Upankisme

Call Directions Website Contact the school

Upankisme Halaman untuk berbagi banyak hal

Ayo cepat dihabiskan 😁Tempo keren
26/09/2026

Ayo cepat dihabiskan 😁
Tempo keren

Kocak sih ini cara dapetin uang tambahan dari rakyat..Kalau dapat bantuan duit pun bakalan kena potong administrasi ini ...
26/09/2026

Kocak sih ini cara dapetin uang tambahan dari rakyat..

Kalau dapat bantuan duit pun bakalan kena potong administrasi ini 🤣🤣

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto dan Agus Andrianto Menteri Imigrasi dan Pe...
26/09/2026

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto dan Agus Andrianto Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) menjadi sorotan setelah Ombudsman RI menemukan sejumlah fasilitas mewah di kompleks lapas yang dipimpinnya.
Di dalam Lapas Cibinong, diduga terdapat fasilitas mewah bagi tahanan tertentu. MAKI (Masyarakat Anti Korupsi Indonesia) menyebut ada Ferdy Sambo, Harvey Moeis, dan para terpidana berat kasus narkotika menikmati fasilitas sel penjara mewah berbalut apa yang disebut sebagai sarana asimiliasi dan edukasi (SAE).
Selain itu, juga ada narapidana Zainudin Hasan mantan bupati Lampung Selatan yang menempati sel penjara mewah dalam rangka pembebasan bersyarat.
ā€œJuga narapidana Rahmad Efendy alias Pepen mantan Walikota Bekasi yang kadang di SAE kadang di blok Bravo,ā€ begitu kata MAKI.
Bagaimana tidak, susah-susah tangkap maling dan koruptor negara, malah Difasilitasi Negara untuk menikmati segala kemewahan. Ia dipidana tapi negara p**a memberikan sambutan mewah pada maling-maling dan koruptor.
Nuntut orang hingga dibawa ke lapas tidaklah murah. Mulai dari penuntutan hingga pemidanaan negara mengeluarkan ratusan miliar demi menghukum orang-orang diatas.

Bengkulu, 24 September 2026. Puluhan petani, mahasiswa, dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu datan...
26/09/2026

Bengkulu, 24 September 2026. Puluhan petani, mahasiswa, dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu datang ke Kantor Gubernur Bengkulu membawa tuntutan. Mereka datang di Hari Tani Nasional, sebuah momentum yang seharusnya menjadi milik mereka. Yang mereka bawa bukan sekadar spanduk. Mereka membawa konflik agraria yang tak kunjung selesai: lahan eks transmigrasi seluas 3.500 hektare di Desa Air Ngalam yang mereka klaim telah digarap PT Agri Andalas, rumah-rumah petani di Tanjung Sakti yang terancam eksekusi, dan desa-desa penyangga yang lahannya diduga diserobot perusahaan .

Tapi apa yang mereka dapatkan?

Juluran lidah.

---

"Room Tour" Versi Hari Tani

Dalam video yang viral, seorang pria berbaju hitam berdiri di tengah barisan aparat pengamanan. Ia tidak membawa senjata. Ia tidak membawa tameng. Ia membawa satu hal yang jauh lebih efektif untuk merendahkan, lidahnya.

Ia menjulurkan lidah ke arah massa. Ia menyeringai. Ia memperagakan isyarat tangan yang memancing emosi. Dan aparat di sekelilingnya? Tertawa, Cengengesan, Membiarkan .

Massa yang datang membawa tuntutan tentang tanah yang dirampas, tentang rumah yang terancam digusur, tentang hidup yang semakin sulit, dihadiahi dengan gestur anak TK yang mengejek teman mainnya.

Ibarat Anda datang ke kantor bupati untuk mengadu jalan rusak, lalu petugasnya malah joget TikTok di depan Anda. Sama-sama tidak membantu. Sama-sama tidak menghormati. Tapi setidaknya joget TikTok butuh usaha. Julur lidah? Itu level provokasi yang bahkan tidak lulus seleksi SD.

Sementara Itu, di Dalam Ruangan...

Setelah kericuhan, aksi dorong-dorongan, dan semprotan water cannon dari aparat , massa akhirnya diperbolehkan masuk. Mereka bertemu Sekda Herwan Antoni bukan Gubernur Helmi Hasan dan menyampaikan 8 tuntutan .

Tuntutan pertama: "Mendesak Gubernur Bengkulu mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan seluruh konflik dan sengketa agraria."

Konkret. Kata yang indah. Sayangnya, yang konkret dari hari itu adalah lidah yang menjulur dan air yang disemprotkan, bukan solusi.

Sekda menerima tuntutan. Massa berjanji akan mengawal tindak lanjut. Tapi pengawalan itu akan menghadapi tembok yang sama, janji yang tak pernah selesai.

Padahal, pada Hari Tani 2025, Gubernur Helmi Hasan sudah duduk bersama petani. Sudah tanda tangan kesepakatan. Sudah dibentuk GTRA. Sudah dijanjikan 14 hari untuk menyelesaikan masalah . Setahun berlalu. Hari Tani 2026 datang. Tuntutannya masih sama. Yang berubah hanya dulu dijanjikan 14 hari, sekarang dihadiahi juluran lidah.

---

Untuk Apa Rakyat Membayar Pajak?

Pertanyaan ini bukan retorika. Ini pertanyaan yang sah.

Aparat hadir di sana untuk mengamankan aksi—memastikan hak warga menyampaikan pendapat terlindungi. Itu tugas mereka. Itu yang dibayar oleh pajak rakyat. Tapi ketika aparat membiarkan seseorang entah dia bagian dari mereka atau bukan menjulurkan lidah ke arah massa, institusi itu sedang melecehkan rakyat yang membiayainya.

Rakyat datang membawa tanah yang dirampas. Mereka dihadiahi lidah yang dijulurkan.

Rakyat datang membawa harapan. Mereka dihadiahi water cannon.

Rakyat datang membawa delapan tuntutan. Mereka dihadiahi satu gestur yang bahkan tidak bisa disebut tuntutan balik.

"Rakyat Datang untuk Didengar"

Kalimat itu terdengar klise. Tapi di Bengkulu, 24 September 2026, kalimat itu menjadi sarkasme yang pahit. Karena rakyat memang datang. Mereka membawa tuntutan. Mereka menunggu. Dan yang keluar dari mulut aparat bukan jawaban, bukan dialog, bukan solusi melainkan lidah yang terjulur, seperti anak kecil yang tidak bisa berdebat, lalu memilih mengganggu.

Seragam bukan alasan untuk merendahkan. Kekuasaan bukan alasan untuk melecehkan. Dan lidah, sebagaimana kata orang bijak, lebih tajam dari pedang. Tapi kali ini, lidah itu tidak menyerang siapa pun.

Ia hanya mempermalukan yang menjulurkannya, mungkin satu institusi.

---

Andrian Saputra
25 September 2026
13 Rabi'ul Akhir 1448 H

Coba  searching program makan siang di negara lain yang dilakukan dengan sistem serupa MBG, yaitu gratis dan dimasak di ...
26/09/2026

Coba searching program makan siang di negara lain yang dilakukan dengan sistem serupa MBG, yaitu gratis dan dimasak di dapur umum, lalu didistribusikan menggunakan ompreng.

Dan ketemu, yaitu di India.

Program ini dimulai tahun 1995 dengan nama Mid-Day Meal Scheme (MDMS).
Sejak 2021, berubah nama menjadi "PM POSHAN (Pradhan Mantri Poshan Shakti Nirman)"

Dengan 118 juta penerima manfaat, menjadikan program makan siang bagi siswa di India ini adalah yang terbesar di dunia.

Tapi skema pembiayaannya tidak 100% dibayar pemerintah.
60% pemerintah + 40% wali murid

Ada 2 sistem Dapur :
1. Dapur di masing-masing sekolah (kota kecil)
2. Dapur umum per wilayah regional (kota besar)

Makanannya di kemas di dalam ompreng, mirip MBG.

Now..
The most interesting question..

"Apakah ada kasus keracunan? "

Iyes, ada.

Berdasarkan data yang tercatat, tahun 2013, ada kasus keracunan, di wilayah Bihar.
23 anak meninggal dunia.

Sebabnya, makanan mereka terkontaminasi pestisida, karena minyak goreng nya ditaruh dalam blek/wadah bekas racun pestisida.

Tahun 2025, Bihar bikin ulah lagi.
100 anak keracunan gara-gara omprengnya terkontaminasi bangkai ular.

Secara general, dalam rentang waktu 1995 - 2026, atau 31 tahun penyelenggaraan program makan siang di India, total ada 9.200 anak yang keracunan.

Dan kalau ditilik dari lokasinya, yang mengalami keracunan justru adalah makanan yang dimasak di Dapur Sekolah.

Makanan yang dimasak di dapur umum dengan jumlah puluhan ribu porsi setiap hari, dan harus didistribusikan lagi ke sekolah, justru aman.

Bandingkan dengan Indonesia?

Baru 1,5 tahun penyelenggaraan, sudah ada 60.000 lebih anak yang keracunan.

MBG ini mematikan sekali nampaknya.

Beginilah adanya 😁
25/09/2026

Beginilah adanya 😁

Update kasus guru SMAN 1 sanggar.Keluarga siswa SMAN 1 Sanggar memberikan klarifikasi terkait unggahan dari akun  yg saa...
25/09/2026

Update kasus guru SMAN 1 sanggar.

Keluarga siswa SMAN 1 Sanggar memberikan klarifikasi terkait unggahan dari akun yg saat ini viral, dalam unggahan tersebut memperlihatkan seorang guru bersama siswa dan menyebut keduanya sebagai pasangan sesama jenis.

Keluarga menegaskan bahwa siswa tersebut tidak memiliki hubungan khusus dengan guru yg bersangkutan, hubungan keduanya, menurut pihak keluarga, sebatas guru dan murid.

Pihak keluarga juga menyampaikan rencana melaporkan pelaku ke pihak kepolisian karna unggahan tersebut dinilai merugikan nama baik siswa dan keluarga.

Namun, berdasarkan klarifikasi dari pihak sekolah, pegawai yang berada dalam foto tersebut bukan seorang guru, melainkan pegawai Tata Usaha (TU), dan siswa yang berfoto bersamanya disebut bukan pasangan atau kekasihnya.

Menurut keterangan yang disampaikan pihak sekolah, tidak ada hubungan romantis antara keduanya sebagaimana persepsi yang muncul setelah unggahan tersebut beredar.

Pegawai TU tersebut juga diketahui merupakan seorang penyandang tuna rungu dan penyuka sesama jenis.

Kondisi tersebut disebut telah diketahui oleh pihak sekolah, para siswa, serta masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Adapun hal yang dinilai menjadi sumber kesalahpahaman adalah penggunaan hashtag dicaption pada akun pribadi pegawai tersebut yang dinilai kurang pantas sehingga foto bersama seorang siswa kemudian dipersepsikan berbeda oleh warganet.

Kalian anggap pemerintah serius menangani Kebakaran hutan?Ayo tepuk tangan yg meriah!!
25/09/2026

Kalian anggap pemerintah serius menangani Kebakaran hutan?

Ayo tepuk tangan yg meriah!!

Seorang tenaga pendidik SMA Negeri di Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi sorotan sete...
25/09/2026

Seorang tenaga pendidik SMA Negeri di Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi sorotan setelah akun milik tenaga pendidik tersebut memperlihatkan dirinya bersama murid. Dalam unggahan itu, ia diduga menyebut dirinya dan murid tersebut sebagai pasangan sesama jenis.

Berdasarkan penelusuran Kompas pada Rabu (23/9/2026), unggahan tersebut ramai dibagikan warganet.

Sejumlah warganet juga menyampaikan kecaman dan meminta pihak sekolah mengambil tindakan terkait unggahan tersebut.


Paling geram dengan kasus kasus bullying yang menimpa anak-anak, trauma yang dialami korban bullying itu sangat tertekan...
25/09/2026

Paling geram dengan kasus kasus bullying yang menimpa anak-anak, trauma yang dialami korban bullying itu sangat tertekan.

ICM juga tidak melakukan mediasi yang sungguh sungguh untuk mempertemukan orangtua pelaku dengan anak dan orangtua korban.

Kabarnya orangtua pelaku ini Wamen dengan inisial DAS.

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Upankisme posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Upankisme:

Shortcuts

Share