18/03/2016
Jakarta Gak (Cuma) Butuh Otak!
Menurut Ahok, "Jakarta gak (cuma) butuh otak, tapi (juga) otot!" Maksudnya?
Jakarta Gak (Cuma) Butuh Otak!
Dalam salah satu episode tayangan Kick Andy di MetroTv, dihadirkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, sebagai bintang tamu. Dari sekian banyak jawaban yang diberikan Ahok, ada satu kalimat yang tampak begitu ditekankan olehnya, yaitu "Jakarta gak (cuma) butuh otak, tapi (juga) otot!"
Sengaja kata "cuma" dan "juga" saya sisipkan dari penggalan kalimat itu, sebab meskipun kalimat itu beberapa kali terucap dari mulut Ahok, tapi penggunaan kata "cuma" dan "juga" mungkin hanya muncul sekali dari pengulangan-pengulangan yang ada. Tapi, saya yakin intinya Ahok ingin bilang begitu.
Dari penjelasan yang Ahok berikan, satu bagian dari penjelasannya yang menarik adalah ketika ia mengatakan bahwa konsep-konsep yang sudah pernah ada tentang penataan kota Jakarta itu sudah cukup banyak, dan secara teori semua konsep itu baik. Justru, menurut Ahok, yang lemah adalah dalam hal eksekusi.
Contoh yang Ahok berikan adalah dalam hal penanganan banjir. Jika semua "pasukan oranye" bekerja sesuai "konsep" yang sudah ada, maka banjir di Jakarta seharusnya tidak akan seperti yang sudah-sudah, bahkan pernah sampai melumpuhkan Istana Negara.
Tapi apa daya, banyak di antara pasukan oranye ternyata hanya "numpang nama" dan menerima gaji tidak sesuai dengan apa yang tertulis dalam "konsep" yang ada. Ada yang cuma dibayar 500 ribu dari gaji yang seharusnya mencapai dua atau tiga jutaan. Sisanya kemana? Sisanya diambil oleh orang yang merekrut anggota pasukan oranye itu. Orang yang direkrut tidak harus bekerja, tapi cukup ngasih nama bisa menerima 500 ribu sebulan. Sementara, si perekrut mendapatkan jatah jauh lebih besar.
Hasilnya bisa ditebak, pasukan oranye bisa berjumlah ratusan, ribuan atau bahkan puluhan hingga ratusan ribu, tapi nama-nama yang terdaftar itu tidak semuanya sungguh-sungguh bekerja. Sebagian besar hanyalah "numpang nama" dan menerima gaji buta "seikhlasnya".
Wajar jika selama bertahun-tahun kita nyaris tidak pernah melihat pasukan oranye berkeliaran setiap hari di pinggir jalan atau di sungai-sungai dan gorong-gorong di Ibu Kota ini. Karena mereka memang "pasukan bayangan", yang ada secara "konsep" tapi tidak ada dalam "eksekusi". Ketika konsep hanya sebatas konsep, maka jadilah Jakarta ini makin amburadul.
Maka, tugas seorang pemimpin Jakarta bukan lagi menyusun konsep, tetapi bagaimana merealisasikannya. Inilah yang awalnya dilakukan oleh Joko Widodo alias Jokowi ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia memulai dengan strategi "blusukan", yang pada faktanya berhasil menemukan tumpukan masalah di tingkat bawah. Ia tidak mau begitu saja percaya pada laporan bawahannya, tetapi ia perlu melakukan pembuktian sampai ke bawah.
Masalahnya, cukupkah seorang pemimpin bergaya blusukan? Bukankah seorang gubernur juga punya keterbatasan? Ia tidak mungkin melakukan blusukan bersamaan di lima wilayah di Ibu Kota sekaligus. Sementara, di tingkat bawah, masih banyak juga yang kucing-kucingan, hanya terlihat bekerja ketika pemimpinnya hadir.
Rupanya Ahok mengerti persoalan ini, maka yang ia pikirkan bukan lagi "blusukan", tapi bagaimana menciptakan sistim yang mampu bekerja melampaui batas seorang pemimpin. Sistim inilah yang dibuat oleh Ahok, sehingga ia berkali-kali menyebut kata "template" dalam hal APBD. Dengan adanya sistim eksekusi yang baik, maka tingkat kecurangan dapat diminimalisir, meskipun tentu saja tidak dapat dihilangkan seratus persen.
Ahok terus menyempurnakan sistim ini, sehingga ia berharap ketika ia tidak lagi menjabat sebagai gubernur, maka sistim ini dengan sendirinya akan bekerja, siapapun pemimpinnya nanti.
Inilah kebutuhan Jakarta sekarang. Pembenahan total pada sistim birokrasi. Jika sudah bagus, barulah kita bisa bicara tentang program-program yang lain, yang masih perlu diluruskan. Sebab, selama sistim masih amburadul, maka sebagus apapun program yang ada, tidak akan memberikan hasil yang baik.