21/12/2017
K***A BELAJAR:
TERPURUK SAMPAI KE TITIK MINUS KEHIDUPAN
Banyak orang punya pandangan keliru tentang k***a belajar. Orang mengira bahwa k***a belajar yang dijalani saat seseorang belajar seperti ini: ia mengawali dari titik nol kemudian pelan-pelan terus beranjak naik. Sebenarnya tidak seperti itu.
Sebenarnya k***a belajar alamiah dapat kita lihat pada seekor anak burung yang meninggalkan sarangnya pertama kali untuk belajar terbang. Ia mula-mula mengepak-ngepakkan sayapnya namun terus merosot turun ke bawah, namun kalau ia terus belajar bertahan mengepakkan sayapnya, lama kelamaan ia berhasil menahan gaya gravitasi, bahkan ia berhasil terbang naik lebih tinggi.
Jadi sebenarnya yang terjadi k***a belajar bukan dimulai dari titik nol, namun dari minus. Dari minus menjadi semakin minus, namun akhirnya pada titik tertentu ia mengalami titik balik yang membuat naik kembali hingga melampaui titik nol, lalu terus naik lebih tinggi.
K***a Belajar seperti huruf J. Coba perhatikan bagaimana kita menulis huruf J. Kita menulis hurufnya dari kiri ke kanan. Awalnya garisnya terus turun sampai titik terendah, namun kemudian naik dan naik terus sampai ke puncak. Proses belajar pun demikian.
Dalam kehidupan pun kita mengalami proses belajar. Kita mungkin pernah mengalami keterpurukan sangat dalam. Kita benar-benar terpuruk dan merasa masuk ke dalam kegelapan dan sendirian, ditinggalkan semua orang dalam gelap. Kita merasa tidak punya harapan dan masa depan. Kita ada di titik nol kehidupan, bahkan minus.
Namun kalau kita seperti anak burung tadi, kita mau terus belajar bertahan, belajar untuk bangkit dari titik minus ini, belajar dari keterpurukan yang kita alami, kita akan terus naik dari titik terendah kehidupan kita.
Kekuatan sejati tidak nampak saat keadaan berjalan dengan mudah, mulus, dan menyenangkan, namun ini menampakkan dayanya justru di masa kekelaman, kemalangan, dan keterpurukan.
Justru semakin dalam kita terjerembab ke titik terendah kehidupan, semakin bernilai pelajaran yang dapat kita petik darinya.
Analogi sederhana tentang cara meningkatkan kekuatan rohani adalah seperti orang berusaha tetap mengapung di permukaan air sambil mengangkat tabung galon Aqua dengan lubang mengarah ke bawah di atas kepalanya. Mula-mula ia harus menggerak-gerakkan kakinya di dalam air sekuat tenaga, karena harus menahan beratnya air dalam tabung yang masih penuh.
Namun lama-kelamaan seiring dengan air terus mengalir keluar, dan ia makin kepayahan karena tenaganya fisiknya terkuras berusaha tetap mengapung, kekuatan rohaninya pun semakin meningkat. Di titik terendah kekuatan fisiknya hampir habis, saat itulah air di dalam tabung juga semakin berkurang, dan semakin kuat rohaninya karena telah menahan tekanan sejak awal.
Begitu p**a, saat kita terjerembab ke lobang gelap kehidupan, di sanalah tekanan terbesar kita alami. Kita terus belajar bertahan di k***a titik minus belajar. Setelah beberapa lama di sana, (ini bervariasi dari satu orang ke orang lain) kita pun pelan-pelan mulai naik. Kalau kita terus bertekun dan konsisten, kita akan sampai puncak tertinggi yang mungkin kita raih dalam kehidupan.
Yang terpenting bukan seberapa dalam keterpurukan kita, namun apa yang dapat kita pelajari dari situ. Saat belajar, jangan takut melakukan kesalahan. Mungkin saat ini kita masih belum tahu benar apa yang dapat kita pelajari dari keterpurukan kita, namun jangan pernah takut untuk belajar. Lebih baik tetap berusaha belajar dan salah mengerti, daripada takut belajar sama sekali, karena dari sini kita pelan-pelan akan menyadari pelajaran apa yang dapat kita petik.
Tetaplah berpikir sederhana, jangan berpikir terlalu rumit di saat seperti ini, karena kemampuan otak kita terbatas.
Persis seperti anak burung tadi, potensi terbang di dalam dirinya akan sia-sia jika ia tidak terlebih dahulu terjerembab sampai ke titik terendah. Dengan mengalaminya ia malah sanggup terbang lebih tinggi. Dari dasar titik minus kehidupan, malah terbuka kesempatan untuk mengeluarkan potensinya yang sebenarnya.
Maka, jika saat ini kita sedang dalam kondisi terpuruk, terbuang, dan tak berdaya, inilah kesempatan terbesar dalam k***a pembelajaran kita. Inilah saat kita belajar untuk berserah dan mengingat janji-janji Tuhan. Paduan antara usaha dan kekuatan kemauan kita untuk belajar yang dipadu dengan kekuatan rahmat pertolongan Tuhan akan membuat kita naik pelan-pelan dari titik minus terendah kehidupan sampai ke titik tertinggi yang mungkin kita raih.
“Titik minus terendah kehidupan, adalah kesempatan kita untuk
mengeluarkan potensi yang sesungguhnya”
“Be Dlight for Awareness & Enlightenment”
oleh Boni Sindyarta