22/05/2026
FENOMENA, ZAMAN KITA.
_في عصر الرويبضة بكى الناس من الذل والظلم والفساد والفقر والقهر والجوع حتى اعتادوا الأمر وأصبحوا من العبيد_
Artinya:
"Di zaman Ruwaibidhah, orang-orang menangis karena hina, zalim, korupsi, miskin, tertindas, dan lapar. Sampai akhirnya mereka terbiasa dengan semua itu, dan jadilah mereka budak."
Ini bukan sekadar sindiran. Ini laporan otopsi sebuah masyarakat yang mati pelan-pelan.
1. Fase 1: Masih Sakit, Masih Marah.
"Menangis karena hina, zalim, korupsi, miskin, tertindas, dan lapar"
Di awal, manusia itu normal. Dia marah pas harga naik gila-gilaan. Dia sakit hati pas hukum tumpul ke atas tajam ke bawah. Dia nangis pas lihat anak nggak bisa makan.
Rasa sakit itu tanda jiwanya masih hidup.
Masalahnya, marah dan nangis aja nggak cukup kalau nggak ada aksi.
2. Fase 2: Pembiaran yang Menyamar Jadi "Sabar".
"Sampai akhirnya mereka terbiasa dengan semua itu"
Ini jebakannya.
Orang mulai bilang: "Udah lah, nggak usah ribut. Nanti juga aman sendiri."
Padahal itu bukan sabar. Itu nyerah.
Zalim yang dibiarin itu bukan zalim yang hilang. Dia cuma makin berani.
Dan yang paling bahaya: kita mulai nyalahin diri sendiri.
"Ah mungkin emang gue yang nggak pinter cari duit."
"Mungkin emang gue yang nggak sabar."
Padahal masalahnya ada di sistem yang busuk, bukan di lu.
3. Fase 3: Mati Rasa, Lalu Jadi Budak.
"Dan jadilah mereka budak"
Budak di sini bukan yang kerja rodi.
Tapi orang yang udah nggak punya keberanian buat bilang "tidak".
Dia nurut bukan karena yakin, tapi karena takut.
Dia diem bukan karena bijak, tapi karena udah nggak peduli.
Dia milih aman sesaat, padahal harganya adalah harga diri dan masa depan anaknya.
Orang kayak gini gampang diatur. Kasih janji palsu dikit, kasih hiburan receh, udah diem lagi.
Dia nggak butuh dirantai. Dia udah ngerantai dirinya sendiri.
Jadi tamparannya ada di sini:
Kita sering kira kita korban. Padahal kita juga yang milih buat diam.
Kita marah di status, tapi di dunia nyata kita ikut main aman.
Kita benci koruptor, tapi kita sendiri nyogok biar urusan cepat selesai.
Kalau kita nggak putusin siklus ini, jangan heran kalau anak cucu kita lahir udah jadi budak. Bukan karena dipaksa, tapi karena warisan mental kita.
Pertanyaan kerasnya:
Sekarang, hal zalim apa yang udah kamu anggap "biasa aja" karena capek lawan?
Itu dia titik mulainya perbudakan.
Salam,
Tukang Cilok Ciluk Ba