21/12/2013
Kisah Inspiratif : Semangat Mempelajari Bahasa Arab.
=======================================
Bahasa itu ibarat “jembatan”, yang menghubungkan seseorang dengan pengetahuan. Ya, kemampuan berbahasa tertentu akan membuka cakrawala pengetahuan yang sangat luas. Saat ini, banyak orang berbangga-bangga dengan kemampuan “bahasa manusia” yang dimilikinya, semisal bahasa Inggris, Jepang, Korea dsb. Tidak salah memang. Akan tetapi, tahukah mereka bahwa “bahasa Allah” jauh lebih berharga dari bahasa itu semua??. Jika anda bersenang hati, berbangga diri dapat memahami “bahasa manusia”, maka saya sangat senang dapat memahami “bahasa Rabbnya manusia”.
Bahasa Arab, bagi seorang muslim amatlah penting. Sungguh sangat disayangkan bila seorang muslim tidak bisa memahami bacaan shalat yang dia baca, doa yang dia panjatatkan, Al Qur’an yang dia agungkan dan muliakan, dan As Sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Para salafuna sshalih sangat bersemangat sekali mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab. Sejarah membuktikan tidak sedikit para ulama besar berasal dari luar bangsa Arab. Sebut saja para Imam ahli hadits, seperti Imam Muhammad Ibn Ismail Al Bukhari (penulis Shahih Bukhari) dari Bukhara (sekarang Uzbekistan), Imam Muslim Ibn Al Hajjaj (penulis Shahih Muslim) dari Naisabur (sekarang Iran), para penulis Ash-habus Sunan, dan masih banyak lagi.
Berikut ini akan penulis akan bawakan sebuah kisah, semoga bisa memotivasi kita untuk senantiasa mengasah dan meningkatkan kemampuan bahasa arab kita. Al Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya “Siyar A’lamin Nubala” memaparkan biografi ‘Atha ibn Abi Rabah rahimahullah.
Beliau adalah seorang tabi’in besar, Imam, M***i Makkah, mendapati dua ratusan sahabat semasa hidupnya, berguru kepada para Istri dan Sahabat Rasulullah seperti ‘Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Abdullah Ibnu ‘Abbas, Abdullah ibn ‘Umar, Abdullah ibn ‘Amr, Jabir ibn ‘Abdillah, Abdullah ibn Az-Zubair, Mu’awiyyah dll –Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in-. Beliau mengerjakan haji lebih dari 70 kali semasa hidupnya. Dan Allah Ta’ala mengaruniai beliau umur yang panjang hingga seratus tahun lebih. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan :
Atha ibn Abi Rabah rahimahullah berkata :
وَدِدْتُ أَنِّي أُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ
“Aku ingin memberbagus bahasa arabku”.
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan :
وَهُوَ يَوْمَئِذً اِبْنُ تِسْعِيْنَ سَنَةً
Ketika itu umur Beliau sembilan puluh tahunan.
وَلَمْ يَكُنْ يُحْسِنُ العَرَبِيَة
Dan beliau tidak bagus dalam berbahasa arab.
Subhanallah! Di usia yang tak lagi muda beliau masih juga bersemangat untuk mempelajari dan membagusi bahasa arabnya. Ini patut menjadi pelajaran bagi kita yang umurnya terpaut jauh di bawahnya.
Mungkin ada yang bertanya : bagaimana mungkin seorang tabi’in bergelar Imam tidak pandai dalam bahasa arab?? Jawabannya adalah penuturan putranya yang bernama ‘Utsman ibn Atha :
كَانَ عَطَاء أَسْوَد شَدِيْدَ السَّوَاد، لَيْسَ فِي رَأْسِهِ إلا شَعَرَات، فَصِيْحٌ إذَا تَكَلَّمَ، فَماَ قَالَ بالحِجَازِ قُبِلَ مِنْهُ
(Ayahku) ‘Atha berkulit hitam legam, di kepalanya tidak ada rambut melainkan hanya beberapa helai saja, apabila berbicara ucapannya fashih, pendapat yang diucapkannya di Hijaz diterima (oleh penduduk Hijaz).
Hal ini menunjukan bahwasanya beliau sangat menjaga lisannya, dan berbicara dengan bahasa fashih semampunya. Di sisi lain, beliau juga mengakui kelemahannya dalam bahasa arab.
Faidah yang bisa diambil dari kisah tersebut di atas adalah :
Pertama : para salafuna shalih sangat bersemangat dalam kebaikan, usia tak menjadi masalah untuk itu.
Kedua : lahn (kesalahan harakat, susunan kata) dalam pengucapan bahasa arab bagi mereka adalah sebuah hal yang patut mendapat perhatian serius. Lahn merupakan aib.
Ketiga : bahasa arab merupakan bahasa Al Qur’an dan As Sunnah, dan keduanya merupakan sumber hukum dan pedoman hidup bagi kaum muslimin.
Berikut ini saya bawakan dua atsar kuat dari para Sahabat Rasulullah yang menunjukan perhatian para salafunashalih terhadap bahasa arab :
Pertama : Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Al Mushannaf, Kitabul Adab : “Man Kaana Yu’allimuhum wa Yadhribuhum ‘Ala Al-llahn” (Barangsiapa yang mengajari mereka, dan memukulnya karena lahn ) membawakan sebuah riwayat, bahwasanya : Khalifah ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu menulis sebuah surat kepada Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu yang bunyinya :
أَمَّا بَعْدُ، فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ، وَتَفَقَّهُوْا فِي العَرَبِيَّةِ، وَأَعْرِبُوا القُرآن فَإِنَّهُ عَرَبِي.
“Amma Ba’du : Pelajarilah As Sunnah, Pelajarilah Bahasa Arab, dan I’rab-lah Al Qur’an karena ia berbahasa Arab”. (Al Mushannaf : no 5703).
Kedua : Abu Bakr Muhamad Ibnul Qasim Ibnul Anbari dalam kitabnya “Iidhaahil Waqfi wal Ibtida (1/23)” menukilkan ucapan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu :
تَعَلَّمُوا العَرَبِيَّة فِي القُرآن كَمَا تَتَعَلَّمُون حِفْظَهُ
“Pelajarilah Bahasa Arab dalam Al Qur’an sebagaimana kalian menghafalkannya (Al Qur’an)”.
Semoga bermanfaat.
Akhukum Fillah Abu Nu’aim Ardani.