30/04/2019
Selamat pagi.
House of D*Light Learning & Sharing Centre mengadakan promo paket sewa ruangan meeting/training selama bulan April - Juni 2019.
Harga 135.000/pax min. pax 15 orang (full day/8 jam) sudah mencakup ruangan training/meeting dan fasilitas, 1x buffet lunch dan 2x coffee break.
Untuk info lebih lanjut, hubungi kami di 021 5638271 atau 085255811311 (wa), email: [email protected]
www.house-of-dlight.com
Alamat: Jl. Mandala Raya 20ABC, Tomang, Jakarta 11440.
16/02/2018
BEKERJA KANTORAN ATAU BEKERJA DI RUMAH?
Konon ada sebuah kisah yang benar-benar terjadi. Begitu fenomenalnya pabrik Honda pada jaman itu sampai-sampai perdana menteri Jepang memutuskan untuk berkunjung ke pabrik Honda. Sudah selayaknya tamu terhormat ini disambut sendiri oleh sang pendiri Honda, Soichiro Honda.
Menjelang beberapa menit waktu kedatangan perdana menteri, asisten Soichiro Honda menjadi sangat gelisah karena melihat sang bos masih memakai pakaian bengkel yang tentu saja kotor karena terkena oli dan banyak kotoran.
Asisten Honda mencoba mengingatkan apakah sebaiknya ia berganti pakaian dengan baju resmi saja. Tahukah Anda apa jawaban Soichiro Honda? “Mengapa harus berganti pakaian? Pakaian kerja bagiku adalah pakaian terhormat yang bisa dikenakan seseorang.”
Kita harus bangga dengan pakaian kerja kita. Itu menunjukkan bahwa kita bangga dengan pekerjaan kita. Sayangnya, tidak semua orang bangga dengan pekerjaan dan profesinya. Ada banyak orang berpendapat bahwa jika kita termasuk “white collar” atau pekerjaan kerah putih, barulah kita boleh berbangga.
Pekerjaan kerah putih biasanya menempati gedung-gedung yang tinggi dan megah. Kursinya empuk, ruang kerjanya dilengkapi sarana pendingin udara, mengenakan dasi, terlihat sibuk dengan komputer dan telepon genggam. Orang kantoran! Keren!
Bagaimana jika kita termasuk golongan “blue collar” – pekerja kerah biru atau bekerja di rumah? Malu, karena ini dianggap pekerjaan yang kurang bergengsi dan lebih mengandalkan otot dibanding otak. Bagaimana jika kita bekerja di rumah? Bisa-bisa orang menganggap kita pengangguran karena setiap hari kita tidak berangkat kerja ke kantor.
Semua pekerjaan dan profesi itu baik. Entah itu karyawan “white collar” atau “blue collar”, atau bekerja di rumah. Yang terpenting bukan bagaimana busana kerja kita, namun bagaimana cara kita melakukan dan memaknai pekerjaan dan profesi kita. Entah kita mengenakan busana kerja bermerk atau tidak, yang penting kita mengerjakan pekerjaan yang halal.
Apa gunanya kita menjadi pekerja kantoran, kalau kita di kantor banyak bermalas-malasan dan hanya tekun bekerja saat ada boss. Apa gunanya kita menjadi pekerja kantoran yang mengenakan busana kerja bermerk jika busana itu dibeli dengan uang gaji yang dihasilkan dari sikap dan cara kerja yang tidak jujur dan sikut sana sikut sini?
Sebaliknya melakukan pekerjaan “kerah biru” yang kasar dan lebih mengandalkan otot, atau bekerja di rumah, namun melakukannya dengan segenap hati dan tulus, maka akan memberikan kepuasan batin dan makna dalam hidup kita.
Banyak orang menilai suatu pekerjaan dan profesi dari berapa uang yang dihasilkan dan berapa gaji yang diperoleh dari melakukan pekerjaan atau menjalankan profesi itu. Banyak orang jadi minder dengan pekerjaan dan profesinya karena itu tidak menghasilkan banyak uang.
Namun sebenarnya setiap orang berhak bangga dengan pekerjaan dan profesinya karena ia menjiwainya, sukur-sukur kalau dengan itu bisa menghasilkan banyak uang.
Orang yang menjiwai pekerjaan dan profesinya yang sederhana, setiap hari melakukannya dengan jujur dan itikad baik, tidak main sikut sana sikut sini meski ia tidak bisa menghindari kancah persaingan, artinya orang tersebut menggenapi panggilan hidupnya.
Sebaliknya orang yang punya pekerjaan dan profesi dengan bayaran tinggi dan berkantor di gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, dengan busana kerja yang mewah, namun banyak melakukan kecurangan dan menyikut banyak orang saat melakukan pekerjaannya, artinya menjalani hidup yang sia-sia dan kosong makna.
Di jaman kini, ada tren orang bekerja di rumah, sampai dikenal istilah “SOHO” – “Small Office, Home Office.” Banyak orang berkantor di rumah dan mengalami kepuasan hidup lebih dibanding orang-orang pekerja kantoran yang setiap hari harus menghabiskan banyak waktu di jalan dan terkena kemacetan saat pergi dan p**ang kerja.
Ujung-ujungnya tentukan sendiri mana yang Anda anggap dan rasa paling baik dan paling cocok bagi Anda. Baik bekerja di kantor yang “white collar” atau “blue collar” atau bekerja di rumah semua mengandung plus minusnya masing-masing, namun semuanya layak, terhormat, dan mulia.
Semuanya terp**ang kembali pada kita sebagai pribadi yang melakukannya.
“Be Dlight for Awareness & Enlightenment”
oleh Boni Sindyarta, Psi
Kami juga menawarkan layanan konseling individual.
Silahkan hubungi 0858 1480 2168 lewat WA untuk membuat janji pertemuan.
D*light Institute – House of D*light
Tomang, Jakarta Barat
Come visit us at www.house-of-the-light.com
16/02/2018
Happy Chinese New Year... Gong Xi Fa Cai👲🐕🎆🎊
26/12/2017
House of D*Light management & crews wish you all have a wonderful christmas, full of joy, blessings and happiness. God spede
21/12/2017
K***A BELAJAR:
TERPURUK SAMPAI KE TITIK MINUS KEHIDUPAN
Banyak orang punya pandangan keliru tentang k***a belajar. Orang mengira bahwa k***a belajar yang dijalani saat seseorang belajar seperti ini: ia mengawali dari titik nol kemudian pelan-pelan terus beranjak naik. Sebenarnya tidak seperti itu.
Sebenarnya k***a belajar alamiah dapat kita lihat pada seekor anak burung yang meninggalkan sarangnya pertama kali untuk belajar terbang. Ia mula-mula mengepak-ngepakkan sayapnya namun terus merosot turun ke bawah, namun kalau ia terus belajar bertahan mengepakkan sayapnya, lama kelamaan ia berhasil menahan gaya gravitasi, bahkan ia berhasil terbang naik lebih tinggi.
Jadi sebenarnya yang terjadi k***a belajar bukan dimulai dari titik nol, namun dari minus. Dari minus menjadi semakin minus, namun akhirnya pada titik tertentu ia mengalami titik balik yang membuat naik kembali hingga melampaui titik nol, lalu terus naik lebih tinggi.
K***a Belajar seperti huruf J. Coba perhatikan bagaimana kita menulis huruf J. Kita menulis hurufnya dari kiri ke kanan. Awalnya garisnya terus turun sampai titik terendah, namun kemudian naik dan naik terus sampai ke puncak. Proses belajar pun demikian.
Dalam kehidupan pun kita mengalami proses belajar. Kita mungkin pernah mengalami keterpurukan sangat dalam. Kita benar-benar terpuruk dan merasa masuk ke dalam kegelapan dan sendirian, ditinggalkan semua orang dalam gelap. Kita merasa tidak punya harapan dan masa depan. Kita ada di titik nol kehidupan, bahkan minus.
Namun kalau kita seperti anak burung tadi, kita mau terus belajar bertahan, belajar untuk bangkit dari titik minus ini, belajar dari keterpurukan yang kita alami, kita akan terus naik dari titik terendah kehidupan kita.
Kekuatan sejati tidak nampak saat keadaan berjalan dengan mudah, mulus, dan menyenangkan, namun ini menampakkan dayanya justru di masa kekelaman, kemalangan, dan keterpurukan.
Justru semakin dalam kita terjerembab ke titik terendah kehidupan, semakin bernilai pelajaran yang dapat kita petik darinya.
Analogi sederhana tentang cara meningkatkan kekuatan rohani adalah seperti orang berusaha tetap mengapung di permukaan air sambil mengangkat tabung galon Aqua dengan lubang mengarah ke bawah di atas kepalanya. Mula-mula ia harus menggerak-gerakkan kakinya di dalam air sekuat tenaga, karena harus menahan beratnya air dalam tabung yang masih penuh.
Namun lama-kelamaan seiring dengan air terus mengalir keluar, dan ia makin kepayahan karena tenaganya fisiknya terkuras berusaha tetap mengapung, kekuatan rohaninya pun semakin meningkat. Di titik terendah kekuatan fisiknya hampir habis, saat itulah air di dalam tabung juga semakin berkurang, dan semakin kuat rohaninya karena telah menahan tekanan sejak awal.
Begitu p**a, saat kita terjerembab ke lobang gelap kehidupan, di sanalah tekanan terbesar kita alami. Kita terus belajar bertahan di k***a titik minus belajar. Setelah beberapa lama di sana, (ini bervariasi dari satu orang ke orang lain) kita pun pelan-pelan mulai naik. Kalau kita terus bertekun dan konsisten, kita akan sampai puncak tertinggi yang mungkin kita raih dalam kehidupan.
Yang terpenting bukan seberapa dalam keterpurukan kita, namun apa yang dapat kita pelajari dari situ. Saat belajar, jangan takut melakukan kesalahan. Mungkin saat ini kita masih belum tahu benar apa yang dapat kita pelajari dari keterpurukan kita, namun jangan pernah takut untuk belajar. Lebih baik tetap berusaha belajar dan salah mengerti, daripada takut belajar sama sekali, karena dari sini kita pelan-pelan akan menyadari pelajaran apa yang dapat kita petik.
Tetaplah berpikir sederhana, jangan berpikir terlalu rumit di saat seperti ini, karena kemampuan otak kita terbatas.
Persis seperti anak burung tadi, potensi terbang di dalam dirinya akan sia-sia jika ia tidak terlebih dahulu terjerembab sampai ke titik terendah. Dengan mengalaminya ia malah sanggup terbang lebih tinggi. Dari dasar titik minus kehidupan, malah terbuka kesempatan untuk mengeluarkan potensinya yang sebenarnya.
Maka, jika saat ini kita sedang dalam kondisi terpuruk, terbuang, dan tak berdaya, inilah kesempatan terbesar dalam k***a pembelajaran kita. Inilah saat kita belajar untuk berserah dan mengingat janji-janji Tuhan. Paduan antara usaha dan kekuatan kemauan kita untuk belajar yang dipadu dengan kekuatan rahmat pertolongan Tuhan akan membuat kita naik pelan-pelan dari titik minus terendah kehidupan sampai ke titik tertinggi yang mungkin kita raih.
“Titik minus terendah kehidupan, adalah kesempatan kita untuk
mengeluarkan potensi yang sesungguhnya”
“Be Dlight for Awareness & Enlightenment”
oleh Boni Sindyarta
10/12/2017
Happy Birthday ibu Diana yg ke-80. Semoga rahmat kesehatan dan kebahagiaan dari Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup ibu Diana, anak-anak dan cucu-cucu di setiap waktu.
11/11/2017
https://www.instagram.com/p/BbWv0TFhQL8/
Instagram post by House Of DLight • Nov 11, 2017 at 12:45pm UTC
1 Likes, 1 Comments - House Of DLight () on Instagram: “Meeting pengurus Yayasan Diannanda Jakarta Lily, House of DLight Learning Sharing Centre,…”
11/11/2017
Meeting Pengurus Yayasan Diannanda Jakarta at room Lily. Saturday 11st 2017.
06/11/2017
Always get up & start again.