IPM SMK Muhammadiyah 9

IPM SMK Muhammadiyah 9

Share

Organisasi Ortonom Muhammadiyah yang terdapat di sekolah-sekolah Muhammadiyah terutama SMK Muhammadi

29/05/2020

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Bagaimana kabarnya guys? Semoga sehat-sehat selalu yaaaa 😇

Setelah ramadhan, apakah ada perubahan normal kehidupan kita?
Mari diskusi bersama dengan Bidang KDI se-DKI Jakarta 😎

Ditunggu kehadiranmu yaaa guys 😎


















Photos 24/12/2019

.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebayoran Lama present

📢 Hadirlah!
🌇 Sholat Gerhana Matahari Cincin

👤 Imam dan Khotib : Drs. H. Ahmad Yani

🗓️ : Kamis, 26 Desember 2019
⏲️ : 12.15 WIB s/d selesai
🕌 : Masjid Nurul Amal, Perguruan Muhammadiyah Kebayoran Lama

Nashrun Min Allah wa Fathun Qarib
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

📷 Ikuti terus perkembangan Muhammadiyah Kebayoran Lama di






Photos from Kaos Islami Nuun Distro's post 12/12/2017
Photos from IPM SMK Muhammadiyah 9's post 23/07/2016

Assalamu 'alaikum Wr Wb





Nuun walqolami wamma yasthuruun
Wassalamualaikum wr. wb

Photos 08/07/2016

Assalamu'alaikum wr.wb

🌟Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kebayoran Lama🌟
📢Proudly present📢

Film dokumenter, karya Pelajar Muhammadiyah Kebayoran Lama
Diambil dari kisah nyata

🎬Official Trailer🎬
"ANAK PANAH MENTARI"
Now on youtube : https://youtu.be/FQh5zC_6LoQ

🎥Full Official Film🎥
19 JULI 2016

"Hanya dengan berpikir besar dan berkarya besar, sungguh Indonesia suatu saat menjadi bangsa yang unggul dalam peradaban dunia." Author: Susilo Bambang Yudhoyono

Wassalamu'alaikum wr.wb

Photos 05/07/2016

"Meniru Nabi SAW Dalam Merayakan Idul Fithri"

Assalamu 'alaikum Wr Wb,

Bismillahirrahmaaniirrahiim
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S.Ali Imran 3:31)

Nabi SAW pernah bersabda: "Tidak beriman salah seorang kalian hingga aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya". (Muttafaqun 'alaih).
Sebagai umat Nabi SAW kita wajib mencintai beliau lebih dari segalanya. Pada zaman Nabi SAW sudah barang tentu para sahabatlah orang yang paling dekat dengan Nabi SAW dan mereka sangat besar rasa cintanya kepada beliau. Kecintaan para sahabat kepada Nabi SAW membuat mereka sangat taat dalam mengikuti perintah Nabi SAW.

Sebagai Panutan

Kedekatan hubungan para sahabat kepada Nabi SAW membuat rasa cinta mereka semakin mendalam kepada Nabi SAW dan ini diaplikasikan dalam amal perbuatan mereka sehari-hari. Begitu cintanya kepada Rasulullah SAW, para berusaha meniru kebiasaan Nabi SAW baik dalam masalah ibadah maupun perbuatan apa saja yang biasa dilakukan Nabi SAW sehari-hari. Memang sudah sewajarnya Nabi SAW yang berakhlak mulia dan sebagai manusia pilihan Allah menjadi panutan atau contoh bagi umatnya dan Allah SWT pun telah menyatakan dalam firman-Nya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Q.S. Al-Ahzaab 33:21)

Berusaha Meniru

Kecintaan para sahabat yang tiada bandingnya kepada Rasulullah SAW mereka ekspresikan dengan melaksanakan perintah beliau dan berusaha meniru apa saja dari perbuatan Rasulullah SAW yang bisa mereka tiru. Hingga masalah yang bersifat manusiawi dan tidak termasuk dalam syariat agama mereka berusaha p**a meniru beliau.
Adalah Umar bin Khattab RA ketika mencium hajar aswad, dia berkata: "Sesungguhnya aku tahu bahwa kau adalah batu. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu". Demikian p**a Ibnu Mas'ud RA, ketika muridnya bertanya kenapa dia memberikan pengajian hanya setiap kamis saja, tidak setiap hari. Ibnu Mas'ud RA pun berkata, bahwa dulu Rasulullah SAW tidak setiap hari memberikan pengajaran kepada para sahabat, beliau memilih saat yang tepat untuk memberikan nasihat karena khawatir para sahabat menjadi bosan. Dan karena itulah Ibnu Mas'ud RA melakukannya, mengikuti yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW. Keinginan meniru para sahabat merupakan bukti kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW, sampai kepada hal yang tidak beliau perintahkan pun mereka tiru.

Mandi Sebelum Shalat Ied

Perlu kita mengetahui kebiasaan Rasulullah SAW dalam merayakan Idul Fithri (apa yang biasa beliau lakukan) sehingga kita bisa berusaha mencontoh atau meniru seperti yang beliau lakukan. Seperti halnya hari Jum'at, Rasulullah SAW selalu mandi dahulu sebelum berangkat ke tempat pelaksanaan shalat Ied, baik Idul Fithri maupun Idul Adha.
Dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata: "Bahwasanya Nabi SAW mandi pada hari Idul Fithri dan Idul Adha". (HR.Ibnu Majah). Yang lebih afdhal mandinya setelah Shalat Subuh sebelum berangkat Shalat Ied.

Memakai Pakaian Terbagus

Ketika berangkat ke tempat shalat Ied, Rasulullah SAW selalu mengenakan pakaian yang paling bagus yang beliau miliki. Beliau memiliki pakaian khusus yang sering dipakai ketika melaksanakan shalat Jum'at dan shalat Ied. Jabir bin Abdullah RA menyebutkan: "Nabi SAW mempunyai jubah yang sangat bagus yang selalu beliau pakai pada hari raya dan hari Jum'at". (HR.Ibnu Abdil Bar dan Ibnu Khuzaimah).

Makan Terlebih Dahulu

Disunnahkan untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat pelaksanaan shalat Idul Fithri, namun tidak makan alias berpuasa ketika ingin berangkat shalat Idul Adha. Sebagaimana riwayat Buraidah bin Al-Hashib RA, ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idul Fithri hingga beliau makan. Dan beliau tidak makan pada hari raya kurban hingga selesai shalat". (HR. Ahmad,At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Meski pun yang Rasulullah SAW makan adalah beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil, bukan berarti kita juga harus makan kurma, walau pun itu lebih baik karena mencontoh persis sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.

Berjalan Kaki

Dari Ali bin Abi Thalib RA, ia berkata: "Termasuk dari sunnah adalah keluar pada hari raya dengan berjalan kaki". (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah SAW berjalan kaki ketika pergi menuju lapangan tempat shalat Ied dengan membawa tongkat besi di kedua tangannya. Setiba di tempat shalat beliau tancapkan tongkat besi itu di hadapannya sebagai pembatas pelaksanaan shalat. Tempat shalat Ied kala itu berupa tanah lapang yang tidak ada padanya bangunan dan tembok, sehingga tongkatlah sebagai pembatasnya. (HR. Al-Bukhari dan Ibnu Majah).
Namun demikian para ulama membolehkan naik kendaraan jika karena lapangan tempat shalat Ied jauh dari rumah, sehingga takut terlambat, namun demikian lebih afdhal dengan berjalan kaki meniru apa yang dilakukan Rasulullah SAW, apalagi jalan raya dekat rumah pun biasanya ditutup untuk digunakan sebagai tempat shalat Ied, jadi cukup dengan berjalan kaki.

Langsung Shalat Ied

Baik shalat Idul Fithri atau pun Idul Adha tidak didahului dengan adzan dan iqamat dan juga tidak ada shalat sunnah dua (2) rakaat sebelumnya (qabliyah) dan sesudahnya (ba'diyah). Sesampai di tempat shalat Ied, Rasulullah SAW langsung melakukan shalat Ied dua rakaat.
Disebutkan dalam hadis sahih dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: "Saya manyaksikan shalat Ied bersama Rasulullah SAW dan Abu Bakar, Umar serta Utsman RA. Mereka semua shalat sebelum Khutbah tanpa adzan dan iqamat". (HR. Abu Dawud).
Selain tidak dikumandangkan adzan dan iqamat sebagai dimulainya shalat Ied, juga tidak ada panggilan dengan ucapkan "ash-shalaatu jaami'ah", karena Rasulullah SAW tidak melakukannya. Jadi cukup imam berdiri di depan dan diikuti oleh orang-orang yang berada di belakangnya ketika akan memulai shalat Ied.

Shalat Hari Raya

Hukum shalat Ied ada yang berpendapat fardhu kifayah (kewajiban kolektif) yaitu menurut madzhab Imam Ahmad, namun ada yang mengatakan hukumnya sunnah muakkad (sunah yang sangat dianjurkan), ini pendapat madzhab Imam Malik dan Imam Syafi'i. Sedangkan madzhab Imam Abu Hanifah menyatakan Fardhu 'ain (kewajiban individu). Wallahu a'lam.
Shalat Ied dilakukan sebanyak dua rakaat secara berjamaah sebelum imam berkhutbah. Banyak hadis yang meriwayatkan tentang jumlah takbir dalam shalat Ied, namun bukan ucapan dari Rasulullah SAW, melainkan ucapan para sahabat. Hadis yang dijadikan hujjah ialah dari Amir bin Syu'aib, dari bapaknya (Syu'aib), dari datuknya Abdullah, ia berkata: "Sesungguhnya Nabi SAW bertakbir pada hari raya (Ied) dua belas takbir, yaitu tujuh pada rakaat pertama dan lima pada rakaat kedua...". (HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Tirmidzi). Ada selisih pendapat, apakah tujuh rakaat itu sudah ternasuk takbiratul ihram apa tidak.

Ucapan Salamat

Ucapan yang biasa diucapkan ketika hari raya Idul Fithru tidak ada yang marfu (dari Nabi SAW), yang ada adalah yang biasa diucapkan para sahabat, hadisnya hasan dari Zubair bin Nafir, ia berkata: "Adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW apabila bertemu satu dengan lainnya pada hari raya, mereka saling mengucapkan doa: "Tawabbalallahu minnaa wa minkum". Artinya: "Semoga Allah menerima amal kami dan amal kamu". Ucapan "Minal aidzin walfaidzin" atau "selamat Idul Fithri" tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW mau pun para sahabat, sebagai umat islam sebaiknya tidak mengucapkan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW dan para sahabat.
Wallahu a'lam bishshawab.

Nuun walqolami wamma yasthuruun
Wassalamualaikum wr. wb

Abu Alfa Al-Jawi - Jakarta
Diterbitkan oleh MAJLIS TABLIGH PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH JAKARTA.

Photos 21/05/2016

"Malam Nisfu Syaban dan Amalan Nisfu Syaban"

Assalamu 'alaikum Wr Wb,

Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya?

Bulan Sya’ban Secara Umum adalah Bulan Mulia

Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan.
Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah s**a untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

“Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565)

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban

Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa.
Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.”

Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.”

Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.”

Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah.

Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245).

Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya.

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya.

Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada.

Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.”

Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131)

Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132)

Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya

Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban.

‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678)

Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban

Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi

Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Perbanyak P**a Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban

Nuun walqolami wamma yasthuruun
Wassalamualaikum wr. wb

Sumber: https://rumaysho.com/11158-malam-nisfu-syaban-dan-amalan-nisfu-syaban.html

Photos 09/03/2016

"AKIBAT YANG MENGERIKAN DARI MENINGGALKAN SHALAT"

(Na'udzubillah ..!!!)

Assalamu 'alaikum Wr Wb,

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.(QS:Ibrahim:40)

Barang siapa melalaikan sholat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.

Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan sholat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran.

Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan sholat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.

Orang yang meninggalkan sholat tidak memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum.

Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah.Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipatgandakan, dan di hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya.

Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahanam akandibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka.

Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, ‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya.’

Ketahuilah, sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap sholat lima waktu, sholat Jumat, dan sholat berjama’ah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya.

Orang yang meninggalkan sholat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawiyah.”

Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan sholat hingga terlewat waktunya, lalu mengadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu huqub (80 tahun)…. Sedangkan ukuran satu hari di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.

Sementara dalam kitab Qurratul Uyun, Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadis, “Barang siapa meninggalkan sholat fardu dengan sengaja walaupun satu sholat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.’

Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan sholat. Dalam Islam mereka tidak akan mendapat bagian apa pun’.

Disebutkan dalam hadis lain, barang siapa meninggalkan sholat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memedulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih.

Diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pun di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?”“Siapa, ya, Rasulullah?” “Orang yang meninggalkan sholat,” jawab Rasulullah.

Dalam hadis yang berhubungan dengan peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala.

Demikianlah mereka melakukannya berulang kali. Lalu, beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”
“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mengerjakan sholat,” jawab Jibril.

Diriwayatkan p**a, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama Wail. Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan sholat, kecuali jika mereka bertobat.

Bagi mereka yang memelihara sholat secara baik dan benar, Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal, dihindarkan dari kesempitan hidup, diselamatkan dari siksa kubur, dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, dapat melewati jembatan shirathal mustaqim secepat kilat, dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.

Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan sholat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SAW.

Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak diangkat ke langit, tidak memperoleh bagian doa kaum salihin, dan tidak beriman ketika roh dicabut dari tubuhnya.

Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andai kata diberi minum sebanyak lautan, ia tidak akan merasa puas.

Sedangkan tiga siksaan yang didapat dalam kubur ialah, kubur mengimpitnya hingga tulang-belulangnya berantakan, kuburnya dibakar hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan kepada seekor ular bernama Asy-Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi, kukunya sepanjang satu hari perjalanan.

”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan sholat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan sholat Zuhur hingga Asar, mengundurkan sholat Asar hingga Magrib, mengundurkan sholat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan sholat Isya hingga Subuh,” kata ular itu. Setiap kali ular itu memukul, tubuh mayat tersebut melesak 70 hasta, sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi.

Ia disiksa dalam kubur hingga hari kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.

Adapun tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Allah SWT adalah, pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya.

Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya.

Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.”

Kedua, Allah tidak memandangnya.

Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih. Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang sengaja melalaikan sholat.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Amin..

Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam bish-shawab,

Subhanallah..

Silahkan bagikan pesan ini agar semakin banyak saudara kita yang termotivasi melakukan kebaikan ini. semoga yang membagikan termasuk hamba yang cinta Allah dan memudahkan jalannya ke syurga kelak. Aamiin.

Ya Allah,
Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu agar kami senantiasa dekat kepada-Mu hingga akhir hayat nanti serta sampaikanlah umur kami dan keluarga kami kepada bulan Ramadhan hingga Ramadhan selanjutnya.

Aamiin ya Rabbal'alamin

Semoga yang "like" dan "bagikan" tausiyah ini semua dosanya diampuni Allah, diangkat derajatnya, dikabulkan segala hajatnya dan mendapatkan pasangan yang sakinah serta anak yang sholeh/sholeha hingga bisa masuk surga melalui pintu mana saja yang dikehendaki. Aamiin ya Rabbal'alamiin......

Nuun walqolami wamma yasthuruun
Wassalamualaikum wr. wb

Sumber: Tulisan Kehidupan (Line)

08/03/2016

Cara Mengerjakan Shalat Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari :

Yang Pertama : Shalat 2 raka’at sebagaimana shalat biasanya, boleh kita melaksanakannya sendiri-sendiri, atau mungkin lebih utama jika kita melaksanakannya secara berjama’ah
Yang Kedua : Shalat 2 raka’at dengan 4 kali rukuk, dan juga 4 kali sujud, yaitu pada raka’at pertama (sesudah rukuk dan i’tidal) kita membaca surat Al-Fatihah lagi, selanjutnya kita terus melakukan rukuk sekali lagi dan i’tidal, kemudian kita terus sujud selnjutnya sebagaimana biasa. Dan pada raka’at kedua juga kita lakukan seperti halnya pada raka’at yang pertama. Jadi dengan demikian shalat Gerhana tersebut seluruhnya berjumlah 4 rukuk, 4 fatihah dan 4 sujud.
Apabila shalat Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari tersebut dilaksanakan seperti shalat biasanya yakni 2 raka’at dengan 2 rukuk, maka hal itu tidak menjadi halangan juga (cukup sah p**a).
Berikut bacaan Niat Shalat Gerhana Bulan atau Gerhana Matahari :

Gerhana Bulan
أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
{” Ushallii Sunnatal Khusuufil-Qomari Rak’ataini Lillahi Ta’alaa “}
Artinya : {” Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Bulan dua rakaat karena Allah ta’ala “}
Gerhana Matahari
أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِكُسُوْفِ الشَّمسِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
{” Ushallii Sunnatal Kusuufis-Syamsi Rak’ataini Lillahi Ta’alaa “}
Artinya : {” Aku niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Matahari dua rakaat karena Allah ta’ala “}

NB.: Sebaiknya didalam melaksanakan Shalat Gerhadan Bulan, Bacaan fatihah dan juga bacaan surat dalam shalat tersebut dinyaringkan (dikeraskan), sedangkan dalam melaksanakan shalat Gerhana Matahari bacaan tersebut tidak dinyaringkan (tidak dikeraskan). Dan dalam membaca surat disetiap raka’atnya disunahkan p**a membaca surat-surat yang panjang.

Sumber: http://www.mutiarapublic.com/ragam-public/kump**an-tips/tata-cara-dan-niat-shalat-gerhana-bulan-dan-matahari/

Bagi yang belum mengetahui silahkan lihat video selanjut ini
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=MQBKvf96bRc (Youtube)

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan Panjang Cipulir, Kebayoran Lama
Jakarta
12230