29/09/2015
Ketentuan tentang Penulisan Nama Kota | City Name writing rules
Nama kota/ wilayah di Indonesia, ada yang ditulis dalam dua bentuk: ada yang dipisah dan ada p**a yang dirangkai.
Untuk keseragaman penulisan nama kota tersebut, Pusat Bahasa (Sub Divisi Pusat Kajian Bahasa Depdiknas) bekerjasama dengan Bakosurtanal, telah menetapkan pembakuannya.
Pada prinsipnya nama kota ditulis dalam satu kata atau serangkai, kecuali (1) yang terdiri atas tiga untai kata atau lebih dan (2) yang berupa arah mata angin. Dengan demikian, nama kota yang hanya terdiri atas dua untai kata ditulis serangkai.
Contoh:
Karangasem, Rejanglebong, Tebingtinggi, Bandaaceh, Acehbesar, Kulonprogo, Fakfak, Jayapura, Manokwari, Kotabaru, Batanghari, Indramayu, Majalengka, Sukabumi, Tasikmalaya, Nusakambangan, Bojonegoro, Situbondo, Tulungagung, Kualatungkal, Tanahlaut, Bandarlampung, Parepare, Sangihetalaud, Ujungpandang, Pangkalpinang, Bukittinggi, Padangpariaman, Pangkalpinang, Sawahlunto, Musibanyuasin, Muaraenim, Pematangsiantar, Deliserdang, Labuhanbatu, dst.
Sementara nama kota yang terdiri atas tiga untai kata atau lebih, tetap ditulis terpisah.
Contoh: Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, dst.
Sedangkan nama kota yang menggunakan kata yang menjelaskan arah mata angin, tetap ditulis terpisah meskipun nama kota tersebut hanya terdiri dari dua untai kata.
Contoh: Jakarta Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Barat, dst.
Nama kota yang masih ditulis dalam bunyi bahasa daerah tetap ditulis sesuai dengan nama aslinya, tidak diindonesiakan atas pertimbangan tertentu, seperti pertimbangan sejarah, asal-usul daerah, atau budaya khas daerah setempat.
Contoh: Banyuasin (bukan Airasin), Kalianyar (bukan Sungaibaru), Tanahabang (bukan Tanahmerah).
-----------------------------------------
City Name writing rules in Indonesian Language
City/ region names in Indonesia, commonly wrote in two ways: firstly, it wrotes in one unity and, secondly, it wrotes separatedly. To be convention, Indonesian Language Center in collaboration with National Coordination of Survey Department had launched the standardization on this matter.
Basically, city name wrote down in one unity phrase (word), except (1) those phrase that has three or more words and (2) those words conotes direction. Thus, city name which only has two words should be wrote in an unity word.
Example:
Karangasem, Rejanglebong, Tebingtinggi, Bandaaceh, Acehbesar, Kulonprogo, Fakfak, Jayapura, Manokwari, Kotabaru, Batanghari, Indramayu, Majalengka, Sukabumi, Tasikmalaya, Nusakambangan, Bojonegoro, Situbondo, Tulungagung, Kualatungkal, Tanahlaut, Bandarlampung, Parepare, Sangihetalaud, Ujungpandang, Pangkalpinang, Bukittinggi, Padangpariaman, Pangkalpinang, Sawahlunto, Musibanyuasin, Muaraenim, Pematangsiantar, Deliserdang, Labuhanbatu, etc.
Meanwhile city name contains three or more words, remain wrote separatedly.
Example: Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, etc.
In the meantime, city name which is derived of words that explain geographical directions, remain wrote separatedly, even though the city name has two words.
Example: Jakarta Barat (West Jakarta), Sumatera Utara (North Sumatera), Kalimantan Timur (East Kalimantan), Jawa Barat (West Java), etc.
Finally, city name which is wrote in their local language, would remain wrote accordingly to their original words, and should not translate into Indonesian national language because of certain reasons, such as historical reason, local historical value, or local cultural unique reason.
Example: Banyuasin (Not Airasin [Salty Water]), Kalianyar (Not Sungaibaru [New River]), Tanahabang (Not Tanahmerah [Red Land]).