29/08/2013
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” ( QS al-Kautsar [108] : 2 )
Berkurban adalah ibadah yang agung karena disejajarkan dengan shalat dan perintah Allah untuk berkurban kepada Muhammad SAW adalah sebagai bentuk syukur beliau atas kautsar ( nikmat yang sangat banyak ) dari Allah.
Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat kedua surah al-Kautsar seperti berikut, “Allah memerintahkan Rasulullah mengumpulkan dua ibadah yang agung ini, yaitu shalat dan menyembelih kurban yang menunjukkan sikap taqarrub ( mendekatkan diri ), tawadu (rendah hati), merasa butuh kepada Allah, husnuzan ( prasangka baik ), keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah SWT .…”
Syariat kurban adalah cara agung membesarkan nama Allah dan bentuk syiar atau perayaan Islam yang diperintahkan-Nya. Hal inilah yang membedakan antara Islam dan budaya pagan dalam melakukan perayaan. Berkurban akan mendatangkan kecintaan Allah dan membersihkan jiwa orang yang berkurban, di mana tanduk, kuku, dan bulu-bulunya akan membawa kesaksian untuknya.
On Story:
Zaid bin Arqam berkata: “Ya Rasulullah, ada apa dengan berkurban?”
Rasulullah bersabda: “Mengikuti sunah nenek moyang kalian, Nabi Ibrahim.”
Mereka bertanya lagi: “Apa keutamaannya bagi kami?”
Rasulullah bersabda: “Pada setiap helai bulunya ada kebaikan ( pahala)”
Mereka bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan bulu wol ( bulu domba )?”
Rasulullah SAW menjawab: “Setiap bulu wolnya juga ada kebaikan ( pahala ).” ( HR Ahmad, Ibnu Majah ).
Ibadah kurban adalah salah satu standar penting kualitas shalat dan keislaman seorang Muslim. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Barang siapa dalam kelapangan ( rezeki ), lalu ia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami. ( HR Ahmad dan Ibnu Majah ).
Wallahu a’lam bish shawab