26/09/2026
Bengkulu, 24 September 2026. Puluhan petani, mahasiswa, dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu datang ke Kantor Gubernur Bengkulu membawa tuntutan. Mereka datang di Hari Tani Nasional, sebuah momentum yang seharusnya menjadi milik mereka. Yang mereka bawa bukan sekadar spanduk. Mereka membawa konflik agraria yang tak kunjung selesai: lahan eks transmigrasi seluas 3.500 hektare di Desa Air Ngalam yang mereka klaim telah digarap PT Agri Andalas, rumah-rumah petani di Tanjung Sakti yang terancam eksekusi, dan desa-desa penyangga yang lahannya diduga diserobot perusahaan .
Tapi apa yang mereka dapatkan?
Juluran lidah.
---
"Room Tour" Versi Hari Tani
Dalam video yang viral, seorang pria berbaju hitam berdiri di tengah barisan aparat pengamanan. Ia tidak membawa senjata. Ia tidak membawa tameng. Ia membawa satu hal yang jauh lebih efektif untuk merendahkan, lidahnya.
Ia menjulurkan lidah ke arah massa. Ia menyeringai. Ia memperagakan isyarat tangan yang memancing emosi. Dan aparat di sekelilingnya? Tertawa, Cengengesan, Membiarkan .
Massa yang datang membawa tuntutan tentang tanah yang dirampas, tentang rumah yang terancam digusur, tentang hidup yang semakin sulit, dihadiahi dengan gestur anak TK yang mengejek teman mainnya.
Ibarat Anda datang ke kantor bupati untuk mengadu jalan rusak, lalu petugasnya malah joget TikTok di depan Anda. Sama-sama tidak membantu. Sama-sama tidak menghormati. Tapi setidaknya joget TikTok butuh usaha. Julur lidah? Itu level provokasi yang bahkan tidak lulus seleksi SD.
Sementara Itu, di Dalam Ruangan...
Setelah kericuhan, aksi dorong-dorongan, dan semprotan water cannon dari aparat , massa akhirnya diperbolehkan masuk. Mereka bertemu Sekda Herwan Antoni bukan Gubernur Helmi Hasan dan menyampaikan 8 tuntutan .
Tuntutan pertama: "Mendesak Gubernur Bengkulu mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan seluruh konflik dan sengketa agraria."
Konkret. Kata yang indah. Sayangnya, yang konkret dari hari itu adalah lidah yang menjulur dan air yang disemprotkan, bukan solusi.
Sekda menerima tuntutan. Massa berjanji akan mengawal tindak lanjut. Tapi pengawalan itu akan menghadapi tembok yang sama, janji yang tak pernah selesai.
Padahal, pada Hari Tani 2025, Gubernur Helmi Hasan sudah duduk bersama petani. Sudah tanda tangan kesepakatan. Sudah dibentuk GTRA. Sudah dijanjikan 14 hari untuk menyelesaikan masalah . Setahun berlalu. Hari Tani 2026 datang. Tuntutannya masih sama. Yang berubah hanya dulu dijanjikan 14 hari, sekarang dihadiahi juluran lidah.
---
Untuk Apa Rakyat Membayar Pajak?
Pertanyaan ini bukan retorika. Ini pertanyaan yang sah.
Aparat hadir di sana untuk mengamankan aksiāmemastikan hak warga menyampaikan pendapat terlindungi. Itu tugas mereka. Itu yang dibayar oleh pajak rakyat. Tapi ketika aparat membiarkan seseorang entah dia bagian dari mereka atau bukan menjulurkan lidah ke arah massa, institusi itu sedang melecehkan rakyat yang membiayainya.
Rakyat datang membawa tanah yang dirampas. Mereka dihadiahi lidah yang dijulurkan.
Rakyat datang membawa harapan. Mereka dihadiahi water cannon.
Rakyat datang membawa delapan tuntutan. Mereka dihadiahi satu gestur yang bahkan tidak bisa disebut tuntutan balik.
"Rakyat Datang untuk Didengar"
Kalimat itu terdengar klise. Tapi di Bengkulu, 24 September 2026, kalimat itu menjadi sarkasme yang pahit. Karena rakyat memang datang. Mereka membawa tuntutan. Mereka menunggu. Dan yang keluar dari mulut aparat bukan jawaban, bukan dialog, bukan solusi melainkan lidah yang terjulur, seperti anak kecil yang tidak bisa berdebat, lalu memilih mengganggu.
Seragam bukan alasan untuk merendahkan. Kekuasaan bukan alasan untuk melecehkan. Dan lidah, sebagaimana kata orang bijak, lebih tajam dari pedang. Tapi kali ini, lidah itu tidak menyerang siapa pun.
Ia hanya mempermalukan yang menjulurkannya, mungkin satu institusi.
---
Andrian Saputra
25 September 2026
13 Rabi'ul Akhir 1448 H