05/06/2017
MENJADI INDONESIA SEJATI
Soe Hok Gie – nama yang tak asing - khususnya bagi kaum aktivis dan pejuang. Tokoh, aktivis dan intelektual muda yang sangat berpengaruh pada jamannya. Agen perubahan sejati, protagonist sejati, dan sosoknya menjadi salah satu poros terpenting pergerakan nasional pada jamannya (transisi Orde Lama ke Orde Baru). Soe Hok Gie, bahkan masih menjadi ikon perjuangan kaum muda sampai hari ini. Kisah hidup dan perjuangannya sudah diflimkan dengan apik.
Soe Hok Gie orang (keturunan) Cina. Namun nyali, keberanian, kejujuran dan kecerdasannya nyaris tak tertandingi pada masanya. Seorang idealis sejati. Dia tak memperdulikan ke”Cina”-annya, dan karena jiwa nasionalismenya jauh lebih kuat dari “tudingan” rasis lingkungannya – dia tak pernah mau memakai nama Indonesia. Baginya, nama Cina itu adalah nama Indonesia (banget).
Sampai batas tertentu, sosok Hok Gie langsung mengingatkan saya pada sosok lain di masa kini yang dipanggil Ahok. Tanpa perlu berpanjang lebar, kita tahu siapa Ahok. Dia kini dipenjara atas tuduhan “absurd” pen*staan agama. Hok Gie dan Ahok sama-sama (keturunan) Cina. Keduanya sama-sama pejuang – meski dalam dimensi yang berbeda dan pada jaman yang berbeda. Namun keduanya memiliki banyak persamaan – selain ke-Cina-annya. Keduanya sama-sama berani, bersih, idealis (bagi Ahok dalam konteks mempertahankan prinsip dan nilai-nilai yang diyakininya), cerdas dan protagonist sejati.
Jika Hok Gie mati muda, maka Ahok relatif “mati muda” karir politiknya – setidaknya untuk saat ini. Sampai kemarin saya masih berpikir bahwa Ahok melakukan pengorbanan demi kesatuan bangsanya, kedamaian rakyatnya dan tentu demi kesetiaannya pada Jokowi – atasan sekaligus sehabat sejatinya. Tapi tiba-tiba saya teringat ungkapan melankolik dari Soe Hok Gie berikut :
“Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa.”
Saya mulai menangkap, bisa jadi Ahok sedang berkorban bukan buat apapun. Dia berkorban tidak untuk apapun. Dia hanya ingin berkorban. Awalnya, saya pribadi paling sering protes dan tidak terima – bagaimana mungkin Ahok yang mempunyai jasa dan karya luarbiasa bagi Jakarta dicampakkan begitu rupa – bak keset yang dinjak-injak di lantai ? Dan bagaimana mungkin Ahok pada akhirnya mampu dengan tenang mengatakan rangkaian kalimat refleksi sikap mulia : saya menerima dan mengampuni, saya tak banding, saya mundur dan saya kembalikan uang operasional hak saya ?
Ahok awalnya memang berkorban demi rakyat dan bangsa, namun nampaknya kini ia menapak ke tahapan lebih tinggi ; dia berkorban bukan buat apapun. Dia hanya ingin berkorban. Dia hanya melakukan tugas dan kewajibannya sebagai gubernur, dan terlebih lagi – sebagai manusia cipataan-Nya. Dan salah satu tugas kehidupan itu adalah menjalani ketidakadilan dan kesakitan. Itulah yang sedang dilakoninya sekarang. Ahok hanya sedang menjalankan tugasnya. Nampaknya ini merupakan tahapan spiritual tertentu yang (mungkin) tak semua orang bisa atau siap menapakinya.
Dan Hok Gie sendiri, jika saya pelajari berbagai pembahasan dan literatur tentang dirinya (termasuk beberapa dokumentasi kehidupannya yang sempat saya tonton) – juga berada pada tahapan itu. Dia hanya menjalani tugas kehidupannya. Termasuk untuk berjalan sendiri di jalan kebenaran, kesakitan, pedih dan kesepian. Seperti dikatakannya sendiri : “ Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
Ahok juga menjalani hal yang sama. Dia memilih untuk diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan di sekitarnya. Dia memilih penjara daripada kompromi pada praktek-praktek jahat kleptokrasi atau para maling di sekitarnya. Dia memilih disakiti daripada pasrah pada segenap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Dan semua pilihan itu diterimanya sebagai tugas kehidupan.
Saya juga orang Cina, namun merasa harus belajar banyak dari seorang Hok Gie atau Ahok. Keduanya mengajarkan pada saya : tak soal menjadi Cina atau bukan – sebab kita tak pernah bisa memilih dilahirkan dari orang tua Cina atau bukan. Soalnya adalah keberanian untuk memilih ; apakah kita bisa menjadi Cina yang berguna bagi bangsa dan Negara atau sebaliknya. Menjadi Cina adalah takdir, tapi menjadi Cina yang berguna adalah pilihan. Ketika kita memilih dengan benar, lalu memperjuangkan sampai titik batas terjauh yang bisa dilakukan – seperti Hok Gie dan Ahok – maka ke-Cina-an itu akan luruh dalam rahim pertiwi yang sama.
Cita-cita mulia WNI Cina di negeri ini sesungguhnya hanya satu : menjadi Cina yang berguna sampai batas terjauh bagi bangsa – sesuai kapasitas perjuangan masing-masing. Ya, sampai batas terjauh – sampai siapapun yang kakinya menginjak bumi pertiwi ini akan bersikap hormat jika menyebut kata “Cina”. Sampai mereka yang merasa “pribumi” menjadi jengah dan tersipu malu karena merasa kalah “Indonesia” dibanding orang yang dipanggil Cina.
Apakah semua itu utopia belaka ? Mungkin, tapi itu juga soal pilihan. Pada kenyataannya orang-orang yang berjasa besar seperti Hok Gie dan Ahok saja masih disalahpahami – terlebih lagi jika ditambah sebagai minoritas ganda. Tapi sekali lagi, ini soal pilihan. Saya pribadi memilih untuk tidak menyerah pada “utopia” atau mimpi indah itu. Tugas saya dan lainnya untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan. Mungkin kita tak sempat menikmati kenyataan itu, tapi perjuangan kita tetap ikut merenda kenyataan indah itu. Kita harus berjuang, saling bersaksi – sampai saudara-saudara kita sebangsa – apapun suku atau etnisnya – memilik “rasa” yang sama tentang Indonesia.
Hok Gie telah memilih jalan itu. Ahok juga telah memilih jalan itu. Dan saya tahu masih ada orang-orang Cina di negeri ini yang memilih jalan itu. Saya ingin bergabung, dengan cara saya sendiri. Pada titik inilah saya bisa merasakan, bagaimana Ahok menjalani sepinya, bagaimana dia menikmati kepedihannya, bagaimana dia mengakrabi rindu-rindunya. Dia jalani itu semua sebagai tugas kehidupan. Dia berkorban bukan untuk apa-apa, kecuali memang keikhlasan menjalani kepedihan dan kesakitan. Kalaupun ada yang bisa diintip dari perjalanan hidup Ahok, atau Hok Gie – ada satu yang sangat indah : rasa cinta pada bangsanya – Indonesia.
Mari berjuang untuk menjadi Indonesia sejati – siapapun kita yang lahir dari rahim ibu pertiwi yang sama.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1404480722951746&id=100001694961139