Dua hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh jurnalis-jurnalis profesional yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi media.
SJI atau Sekolah Jurnalisme Independen adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh AJI Indonesia untuk melahirkan jurnalis-jurnalis profesional di era multimedia. Pendirian lembaga ini berangkat dari kesadaran, bahwa demi menjaga kebebasan pers, dan demi melindungi masyarakat dari serbuan informasi sampah, maka prinsip-prinsip jurnalisme harus diterapkan secara konsisten,dan kode etik jurnalisit
ik harus dipatuhi secara sungguh-sungguh. Perkembangan teknologi media telah memungkinkan setiap orang untuk menjadi penyebar informasi. Ini berbeda dengan era sebelumnya, di mana para jurnalis seakan memegang monopoli penyebar informasi. Meskipundemikian, bukan berarti peran jurnalis akan sirna. Justru pada era informasi ini, kehadiran jurnalis profesional sangat diperlukan, sebab merekalah yang dapat membantu masyarakat dalam mencarikan, mengolah dan menyajikan informasi yang benar-benar mereka butuhkan. Inilah pengertian jurnalisme mutahir: membantu masyarakat melepaskan diri dari kepungan banjir informasi sebagai dampak negatif dari perkembangan teknologi media. Agar dapat membawakan peran tersebut, jurnalis tidak hanya dituntut menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme secara konsisten dan memegang teguh kode etik jurnalistik, tetapi juga harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi media. Artinya, untuk menjadi penyebar informasi tangguh, jurnalis harus menguasai teknologi media cetak, radio, televisi, dan internet sekaligus. Penguasaan terhadap semua jenis media menjadi keniscayaan, sebab saat ini masyarakat juga diserbu informasi secara serentak dari semua jenis media. Dengan demikian, pada era multimedia, jarnalis harus profesional secara multipmedia p**a. Inilah misi yang dibebankan AJI Indonesia kepada SJI. Dalam rangka mengemban misi tersebut, SJI menyelenggarakanprogram reguler dan spesialis. Program reguler berlangsung selama enam bulan, sedang program khusus berlangsung dua sampai empat pekan sesuai isu. Masing-masing program diampu oleh ahli komunikasi massa dan jurnalis-jurnalis senior terkemuka. Lebih dari 70 persen waktu pendidikan digunakan peserta didik untuk praktik, baik di lapangan, ruang redaksi mupun ruang studio.Sekolah ini menggunakan metode “kelas bergerak” guna memaksimalkan pencapaian pengetahuan dan ketrampilan peserta didik. Program reguler mendidik para lulusan S-1 dan D-3 komunikasi massa untuk menjadi jurnalis profesional multimedia. Lulus dari program reguler ini mereka langsung bisa berkerja pada media cetak, radio, televisi, maupun internet. Sedang program spesialismendidik para jurnalis untuk meningkatkan kapasitas profesionalnya. Lulus dari program spesialis ini, para jurnalisakanmahir dalam mengeksplorasi isu-isu khusus yang dibutuhkan masyarakat untuk disebarluaskan melalui media tempat bekerja.SJI juga punya program khusus pers mahasiswa dan orientasi pers siswa.
29/08/2013
detik-detik menunggu peluncuran Sekolah Jurnalisme Independen. Hitung mundur y :-)