 ''

9. Tinggi Hakiki / Geosentris Hilal ุงุฑุชูุงุน ุงู„ู‡ู„ุงู„ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ูŠ ) / True or Geocentric Altitude of the Crescent Moon) = 8 o 32 ' 55,46 '' = 8,5 derajat ( di atas ufuk / above horizon )

10. Tinggi Lihat / Toposentris Hilal ( ุงุฑุชูุงุน ุงู„ู‡ู„ุงู„ ุงู„ู…ุฑุฆูŠ/ Apparent or Topocentric Altitude of the Crescent Moon ) = 8 o 2 ' 53,12 '' = 8,05 derajat ( di atas ufuk / above horizon )

11. Lama Hilal di atas ufuk ( ุงู„ู‡ู„ุงู„ ููˆู‚ ุงู„ุฃูู‚ ู…ูƒุซ / Long of the Crescent ) = 32 menit 12 detik

12. Azimuth Matahari ( ุณู…ุช ุงู„ุดู…ุณ / Azimuth of the Sun ) = 282 o 27 ' 0,69 '' atau 282,5 derajat

13. Azimuth Hilal ( ุณู…ุซ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Azimuth of the Crescent ) = 276 o 8 ' 45,16 " atau 276,1 derajat

14. Posisi Hilal 6 o 18 ' 15,53 '' atau 6,3 derajat di sebelah Selatan Matahari Terbenam dalam keadaan miring ke Utara sebesar 38 o 4 ' 21,66 '' atau 38,1 derajat

15. Lebar Nurul Hilal (ุณู…ูƒ ุงู„ู‡ู„ุงู„ / Crescent Widht) = 0 o 3 ' 8 '' = 0,052222036 jari

16. Berdasarkan Ilmu Astronomi: Ketinggian Hilal Toposentris / Marโ€™i tersebut di atas sebesar 8 o 2 ' 53,12 '' atau 8,05 derajat ( di atas ufuk ) sudah "imkan ar-ru'yat", sehingga Hilal kemungkinan besar bisa dilihat atau dirukyat dengan menggunakan teropong atau teleskop. Dengan demikian: Awal bulan Dzul-Hijjah 1438 H di Saudi Arabia jatuh pada hari Rabu Kliwon, 23 Agustus 2017 M.

12. Wukuf di Padang Arafah tanggal 9 Dzul-Hijjah 1438 H jatuh pada hari Kamis Pon, 31 Agustus 2017 M.

13. Hari Raya Idhul Adha, 10 Dzul-Hijjah 1438 H. di Saudi Arabia jatuh pada hari Jum'at Wage, 01 September 2017 M.

CATATAN:
========
1. Perhitungn diambil berdasarkan data Matahari (Sun) dan data Bulan (Moon) dari "The Nautical Almanac for the Year 2017", di mana data Matahari dan Bulan tersebut hasil pantauan satelit ruang angkasa, NASA (National Aeronautics Space and Administration).

2. Keputusan selanjutnya menunggu pengumuman pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sebagai "shohibul balad").

Kota Tangerang, 20 Agustus 2017 M. / 27 Dzul-Qa'dah 1438 H.

Wassalam

KH. Muhammad Thobary Syadzily

19/08/2017

๐Ÿ“œ *One Day One Hikmah* ๐Ÿ“œ
19 Agutus 2017/ 26 Dzulqaโ€™dah 1438 H

Imam Syafei rahimahullah berkata:

ุฅูู†ู‘ููŠ ุดูŽู‡ูุฏู’ุชู ู…ูŽุงู„ููƒู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุณูุฆูู„ูŽ ุนูŽู†ู’ ุซูŽู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู’ู†ูŽ ู…ูŽุณู’ุฆูŽู„ูŽุฉู‹ ููŽู‚ูŽุงู„ ูููŠ ุงุซู’ู†ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซููŠู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑููŠู’

Artinya: *_โ€œSunggguh aku telah menyaksikan Malik, ketika beliau ditanya tentang empat puluh delapan permasalahan, tiga puluh dua diantaranya beliau menjawab โ€˜tidak tauโ€™.โ€_*

Hikmah:
*1.* Imam Syafeiโ€™ rahimahullah (w. 204 H) merupakan murid langsung dari Imam Malik rahimahullah (w.179 H). Dikisahkan bahwa Imam Syafeiโ€™ telah menghapal kitab hadis karangan Imam Malik (al-Muwattho) pada usia 12 tahun, bahkan sebelum ia bertemu dengan Imam Malik di Madinah. Imam Syafei bermulazamah dengan Imam Malik sampai sang Guru menghembuskan nafas terakhirnya.

*2.* Imam Malik bin Anas rahimahullah sendiri merupakan seorang pendiri mazhab Maliky yang lebih dikenal dengan metodologi mazhabnya yang tekstualis. Imam Malik hidup di bawah kekuasaan awal Dinasti Abbasiyah dan bermukim di kota Nabi Madinah al-Munawwarah. Beliau adalah seorang ahli dalam bidang fikih dan hadis. Kitab al-Muwattho karangannya merupakan kitab kump**an hadis terbaik di zamannya yang sangat diakui oleh para ulama di masa itu. Imam Syafei rahimahullah berkata: โ€œTiada sebuah kitab di muka bumi ini setelah al-Qurโ€™an yang lebih banyak mengandung kebenaran selain dari kitab al-Muwattho.โ€

*3.* Belajar ilmu agama dengan bermulazamah kepada seorang guru merupakan sebuah kewajiban. Dengan didampingi oleh seorang guru yang mumpuni secara riwayat dan dirayat, maka pemahaman terhadap sebuah ilmu akan menyeluruh dan terhindar dari sesat pikir.

*4.* Seorang berilmu bukanlah seseorang yang mampu menjawab semua pertanyaan atau yang mahir dalam mengeluarkan fatwa. Orang berilmu adalah mereka yang memiliki kehati-hatian dalam menjawab permasalahan, hingga tidak terjerumus dalam menisbatkan sesuatu perkara yang bukan syariโ€™at.

*5.* Imam Malik adalah seorang Ahli Fikih terbesar di zamannya, namun beliau tidak malu untuk mengatakan โ€œtidak tauโ€™ kepada permasalahan-permasalahan yang beliau ragu untuk menjawabnya.

*6.* Seorang Alim tidak akan jatuh wibawanya dengan mengatakan tidak tahu, justru hal tersebut menunjukkan ketinggian ilmunya dan keteguhan agamanya serta rasa takutnya kepada Allah Swt. agar terhindar dari menisbatkan sesuatu yang tidak semestinya.

Photos 17/08/2017

SYAIR KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Disusun oleh Habib Idrus bin Salim Al-Jufri / Guru Tua (Palu) saat menyongsong momen Proklamasi 17 Agustus 1945

๏บญ๏บ๏ปณ๏บ” ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏บฐ ๏บญ๏ป“๏บฎ๏ป“๏ปฒ ๏ป“๏ปฒ ๏บณ๏ปค๏บ‚๏บ€ * ๏บƒ๏บญ๏บฟ๏ปฌ๏บŽ ๏ปญ๏บŸ๏บ’๏บŽ๏ปŸ๏ปฌ๏บŽ ๏บง๏ป€๏บฎ๏บ๏บ€

Bendera kemuliaan berkibar di angkasa | hijau daratan dan gunung-gunungnya

๏บ‡๏ปฅ ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏ปƒ๏ป ๏ปฎ๏ป‹๏ปฌ๏บŽ ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏ป“๏บจ๏บฎ * ๏ป‹๏ปˆ๏ปค๏บ˜๏ปช ๏บ๏ปท๏บ‘๏บ‚๏บ€ ๏ปญ๏บ๏ปท๏บ‘๏ปจ๏บ‚๏บ€

Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan | orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya

๏ป›๏ปž ๏ป‹๏บŽ๏ปก ๏ปณ๏ปœ๏ปฎ๏ปฅ ๏ปŸ๏ป ๏ปด๏ปฎ๏ปก ๏บซ๏ป›๏บฎ๏ปฏ * ๏ปณ๏ปˆ๏ปฌ๏บฎ ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปœ๏บฎ ๏ป“๏ปด๏ปฌ๏บŽ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บœ๏ปจ๏บ‚๏บ€

Tiap tahun hari itu menjadi peringatan | muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya

๏ป›๏ปž ๏บƒ๏ปฃ๏บ” ๏ปŸ๏ปฌ๏บŽ ๏บญ๏ปฃ๏บฐ ๏ป‹๏บฐ * ๏ปญ๏บญ๏ปฃ๏บฐ ๏ป‹๏บฐ๏ปง๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บค๏ปค๏บฎ๏บ๏บ€ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บ’๏ปด๏ป€๏บ‚๏บ€

Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan | dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

๏ปณ๏บŽ ๏บณ๏ปฎ๏ป›๏บŽ๏บญ๏ปง๏ปฎ ๏บฃ๏ปด๏ปด๏บ– ๏ป“๏ปด๏ปจ๏บŽ ๏บณ๏ปŒ๏ปด๏บช๏บ * ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บช๏ปญ๏บ๏บ€ ๏ปฃ๏ปจ๏ปš ๏บฏ๏บ๏ป ๏ป‹๏ปจ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บช๏บ๏บ€

Wahai Sukarno! Telah kau jadikan hidup kami bahagia | dengan obat darimu hilang sudah penyakit kami

๏บƒ๏ปณ๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏บ‹๏ปด๏บฒ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บ’๏บŽ๏บญ๏ป™ ๏ป“๏ปด๏ปจ๏บŽ * ๏ป‹๏ปจ๏บช๏ป™ ๏บ๏ปŸ๏ปด๏ปฎ๏ปก ๏ปŸ๏ป ๏ปฎ๏บญ๏ปฏ ๏บ๏ปŸ๏ปœ๏ปค๏ปด๏บ‚๏บ€

Wahai Presiden yang penuh berkah bagi kami | engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat

๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏ปด๏บฎ๏บ๏ป‰ ๏ปญ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บด๏ปด๏บŽ๏บณ๏บ” ๏ป“๏ป˜๏บ˜๏ปข * ๏ปญ๏ปง๏บผ๏บฎ๏บ—๏ปข ๏บ‘๏บฌ๏บ ๏บŸ๏บŽ๏บ‹๏บ– ๏บ๏ปท๏ปง๏บ’๏บ‚๏บ€

Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul | telah datang berita engkau menang dengannya

๏ปป ๏บ—๏บ’๏บŽ๏ปŸ๏ปฎ๏บ ๏บ‘๏บ„๏ปง๏ป”๏บฒ ๏ปญ๏บ‘๏ปจ๏ปด๏ปฆ * ๏ป“๏ปฒ ๏บณ๏บ’๏ปด๏ปž ๏บ๏ปท๏ปญ๏ปƒ๏บŽ๏ปฅ ๏ปง๏ปŒ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏ป”๏บช๏บ๏บ€

Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak | demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

๏บง๏บฌ ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏บ๏ปท๏ปฃ๏บŽ๏ปก ๏ปŸ๏ป ๏ปค๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฒ ๏บ‘๏บ„๏ปณ๏บช๏ปฑ * ๏บณ๏บ’๏ปŒ๏ปด๏ปฆ ๏ปฃ๏ป ๏ปด๏ปฎ๏ปง๏บŽ ๏บƒ๏ปง๏บ– ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บฐ๏ป‹๏ปค๏บ‚๏บ€

Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan | tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin

๏ป“๏บด๏บ˜๏ป ๏ป˜๏ปฐ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏ป‹๏บŽ๏ปณ๏บŽ ๏ป—๏บ’๏ปฎ๏ปป * ๏ปญ๏บณ๏ปค๏บŽ๏ป‹๏บŽ ๏ปŸ๏ปค๏บŽ ๏บ—๏ป˜๏ปฎ๏ปŸ๏ปช ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏บ…๏บณ๏บ‚๏บ€

Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan | dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin

๏ปญ๏บ๏ป‹๏ปค๏บฎ๏ปญ๏บ ๏ปŸ๏ป ๏บ’๏ปผ๏บฉ ๏บฃ๏บด๏บŽ ๏ปญ๏ปฃ๏ปŒ๏ปจ๏ปฐ * ๏ปญ๏บ‘๏บฎ๏ปซ๏ปจ๏ปฎ๏บ ๏ปŸ๏ป ๏ปค๏ปผ ๏บƒ๏ปง๏ปœ๏ปข ๏บƒ๏ป›๏ป”๏บ‚๏บ€

Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual | buktikan kepada masyarakat bahwa engkau mampu

๏บƒ๏ปณ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปฃ๏ป ๏ปœ๏ปœ๏ปข ๏ปญ๏ป›๏ป”๏บŽ๏ป›๏ปข * ๏ป›๏ปž ๏บท๏บฎ ๏บ—๏บค๏ปฎ๏ป›๏ปช ๏บ๏ปท๏ป‹๏บช๏บ๏บ€

Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu | dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh

Photos 26/05/2017

Mutiara hikmah:

Amaliyah para salafuna sholeh di awal Ramadhan. Semoga kita dapat mengikutinya. Amin.

Diantara Amalan Para 'Arifin (Wali Allah) pada awal malam bulan Ramadhan adalah membaca surat Al Fath

ูŠู†ุจุบูŠ ููŠ ุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู† ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู† :ุฃู† ู†ุตู„ูŠ ุฃุฑุจุน ุฑูƒุนุงุช ู†ูู„ุง ู…ุทู„ู‚ุง ุฅู…ุง ุจุชุดู‡ุฏ ูˆุงุญุฏ ูˆุณู„ุงู… ูˆุงุญุฏ ุฃูˆ ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ุจุฐุงุชู‡ุง ูˆู†ู‚ุฑุฃ ููŠูƒู„ ุฑูƒุนุฉ ู…ู‚ุฑุฃ (ุฑุจุน) ู…ู† ุณูˆุฑุฉ ุงู„ูุชุญ.

Dianjurkan pada malam pertama di bulan Ramadhan: Kita sholat sunnah mutlaq empat rakaat, baik dengansatu tasyahhud dan satu salam atau setiap dua rakaat dengan sendirinya. Kita baca pada setiap rakaat 1/4 daripada surat Al Fath

ูˆู‚ุฏ ูˆุฑุฏ ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุฐูŠ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุฎุทูŠุจ ุงู„ุดุฑุจูŠู†ูŠ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุงู„ุชูุณูŠุฑ ููŠ ุงู„ูƒุชุงุจ ุงู„ู…ู†ูŠุฑ ุจุฅุณู†ุงุฏ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…( ุฃู† ู…ู† ุตู„ู‰ ููŠ ุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ุฃุฑุจุน ุฑูƒุนุงุชู‚ุฑุฃ ููŠู‡ุง ุณูˆุฑุฉ ุงู„ูุชุญ ู…ุฑ ุนุงู…ู‡ ูƒู„ู‡ ููŠ ุบู†ู‰ ูˆููŠุฑูˆุงูŠุฉ ู…ุฑ ุนุงู…ู‡ ูƒู„ู‡ ููŠ ุฎูŠุฑ)

Sebagaimana telah terriwayatkan dalam satu Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Khatib Asy Syarbiniy dalam kitabnya At Tafsir fil Kitabil Munir dengan sanad yang bersambung kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : "Siapa Orang yang sholat (sunnah mutlaq) empat rakaat pada malam pertama di bulan Ramadhan, kemudian dia membaca surat Al Fath, dia (akan) lalui setahun penuh dalam kekayaan. Atau dalam riwayat lain dia lalui setahun penuh dalam kebaikan"

ูˆููŠ ุชูุณูŠุฑ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ:ู…ู† ู‚ุฑุฃ ุณูˆุฑุฉ ุงู„ูุชุญ ููŠ ุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ููŠุตู„ุงุฉ ุงู„ุชุทูˆุน ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุฐู„ูƒ ุงู„ุนุงู….

Dan dalam Tafsir Al Imam Qurthubi :"Siapa Orang yang membaca surat Al Fath di dalam sholat sunnahnya pada malam pertama di bulan Ramadhan, ALLAH subhanahu wa ta'ala pelihara dirinya pada tahun itu"

ุงู„ู„ู‡ู… ุจุงุฑูƒ ู„ู†ุง ููŠ ุฑู…ุถุงู† ูˆ ุงุฌุนู„ู†ุง ู…ู† ุตูˆุงู…ู‡ ูˆ ู‚ูˆุงู…ู‡ ูˆ ุงุฌุนู„ู†ุง ู…ู† ุนุชู‚ุงุฆูƒ ูˆ ุทู„ู‚ุงุฆูƒ ูˆ ู†ู‚ุฐุงุฆูƒ ูˆุฃู…ู†ุงุฆูƒ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Ramadhan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpuasa dan beribadah di dalamnya, serta jadikanlah kami termasuk yang Engkau bebaskan, selamatkan, dan amankan dari api neraka

Nb : Maqra Surah Al-Fath dari sebagian Al-Qur'an
1. Dari ayat 1 sampai ayat 102.
Dari ayat 11 sampai ayat 173.
Dari ayat 18 sampai ayat 264.
Dari ayat 27 sampai ayat 29.
Wallahu a'lam.

Photos 15/02/2016

Muslimedianews.com ~ Keputusan Bahtsul Masail Maudhuโ€™iyah PWNU Jawa Timur tentang Islam Nusantara di Universitas Negeri Malang, 13 Februari 2016.

A. Mukadimah
B. Poin-poin Pembahasan
1. Maksud Islam Nusantara
2. Metode Dakwah Islam Nusantara
3. Landasan dalam Menyikapi Tradisi/Budaya
a. Ayat al-Quran dan hadits yang Redaksinya Mengakomodir Tradisi/Budaya Masyarakat
b. Pengakomodiran Tradisi/Budaya Jahiliyah Menjadi Ajaran Islam
c. Pendekatan Terhadap Tradisi/Budaya
d. Melestarikan Tradisi/Budaya yang Menjadi Media Dakwah
4. Sikap dan Toleransi terhadap Pluralitas Agama dan Pemahaman Keagamaan
a. Sikap terhadap Pluralitas Agama
b. Toleransi terhadap Agama Lain
c. Toleransi terhadap Pemahaman Keagamaan Selain Ahlusssunnah wal Jamaโ€™ah
5. Konsistensi Menjaga Persatuan Bangsa untuk Memperkokoh Integritas NKRI

Musahih:
KH. Syafruddin Syarif
KH. Romadlon Khotib
KH. Marzuki Mustamar
KH. Farihin Muhson
KH. Muhibbul Aman Ali

Perumus:
Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I.
H. Azizi Hasbulloh
H. MB. Firjhaun Barlaman
H. Athoillah Anwar
H. M. Mujab, Ph.D

Moderator:
Ahmad Muntaha AM

Notulen:
H. Ali Maghfur Syadzili, S.Pd.I.
H. Syihabuddin Sholeh
H. Muhammad Mughits
Ali Romzi

ISLAM NUSANTARA

Mukadimah

Pakar sejarah Ibn Khaldun (1332-1406 M) dalam karyanya, Muqaddimah (37-38) mengatakan:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญู’ูˆูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูู…ูŽู…ู ูˆูŽุนูŽูˆูŽุงุฆูุฏูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู†ูุญูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ุชูŽุฏููˆู…ู ุนูŽู„ู‰ูฐ ูˆูŽุชููŠุฑูŽุฉู ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุฌู ู…ูุณู’ุชูŽู‚ูุฑู‘ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงุฎู’ุชูู„ูŽุงููŒ ุนูŽู„ู‰ูฐ ุงู„ู’ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฒู’ู…ูู†ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงู†ู’ุชูู‚ูŽุงู„ูŒ ู…ูู†ู’ ุญูŽุงู„ู ุฅูู„ู‰ูฐ ุญูŽุงู„ู. ูˆูŽูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ุฐูฐู„ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ุฎูŽุงุตู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ู‚ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุตูŽุงุฑูุŒ ููŽูƒูŽุฐูฐู„ููƒูŽ ูŠูŽู‚ูŽุนู ูููŠ ุงู„ู’ุขููŽุงู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุทูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฒู’ู…ูู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฏู‘ููˆูŽู„ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽู„ูŽุชู’ ูููŠ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู.

โ€œSungguh keadaan dunia, bangsa-bangsa, adat-istiadat dan keyakinan mereka tidak selalu mengikuti satu model dan sistem yang tetap, melainkan selalu berbeda-beda (berubah) seiring perjalanan hari dan masa, berpindah dari satu kondisi menuju kondisi lainnya. Sebagaimana hal itu terjadi pada manusia, waktu, dan kota, di berbagai kawasan, zaman, dan negeri juga terjadi/berlangsung sunnah Allah (sunnatullah) yang telah terjadi pada hamba-hambaNya.โ€

Di bumi Nusantara (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI) terdapat tradisi dan budaya dalam sistem pengimplementasian ajaran agama, sehingga hal itu menjadi ciri khas Islam di Nusantara yang tidak dimililiki dan tidak ada di negeri lain. Perbedaan tersebut sangat tampak dan dapat dilihat secara riil dalam beberapa hal, antara lain:

1. Dalam implementasi amalan Islam di Nusantara ada tradisi halalbihalal setiap tahun, haul, silaturrahim setiap hari raya (Idul Fitri), hari raya ketupat, baca sholawat diiringi terbangan, sedekahan yang diistilahkan selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, tingkepan, sepasaran bayi, sepasaran pengantin, arak-arak pengantin yang meliputi undang mantu, ngunduh mantu, sekaligus diadakan Walimatul โ€˜Urs baik oleh keluarga wanita maupun keluarga laki-laki, dan tradisi lainnya.

2. Dalam hal berpakaian ada yang memakai sarung, berkopyah, pakaian adat Betawi, Jawa, Papua, Bali, Madura, dan masih banyak model pakian adat lain, terutama telihat dalam pakaian pernikahan dimana pengantin dirias dan dipajang di pelaminan, dan lain sebagainya.

3. Dalam hal toleransi pengamalan ajaran Islam, ada yang shalat Id di lapangan, masjid, musalla, bahkan ada hari raya dua kali. Ada yang shalat Tarawih 20 rakaat, ada p**a yang 8 rakaat. Diantara pelaksanaan Tarawih ada yang memisahnya dengan taradhi bagi empat al-Khulafaโ€™ ar-Rasyidin, dengan shalawat, dan ada yang memisahnya dengan doa. Dalam acara akikah ada yang diisi dengan shalawatan, dan ada yang diisi tahlilan, dan selainnya.

4. Dalam hal toleransi dengan budaya yang mengandung sejarah atau ajaran, ada di sebagian daerah dilarang menyembelih sapi seperti di Kudus Jawa tengah yang konon merupakan bentuk toleransi Sunan Kudus pada ajaran Hindu yang menyucikannya, adat pengantin dengan menggunakan janur kuning, kembang mayang, dan selainnya.

5. Dalam toleransi dengan agama lain ada hari libur nasional karena hari raya Islam, hari raya Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan ada hari libur lainnya.

Kemudian Islam Nusantara menjadi tema utama pada Muktamar NU ke 33 di Jombang. Munculnya istilah Islam Nusantara mengundang reaksi yang beragam, baik yang pro maupun yang kontra sejak sebelum Muktamar digelar sampai sekarang. Karena itu, PW LBM NU Jawa Timur memandang sangat perlu membuat rumusan tentang Islam Nusantara secara objektif dan komprehensif dalam rangka menyatukan persepsi tentang Islam Nusantara.

Pembahasan

1. Maksud Islam Nusantara

Islam adalah agama yang dibawa Rasulullah Saw., sedangkan kata โ€œNusantaraโ€ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sebutan atau nama bagi seluruh kep**auan Indonesia. Wikipedia menambahkan, wilayah kep**auan yang membentang dari Sumatera sampai Papua itu, sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia. Ketika penggunaan nama โ€œIndonesiaโ€ (berarti Kep**auan Hindia) disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kep**auan Indonesia. Pengertian ini sampai sekarang dipakai di Indonesia.

Sebenarnya belum ada pengertian definitif bagi Islam Nusantara. Namun demikian Islam Nusantara yang dimaksud NU adalah: a) Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya, yang diantara tujuannya untuk mengantisipasi dan membentengi umat dari paham radikalisme, liberalisme, Syiโ€™ah, Wahabi, dan paham-paham lain yang tidak sejalan dengan Ahlussunnah wal Jama'ah, sebagaimana tersirat dalam penjelasan Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyโ€™ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah (h. 9):

ููŽุตู’ู„ูŒ ูููŠู’ ุจูŽูŠูŽุงู†ู ุชูŽู…ูŽุณู‘ููƒู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุฌูŽุงูˆูŽู‰ ุจูู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูุŒ ูˆูŽุจูŽูŠูŽุงู†ู ุงุจู’ุชูุฏูŽุงุกู ุธูู‡ููˆู’ุฑู ุงู„ุจูุฏูŽุนู ูˆูŽุงู†ู’ุชูุดูŽุงุฑูู‡ูŽุง ูููŠ ุฃูŽุฑู’ุถู ุฌูŽุงูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽุจูŽูŠูŽุงู†ู ุฃูŽู†ู’ูˆูŽุงุนู ุงู„ู…ูุจู’ุชูŽุฏูุนููŠู’ู†ูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฒู‘ูŽู…ูŽุงู†ู. ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู’ุง ุงู„ุฃูŽู‚ู’ุทูŽุงุฑู ุงู„ุฌูŽุงูˆููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฒู’ู…ูŽุงู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุงู„ูููŽุฉู ุงู„ุฎูŽุงู„ููŠูŽุฉู ู…ูุชู‘ูŽููู‚ููŠ ุงู„ุขุฑูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ูˆูŽู…ูุชู‘ูŽุญูุฏููŠ ุงู„ู…ูŽุฃู’ุฎูŽุฐู ูˆูŽุงู„ู…ูŽุดู’ุฑูŽุจูุŒ ููŽูƒูู„ู‘ูู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ููู‚ู’ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ู†ู‘ูŽูููŠู’ุณู ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุฅูุฏู’ุฑููŠู’ุณุŒ ูˆูŽูููŠ ุฃูุตููˆู’ู„ู ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู ุงู„ุฃูŽุดู’ุนูŽุฑููŠุŒ ูˆูŽูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽุตูŽูˆู‘ููู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ุบูŽุฒุงู„ููŠ ูˆูŽุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุญูŽุณูŽู†ู ุงู„ุดู‘ูŽุงุฐูู„ููŠ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ.

Selain itu, Islam Nusantara menurut NU juga dimaksudkan sebagai b) metode (manhaj) dakwah Islam di bumi Nusantara di tengah penduduknya yang multi etnis, multi budaya, dan multi agama yang dilakukan secara santun dan damai, seperti tersirat dalam pernyataan Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori Tuban dalam Ahla al-Musamarah fi Hikayah al-Auliya al-โ€˜Asyrah, (h. 23-24) saat menghikayatkan dakwah santun Sayyid Rahmat (Sunan Ampel):

ุซู… ู‚ุงู„ ุงู„ุณูŠุฏ ุฑุญู…ุฉ ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠูˆุฌุฏ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฌุฒูŠุฑุฉ ู…ุณู„ู… ุฅู„ุง ุฃู†ุง ูˆุฃุฎูŠ ุงู„ุณูŠุฏ ุฑุฌุง ูู†ุฏูŠุชุง ูˆุตุงุญุจูŠ ุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ. ูู†ุญู† ุฃูˆู„ ู…ุณู„ู… ููŠ ุฌุฑูŠุฑุฉ ุฌุงูˆู‡ โ€ฆ ูู„ู… ูŠุฒู„ ุงู„ุณูŠุฏ ุฑุญู…ุฉ ูŠุฏุนูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ุฅู„ู‰ ุฏูŠู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุฅู„ู‰ ุนุจุงุฏุชู‡ ุญุชู‰ ุฃุชุจุนู‡ ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุฌู…ูŠุน ุฃู‡ู„ ุนู…ููŠู„ ูˆู…ุง ุญูˆู„ู‡ ูˆุฃูƒุซุฑ ุฃู‡ู„ ุณูˆุฑุจุงูŠุง. ูˆู…ุง ุฐู„ูƒ ุฅู„ุง ุจุญุณู† ู…ูˆุนุธุชู‡ ูˆุญูƒู…ุชู‡ ููŠ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ูˆุญุณู† ุฎู„ู‚ู‡ ู…ุน ุงู„ู†ุงุณ ูˆุญุณู† ู…ุฌุงุฏู„ุชู‡ู… ุฅูŠุงู‡ู… ุงู…ุชุซุงู„ุง ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฏูู„ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุงู„ุขูŠุฉ (ุงู„ู†ุญู„: 125) ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆูŽุงุฎู’ููุถู’ ุฌูŽู†ูŽุงุญูŽูƒูŽ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ (ุงู„ุญุฌุฑ: 88)ุŒ ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุงู†ู’ู‡ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽุฒู’ู…ู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู (ู„ู‚ู…ุงู†: 17). ูˆู‡ูƒุฐุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆู…ุดุงูŠุฎู‡ู… ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุทุฑูŠู‚ุฉ ุญุชู‰ ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ูŠุฏุฎู„ูˆู† ููŠ ุฏูŠู† ุงู„ู„ู‡ ุฃููˆุงุฌุง.

Dalam kitab yang sama, Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori juga memaparkan dakwah Maulana Ishaq (paman Sunan Ampel) yang didahului dengan khalwat untuk riyadhah (tirakat) menjaga konsistensi mengamalkan syariat, baik ibadah fardhu maupun sunnah. Kemudian dengan karamahnya mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu putri Minak Sembayu Raja Blambangan Banyuwangi yang sedang sakit dan tidak dapat disembuhkan para tabib saat itu, sehingga dinikahkan dengannya dan diberi hadiah separuh wilayah Blambangan. Jasa besar, posisi strategis, dan keistikamahan dakwahnya menjadi sebab keberhasilan dakwahnya mengislamkan banyak penduduk Blambangan, Banyuwangi (Ahla al-Musamarah, h. 24-26).

2. Metode Dakwah Islam Nusantara

Sampai kini masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan tentang masuknya Islam di Nusantara. Diantara yang menjelaskannya adalah ulama Nusantara Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori dalam Ahla al-Musamarah, Islam masuk ke Nusantara (Jawa secara lebih khusus) pada akhir abad keenam Hijriyyah, bersamaan dengan kedatangan Sayyid Rahmat dan Sayyid Raja Pandita dari Negeri Campa (Vietnam sekarang) ke Majapahit untuk menjenguk bibinya, Martanigrum, yang menjadi istri Raja Brawijaya. Sementara menurut Sayyid Muhammad Dhiyaโ€™ Syahab, dalam taโ€™liqatnya atas kitab Syams adz-Dzahirah, Sayyid Ali Rahmat datang ke Jawa pada 751 H (1351 M). Meskipun demikian, semua sepakat bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan dakwah santun dan penuh hikmah.

Metode dakwah Islam Nusantara yang ramah, santun dan penuh hikmah, setidaknya meliputi metode dakwah Islam Nusantara masa Walisongo dan masa kekinian. Pertama, metode dakwah Islam Nusantara pada masa Walisongo sebagaimana tergambar dalam Ahla al-Musamarah fi al-Auliya al-โ€˜Asyrah yang antara lain dengan:
a. Pendidikan: pendidikan agama Islam yang kokoh meliputi syariat, tarekat, dan hakikat sebagaimana pendidikan yang dilangsungkan oleh Sunan Ampel.
b. Kaderisasi: menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah, dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mampu menjadi pimpinan yang mengayomi sekaligus disegani di tengah masyarakatnya dan mampu mengajaknya untuk memeluk agama Islam, seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan pamannya, Maulana Ishaq, dalam mendidik anak-anak dan murid-muridnya.
c. Dakwah: konsistensi menjalankan dakwah yang ramah dan penuh kesantunan sebagaimana dakwah Walisongo sehingga menarik simpati dan relatif diterima masyarakat luas.
d. Jaringan: jaringan dakwah yang kokoh, sistematis, dan terorganisir, penyebaran murid-murid Sunan Ampel. Sunan Bonang di Lasem dan Tuban, Sunan Gunungjati di Cirebon, Sunan Giri di Tandes, Raden Fatah di Bintoro, Sunan Drajat di Lamongan dan Sedayu, dan selainnya.
e. Budaya: seperti pendirian masjid sebagai pusat peradaban Islam, seperti masjid Ampel, Masjid Demak.
f. Politik: politik li iโ€™lai kalimatillah yang bersentral pada musyawarah ulama.

(Referensi: Ahla al-Musamarah, h. 14-48 dan Syams adz-Dzahirah, I/525).

Kedua, metode dakwah Islam Nusantara di masa kini secara prinsip sama dengan metode dakwah di masa Walisongo, meskipun dalam strateginya perlu dilakukan dinamisasi sesuai tantangan zaman, dengan tetap berpijak pada aturan syarโ€™i. Secara terperinci metode tersebut dapat dilakukan dengan:
a. Berdakwah dengan hikmah, mauโ€™idzah hasanah, dan berdialog dengan penuh kesantunan.
b. Toleran terhadap budaya lokal tidak bertentangan dengan agama.
c. Memberi teladan dengan al-akhlak al-karimah.
d. Memprioritaskan mashlahah โ€˜ammah daripada mashlahah khasshah.
e. Berprinsip irtikab akhaff ad-dhararain.
f. Berprinsip darโ€™ al-mafasid muqaddam โ€˜ala jalb al-mashalih.

Ulama sepakat mashlahah yang dijadikan dasar adalah mashlahah yang punya pijakan syariat, sehingga mashlahah yang mengikuti hawa nafsu ditolak. Sebab, bila mashlahah dikembalikan kepada manusia maka standarnya akan berbeda-beda sesuai kepentingan masing-masing. Inilah yang melatarbelakangi rumusan fikih dikembalikan pada madzahib mudawwan (mazhab yang terkodifikasi). Allah Swt. berfirman:

ูŠููˆุตููŠูƒูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ูููŠ ุฃูŽูˆู’ู„ุงูŽุฏููƒูู…ู’ ู„ูู„ุฐู‘ูŽูƒูŽุฑู ู…ูุซู’ู„ู ุญูŽุธู‘ู ุงู„ุฃูู†ุซูŽูŠูŽูŠู’ู†ู ููŽุฅูู† ูƒูู†ู‘ูŽ ู†ูุณูŽุงุก ููŽูˆู’ู‚ูŽ ุงุซู’ู†ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููŽู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุซูู„ูุซูŽุง ู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุฅูู† ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูุตู’ูู ูˆูŽู„ุฃูŽุจูŽูˆูŽูŠู’ู‡ู ู„ููƒูู„ู‘ู ูˆูŽุงุญูุฏู ู…ู‘ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุงู„ุณู‘ูุฏูุณู ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุฅูู† ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุฏูŒ ููŽุฅูู† ู„ู‘ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู† ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุฏูŒ ูˆูŽูˆูŽุฑูุซูŽู‡ู ุฃูŽุจูŽูˆูŽุงู‡ู ููŽู„ุฃูู…ู‘ูู‡ู ุงู„ุซู‘ูู„ูุซู ููŽุฅูู† ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูุฎู’ูˆูŽุฉูŒ ููŽู„ุฃูู…ู‘ูู‡ู ุงู„ุณู‘ูุฏูุณู ู…ูู† ุจูŽุนู’ุฏู ูˆูŽุตููŠู‘ูŽุฉู ูŠููˆุตููŠ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฏูŽูŠู’ู†ู ุขุจูŽุขุคููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุจู†ุงุคููƒูู…ู’ ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฑููˆู†ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุจู ู„ูŽูƒูู…ู’ ู†ูŽูู’ุนุงู‹ ููŽุฑููŠุถูŽุฉู‹ ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ุง ุญูŽูƒููŠู…ู‹ุง. (ุงู„ู†ุณุงุก: 11)
ูˆูŽู„ูŽูˆู ุงุชู‘ูŽุจูŽุนูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽุงุกูŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽููŽุณูŽุฏูŽุชู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ. (ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู†: 71).
ุงูŽู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู…ูู† ุฑู‘ูŽุจู‘ููƒูŽ ููŽู„ุงูŽ ุชูŽูƒูู† ู…ู‘ูู† ุงู„ู’ู…ูู…ู’ุชูŽุฑููŠู†ูŽ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู†: 60)

Imam al-Ghazali dalam al-Mustashfa mengatakan, orang menganggap mashlahah tanpa dasar dalil syarโ€™i maka batal. Beliau juga mengatakan, mashlahah yang dilegalkan syaraโ€™ adalah menjaga al-kulliyah al-khams, yakni:
a. Melindungi agama
b. Melindungi nyawa
c. Melindungi akal
d. Melilndungi keturunan
e. Melindungi harta.

Terkait mashlahah mursalah atau munasib mursal yang diutarakan Imam Malik, maka fuqaha Syafiโ€™iyyah, Hanafiyah dan bahkan Ashab Imam Malik sendiri telah melarang mencentuskan hukum dengan dalil mashlahah mursalah. Lalu apa maksud maslahah mursalah Imam Malik ini? Jika Imam Malik memang melegalkan mashlahah mursalah, maka ulama menginterpretasikan bahwa yang dimaksud Imam Malik adalah al-mashlahah ad-dharuriyyah al-kulliyyah al-qathโ€™iyyah, bukan dalam setiap mashlahah.

Seperti halnya dalam kondisi perang, tentara kafir menjadikan sejumlah orang Islam sebagai perisai, padahal andaikan mereka berhasil menerobos maka berakibat fatal karena dapat menguasai/menjajah negeri kaum Muslimin, sedangkan bila diserang jelas-jelas akan menjamin keamanan bagi kaum Muslimin yang lebih banyak, namun pasti mengorbankan sejumlah orang Islam yang dijadikan sebagai perisai tersebut. Dalam kasus ini, penyerangan terhadap mereka sangat ideal dan kemaslahatannya sangat nyata (termasuk kategori al-mashlahah ad-dharuriyyah al-kulliyyah al-qathโ€™iyyah), meskipun tidak terdapat penjelasan dari syaraโ€™ apakah diiโ€™tibar atau diilghaโ€™kan. Dalam kasus ini Imam Malik membolehkan penyerangan dengan dalil mashlahah mursalah, tidak dalam semua mashlahah.

Cara mengaplikasikan kaidah maslahah dalam realitas saat ini adalah dengan:
a. Mengembalikannya pada dalil-dalil syariat.
b. Bemilah-milah antara hukum yang bersifat taโ€™abbudi (dogmatif) dengan hukum taโ€™aqquli (yang diketahui maksudnya).
c. Membedakan antara hikmah dan โ€˜illat.

(Referensi: Al-Bahr al-Madid, IV/95, Tafsir al-Bahr al-Muhith, VI/48, al-Mahshul fi โ€˜Ilm al-Ushul, V/172-175, al-Mustashfa, VI/48, al-Ihkam, IV/160, at-Taqrir wa at-Tahbir, III/149, Tafsir al-Bahr al-Muhith, VI/48, dan Tafsir al-Bahr al-Muhith, VI/48).

3. Landasan dalam Menyikapi Tradisi/Budaya

Islam tidak anti terhadap tradisi/budaya, bahkan sebaliknya Islam akomodatif padanya. Hal ini setidaknya dapat dibuktikan dengan dua hal, yaitu berbagai ayat al-Quran dan hadits yang dalam redaksinya mengakomodir tradisi/budaya; dan beberapa tradisi/budaya jahiliyah menjadi ajaran Islam. Selain itu, dakwah Islam di Nusantara ketika berhadapan dengan berbagai tradisi/budaya bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan sebagaimana akan dijelaskan.

a. Redaksi Ayat Al-Quran dan Hadits yang Mengakomodir Tradisi/Budaya Masyarakat

Pertama, ayat tentang riba:

ูŠุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู„ุงูŽ ุชูŽุฃู’ูƒูู„ููˆุง ุงู„ุฑู‘ูุจูŽุง ุฃูŽุถู’ุนูŽุงูู‹ุง ู…ูุถูŽุงุนูŽููŽุฉู‹ ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู† :13)

Jika dipahahami dari makna literalnya, riba yang dilarang dalam ayat ini hanya riba yang berlipat-ganda, bukan riba yang sedikit. Tetapi tidak ada satupun pendapat Imam Mujtahid yang membolehkannya meskipun sedikit. Sebab kata ุฃูŽุถู’ุนูŽุงูู‹ุง ู…ูุถูŽุงุนูŽููŽุฉู‹ merupakan pengakomodasian budaya kafir jahiliyyah dimana saat itu mereka berlomba-lomba dan bangga dengan riba yang berlipat ganda.

Kedua, ayat tentang menikahi anak tiri:

ูˆูŽุฑูŽุจูŽุงุฆูุจููƒูู…ู ุงู„ู„ุงู‘ูŽุชููŠ ูููŠ ุญูุฌููˆุฑููƒูู…ู’ ู…ูู†ู ู†ูุณูŽุงุฆููƒูู…ู ุงู„ู„ุงู‘ูŽุชููŠ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽู„ุงูŽ ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู… (ุงู„ู†ุณุงุก: 23)

Secara literal ayat ini hanya menyebutkan keharaman menikahi anak tiri yang ibunya sudah disetubuhi jika anak tiri tersebut dirawat ayah tirinya. Tapi tidak ada satupun Imam Mujtahid yang menghalalkan orang menikahi anak tiri yang ibunya sudah disetubuhi, baik anak tersebut dirawat ayah tirinya ataupun tidak. Sebab penyebutan kata ูููŠ ุญูุฌููˆุฑููƒูู…ู’ merupakan pengakomodasian budaya jahiliyyah dimana jika ada percerian maka anak perempuan mereka cenderung mengikuti ibunya meskipun harus hidup bersama ayah tiri, daripada mengikuti ayahnya tapi harus hidup bersama ibu tiri, karena biasanya yang kejam adalah ibu tiri bukan ayah tiri.

Ketiga, ayat tentang perempuan dan laki-laki jalang:

ุงูŽู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽุงุชู ู„ูู„ู’ุฎูŽุจููŠุซููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซููˆู†ูŽ ู„ูู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู„ูู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจููˆู†ูŽ ู„ูู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู…ูุจูŽุฑู‘ูŽุกููˆู†ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู… ู…ู‘ูŽุบู’ููุฑูŽุฉูŒ ูˆูŽุฑูุฒู’ู‚ูŒ ูƒูŽุฑููŠู…ูŒ. (ุงู„ู†ูˆุฑ: 26)

Dalam ayat ini p**a, secara literal Allah menjelaskan bahwa wanita jalang untuk pria jalang, dan sebaliknya; dan wanita shalihah untuk pria shalih dan sebaliknya. Tapi dalam syariat tidak diharamkan wanita jalang bersuami pria shalih dan sebaliknya. Penjelasan ayat di atas hanya sekedar mengakomodir budaya, yakni orang-orang baik biasanya akan memilih orang-orang baik dan sebaliknya. Selain itu, masih banyak ayat redaksinya mengakomodir budaya, sehingga secara implisit mengajarkan agar melestarikan budaya.

Keempat, anjuran untuk menjaga etika daripada melaksanakan perintah yang tidak wajib. Meskipun ada hadits yang melarang berdiri karena kedatangan Nabi Saw., namun dalam hadits lain beliau membiarkan Hassan Ra. berdiri menghormatinya sesuai tradisi masyarakat Arab. Bahkan di hadits lain beliau memerintahkan para sahabat untuk berdiri menghormati Muโ€™adz bin Jabal Ra.:

ุนูŽู†ู’ ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฃูŽุจูŽุง ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ูŽ ุณูŽู‡ู’ู„ู ุจู’ู†ู ุญูู†ูŽูŠู’ูู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฃูŽุจูŽุง ุณูŽุนููŠุฏู ุงู„ู’ุฎูุฏู’ุฑูู‰ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุฒูŽู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ู‚ูุฑูŽูŠู’ุธูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญููƒู’ู…ู ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ู…ูุนูŽุงุฐู ููŽุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุนู’ุฏู ููŽุฃูŽุชูŽุงู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูู…ูŽุงุฑู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฏูŽู†ูŽุง ู‚ูŽุฑููŠุจู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู„ูู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ยซ ู‚ููˆู…ููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽูŠู‘ูุฏููƒูู…ู’ โ€“ ุฃูŽูˆู’ ุฎูŽูŠู’ุฑููƒูู…ู’ . (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

(Referensi: Rawaiโ€™ al-Bayan, I/292-293 dan 1455 dan Iโ€™anah ath-Thalibin, III/305).

b. Pengakomodiran Tradisi/Budaya Jahiliyah Menjadi Ajaran Islam

Pertama, tradisi puasa Asyura yang biasa dilakukan masyarakat Jahiliyah diakomodir menjadi kesunnahan dalam Islam:

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู โ€“ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง โ€“ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽ ููŽูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ูŠูŽุตููˆู…ููˆู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ููŽุณูุฆูู„ููˆุง ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ุฃูŽุธู’ู‡ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠู‡ู ู…ููˆุณูŽู‰ ูˆูŽุจูŽู†ูู‰ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ูŽ ููŽู†ูŽุญู’ู†ู ู†ูŽุตููˆู…ูู‡ู ุชูŽุนู’ุธููŠู…ู‹ุง ู„ูŽู‡ู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ยซ ู†ูŽุญู’ู†ู ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุจูู…ููˆุณูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ยป. ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู. (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

Kedua, tradisi akikah yang pada masa Jahiliyah diakomodir menjadi kesunnahan dalam Islam, kecuali kebiasaan mengolesi kepala bayi dengan darah hewan akikah diganti dengan mengolesinya dengan minyak wangi:

ุนูŽู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุจูุฑูŽูŠู’ุฏูŽุฉุŒ ุนูŽู† ุฃูŽุจููŠู‡ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูƒูู†ู‘ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉ ุฅูุฐุง ูˆู„ุฏ ู„ูุฃูŽุญูŽุฏูู†ูŽุง ุบูู„ูŽุงู… ุฐุจุญ ุดูŽุงุฉ ูˆู„ุทุฎ ุฑูŽุฃุณู‡ ุจุฏู…ู‡ุงุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡ ุจูุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุฐู’ุจูŽุญู ุดูŽุงุฉู‹ ูˆู†ุญู„ู‚ ุฑูŽุฃุณู‡ ูˆู†ู„ุทุฎู‡ ุจุฒุนูุฑุงู†. (ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุงูƒูู…. ุตูŽุญููŠุญ)

Ketiga, ritual-ritual haji. Seperti thawaf yang sudah menjadi tradisi kaum Jahiliyyah dalam Islam ditetapkan sebagai salah satu ritual haji, namun dengan mengganti kebiasaan telanjang di dalamnya dengan pakaian ihram.

Keempat, kebolehan untuk menerima hadiah makanan dari tradisi kaum Majusi di hari raya mereka selain daging sembelihannya.

(Referensi: Syarh an-Nawawi โ€˜ala Shahih Muslim, VIII/9, as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Ishaq, III/305, dan Mushannaf Ibn Abi Syaibah, XII/249).

c. Pendekatan Terhadap Tradisi/Budaya

Dalam tataran praktik dakwah Islam di Nusantara, ketika berhadapan dengan berbagai tradisi/budaya bisa digunakan empat pendekatan (approach), yaitu adaptasi, netralisasi, minimalisasi, dan amputasi.

Pertama pendekatan adaptasi, dilakukan untuk menyikapi tradisi/budaya yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syariat (tidak haram). Bahkan hal ini merupakan implementasi dari al-akhlaq al-karimah yang dianjurkan oleh Nabi Saw. Tradisi/budaya yang disikapi dengan pendekatan adaptasi mencakup tradisi/budaya yang muncul setelah Islam berkembang maupun sebelumnya. Seperti tradisi bahasa kromo inggil dan kromo alus dalam masyarakat Jawa untuk sopan santun terhadap orang yang lebih tua.

ุนู† ู…ุนุงุฐู ุจู†ู ุฌุจู„ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุงุŒ ุนู† ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงุชู‘ูŽู‚ู ุงู„ู„ู‡ ุญูŽูŠู’ุซูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูŽ ูˆูŽุฃุชู’ุจุนู ุงู„ุณู‘ูŽูŠู‘ูุฆูŽุฉูŽ ุงู„ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŽ ุชูŽู…ู’ุญูู‡ูŽุง ูˆูŽุฎูŽุงู„ูู‚ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุจูุฎูู„ูู‚ู ุญูŽุณูŽู†ู. (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠุŒ ูˆูŽู‚ุงู„ูŽ: ุญุฏูŠุซ ุญุณู†)

Kedua pendekatan netralisasi, dilakukan untuk menyikapi tradisi/budaya yang di dalamnya tercampur antara hal-hal yang diharamkan yang dapat dihilangkan dan hal-hal yang dibolehkan. Netralisasi terhadap budaya seperti ini dilakukan dengan menghilangkan keharamannya dan melestarikan selainnya. Allah berfirman:

ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุถูŽูŠู’ุชูู…ู’ ู…ูŽู†ูŽุงุณููƒูŽูƒูู…ู’ ููŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุฐููƒู’ุฑููƒูู…ู’ ุขูŽุจูŽุงุกูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ุฐููƒู’ุฑู‹ุง ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุขูŽุชูู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ูŽุงู‚ู. (ุงู„ุจู‚ุฑุฉ: 200)

Dalam menjelaskan sabab an-nuzul ayat ini Imam Mujahid menyatakan, bahwa orang-orang Jahiliyah seusai melaksanakan ibadahnya biasa berkumpul dan saling membangga-banggakan nenek moyang dan nasab mereka yang jelas-jelas dilarang dalam Islam, kemudian turun ayat tersebut yang tidak melarang perkump**annya namun hanya memerintahkan agar isinya diganti dengan dzikir kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menganjurkan penghapusan tradisi/budaya secara frontal, namun menganjurkan untuk meluruskan hal-hal yang belum lurus saja.

Ketiga pendekatan minimalisasi, dilakukan untuk menyikapi budaya yang mengandung keharaman yang belum bisa dihilangkan seketika. Minimalisasi budaya semacam ini dilakukan dengan cara: a) mengurangi keharamannya sebisa mungkin, yaitu dengan menggantinya dengan keharaman yang lebih ringan secara bertahap sampai hilang atau minimal berkurang; b) membiarkannya sekira keharaman tersebut dapat melalaikan pelakunya dari keharaman lain yang lebih berat.

Keempat pendekatan amputasi, dilakukan untuk menyikapi budaya yang mengandung keharaman yang harus dihilangkan. Amputasi terhadap budaya semacam ini dilakukan secara bertahap, seperti terhadap keyakinan animisme dan dinamisme. Meskipun dilakukan dengan cara menghilangkan hingga ke akarnya, pendekatan ini dilakukan secara bertahap. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. dalam menyikapi keyakinan paganisme di masyarakat Arab menghancurkan fisik berhala-berhala, berikut berhala keyakinan, pemikiran, dan kebudayaannya. Tradisi tersebut berhasil dihilangkan, namun baru terlaksana secara massif pada peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fath Makkah) pada 630 M/8 H, atau saat dakwah Islam telah berusia 21 tahun.

ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ :ุฏุฎู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู…ูƒุฉ ูˆุญูˆู„ ุงู„ุจูŠุช ุณุชูˆู† ูˆุซู„ุงุซู…ุงุฆุฉ ู†ุตุจ ูุฌุนู„ ูŠุทุนู†ู‡ุง ุจุนูˆุฏ ููŠ ูŠุฏู‡ ูˆูŠู‚ูˆู„: ุฌุงุก ุงู„ุญู‚ ูˆุฒู‡ู‚ ุงู„ุจุงุทู„ ุฅู† ุงู„ุจุงุทู„ ูƒุงู† ุฒู‡ูˆู‚ุง. ุฌุงุก ุงู„ุญู‚ ูˆู…ุง ูŠุจุฏุฆ ุงู„ุจุงุทู„ ูˆู…ุง ูŠุนูŠุฏ. (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

(Referensi: Mirqah Shuโ€™ud at-Tasydiq fi Syarh Sulam at-Taufiq, 61, Majmaโ€™ az-Zawaโ€™id, VIII/347, Asbab an-Nuzul karya al-Wahidhi, I/39, Ihya โ€˜Ulum ad-Din, III/62, dan Iโ€™lam al-Muwaqqiโ€™in, III/12).

d. Melestarikan Tradisi/Budaya yang Menjadi Media Dakwah

Tradisi/Budaya yang telah menjadi media dakwah dan tidak bertentangan dengan agama, semestinya dilestarikan. Sebagaimana tradisi kirim doa untuk mayit pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 dari kematiannya, sebab tidak bertentangan dengan agama dan justru menarik masyarakat berkirim doa bagi orang-orang yang telah meninggal. Sebab jika tradisi ini dihilangkan, kebiasaan kirim doa juga akan ikut hilang atau berkurang.

Namun bila di tempat atau waktu tertentu tidak efektif dan justru kontra produktif bagi dakwah Islam di Nusantara, maka tradisi tersebut semestinya diubah secara arif dan bertahap sesuai kepentingan dakwah (dikembalikan pada prinsip mashlahah).

Referensi: Referensi Metode Dakwah Islam Nusantara, Nihayah az-Zain, 281, Majmaโ€™ az-Zawaโ€™id, VIII/347, al-Adam as-Syarโ€™iyyah, II/114, dan Ihya โ€˜Ulum ad-Din, III/62).

4. Sikap dan Toleransi terhadap Pluralitas Agama dan Pemahaman Keagamaan

a. Sikap terhadap Pluralitas Agama

Pertama, meyakini bahwa pluralitas agama (perbedaan agama, bukan pluralisme menyakini kebenaran semua agama) di dunia merupakan sunnatullah. Ini seharusnya yang menjadi asas dalam amr maโ€™ruf nahi munkar, sehingga jelas tujuannya untuk melakukan perintah Allah, bukan untuk benar-benar berhasil menghilangkan semua kemungkaran dari muka bumi yang justru dalam prosesnya sering melanggar prinsip-prinsipnya.

.. ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุดูŽุงุก ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ูŽูƒูู† ู„ู‘ููŠูŽุจู’ู„ููˆูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ู…ูŽุข ุขุชูŽุงูƒูู… ููŽุงุณู’ุชูŽุจูู‚ููˆุง ุงู„ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุงุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ู…ูŽุฑู’ุฌูุนููƒูู…ู’ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู… ุจูู…ูŽุง ูƒูู†ุชูู…ู’ ูููŠู‡ู ุชูŽุฎู’ุชูŽู„ููููˆู†ูŽ (ุงู„ู…ุงุฆุฏุฉ: 48)

Kedua, memperkuat keyakinan atas kebenaran ajaran Islam; tidak mengikuti ajaran agama lain dan menghindari memaki-maki penganutnya. Allah Swt. berfirman:

ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุณูุจู‘ููˆุงู’ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ู…ูู† ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽูŠูŽุณูุจู‘ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽุฏู’ูˆู‹ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูู„ู’ู…ู ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฒูŽูŠู‘ูŽู†ู‘ูŽุง ู„ููƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุนูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู… ู…ู‘ูŽุฑู’ุฌูุนูู‡ูู…ู’ ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆูู‡ูู… ุจูู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุงู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†. (ุงู„ุงู†ุนุงู…: 108)

Ketiga, menolak dakwah yang bertentangan dengan Islam dengan cara terbaik dan bijaksana, serta menunjukkan kebaikan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ู‚ูŽูˆู’ู„ุงู‹ ู…ู‘ูู…ู‘ูŽู† ุฏูŽุนูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุนูŽู…ูู„ูŽ ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู†ููŠ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ. ูˆูŽู„ุง ุชูŽุณู’ุชูŽูˆููŠ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽู„ุง ุงู„ุณู‘ูŽูŠู‘ูุฆูŽุฉู ุงุฏู’ููŽุนู’ ุจูุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูŽ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุงูˆูŽุฉูŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ููŠู‘ูŒ ุญูŽู…ููŠู…ูŒ. (ูุตู„ุช: 33-34)

Keempat, amr maโ€™ruf nahi munkar dengan arif dan bijaksana. Allah Swt. berfirman:

ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฏูู„ู’ู‡ูู… ุจูุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู† ุถูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู† ุณูŽุจููŠู„ูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุงู„ู’ู…ูู‡ู’ุชูŽุฏููŠู†ูŽ. (ุงู„ู†ุญู„: 125)
ุฃูŽุชูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุจูุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ูˆูŽุชูŽู†ู’ุณูŽูˆู’ู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุชู’ู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ (ุงู„ุจู‚ุฑุฉ: 44)

(Referensi: Mafatih al-Ghaib, XIII/114-116, III/44 dan 193, VIII/145, XX/112-114).

b. Toleransi terhadap Agama Lain

Toleransi terhadap agama lain yang berkembang di masyarakat merupakan keniscayaan, demi terbangunnya kerukunan antarumat beragama di tengah pluralitas. Bahkan Islam mengajarkan agar berpekerti baik terhadap semua manusia tanpa memilih-milih, terhadap orang yang seagama maupun tidak, dan terhadap orang shalih maupun sebaliknya. Al-Hakim at-Tirmidzi dalam Nawadir al-Ushul (III/97) mengatakan:

ูˆู‚ุงู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุฃูˆุญู‰ ุงู„ู„ู‡ ุฅู„ู‰ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ูŠุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุญุณู† ุฎู„ู‚ูƒ ูˆู„ูˆ ู…ุน ุงู„ูƒูุงุฑ ุชุฏุฎู„ ู…ุฏุงุฎู„ ุงู„ุฃุจุฑุงุฑ ูุฅู† ูƒู„ู…ุชูŠ ุณุจู‚ุช ู„ู…ู† ุญุณู† ุฎู„ู‚ู‡ ุฃู† ุฃุธู„ู‡ ููŠ ุนุฑุดูŠ ูˆุฃู† ุฃุณูƒู†ู‡ ููŠ ุญุธูŠุฑุฉ ู‚ุฏุณูŠ ูˆุฃู† ุฃุฏู†ูŠู‡ ู…ู† ุฌูˆุงุฑูŠ. ูˆุญุณู† ุงู„ุฎู„ู‚ ุนู„ู‰ ุซู„ุงุซ ู…ู†ุงุฒู„: ุฃูˆู„ู‡ุง ุฃู† ูŠุญุณู† ุฎู„ู‚ู‡ ู…ุน ุฃู…ุฑู‡ ูˆู†ู‡ูŠู‡ุŒ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุฃู† ูŠุญุณู† ุฎู„ู‚ู‡ ู…ุน ุฌู…ูŠุน ุฎู„ู‚ู‡ุŒ ุงู„ุซุงู„ุซุฉ ุฃู† ูŠุญุณู† ุฎู„ู‚ู‡ ู…ุน ุชุฏุจูŠุฑ ุฑุจู‡ ูู„ุง ูŠุดุงุก ุฅู„ุง ู…ุง ูŠุดุงุก ู„ู‡ ุฑุจู‡.

Dalam rangka mendakwahkan agama Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, toleransi dapat dipraktikkan dengan menjalin muโ€™amalah dzahirah yang baik antarumat beragama, memberi jaminan keselamatan jiwa dan harta, serta tidak mengganggu pengamalan keyakinan lain selama tidak didemonstrasikan secara provokatif di kawasan yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam.

Namun demikian, penerapan toleransi kaum Muslimin terhadap agama lain perlu memperhatikan batas-batasnya sebagaimana berikut:
1) Tidak melampaui batas akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, seperti rela dengan kekufuran, ikut meramaikan hari raya agama lain dengan tujuan ikut mensyiarkan kekufuran, dan semisalnya, kecuali dalam kondisi darurat.
2) Tidak melampaui batas syariat sehingga terjerumus dalam keharaman, seperti ikut datang ke tempat ibadah agama lain saat perayaan hari rayanya, mengundang pemeluk agama lain untuk menghadiri perayaan hari raya umat Islam, mengucapkan selamat hari raya kepada mereka dan semisalnya, kecuali dalam kondisi darurat.

(Referensi: Faidh al-Qadir, III/71, Mafatih al-Ghaib, VIII/10-11, Hasyiyyah al-Bujairami, V/183, Qurrah al-โ€˜Ain bi Fatawa Ismaโ€™il az-Zain, 199, Qurrah al-โ€˜Ain karya Muhammad Sulaiman al-Kurdi, 208-209, Asna al-Mathalib, III/167, al-Hawi al-Kabir, XIV/330, Qurrah al-โ€˜Ain karya Muhammad Sulaiman al-Kurdi, 208-209, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, IV/239, al-Adab as-Syarโ€™iyyah, IV/122, Bughyah al-Mustarsyidin, I/528, dan al-Mausuโ€™ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XII/8).

c. Toleransi terhadap Pemahaman Keagamaan Selain Ahlusssunnah wal Jamaโ€™ah

Selain pluralitas agama, di Nusantara terdapat bermacam pemahaman keagamaan (akidah) dalam lingkungan Umat Islam, sehingga diperlukan toleransi terhadap kelompok umat Islam yang dalam masalah furuโ€™iyyah maupun ushuliyyah berbeda pemahaman dengan Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah. Secara prinsip toleransi dalam konteks ini tetap mengedepankan semangat Islam sebagai agama yang merahmati semesta alam dan al-akhlaq al-karimah, seperti halnya dalam toleransi antarumat beragama. Begitu p**a dalam tataran praktiknya, batas-batas toleransi terhadap kelompok umat Islam yang tidak berpaham Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah sama dengan batas-batas dalam toleransi antarumat beragama, yaitu tidak boleh melampaui batas akidah dan syariat.

Toleransi dalam konteks ini tidak menafikan semangat dakwah untuk menunjukkan kebenaran (al-haqq) dan menghadapi berbagai syubhat (propaganda) yang mereka sebarkan, terlebih yang bersifat provokatif, mengancam kesatuan Umat Islam, integritas bangsa secara lebih luas.

ุนู† ู…ุนุงูˆูŠุฉ ุจู† ุญูŠุฏุฉ ู‚ุงู„ : ุฎุทุจู‡ู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูู‚ุงู„ : ุญุชู‰ ู…ุชู‰ ุชุฑุนูˆู† ุนู† ุฐูƒุฑ ุงู„ูุงุฌุฑ ู‡ุชูƒูˆู‡ ุญุชู‰ ูŠุญุฐุฑู‡ ุงู„ู†ุงุณ. (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ูˆุฅุณู†ุงุฏ ุงู„ุฃูˆุณุท ูˆุงู„ุตุบูŠุฑ ุญุณู† ุฑุฌุงู„ู‡ ู…ูˆุซู‚ูˆู† ูˆุงุฎุชู„ู ููŠ ุจุนุถู‡ู… ุงุฎุชู„ุงูุง ู„ุง ูŠุถุฑ)

Selain itu, dalam menyikapi umat Islam yang tidak berpaham Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah perlu diperhatikan beberapa hal berikut:
1) Dalam melakukan amr maโ€™ruf nahi munkar kepada mereka tidak boleh sampai menimbulkan fitnah yang lebih besar, terlebih di daerah yang jumlah mereka seimbang dengan jumlah umat Islam Sunni. Dalam kondisi seperti ini amr maโ€™ruf nahi munkar wajib dikoordinasikan dengan pemerintah.
2) Tidak menganggap kufur mereka selama tidak terang-terangan menampakkan hal-hal yang telah disepakati (ijmaโ€™) atas kekufurannya, yaitu menafikan eksistensi Allah, melakukan syirk jali yang tidak mungkin ditaโ€™wil, mengingkari kenabian, mengingkari ajaran Islam yang bersifat mutawatir atau yang didasari ijmaโ€™ yang diketahui secara luas (maโ€™lum min ad-din bi ad-dharurah).
3) Meskipun salah dalam sebagian aqidahnya, selama tidak sampai kufur mereka masih mungkin diampuni Allah Swt.
4) Dalam ranah individu, penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah tidak boleh beranggapan pasti masuk surga karena amalnya, sedangkan yang lain pasti masuk neraka. Sebab, sekecil apapun setiap individu mempunyai dosa dan jika tidak diampuni bisa saja kelak masuk neraka.

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽุบู’ูˆูŽ ุฃูŽุนู’ุฑูŽุถููˆุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู†ูŽุง ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ููƒูู…ู’ ุณูŽู„ุงู…ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู„ุง ู†ูŽุจู’ุชูŽุบููŠ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู†ูŽ. ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ุง ุชูŽู‡ู’ุฏููŠ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุงู„ู’ู…ูู‡ู’ุชูŽุฏููŠู†ูŽ. (ุงู„ู‚ุตุต: 55-56)
ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽูŠูุนูŽุฐู‘ูุจู ู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู…ูŒ. (ุงู„ ุนู…ุฑุงู†: 129)
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจูู‰ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู„ูŽู†ู’ ูŠูู†ู’ุฌูู‰ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅููŠู‘ูŽุงู‰ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุบูŽู…ู‘ูŽุฏูŽู†ูู‰ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุณูŽุฏู‘ูุฏููˆุง ยป. (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

(Referensi: Hasyiyyah al-Bujairami, V/183, al-jamiโ€™ as-Shaghir, I/85, Majmaโ€™ az-Zawaโ€™id, I/375, al-Milal wa an-Nihal, II/321-322, dan Mafahim Yajib an-Tushahhah, 18-19).

5. Konsistensi Menjaga Persatuan untuk Memperkokoh Integritas Bangsa

NKRI dan Pancasila selain telah terbukti mampu menjadi perekat bangsa sejak kemerdekaan hingga sekarang, juga mampu menjadi wadah dakwah Islam Nusantara secara luas. Pertumbuhan Muslim di kawasan-kawasan mayoritas non-Muslim juga semakin meningkat. Namun demikian, di tengah perjalanan sejarah tantangan disintegrasi bangsa terkadang bermunculan, bahkan wacana mendirikan negara di dalam negara terus mengemuka. Sebab itu, internalisasi nilai-nilai kebangsaan, khususnya terkait NKRI dan Pancasila sebagai upaya final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan keharusan.

Berkenaan dengan itu perlu disadari, bahwa penerimaan Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara telah sesuai dengan spirit Piagam Madinah yang digagas oleh Rasulullah Saw., yang berhasil menyatukan masyarakat yang plural dalam satu kesatuan negeri Madinah. Sebagaimana diriwayatkan Ibn Ishaq dalam as-Sirah an-Nabawiyah (II/126-129) karya Ibn Hisyam, Piagam Madinah diantaranya menyatakan:

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ุญููŠู…ู. ู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูุชูŽุงุจูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูุญูŽู…ู‘ุฏู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดู ูˆูŽูŠูŽุซู’ุฑูุจูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽุจูุนูŽู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽุญูู‚ูŽ ุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฌูŽุงู‡ูŽุฏูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ุŒ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู†ู‘ุงุณู โ€ฆ ูˆูŽุฅูู†ู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุจูุนูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ููŽุฅูู†ู‘ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ุตู’ุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูŽุธู’ู„ููˆู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูุชูŽู†ูŽุงุตูŽุฑููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ โ€ฆ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ุจูŽู†ููŠ ุนูŽูˆู’ูู ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŒ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ. ู„ูู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู ุฏููŠู†ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽูŠู’ู†ู ุฏููŠู†ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽูˆูŽุงู„ููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ุฅู„ู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุธูŽู„ูŽู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽุซูู…ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ู‡ู ู„ูŽุง ูŠููˆุชูุบู ุฅู„ู‘ุง ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู โ€ฆ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู ู†ูŽููŽู‚ูŽุชูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ู†ูŽููŽู‚ูŽุชูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุตู’ุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุงุฑูŽุจูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠููŽุฉู. ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุตู’ุญูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุตููŠุญูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฅูุซู’ู…ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุซูŽู…ู’ ุงู…ู’ุฑูุฆู ุจูุญูŽู„ููŠููู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ ุงู„ู†ู‘ุตู’ุฑูŽ ู„ูู„ู’ู…ูŽุธู’ู„ููˆู…ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ูŠูู†ู’ููู‚ููˆู†ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ููˆุง ู…ูุญูŽุงุฑูุจููŠู†ูŽุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ ูŠูŽุซู’ุฑูุจูŽ ุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุฌูŽูˆู’ููู‡ูŽุง ู„ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตู‘ุญููŠููŽุฉู โ€ฆ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู†ู‘ุตู’ุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู‡ูŽู…ูŽ ูŠูŽุซู’ุฑูุจูŽุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฏูุนููˆุง ุฅู„ูŽู‰ ุตูู„ู’ุญู ูŠูุตูŽุงู„ูุญููˆู†ูŽู‡ู โ€ฆ

Dari Piagam Madinah dapat diambil spirit, bahwa Nabi Muhammad Saw. menyatukan warga yang multi etnis dan multi agama menjadi ummah wahidah (satu kesatuan bangsa). Semua warga punya kedudukan yang sederajat, sama-sama berhak mendapatkan jaminan keamanan, melakukan aktifitas ekonomi, mengaktualisasikan agama, sama-sama berkewajiban untuk saling memberi nasehat dan berbuat kebaikan, menjaga keamanan serta integritas Madinah sebagai satu kesatuan negeri menghadapi ancaman dari luar.

Selain itu, untuk memupuk persatuan di tengah masyarakat yang plural perlu ditanamkan sikap menghargai perbedaan dan menjaga hak antarsesama, diantaranya dengan:
a. Menghargai ajaran agama lain.
b. Melestarikan budaya dari suku dan agama apa pun selama tidak bertentangan dengan syariat.
c. Mengapresiasi kebaikan/kelebihan orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri.
d. Menghindari caci-maki terhadap orang lain karena alasan perbedaan.
e. Menghindari anggapan menjadi orang yang paling baik dan menganggap orang lain tidak baik, sehingga mengabaikan kewajiban berbuat baik.
f. Membiasakan berbuat kebajikan terhadap siapapun.
g. Memprioritaskan penanaman nilai-nilai agama secara utuh dan mendalam di lingkungan internal Ahlussunah wal Jama'ah.

ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุณูุจู‘ููˆุงู’ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ู…ูู† ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽูŠูŽุณูุจู‘ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽุฏู’ูˆู‹ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูู„ู’ู…ู ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฒูŽูŠู‘ูŽู†ู‘ูŽุง ู„ููƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุนูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู… ู…ู‘ูŽุฑู’ุฌูุนูู‡ูู…ู’ ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆูู‡ูู… ุจูู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุงู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ (ุณูˆุฑุฉุง ู„ุงู†ุนุงู… ุงูŠุฉ 108)
ูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽูŠูุนูŽุฐู‘ูุจู ู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู…ูŒ (ุงู„ ุนู…ุฑุงู†: 129)
ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฃู† ุบูŠู„ุงู† ุจู† ุณู„ู…ุฉ ุงู„ุซู‚ููŠ ุฃุณู„ู… ุชุญุชู‡ ุนุดุฑ ู†ุณูˆุฉ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…: ุงุฎุชุฑ ู…ู†ู‡ู† ุฃุฑุจุนุง โ€ฆ (ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ุญุจุงู†. ุตุญูŠุญ )
ุญุฏู‘ุซู†ุง ู‚ูุชูŽูŠู’ุจูŽุฉู ุจู’ู†ู ุณูŽุนููŠุฏู . ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ุซู ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ู‡ูŽุงุฏู ุนูŽู†ู’ ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุญูู…ูŽูŠู’ุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ู†ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงุตู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุจูŽุงุฆูุฑู ุดูŽุชู’ู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู‡ูยป ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽู‡ูŽู„ู’ ูŠูŽุดู’ุชูู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู‡ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู†ูŽุนูŽู…ู’. ูŠูŽุณูุจูู‘ ุฃูŽุจูŽุง ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ูุŒ ููŽูŠูŽุณูุจูู‘ ุฃูŽุจูŽุงู‡ู . ูˆูŽูŠูŽุณูุจูู‘ ุฃูู…ูŽู‘ู‡ูุŒ ููŽูŠูŽุณูุจูู‘ ุฃูู…ูŽู‘ู‡ูยป. (ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ุญุจุงู†. ู…ุณู„ู…)
ูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽูŠูุนูŽุฐู‘ูุจู ู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุก ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู…ูŒ (ุงู„ ุนู…ุฑุงู†: 129)

(Referensi: Al-Hawi al-Kabir, XIV/330, Risalah al-Qusyairiyah, I/103, Ihya โ€˜Ulum ad-Din, II/212, dan al-Majalis as-Saniyyah, 87).

File word dan PDF Keputusan BM Maudhuโ€™iyah PWNU Jawa Timur tentang ISLAM NUSANTARA bisa didownload di aswajanucenterjatim.com.

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Jalan Yos Sudarso, Kompleks Gedung Walikota Jakarta Utara
Jakarta