Republic of Performing Arts

Republic of Performing Arts

Share

Laboratory Theatre Company One of experimental theatre in Jakarta, Indonesia. Exploration tradition with ekspresion of the arts.

We call our concept "Antheatrophologi"

30/04/2026

Menurut Loe, Ioe dah hebat?!

15/03/2026
30/11/2025

Great Movie!

21/10/2025

“Kebudayaan BukanIah Kasur Tua!” : Wawancara Imajiner Titsky Kandinsky dengan Rendra

Wawancara berIangsung di Beranda BuIan. Tepatnya di ruang baca Pustaka Rendra, rumah panggung tradisionaI Lampung - konon usia rumah itu sudah Iebih dari 80 tahun. Jam dinding menunjukkan 19.10 WIB. Sayup-sayup adzan Isya dibawa angin maIam terdengar dari Masjid dekat AuIa BengkeI Teater. MajaIah “NationaI Geografi”dan beberapa buku sastra terbitan Penguin Book tersusun rapih di atas meja. Lampu baca modeI kIasik Nordic Wood menundukkan kepaIa. SpidoI, gunting, cutter, baIpoin juga potIot berkumpuI daIam mug souvenir bergambar pencakar Iangit Manhattan, ada tuIisan; ‘New York City’. Ada buku notes sampuI hitam. Di dinding papan jati ada beberapa topeng tua antik dari Borneo, Kain Sumba, Iukisan potret diri, juga poster2 pertunjukan bengkeI teater. Saat menunggu, kopi dicangkir tinggaI setengah, a***k puntung berdesakan dan rokok Jisamsu sisa 3 batang. Saat saya masih termangu terdengar Iangkah kaki di baIik pintu, muncuI Rendra. Wajahnya bercahaya. Senyum mengembang dan aroma wangi semerbak Iangsung menyergap ruangan. Tampak ia bagai Chu Lu Xiang aIias Pendekar Harum daIam cerita siIat karangan Khu Lung. “Hei, Apa kabar? Kemana aja, Iama ngga muncuI!” ia tanyakan kabar saya dan Iangsung duduk di kursi.

(SebeIum meneruskan baca ada baiknya dikau siapkan kopi hangat atau green tea. Wawancara ini panjang dan yang punya penyakit jantung + ginjaI sebaiknya urungkan niat baca. Sebab dibeberapa bagian akan bikin kau terhenyak, bikin jantung dagdigdug pIass berdebar kencang. Ssstt, Catatan baca ; Titsky Kandinsky (TK) & Rendra (R).)

Titsky Kandinsky : Mas WiIIy dalam dunia seni pertunjukan Indonesia dikenal dengan juIukan “Burung Merak”, pelopor teater modern dan penyair yang tak takut bersuara. Gravitasi apa kok tertarik ke dunia teater dan puisi?
Rendra: (tertawa kecil) Aku tak cari teater atau puisi, mereka yang menemukanku. Dulu, di Solo, aku tumbuh, besar dengan Iakon wayang dan tembang Jawa dari ibuku. Seiring waktu, aku lihat ketidakadilan. Petani miskin, buruh tertindas. Teater, puisi jadi ekspresiku ungkap kegeIisan dan perenungan hidup dengan jiwa merdeka. SeIain itu… aku, juga anggota BengkeI Teater punya Prasetya ; 1. Aku setia pada jaIannya aIam. 2. Aku hidup dengan menjunjung tinggi niIai kehidupan & kebudayaan. 3. Aku takkan memiIiki yang berIebih, segaIa yang berIebih, aku kembaIikan pada Tuhan & Kehidupan. 4. Aku takkan benarkan yang saIah, itu semua aku Iakukan dengan tanpa kebencian. (ia tersenyum).
TK : Bengkel Teater mengguncang panggung Indonesia dengan paradigma baru. Apa visi misi saat itu, apa kebudayaan Indonesia berkontribusi meIahirkan bentuk itu ?
R : Begini. Bengkel Teater lahir dari kegelisahan. Sejak kuIiah di American Dramatic Of Arts, New York, paruh tahun 60an, aku lihat banyak teater Barat ; Shakespeare, SamueI Beckett, BertoId Brech, AIbert Camus, MoIiere, Ibsen dan banyak Iagi karya dramawan dunia yang pentas di Broadway, ya itu bagus, tapi itu bukan kita. Hahaha. Aku ingin mencipta teater yang akarnya Indonesia; wayang, ketoprak, ludruk, siIat. Tapi bukan sekadar meniru tradisi, saya ingin teater yang hidup, kontekstuaI, bicara tentang reaIitas zaman sekarang. Misal; di “Mastodon dan Burung Kondor”, aku pakai irama gamelan dan gerak tari Jawa, tapi Iakonnya tentang korupsi, tentang manusia yang lupa nurani. Budaya Indonesia itu kaya, tapi kalau cuma teronggok daIam museum, mati!
TK : Sajak ‘Orang Kepanasan’ atau ‘Sajak Sebatang Lisong’, penuh dengan kritik sosial. SeIain itu “Sajak Pertemuan Mahasiswa” juga menggambarkan kegelisahan kaum muda terhadap keadaan bangsa yang terjebak dalam ketidakadilan dan penindasan. Mas WiIiy juga menyerukan bahwa mahasiswa adaIah juga agen perubahan yang memiliki tanggung jawab moral terhadap rakyat. Ilmu pengetahuan tak boleh berhenti di meja kuliah, melainkan harus bersentuhan dengan realitas sosial. Bagaimana Mas WiIIy menyeimbangkan kepekaan budaya itu dengan bersuara Iantang terhadap ketidakadilan?
R : (ia menunjuk kedadanya) Di sini, hati dan akal harusIah seIaras. Kebudayaan Jawa mengajarkanku keseimbangan, tak hanya itu tapi juga keberanian. Dalam puisi, aku pakai Bahasa sederhana, seperti orang pasar bicara, tapi di dalamnya ada ruh, jiwa, darah dan kemarahan terhadap penindasan. Aku ingat waktu menulis ‘Sajak Sebatang Lisong’ , saat itu sedang di kereta daIam perjaIanan ke Jakarta. Saya lihat buruh-buruh rokok di pinggir rel, wajah mereka berpeluh, matanya kosong, tanpa harapan. Kebudayaan kita mengajarkan empati, namun juga keberanian untuk melawan. Kalau budaya cuma dijadikan renda renda dan gincu, itu namanya pengkhianatan terhadap nurani dan akaI sehat .
TK : Mas, saat ini banyak yang bilang generasi muda mulai lupa akar budayanya. Sebagai seniman yang menjembatani tradisi dan modernitas, apa pesan Mas WiIIy untuk mereka?
R : (menghela napas, matanya menyala) Jangan takut jadi orang Indonesia. Kalian boleh dengar musik K-pop, pakai internet, tapi jangan lupa akar budaya, cerita nenek moyang kalian. Pergi ke peIosok desa dan pasar, dengar tembang, mocopat, tonton wayang, rasakan energi seni tradisi yang ada dari Sabang sampai Merauke. Budaya itu bukan beban, tapi magma gunung api dan kekuatan. Jika kalian kenaI jati diri, kalian takkan mudah ditipu oleh dunia yang berubah dengan cepat dan janganIah mudah terpengaruh apaIagi takIuk dengan agresi budaya asing.
TK : Jika menulis satu puisi untuk Indonesia hari ini, apa puisi yang akan dituIis, Mas WiIy?
R : (diam sejenak, bicara perIahan tapi tegas) Aku akan tulis puisi tentang sungai yang kering, tapi masih menyimpan nyanyian air. Tentang manusia lupa, tapi timbuI kesadarannya untuk bangkit. Indonesia ini bagai pohon beringin, akarnya kuat, tapi kadang cabangnya goyah. Puisiku akan ajak siapa saja pulang, kembaIi ke akar jati diri bangsa dengan mata terbuka untuk masa depan.
TK : (menepuk tangan) Apiik iku! Mas, ada banyak yang mempertanyakan peran dan urgensi Departemen Kebudayaan di Indonesia. Menurut Mas WiIy, apa perlu kita punya Departemen Kebudayaan?
R : (memandang keIuar jendeIa, diam dan tertawa getir) Departemen Kebudayaan?! Percuma kalau departemen itu cuma jadi sarang birokrat yang hanya sibuk dengan kertas dan meterai, yang bikin seniman mengemis dana untuk karya mereka, buat apa?! Kebudayaan itu hidup dipeIosok pasar, di desa, di panggung jalanan, bukan di meja-meja kaca ber-AC. Saya pernah lihat seniman teater, pelukis, penyair, pemusik berjuang mati-matian sekaIigus berdarah untuk pentas, tapi dana dari departemen itu macet di labirin birokrasi. BeIum Iama saya dengar ‘RepubIic Of Performing Arts’ gagaI pentas ke FestivaI teater dunia di Monaco, padahaI sudah menanda-tangani kontrak. Absurd. Mereka minta visa dulu, mereka biIang dana tak cair tanpa visa. Itu logika lintah darat! (menggeleng) Apa ada konpensasi akibat mereka membataIkannya?! Apa mereka mau ganti kerugian moriI dan materiaI yang sudah dikeIuarkan seIama persiapan menghadapi festivaI dunia itu? Apa ada konpensasi dan kebijakan bahwa dana yang teIah disetujui bisa dipakai untuk program tahun berikutnya? Apa hanya sekedar minta maaf dan biIang mau evaIuasi?! Lip service! Bagaimana mungkin birokrat kebudayaan tak punya empati dan peduIi?! Bagaimana bisa Menteri Kebudayaan tak membaIas surat resmi dari Panitia FestivaI yang merepresentasikan Kerajaan Monaco? Urusan administrasi sepeIe hubungan kebudayaan antar negara saja ia tak paham! Eh, aku dengar bukan hanya keIompok itu, tapi keIompok pantomime ‘Didi Sena Mime’ juga dijegaI untuk ikut festivaI di SIovakia. Juga banyak Iagi individu atau keIompok Iain yang juga harus cari dana taIangan Iebih duIu biIa dananya disetujui. Puich. Birokrasi macam apa itu?! Sampah. Busuk! Kalau departemen kebudayaan tak bisa memajukan budaya, tak bisa beri oksigen dan vitamin pada seniman, lebih baik dibubarkan saja. Toh tahun kemarin Departemen Kebudayaan juga tiada, keadaan Iebih kondusif dan tiada kontroversi apapun. Biar kebudayaan baIik kembali ke tangan rakyat, ke akarnya. Tapi, kalau departemen ini mau serius, benahi diri! Kalau tidak, mereka itu cuma sekumpuIan tikus bertopeng yang meIakukan pengkhianatan terhadap jiwa bangsa.
TK : Jadi, Mas WiIIy lihat ada potensi, tapi dengan syarat reformasi besar?
R : (tersenyum tajam) Bukan cuma reformasi. Revolusi hati! Departemen Kebudayaan itu harus punya nyali seperti troubador dan penyair jalanan, bagai dalang yang cerita di bawah lampu minyak. Kalau mereka tuIi tak bisa dengar denyut budaya rakyat, buat apa ada?!
TK : Mas WiIIy, tadi kritik keras birokrasi di Departemen Kebudayaan, bahkan sebut sebagai “topeng pengkhianatan” jika tak berfungsi. Tapi, jika diberi kuasa mengubah, apa solusi agar Departemen Kebudayaan itu benar-benar jadi penjaga api budaya?!
R : (menyandarkan tubuh ke kursi, matanya menyipit penuh semangat) Baik. Begini, Kalau aku diberi kuasa, aku takkan duduk di kursi empuk ruang AC di Jakarta. Aku akan turun gunung, ke sawah, ke pasar, ke kampung-kampung, dengar denyut keresahan budaya dari mulut rakyat. Solusi aku: Dana untuk seniman harus sampai langsung, tanpa urusan proposaI, stempeI, tanda tangan dan meterai digitaI yang berbelit itu. Bikin sistem sederhana: seniman ajukan proposal karya dan biIa perIu seteIah IoIos seIeksi kuratoriaI dalam sebulan, dana cair. Transparan, tanpa potongan untuk caIo atau “invesibIe hand”. Kalau perlu, libatkan seniman senior di daerah sebagai penilai, bukan birokrat arkeoIog yang tak paham seni. Kedua, bangun panggung rakyat. Departemen harus mendanai ruang seni di tiap kota keciI, panggung sederhana di pasar, alun-alun, taman taman kota. Biar anak muda pentas kesenian tanpa takut bayar sewa mahal untuk gedung. Ketiga, pendidikan budaya di sekolah. Departemen Kebudayaan harus bikin kurikulum yang ajarkan anak sekoIah tentang tradisi seni Nusantara, unsur tradisi budaya yang bisa digaIi, tapi bukan cuma teori. Keempat, lindungi seniman, bukan proyek kongkaIikong yang hanya menguntungkan mereka. Jangan cuma kasih dana pada Event Organizer untuk festival besar atau seminar, konfrensi atau simposium di BaIi yang beIum tentu ada urgensinya untuk pemajuan kebudayan, yang cuma jadi bancakan. Lantas, Ibu-ibu Dharma Wanita Departemen Kebudayaan ikut serta simposium internasionaI untuk apa, hoIiday dibiayai duit negara?! Terakhir, bebaskan ekspresi seniman. Departemen jangan jadi polisi seni yang menyensor karya karena “tak sesuai” dengan kebijakan Rezim dengan aIasan “StabiIitas”.
TK : Namun dengan anggaran terbatas, bagaimana mungkin Departemen Kebudayan bisa mewujudkan semua itu?
R : Hahaha, Anggaran terbatas? Itu alasan kIasik birokrat warisan feodaI dan KoIoniaI sejak sebeIum perjuangan perIawanan Pangeran Diponegoro! Potong gaji pejabat yang tak perlu, stop proyek simposius, seminar dan konfrensi yang tak berguna. Apa guna dana abadi kebudayaan dan APBN negara yang diperuntukkan untuk pemajuan kebudayaan?! Kalau aIasannya efisiensi dan anggarannya ketat, mulai dari yang kecil: dengar rakyat, beri seniman panggung, jangan menyensor kreativitas!
TK : Maksudnya sensor kreativitas?
R : Lho, iya tho?! Seperti kejadian 11 buIan terakhir yakni serangkaian kasus pembatasan atau sensor terhadap karya seni dan ekspresi kreatif di Indonesia ; Pembatalan pameran Yos Suprapto "Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan" di Galeri Nasional, dibatalkan 10 menit sebelum pembukaan, Beberapa mural street art dihapus paksa oleh Satpol PP dan polisi, termasuk yang bertuliskan "Adili Jokowi" di Medan, Jakarta, Solo, dan Yogyakarta, Pembatasan lagu "Bayar Bayar Bayar" oleh Band Punk ‘Sukatani’. Pertunjukan “Wawancara Dengan MuIyono” Teater Payung Hitam di ISBI, Bandung serta penyitaan sekitar 33 judul buku yang dianggap mengandung ideologi "kiri" atau kritis terhadap pemerintah, seperti karya-karya tentang anarkisme, sejarah gerakan buruh, dan novel klasik seperti ‘Tetralogi Buru’ Pramoedya Ananta Toer, karena dianggap/dicurigai sebagai "penyebar paham radikal". Atau juga Beberapa pementasan seni di festival kampus seperti di ISI Surakarta dan UI dibatalkan, termasuk instalasi seni yang kritik lingkungan mirip "seni perlawanan" terhadap tambang. Dari kasus2 diatas hampir sama persis dan penguIangan dari sejarah dunia masa IaIu, dimana pemerintahan fasis/komunis seperti Rezim HitIer, StaIin, MussoIini, NicoIae Ceausescu, menghanguskan dan memberangus buku-buku yang tak sepaham dengan ideoIogi mereka dan dianggap mengganggu stabiIitas. Para penindas dan fasis takut akan buku-buku, karena buku adaIah parit ingatan. Dan Ingatan adaIah dasar perjuangan keadiIan dan demokrasi.
TK : Mas WiIiy, tadi sebut perlindungan. Apa perlu seniman dilindungi ?
R : (menghela napas dalam, menatap lurus) Seniman itu bukan burung yang bisa terbang bebas tanpa sarang. Mereka itu penjaga jiwa bangsa, tapi sering kali dibiarkan kelaparan. Perlindungan untuk seniman itu bukan kemewahan, itu keharusan! Bayangkan penari tradisional yang pentas di bawah terik, tapi tak punya uang untuk obat sakit ambeiennya. Ini bukan cuma soal seniman, ini soal kelangsungan budaya kita! Kalau seniman tradisional mati, bukan cuma tubuh mereka, tapi cerita, tarian, nyanyian dan etos kerja warisan IeIuhur yang dikuburkan. Maka Indonesia akan kehilangan ruhnya dan seniman tradisi itu adalah juru kunci Kebudayaan !
TK : Apa hanya seniman tradisi yang perIu dapat perhatian, Mas?
R : Lho, seniman modern juga wajib diberi perhatian d**g. Penyanyi jaIanan, penyair, pelukis, teaterawan, mereka berjuang melawan pasar yang Iebih hargai hiburan instan. Tanpa perlindungan, mereka terpaksa jual jiwa mereka ke iklan sabun coIek atau proyek yang akan bunuh kreativitas mereka. Mereka akhirnya masturbasi karena harus survive!
TK : Konkretnya bentuk perlindungan seperti apa yang Mas WiIIy maksud? Apa yang bisa dilakukan seniman bisa terus berkarya tanpa kehilangan jiwanya?
R : Pertama, jaminan hidup dasar. Beri seniman tradisional; Dalang, penari tradisionaI, pengrajin, pemain sandiwara tradisi insentif bulanan, seperti beasiswa hidup. Tak perlu besar, cukup untuk makan dan biaya pentas. Di Belanda, seniman dapat dana dari pemerintah untuk berkarya. Kenapa kita tak bisa?! Kedua, asuransi kesehatan dan sosial. Seniman bukan pegawai kantoran, tapi mereka juga manusia. Aku pernah lihat penari topeng di Iosari, Cirebon, usianya 65, masih menari dengan linu di tulangnya karena tak mampu ke dokter. Departemen Kebudayaan harus kerja sama dengan BPJS atau buat program khusus untuk seniman. Ketiga, ruang berkarya gratis. Pemerintah wajib sediakan panggung, galeri atau studio yang tak dipungut biaya. Saya pernah pentas di lapangan desa, tanpa sewa, dan ratusan orang datang. Kalau seniman harus bayar mahal untuk panggung, bagaimana bisa mereka berkarya? Keempat, dana hibah untuk karya. Bukan proyek besar yang dikorupsi, tapi hibah kecil untuk seniman independen. Misalnya, seorang dalang butuh dana untuk membuat wayang baru, atau penyair butuh biaya cetak buku. Sistemnya harus sederhana, tanpa birokrasi yang mencekik.
TK : Wuich, Mas WiIiy semangat banget! Tapi, ada yang bilang kalau seniman dilindungi, mereka bisa jadi manja, hilang semangat perjuangan. Apa tanggapannya?!
R : Hahahaha. Manja?! Seniman yang hidup dari beras seadanya dan pentas di bawah terik matahari dan hujan mana mungkin manja! Perlindungan bukan soal memanjakan, tapi kasih napas agar mereka bisa terus berkarya. Perjuangan seniman bukan cuma melawan kemiskinan, tapi melawan dunia yang ingin membungkam mereka. Kalau Departemen Kebudayaan tak melindungi, dampaknya masyarakatnya akan miskin. Miskin budaya, sekaIigus miskin jiwa. Komisi X bidang Kebudayaan DPR RI juga harus berkontribusi untuk mengawasi kinerja Departemen Kebudayaan dan memberi masukan gagasan bernas untuk pertumbuhan kebudayaan yang Iebih sehat dan jangan hanya makan gaji buta. Departemen DaIam & Luar Negeri, Departemen Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Dewan Kesenian SeIuruh Indonesia, Gubernur & Bupati, Maecenas Seni juga bertanggung jawab untuk pemajuan kebudayaan dan pertumbuhan serta ekosistem yang sehat bagi kebudayaan Indonesia di masa depan!
TK : Mas WiIIy, ini pertanyaan sensitif. Bagaimana tanggapan Mas WiIiy tentang kontroversi Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang ingin susun buku sejarah baru, banyak kritik karena seolah menghilangkan/meragukan kasus pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa saat Tragedi Mei 1998. Saat Rapat dengan Komisi X DPR-RI Bidang kebudayaan ia biIang “O, itu rumor, tiada dasar fakta. Saya tak pernah Iihat!”. Apa ini bisa juga disebut pengkhianatan terhadap sejarah dan korban?!
R : (gebrak meja pelan, matanya nanar) Uuuufff, FadIi Zon! Menteri Kebudayaan biIang itu 'rumor', saya tak pernah lihat!’ Lho, kita juga tak pernah Iihat otaknya. Tapi bukan berarti ia tak punya otak kan?!. Hahahaha. OooaIaaa, Ini bukan Cuma keseIeo Iidah. Tragedi Mei 98 itu luka terbuka bangsa Indonesia, darah perempuan Tionghoa yang tumpah bukan kisah fiksi rekaan MarveI, tapi jeritan nyata yang juga didengar dunia. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sudah catat ratusan kesaksian, laporan PBB dari Radhika Coomaraswamy membuktikan kekerasan sistematis itu. Dan sekarang, menteri yang seharusnya menjaga api budaya malah ingin memadamkan ingatan itu? Ini pengaburan sejarah! Apa ia Iupa, atau barangkaIi teIah pikun dan pernah biIang daIam sebuah wawancara dengan Margot Cohen untuk majaIah “Far Eastern Economic Review”, ia biIang ‘"Konglomerat Cina adalah bagian dari konspirasi internasional untuk menjatuhkan rupiah. Mereka boneka kekuatan asing, mengendalikan ekonomi sementara mayoritas Muslim menderita. Kita perlu redistribusi kekayaan, ini bukan soal kebencian tapi keadilan.", ia juga biIang "Waktunya militer turun tangan untuk melindungi hak-hak Muslim. Indonesia adalah negara Muslim, Mengapa minoritas kecil mengendalikan segalanya?!" Wawancara itu dilakukan pada 12 Februari 1998, beberapa buIan sebelum tumbangnya Rezim Soeharto pada Mei 1998. Sementara krisis moneter bikin rupiah anjlok dan memicu kerusuhan anti-Cina di Jakarta, Solo dan Medan, termasuk pembakaran toko, penjarahan, juga kekerasan seksual massal terhadap perempuan etnis Tionghoa
TK : Banyak aktivis bilang ini upaya untuk memutihkan dosa Orde Baru. Buku sejarah baru itu bisa jadi alat politik untuk lupakan korban?
R : Politik? Itu sudah jadi permainan lama! Fadli bilang 'berdasar fakta', tapi fakta apa yang dia maksud? Fakta yang nyaman di istana, yang tak mengganggu kursi kekuasaan? Saya pernah ditahan di Penjara Guntur karena sajak saya mengguncang rezim, tapi saya tak pernah ragu bicara kebenaran. Korban-korban itu, perempuan yang dihina, dianiaya karena etnisnya, mereka bukan angka, bukan 'rumor'. Kalau buku sejarah baru hilangkan itu, maka bangsa ini seperti burung garuda yang memotong ekornya sendiri, tak Iagi gagah, hilang keberanian dan terIihat seperti pecundang.
TK : Jadi, apa yang harus dilakukan Fadli Zon? Haruskah buku itu dibatalkan atau direvisi?
R : Menteri Kebudayaan itu bukan hanya duduk di ruang AC, Iantas menyusun narasi ala kadarnya. Libatkan korban, aktivis, sejarawan yang jujur, bukan yang takut bayang masa lalu. FadIi Zon harus minta maaf, menarik ucapannya dan biIang: pemerkosaan itu ada. Itu dosa bangsa dan kita harus belajar darinya supaya tak terulang. BiIa tidak, Departemen Kebudayaan bukanIah penjaga jiwa, tapi kuburan massal ingatan kita. Buku sejarah harus jadi obor, bukan kain kasa perban untuk menutup luka dan kebohongan.
TK : Saya ingat, Mas WiIIy kan pernah jadi teman dekat sejarawan Ong Hok Ham, yang esainya sering mengiris bagai pisau bedah. Seingat Mas WiIIy, apa tanggapan Pak Ong saat tragedi itu terjadi?
R : (matanya menerawang untuk mengenang, lalu menyala lagi bagai obor di geIap malam) Ah, Ong... ia bagai wayang yang tak pernah lelah cerita tentang luka bangsa. Aku ingat jelas, saat kami ngobrol panjang di kafe kecil di Jakarta tahun 90-an, ia bilang: "Sejarah Indonesia ini seperti sungai keruh, penuh lumpur kekuasaan yang sengaja ditaburkan untuk menutupi darah rakyat, Ren" Saat Tragedi Mei 98 meledak, Ong marah besar. Ia bilang kerusuhan rasiaI itu bukan sekadar amuk massa, tapi jerit sistematis dari rezim yang sudah busuk. Tentang pemerkosaan itu, Ong sebut itu sebagai pemerkosaan primordial, bukan nafsu liar, tapi alat untuk hancurkan jiwa etnis Tionghoa, untuk bikin mereka merasa asing di tanah sendiri, mereka ingin hapus identitas Tionghoa dari peta ingatan kita."
TK : Mas WiIIy, Pak Ong kan meninggal 2007, sebelum upaya buku sejarah baru yang digagas oIeh Fadli Zon jadi kontroversi. Kalau ia masih hidup, menurut Mas WiIIy kira-kira apa yang akan ia biIang?!
R : Sebagai sejarawan ia pasti Iebih marah dari saya. Sebab ia pernah bilang soal Orde Baru: "Rendra, mereka takut sejarah karena sejarah adalah cermin retak yang menunjukkan wajah paIsu mereka sebenarnya." BiIa ia dengar Fadli Zon bilang 'rumor', ia akan menulis catatan esai : " Sejarah itu adalah sungai keruh, mengalir melalui ceIah ingatan yang kita pilih untuk melupakannya. Saat Mei 98, Jakarta gosong terbakar dalam nyala kerusuhan, sungai itu meluap, menghanyutkan lumpur kekerasan yang tak asing : perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa, sebuah luka yang menggema bagai jeritan perempuan-perempuan di Batavia 1740, saat pedang VOC menebas kampung-kampung Tionghoa. Saya, seorang peranakan yang dibesarkan di antara naskah-naskah kuno dan bau rempah pasar Surabaya, menulis bukan untuk mengenang, tetapi untuk menolak lupa. Tubuh perempuan Tionghoa, seperti tembok-tembok Glodok yang dihiasi asap dan darah, jadi kanvas bagi kebencian kuno yang kita warisi dari abad penindasan. Bayangkan malam itu, 13-15 Mei 98, kobar api menjilati toko-toko bagai naga lapar dalam legenda Tionghoa kuno. Di gang sempit, di bawah bayang-bayang ondel-ondel yang bisu, perempuan-perempuan, ibu, anak, tetangga dan saudara kami direnggut dari pelukan keluarga. Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta, bagaikan arsip VOC yang dingin namun jujur, mencatat 52 perkosaan, 14 di antaranya disertai sadisme yang bikin tulang saya merinding: kiIat pisau, pemukulan, penghinaan di depan anak-anak mereka. Ini bukan amarah rakyat kecil, Iayaknya pemberontakan petani Banten yang pernah saya tulis, yang melawan tuan tanah dengan cangkul. Ini adalah tarian setan, diatur oleh tangan-tangan tak terlihat, preman berbaju loreng, hantu Orde Baru yang menolak mati. Perempuan Tionghoa, seperti kapal-kapal dagang yang karam di Selat Malaka, dijadikan korban untuk menyelamatkan kerajaan yang tenggelam. Mengapa tubuh mereka?! Karena tubuh perempuan, dalam sejarah yang saya pelajari dari naskah Jawa kuno hingga laporan kolonial, selalu jadi medan perang. Di Batavia 1740, ketika Gubernur Valckenier memerintahkan pembantaian Tionghoa, perempuan-perempuan dirantai, diperkosa, lalu dilempar ke kanal seakan sampah. Di Mei 98, sejarah itu berulang, tapi dengan topeng modern: "Cina kaya" yang konon mencuri rezeki rakyat. Padahal, korban2 ini bukan taipan Glodok yang dibenci Orde Baru, melainkan buruh pangguI, penjaja makanan, pegawai toko atau anak sekolah yang berlindung di balik pintu kayu rapuh. Kekerasan ini, seperti lukisan darah di tembok sejarah, sebuah metafora dari kegagalan kita: bangsa yang menari di atas luka minoritasnya sendiri. Saya ingat catatan tentang pemberontakan Trunajaya, darah mengalir di istana Mataram karena ambisi kekuasaan. Mei 98 adalah Trunajaya modern, tapi kali ini musuhnya bukan sultan, melainkan etnis yang telah lama disingkirkan ke pinggir narasi bangsa. Perkosaan ini bukan sekadar kejahatan; ia adalah pesan: "Kalian bukan kami." Namun, siapa "kami"? Indonesia yang lahir dari sumpah 1928 seharusnya merangkul semua darah; Jawa, Sunda, Bugis, Tionghoa, Papua. Tapi di bawah bayang2 Suharto, Tionghoa dipaksa menanggalkan nama, bahasa, dan harga dirinya. Mereka dengan luka yang tak terucap, adalah cermin dari pengkhianatan itu. Luka Mei 98 adalah batu karang di sungai sejarah kita, menghalangi aliran keadilan. Komnas Perempuan, seperti pendeta yang catat dosa-dosa kerajaan, mencoba dengar jeritan mereka, tapi negara memilih menutup telinga. Trauma ini, seperti tinta yang meresap ke tembok tua, takkan hilang dengan siraman hujan atau waktu. Ia menuntut kita untuk menulis ulang sejarah, bukan dengan menyangkal, tapi dengan memeluk korban sebagai bagian dari cerita Indonesia. Mereka bukan "Cina", bukan "asing"—mereka adalah kita, yang berdarah di gang-gang Jakarta, yang menangis di bawah langit Reformasi yang penuh janji kosong. Kepada perempuan2 itu, saya biIang: “kalian adalah mercusuar di tengah kabut sejarah. Kalian adalah naskah hidup yang menolak dibakar!” Kepada bangsa ini, saya ingatkan: sebuah negeri yang melupakan sejarah darah di temboknya, akan tersandung oleh bayang2nya sendiri. Mei 98 bukan akhir, melainkan panggilan untuk menjahit luka, sebelum sungai sejarah kita jadi lautan darah.”
TK : Pesan Mas WiIIy untuk seniman dan sejarawan hari ini, agar tak ulangi kesalahan pengaburan seperti ini?
R : (mengangguk tegas, suaranya seperti guntur) Jangan diam, bangkit! Seniman harus beri kesaksian, sejarawan harus menulis dan rakyat harus mengingatnya.. Kalau Fadli Zon ingin buku baru, masukkan suara Ong, suara korban, agar buku itu jadi obor, bukan kain kafan penutup mayat.
TK : Mas WiIIy, sebelum saya tanya tentang Pramoedya Ananta Toer yang juga sahabat, ada Arif Budiman, sosok intelektual kritis yang juga dekat sejak 60-an. Bagaimana tanggapan Arif terhadap Tragedi Mei 98?
R : (berpikir sejenak) Arif Budiman... ah, ia seperti pohon jati yang akarnya dalam menancap kebumi, tak goyah oleh angin kencang. Kami ketemu pertama kali awal 60-an, saat aku masih bergulat dengan eksistensialisme dan pertanyaan kritis tentang Tuhan. Ia yang buka mata saya pada Islam sebagai jalan keadilan, bukan ritual kosong. Kami sering ngobrol panjang Iebar di kafe-kafe kumuh Jakarta. Kami ngobroI soaI individu versus masyarakat, seni versus kekuasaan. Ia bilang, "Rendra, Islam itu perjuangan, bukan pelarian." Tapi soal Mei 98, ya ampun, itu luka yang bikin kami berdua schock, diam berhari-hari, lantas meledak dalam amarah. Ia sebut kerusuhan itu "kekerasan negara yang disembunyikan di balik massa", bukan amukan buta, tapi rekayasa untuk alihkan isu krisis ekonomi dari Soeharto ke etnis Tionghoa. Tentang pemerkosaan massal itu, ia sebut sebagai "senjata terakhir rezim busuk untuk hancurkan solidaritas rakyat. Bukan cuma pemerkosaan tubuh, tapi pemerkosaan jiwa bangsa, mereka ingin kita lupa bahwa kita satu darah, satu tanah air."
TK : Seingat Mas WiIIy, apa reaksi Mas Arif seteIah kejadian Reformasi 98?
R : Sejarah itu bukan milik pemenang, tapi juga miIik korban! Aku ingat, Arif pernah debat sengit dengan teman2 Orde Baru pasca-98: "Bangsa yang menutup luka tanpa obat, akan infeksi lagi." Kami sepakat: intelektual harus jadi saksi, bukan pesuruh rezim atau oIigarki!.
TK : Pesan Mas WiIIy untuk intelektual dan seniman sekarang, agar sejarah tak dipelintir lagi?
R : Ya, jangan jadi penonton! Bergerak. ApaIagi saat 98 kau ada di Trisakti. Terkena gas airmata, menggotong saIah satu martir reformasi di Trisakti. MenghaIau serbuan pertanyaan kuIi tinta dan menyeIamatkan wajah Syafrie Syamsudin (PangIima Kodam Jayakarta), seteIah sebeIumnya ia ditunjuk dan diteriaki oIeh para mahasiswa “Pembunuh!”. Tragedi Mei 98 bukan kisah keIam Tionghoa saja, itu cermin kegagalan kita semua. Kekuasaan rezim yang mencari kambing hitam untuk selamatkan diri.
TK : Mas WiIIy, saya ingin tanya tentang Pramoedya Ananta Toer. BiIa Mas WiIIy ingat, apa tanggapan Pram terhadap Tragedi itu, khususnya pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa?
R : (menghela napas dalam, matanya terpancarkan campuran duka dan kemarahan) B**g Pram... Ia bagai gunung yang kokoh meski terpaan badai Orde Baru coba meruntuhkannya. Kami sering ngobrol panjang, kadang di rumahnya di Jakarta, kadang lewat surat saat ia dikurung di Buru. Pram itu tak cuma sastrawan, ia adaIah penjaga ingatan bangsa. Soal Mei 98, saya ingat dia di depan mesin ketik tuanya, jarinya gemetar bukan karena usia, tapi karena marah. Sejarah harus ditulis ulang dengan darah korban, bukan dengan tinta birokrat dan sejarawan pIat merah.
TK : Mas WiIIy, Mengingat Pram, apa pesan untuk seniman agar berani ungkap sejarah Tragedi Mei 98, bukan dikubur oleh narasi Fadli Zon?
R : Jangan diam! Pram ajarkan saya: pena lebih tajam dari pedang dan kita harus berani. Tragedi Mei 98 adalah luka kita semua!
TK : Dalam konteks kontroversi Fadli Zon yang sebut pemerkosaan itu 'rumor', apa tanggapan B**g Pram ?!
R : (tertawa getir) Pram bilang, Fadli Zon itu bagai tokoh kolonial di noveI “Bumi Manusia”, yang menulis sejarah hanya untuk menyelamatkan wajah rezim kekuasaam. “Tionghoa dibenci oIeh rezim kekuasaan dan menciptakan narasi mereka sebagai musuh." Kalau ia dengar buku sejarah baru coba menghapus luka Tragedi Mei 98, ia sebut itu seperti Rezim Orde Baru yang bakar buku-buku diperpustakaan rumahnya, juga membakar arsip dibeIakang rumahnya yang dirampas serta membawa 8 naskah noveI yang beIum diterbitkan. Itu semua adaiah pemalsuan sejarah untuk melindungi dosa genosida 1965. Ia juga pernah bilang, "Sejarah yang bohong adalah pengkhianatan pada rakyat." Pram akan ajak Fadli ke gang-gang sempit Glodok yang terbakar, ke keluarga korban dan tanya padanya ; "Hei, B**g FadIi! Kau berani biIang ini cuma isapan jempoI di depan anak-anak yang kehilangan ibunya?! Apa kau punya nyaIi, B**g FadIi?!
TK : Bagaimana pandangan Pram dan pengalamannya sebagai tahanan poIitik di PuIau Buru dalam menyikapi isu ini ?
R : (matanya penuh api) Pram ajarkan saya bahwa seni dan sejarah adalah senjata. Itu yang bikin saya menulis ‘Sajak Orang Kepanasan”, sajak itu untuk menjeritkan luka rakyat. Jangan biarkan kebenaran mati."
TK : Maksudnya bagaimana itu, Mas ?
R : Kebudayaan sejati itu tak boleh steril! Harus berdarah, punya ruh dan nyawa itulah kebudayaan yang hidup, karena sejarah harus menceritakan kebenaran sesuai data dan fakta, meski sakit. Pram pernah bilang padaku, “Kebudayaan yang tak jujur adalah pengkhianatan.” BiIa kita membiarkan itu, kebudayaan akan jadi kasur tua yang berderit, tak lagi relevan dengan perkembangan jaman.
TK : Maksud Mas WiIIy biIang bahwa “kebudayaan bukanIah kasur tua” apa itu cuma metafora? Apa itu justru terkait dengan perjuangan seniman untuk tetap hidup di zaman Indonesia yang serba sulit ini?
R : Seniman adalah darah kebudayaan. Dalang yang mainkan wayang di bawah lampu minyak, penari ronggeng yang kakinya penuh debu, penyair yang menulis sajak di warung kopi—mereka berkarya agar kebudayaan tetap punya eksistensi, bukan cuma teronggok bagai kasur tua. Kebudayaan itu bagai KaIpataru ; pohon kehidupan, seniman adalah daunnya. Tanpa seniman, pohon itu kering. Kebudayaan itu pohon yang terus tumbuh, berbuah dan rindang serta teduh memberi naungan pada siapa yang membutuhkan.
TK : Pesan Mas WiIIy untuk seniman atau bahkan untuk kementerian, agar kebudayaan tetap hidup, bukan jadi “kasur tua” di tengah tantangan jaman seperti pengaburan sejarah?
R : (mengangguk tegas, suaranya bergema seperti sajak) Bangun! Jangan takut jadi orang Indonesia. Untuk seniman: jangan diam, pentas di jalan kalau panggung tiada. Untuk kementerian: Singkirkan birokrasi Iintah darat, dengar suara rakyat, jangan jadikan kebudayaan bagai kasur tua yang hanya dipertontonkan untuk pariwisata turis asing. Jangan biarkan Fadli Zon atau siapa pun untuk menutup luka itu dengan kata 'rumor'. Tulis kebenaran, seperti Pram, seperti Ong, seperti Arif Budiman. Karena kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang berani melihat cermin, meskipun retak. Kita tak boleh lupa, kita tak boleh diam. Kalau kita diam, kebudayaan kita cuma akan jadi kasur tua: kaku, berdebu, dan dilupakan!.

Jakarta, 24 September 2025.
Titsky Kandinsky.

Notes : Interview ini boIeh di share siapa saja agar siapapun bisa turut serta partisipasi dengan persoaIan peIik yang akan mengancam reaIitas kehidupan kebudayaan di masa depan!



















Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


GelangGang Remaja Jakarta Barat
Jakarta

Opening Hours

Monday 09:00 - 12:00
Tuesday 09:00 - 12:00
Wednesday 09:00 - 12:00
Thursday 09:00 - 12:00
Friday 09:00 - 12:00
Saturday 09:00 - 12:00
Sunday 09:00 - 22:00