29/09/2024
BEST Consensus | Academy of Endoscopy
The Bali Endoscopy Simulation Training (BEST) Consensus, set to take place during the Asia Pacific Digestive Week on November 21, 2024, in Bali, Indonesia, represents our latest initiative to globalize endoscopy training grounded in scientific principles.
27/12/2023
Pandemi COVID-19 berdampak terhadap peningkatan prevalensi GERD di Indonesia
Diketahui bahwa 13% penduduk dunia memiliki GERD (gastroesophageal reflux disease), penyakit saluran cerna berupa naiknya isi lambung ke kerongkongan ini sering juga dikenal sebagai penyakit asam lambung. Namun, tren orang-orang yang mengalami GERD diduga meningkat selama masa pandemi. Keberadaan pandemi covid-19 menyebabkan perubahan gaya hidup antara lain mengurangi waktu beraktivitas fisik, memperburuk status mental, serta perubahan pola makan dan nutrisi dapat menyebabkan peningkatan jumlah penderita GERD. Hal ini diperparah dengan terbatasnya akses ke fasilitas kesehatan selama masa pandemi. Tentu kita tidak berharap bahwa pandemi melanda dunia kembali yang membawa dampak yang signifikan terjadinya peningkatan di masyarakat.
Berlandasan dari masalah ini, mahasiswa FKUI Ahmad Fauzi BMed; Bersama dr. Daniel M. Simadibrata, MRes; dengan bimbingan dari dokter FKUI, dr. Dewi Friska, MKK; dan Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam Sp.PD-KGEH. M.M.B. melakukan penelitian mengenai hubungan pandemi COVID-19 dengan peningkatan prevalensi GERD dan penurunan kualitas hidup yang berhubungan dengan GERD. Riset ini dipublikasi pada jurnal : Journal Clinical Gastroenterology edisi Oktober 2023. Journal ternama di bidang gastroesterologi berbasis di USA dan saat ini dengan impact factor 2.9.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan menggunakan kuesioner GERD-Q versi Indonesia, dari total 9800 responden di Indonesia yang terbagi menjadi kelompok pra-pandemi (81,6%) dan kelompok pandemi (18,4%). Tampak dari data survei bahwa responden yang terlibat pada masa pandemi lebih rendah, hal ini mungkin disebabkan karena kelelahan akibat fenomena online survey fatigue, dimana orang tidak tertarik untuk mengisi survei akibat banyaknya survei di masa pandemi.
Dalam kuesioner GERD-Q yang membahas antara lain gejala terkait GERD, dan dampak GERD terhadap kehidupan sehari-sehari. Diperoleh bahwa prevalensi GERD pada kelompok pandemi (67,9 %) secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok pra-pandemi (61,8%). Selain itu, gejala khas GERD berupa rasa terbakar di dada dan regurgitasi juga lebih tinggi di masa pandemi. Sementara dampak dari GERD terhadap kualitas hidup di masa pandemi (31,8%) juga lebih berat daripada masa pra-pandemi (27,0%).
Gejala GERD berupa rasa terbakar di dada dan regurgitasi meningkat di masa pandemi berkaitan dengan lockdown yang menimbulkan kecemasan. Selain itu peningkatan konsumsi makanan cepat saji, soda, alkohol, durasi duduk, gaya hidup sedenter menjadi salah satu penyebab meningkatnya GERD pada masa pandemi. Ditemukan juga meningkatnya gangguan tidur yang terjadi karena GERD pada masa pandemi. Meskipun tidak tergambarkan secara langsung berhubungan dengan GERD, selama pandemi COVID-19 Kualitas Hidup pada Dewasa, remaja maupun anak-anak didapatkan lebih menurun. Pada gelombang kedua COVID-19, didapatkan meningkatnya tren insidensi prevalensi GERD dibandingkan pada gelombang pertama COVID-19. Hal ini disebabkan oleh varian delta SARS-COV-2 yang memiliki manifestasi lebih parah dibandingkan dengan varian alpha pada gelombang pertama.
Penelitian merupakan penelitian pertama yang melihat perbedaan angka kejadian GERD pada sebelum dan sesudah pandemic. Dengan jumlah responden yang cukup besar hampir mencapai 10.000 dan meliputi 36 dari 37 Provinsi yang ada di Indonesia sehingga bisa dibilang mewakili seluruh negeri.
Penelitian yang sudah dipublikasi di jurnal ternama ini menjadi catatan penting bahwa pandemi Covid telah berdampak luas bukan saja menyebabkan kematian tetapi juga menyebabkan terjadinya peningkata kasus GERD yang memang terkait dengan terjadinya stress sebagai dampak dari pandemic tersebut.
Ari Fahrial Syam
Dekan FKUI
Klinisi dan Peneliti GERD
11/07/2020
The 1st Simulation Based Mastery Learning in Endoscopy with Virtual Coaching
18/03/2019
iddw2019.com
Home
It is our great pleasure to invite you to the “Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2019” which will be held on April 24-27, 2019 in Jakarta-Indonesia. This scientific meeting organized by The Indonesian Society of Gastroenterology (ISG), in collaboration with The Indonesian Society for Dige...
03/03/2019
Konsensus Nasional IBD 2019, ,
30/06/2018
Inauguration of Prof.Dr.dr.Dadang Makmun, SpPD-KGEH
02/01/2018
The ASEAN consensus of H.Pylori management
Helicobacter pylori management in ASEAN: The Bangkok consensus report
Helicobacter pylori (H. pylori) infection remains to be the major cause of important upper gastrointestinal diseases such as chronic gastritis, peptic ulcer, gastric adenocarcinoma, and mucosa‐associated...
02/01/2018
The role of EUS-BD in malignant biliary obstruction
The Role of EUS-BD in the Management of Malignant Biliary Obstruction: The Indonesian Perspective
Aims. To evaluate the success rate and related factors of endoscopic ultrasound guided-biliary drainage (EUS-BD). Material and Methods. We conducted a retrospective study among 24 patients with malignant biliary obstruction who underwent EUS-BD after failed ERCP from January 2015 to December 2016 in...
08/10/2017
Jakarta International GI Endoscopy Symposium and Live Demonstration 2017