FKM AN-NAJAH Kebumen

FKM AN-NAJAH Kebumen

Share

FKM AN-NAJAH adalah kependekan kata dari Forum Komunikasi Mahasiswa "AN-NAJAH". Dikelola oleh para mahasiswa LIPIA Jakarta yang berasal dari Kebumen.

FKM AN-NAJAH merupakan wadah dakwah para mahasiswa LIPIA Jakarta yang berasal dari Kebumen Jawa Tengah. Kami menjalankan tiga fungsi :
1) 'Ilmiy Tarbawiy (Pendidikan)
2) Da'awiy (Dakwah)
3) Khidmiy (Pelayanan Sosial). Diantara program kami adalah :
- Daurah Lughawiyyah& Syar'iyyah (Diklat Pelatihan Bahasa Arab dan Kajian Islam) dengan sasaran utama para pelajar jenjang SMP dan SMA.
- Penyebaran hewan Qurban ke daerah pelosok.
- Kajian Islam untuk pemuda.

21/12/2013

Kisah Inspiratif : Semangat Mempelajari Bahasa Arab.
=======================================
Bahasa itu ibarat “jembatan”, yang menghubungkan seseorang dengan pengetahuan. Ya, kemampuan berbahasa tertentu akan membuka cakrawala pengetahuan yang sangat luas. Saat ini, banyak orang berbangga-bangga dengan kemampuan “bahasa manusia” yang dimilikinya, semisal bahasa Inggris, Jepang, Korea dsb. Tidak salah memang. Akan tetapi, tahukah mereka bahwa “bahasa Allah” jauh lebih berharga dari bahasa itu semua??. Jika anda bersenang hati, berbangga diri dapat memahami “bahasa manusia”, maka saya sangat senang dapat memahami “bahasa Rabbnya manusia”.

Bahasa Arab, bagi seorang muslim amatlah penting. Sungguh sangat disayangkan bila seorang muslim tidak bisa memahami bacaan shalat yang dia baca, doa yang dia panjatatkan, Al Qur’an yang dia agungkan dan muliakan, dan As Sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para salafuna sshalih sangat bersemangat sekali mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab. Sejarah membuktikan tidak sedikit para ulama besar berasal dari luar bangsa Arab. Sebut saja para Imam ahli hadits, seperti Imam Muhammad Ibn Ismail Al Bukhari (penulis Shahih Bukhari) dari Bukhara (sekarang Uzbekistan), Imam Muslim Ibn Al Hajjaj (penulis Shahih Muslim) dari Naisabur (sekarang Iran), para penulis Ash-habus Sunan, dan masih banyak lagi.

Berikut ini akan penulis akan bawakan sebuah kisah, semoga bisa memotivasi kita untuk senantiasa mengasah dan meningkatkan kemampuan bahasa arab kita. Al Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya “Siyar A’lamin Nubala” memaparkan biografi ‘Atha ibn Abi Rabah rahimahullah.

Beliau adalah seorang tabi’in besar, Imam, M***i Makkah, mendapati dua ratusan sahabat semasa hidupnya, berguru kepada para Istri dan Sahabat Rasulullah seperti ‘Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Abdullah Ibnu ‘Abbas, Abdullah ibn ‘Umar, Abdullah ibn ‘Amr, Jabir ibn ‘Abdillah, Abdullah ibn Az-Zubair, Mu’awiyyah dll –Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in-. Beliau mengerjakan haji lebih dari 70 kali semasa hidupnya. Dan Allah Ta’ala mengaruniai beliau umur yang panjang hingga seratus tahun lebih. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan :

Atha ibn Abi Rabah rahimahullah berkata :

وَدِدْتُ أَنِّي أُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ

“Aku ingin memberbagus bahasa arabku”.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan :

وَهُوَ يَوْمَئِذً اِبْنُ تِسْعِيْنَ سَنَةً

Ketika itu umur Beliau sembilan puluh tahunan.

وَلَمْ يَكُنْ يُحْسِنُ العَرَبِيَة

Dan beliau tidak bagus dalam berbahasa arab.

Subhanallah! Di usia yang tak lagi muda beliau masih juga bersemangat untuk mempelajari dan membagusi bahasa arabnya. Ini patut menjadi pelajaran bagi kita yang umurnya terpaut jauh di bawahnya.

Mungkin ada yang bertanya : bagaimana mungkin seorang tabi’in bergelar Imam tidak pandai dalam bahasa arab?? Jawabannya adalah penuturan putranya yang bernama ‘Utsman ibn Atha :

كَانَ عَطَاء أَسْوَد شَدِيْدَ السَّوَاد، لَيْسَ فِي رَأْسِهِ إلا شَعَرَات، فَصِيْحٌ إذَا تَكَلَّمَ، فَماَ قَالَ بالحِجَازِ قُبِلَ مِنْهُ

(Ayahku) ‘Atha berkulit hitam legam, di kepalanya tidak ada rambut melainkan hanya beberapa helai saja, apabila berbicara ucapannya fashih, pendapat yang diucapkannya di Hijaz diterima (oleh penduduk Hijaz).

Hal ini menunjukan bahwasanya beliau sangat menjaga lisannya, dan berbicara dengan bahasa fashih semampunya. Di sisi lain, beliau juga mengakui kelemahannya dalam bahasa arab.

Faidah yang bisa diambil dari kisah tersebut di atas adalah :

Pertama : para salafuna shalih sangat bersemangat dalam kebaikan, usia tak menjadi masalah untuk itu.

Kedua : lahn (kesalahan harakat, susunan kata) dalam pengucapan bahasa arab bagi mereka adalah sebuah hal yang patut mendapat perhatian serius. Lahn merupakan aib.

Ketiga : bahasa arab merupakan bahasa Al Qur’an dan As Sunnah, dan keduanya merupakan sumber hukum dan pedoman hidup bagi kaum muslimin.

Berikut ini saya bawakan dua atsar kuat dari para Sahabat Rasulullah yang menunjukan perhatian para salafunashalih terhadap bahasa arab :

Pertama : Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Al Mushannaf, Kitabul Adab : “Man Kaana Yu’allimuhum wa Yadhribuhum ‘Ala Al-llahn” (Barangsiapa yang mengajari mereka, dan memukulnya karena lahn ) membawakan sebuah riwayat, bahwasanya : Khalifah ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu menulis sebuah surat kepada Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu yang bunyinya :

أَمَّا بَعْدُ، فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ، وَتَفَقَّهُوْا فِي العَرَبِيَّةِ، وَأَعْرِبُوا القُرآن فَإِنَّهُ عَرَبِي.

“Amma Ba’du : Pelajarilah As Sunnah, Pelajarilah Bahasa Arab, dan I’rab-lah Al Qur’an karena ia berbahasa Arab”. (Al Mushannaf : no 5703).

Kedua : Abu Bakr Muhamad Ibnul Qasim Ibnul Anbari dalam kitabnya “Iidhaahil Waqfi wal Ibtida (1/23)” menukilkan ucapan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu :

تَعَلَّمُوا العَرَبِيَّة فِي القُرآن كَمَا تَتَعَلَّمُون حِفْظَهُ

“Pelajarilah Bahasa Arab dalam Al Qur’an sebagaimana kalian menghafalkannya (Al Qur’an)”.



Semoga bermanfaat.

Akhukum Fillah Abu Nu’aim Ardani.

21/12/2013

Bismillah...
==========================================

Segala puji Bagi Allah, Sholawat dan Salam kepada nabi Agung Muhammad -صلى الله عليه وسلم- keluarga, sahabat dan pengikutnya.

Bagian Ke-Dua

Lanjutan Syarah Usul As-Sunnah.

2. Meninggalkan bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.

Penjelasan

Bid’ah adalah semua perkara baru dalam agama, artinya adalah segala sesuatu yang disandarkan pada agama yang bukan darinya; baik yang berkaitan tentang aqidah atau ibadah-ibadah yang berkaitan dengan amalam maupun ibadah yang berukaitan dengan ucapan. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini,sebagaiman firman-Nya:


Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ telah menyampaikan agama ini secara total tanpa menyembunyikannya satupun, dan telah mengajarkan para sahabat segala sesuatu yang mereka butuhkan, yang terkadang hal itu adalah hal yang dianggap malu untuk disampaikan seperti adab buang hajat.

Nabi Muhammad ﷺ juga telah menghabarkan bahwasanya umatnya akann terpecah enjadi tujuh puluh tiga golongan, dan semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Yang telah disapaikan nabi ﷺ adalah seusai dengan kenyataan yang terjadi sekarang, dan sekarang telah muncul bid’ah-bid’ah dalam masalah aqidah, seperti: Khowarij, Qodariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Rofidloh dan lain-lain.
aliran-aliran tersebut ada yang sampai kepada derajat kafir, dan ada juga yang hanya sebatas pada derajat fasik.
Ulama-ulama ahlu sunnah telah mewanti-wanti kaum muslimin agar tidak mendengar ucapan-ucapan mereka, duduk-duduk dengan mereka,ataupun mengajak diskusi mereka –kecuali orang yang punya ilmu yang matang pent.-

Ulama-ulama ahlu sunnah juga telah mewanti-wanti kaum muslimin dari bid’ah-bid’ah amaliyah seperti maulid, ataupun bid’ah bid’ah yang berkaitan dengan sholat, dan lain sebagainya dan telah menjelaskan bahwa semua itu adalah pemahaman yang salah dan semuanya sesat karena tidak dicontohkan oleh Rasul ﷺ. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ

(( وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة)) رواه أبو داود والترمذي وأحمد وغيرهم.
Artinnya:
((sejelek-jelek perkara agama adalah hal-hal yang baru yang tidak ada contohnya, karena semua itu adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat)). HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad Dan Lainnya.

Dan juga sabda Nabi ﷺ:
(( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد)) متفق عليه

Artinya:
(( barang siapa yang berbuat perkara baru dalam agama ini –bid’ah- maka perbuatan itu tertolak)). HR. Bukhori Muslim.

Bersambung...

28/11/2013

Bismillah...
==========================================

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Sholawat serta salam mudah-mudahan senantiasa tetap tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad ﷺ para keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya hingga akhir zaman, amma ba’du:

Melihat kondisi kaum muslimin sekarang sangat jauh dari manhaj salaful ummah, terkhusus dalam bidang aqidah, maka saya berniat menterjemahkan karya Imam Ahmad –Rahimahullah- yang berjudul “Usul as-Sunnah”, dan saya terjemahkan “POKOK-POKOK PENTING AQIDAH MENURUT AHLU SUNNAH”.

Kitab ini disyarah oleh syaikh Ibn Jibrin –Rahimahullah- dan telah ditashih dan takhrij oleh syaikh ‘Ali bin Khusain Abu Lauz.

Mudah-mudahan Allah memberikan memberikan taufiq guna selesainya terjemahan ini, dan mudah-mudahan ini adalah amal jariyah dan bisa bermanfaat untuk penterjemah dan pembaca. Amin.

Dan Jika nanti para pembaca mendapatkan kesalahan, maka saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun.

ttd

Aba Muhammad.

POKOK-POKOK PENTING AQIDAH MENURUT AHLU SUNNAH:

1. Berpegang teguh dengan apa yang para sahabat Rasulullah ﷺ lakukan, dan menjadikan mereka tauladan.(1)

_______________________
(1). Tidak diragukan lagi bahwasanya berpegang teguh dengan apa yang dilakukan para sahabat Rasulullah ﷺ dan menjadikan mereka tauladan adalah bagian dari pokok-pokok aqidah Ahli Sunnah, yang telah ditunjukan oleh banyak dalil-dalil, diantaranya:
1. (( Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itudan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali )). an-Nisa : 115.
2. Nabi ﷺ bersabda: (( sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup -sesudah aku meninggal-, maka akan mendapati banyak perselisihan, maka berpegang teguhlah dengan sunah-sunahku, dan sunah-sunah Khulafa Urosyidin, gigitlah dengan gigi gerahang )) HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majjah dari hadits ‘Irbad bin Saariyah.
3. Ibnu Mas’ud berkata: “barang siapa yang hendak menjadikan suri tauladan, maka jadikanlah sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ teladan…”.

Photos 24/11/2013

PEMUDA BERUNTUNG!
==========================================
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(( سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ : الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ))
“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan dari Allah di hari (Kiamat) tiada naungan selain naungan-Nya : (1) pemimpin yang adil, (2) PEMUDA yang tumbuh dalam KETAATAN IBADAH kepada Rabbnya, (3) orang yang HATINYA tertambat ke MASJID, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah, (5) seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh wanita cantik lagi kaya, kemudian dia menjawab : sungguh aku takut kepada Allah, (6) orang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, (7) seseorang yang bersendiri dalam mengingat Allah kemudian kedua matanya berlinang air mata”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan tentang perjalanan manusia kelak pada hari Kiamat. Mereka akan dibangkitkan dan digiring menuju padang Mahsyar, dan menanti perhitungan amalan.Ini merupakan hari-hari panjang yang sangat berat. Matahari didekatkan sejauh satu mil, manusia berkeringat sesuai kadar dosanya. Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda :
تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ
“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (HR. Muslim).

Subhanallah! Di hari itu Allah akan memberikan naungan kepada orang-orang tertentu. Siapakah mereka? Mereka adalah tujuh golongan. Wahai para pemuda, wahai kaum muslimin saya berseru kepdamu….perhatikanlah hadits ini. Ketahuilah, diantara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah ‘Azza Wa Jalla ialah “PEMUDA yang tumbuh dalam KETAATAN IBADAH kepada Allah Ta’ala”.

* Pemuda yang rajin menghadiri shalat Jama’ah, serta berusaha mendapatkan keutamaan shaf pertama.

* Pemuda yang bersemangat menghadiri majlis-majlis ilmu syar’i, karena dia tahu ilmu adalah cahaya hidup sedangkan kebodohan adalah gelap dan menyesatkan.

* Pemuda yang lisannya senantiasa melafalkan dzikir dan Al Qur’an.

* Pemuda yang bersegera dalam memenuhi panggilan sang Ibunda bila dipanggil.

* Pemuda yang menyibukkan hatinya dengan keimanan.

* Allah Ta’ala adalah segala-galanya baginya.

* Maksiat adalah hina, dan ridha Allah adalah tujuannya.

* Dunia adalah hina, maka tidak dia tempatkan di hatinya.

* Istighfar adalah kebiasaanya. Syukur adalah perhiasannya. Dan sabar adalah penentram hatinya.
itu kita. Allahumma amiin.

22/11/2013

2 SYARAT MASUK SURGA
=======================================
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang BERIMAN dan BERAMAL SHALIH ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera”. (Al Hajj : 23).

kita tingkatkan iman dan amal shalih kita.

Photos 22/11/2013

IBADAH RINGAN NAMUN BERPAHALA BESAR
=======================================
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- mengatakan :
(( العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضه من الأعمال والأقوال الظاهرة والباطنة ))
“Ibadah adalah sesuatu yang mencakup segala hal yang disukai dan diridhai Allah Ta’ala, berupa perbuatan dan perkataan, baik yang nampak (zhahir) maupun tidak (batin)”.
Ada banyak ibadah yang dapat kita lakukan melalui lisan, diantaranya : berdzikir, mengucapkan tasbih, tahlil, berdoa, membaca AL Qur’an, mengucapkan salam, memberi nasehat, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan lisan dsb. Dari sekian ibadah tersebut, ada satu ibadah yang ringan sekali namun mempunyai pahala besar. Itulah dzikir. Allah Ta’ala berfirman :
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, maka Allah sediakan untuk mereka AMPUNAN dan PAHALA YANG BESAR ”. (Al Ahzab : 35)

Bahkan, Rasulullah shallallalu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwasanya dzikir merupakan amalan terbaik. Beliau shallallalu ‘alaihi wasallam bersabda :
(( ألا أنبئكم بخير أعمالكم، وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخير لكم من إنفاق الذهب والورق، وخير لكم من أن تلقوا عدوكم فتضربوا أعناقهم ويضربوا أعناقكم؟ قالوا : بلى. قال : ذكر الله تعالى )).
“Maukah aku beritahu kalian amalan yang PALING BAIK, PALING SUCI di sisi Allah, paling mengangkat derajatmu, dan LEBIH BAIK bagimu daripada berinfak emas ataupun perak, dan LEBIH BAIK bagimu daripada bertemu dengan musuhmu lalu kamu memenggal leher mereka atau mereka yang memenggal lehermu?”
Para sahabat yang hadir berkata : “Mau, ya Rasulullah !” Beliau bersabda, “Berdzikir kepada Allah Ta’ala”. (HR Tirmidzi 5/459)
========================================

Suatu kali di Arab Saudi, seorang Syaikh dari Kuwait menaiki sebuah taksi yang dikendarai oleh bapak berumur lima puluhan tahun. Dalam perjalanan si Syaikh memperhatikan tingkah laku pak sopir. Ya tidak ada yang aneh sama sekali; si sopir membawa taksi tsb dengan cekatan. Syaikh bertanya : “sudah berapa lama anda bekerja sebagai supir?”. “Sekian tahun”, begitu jawab si sopir. “Subhanallah, itu waktu yang lama, selama membawa mobil apa yang anda kerjakan?”, kata Syaikh. Sopir menjawab : “Tidak ada, saya hanya memperhatikan jalanan dan berusaha fokus”. Syaikh melanjutkan perkatannya : “Itu bagus, namun maukah engkau aku beritahu suatu ibadah ringan dan berpahala besar yang dapat engkau amalkan ketika mengendarai taksi?” “Iya silahkan”, kata sopir. Syaikh menjelaskan : “Wahai pak sopir, sesungguhnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
(( كلمتان خفيفتان على اللسان، ثقيلتان في الميزان، حبيبتان إلى الرحمن : سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم ))
"Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pak Sopir begitu terharu mendengarkan penjelasan hadits ini, hingga dia mengatakan “Demi Allah wahai Syaikh, tidak ada seorangpun penumpang yang memberitahukanku kalimat yang agung ini sebelum Anda. Begitu banyak waktuku yang terbuang tanpa mengucapkan dzikir. Jazaakumullah khairan.”
====================================
Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kedua kalimat ini (Subhanallah wabihamdih, Subhanallahil ‘azhim) akan mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba”. Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, 3/446).

Photos 21/11/2013

STATUS DAN KOMENTAR-PUN AKAN DIPERHITUNGKAN
==================================
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sungguh, Kami akan menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan serta bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).(Yaasiin: 12)

Subhanallah! Teman-teman sekalian, marilah kita perhatikan ayat diatas, Allah ‘Azza Wa Jalla menerangkan bahwasanya Dia akan meng-hisab seluruh perbuatan manusia. Apapun itu; perbuatan ini itu, perkataan ini itu. Seluruhnya akan diperhitungkan di Yaumil Hisab kelak…termasuk status dan komentar kita di facebook. Bahkan lebih dari itu, bekas ataupun pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan/ perkaatan kita juga akan dihisab.
kita lebih bijaksana dalam ber-facebook ria.

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jakarta