Pertin Kinaya Jejak & Cerita

Pertin Kinaya  Jejak & Cerita

Share

Pertin Kinaya
menulis dari keseharian, desa, dan perjalanan hidup
beberapa cerita jadi tulisan, beberapa hanya lewat rasa
penulis ebook: Pertin Ta’dung

30/05/2026

Lelaki yang Tidak Banyak Bicara

Dulu,
aku mengira cinta adalah tentang
pesan panjang sebelum tidur,
kata rindu yang diulang berkali-kali,
dan jantung yang berdebar
setiap kali saling menatap mata.

Namun setelah menikah,
aku belajar sesuatu—

cinta ternyata bisa berubah bentuk
tanpa benar-benar hilang.

Ia menjelma lelaki yang bangun pagi
dengan mata masih menyimpan lelah,
tetapi tetap pergi bekerja
demi memastikan dapur tetap mengepul
dan rumah ini tetap hangat.

Ia tak lagi sering berkata rindu,
bukan karena hatinya berubah,
melainkan karena hidup
memberinya tanggung jawab
yang lebih besar dari sekadar kata-kata.

Kini aku mengerti,
saat seorang suami diam memikirkan banyak hal,
sering kali di dalam kepalanya
ada nama istrinya yang sedang diperjuangkan.

Dan setiap kali aku mengingat itu,
hatiku dipenuhi syukur
yang sulit dijelaskan.

Sebab ternyata,
dicintai dengan dewasa
memang tidak selalu terasa manis—
tetapi terasa aman.





Photos from Pertin Kinaya  Jejak & Cerita's post 22/05/2026

Saat Ayah dan Ibu Tak Satu Suara, Anak Belajar Cara Bertahan, Bukan Tumbuh.

12/04/2026

Aku lebih nyaman menulis daripada berbicara.

Lewat tulisan, aku bisa merangkai perasaan dengan rapi. Kata-kata terasa lebih jujur, lebih tenang, dan tidak terburu-buru seperti saat diucapkan.

Tapi saat harus berbicara, apalagi berdiskusi dengan suami dan ada hal yang tidak sejalan… entah kenapa hatiku sering jadi rapuh. Baru mulai, rasanya sudah ingin menangis—seperti anak kecil yang tidak siap berdebat.

Kadang aku bertanya dalam hati,
“Apakah suamiku nyaman dengan aku yang seperti ini?”

Aku bukan tidak bisa bicara. Hanya saja, ketika perasaan ikut campur, kata-kata jadi berantakan. Dan di saat-saat itu, aku juga sadar… mungkin ada bagian dari diriku yang masih ingin semuanya berjalan sesuai keinginanku. Egois, ya?

Tapi di sisi lain, saat aku setuju dengan suami, aku sering hanya menjawab sederhana, “oke.” Tanpa penjelasan panjang. Tanpa banyak kata. Karena bagiku, setuju itu cukup dirasakan, tidak selalu harus dijelaskan.

Aku masih belajar—belajar menenangkan diri saat berbicara, belajar menerima bahwa tidak semua harus sesuai mauku, dan belajar bahwa komunikasi bukan soal menang atau kalah, tapi soal saling memahami.

Dan mungkin… selama aku masih berusaha, itu sudah cukup.

09/04/2026

Day 2

08/04/2026

Pemula belajar bahasa Mandarin 🤭
Pelafalan masih kaku, jadi untuk sementara fokus ke kosakata dulu ya 🤣✨

Pelan-pelan, yang penting konsisten 💪📚

07/04/2026

Pagi ini hujan turun sejak subuh. Aku pun memutuskan mengantar kakak Felicia ke sekolah tanpa mengajak adek Kirana ikut.

Seperti biasa, setiap kakak mendapat uang jajan, adek juga harus kebagian. Sepulang dari mengantar, aku sempat mampir ke warung untuk membelikan adek Kirana kue bolu.

Sesampainya di rumah, aku langsung meletakkan bolu itu di sampingnya. Ia masih asyik bermain, sehingga tidak menyadari kehadiran bolu tersebut.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia berseru kaget,
“Mami… mami… adek mau makan bolu ini, ya!”

Aku yang penasaran apakah ia tahu dari mana bolu itu berasal, langsung bertanya,
“Wah, adek dapat bolu ini dari mana?”

“Dari oma, toh,” jawabnya polos.

“Masak sih? Kok adek bisa tahu itu dari oma? Tadi mami tidak lihat oma masuk rumah,” kataku, mencoba memancing penalarannya.

“Kan oma yang s**a belikan adek bolu ini,” jawabnya mantap, penuh keyakinan.

Ah, aku pun teringat. Memang benar, setiap kali oma keluar, ia hampir selalu membawakan cucu-cucunya—Felicia dan Kirana—kue bolu seperti ini.

Sementara aku sendiri, jika membelikan jajan, biasanya memilih donat atau kue lapis, dan jarang sekali membeli bolu.

Mungkin itulah sebabnya adek Kirana begitu yakin, bahwa bolu yang sedang ia nikmati adalah pemberian dari omanya.

19/02/2026

Adek Kirana lagi main game masak-masak di hapenya. Tiba-tiba dia bilang,
“Hmmmm… harum sekali loh ini.”

Aku yang duduk di sampingnya langsung ikut-ikutan,
“Ah iya ya, Dek. Adek masak apa tuh? Kok harum sekali?”

Kirana langsung menoleh dengan wajah serius.
“Loh, ini kan di hape. Mana bisa baunya keluar dari hape? Mami nggak tahu ya?” lanjutnya.

Aku cuma bisa melongo, terheran-heran.
Perasaan tadi dia yang pertama bilang “harum”…

Gen Alpha memang kadang logikanya datang belakangan, tapi percaya dirinya selalu di depan 😄

13/02/2026

Aku tahu waktu tidak bisa kembali.
Rumah itu tak akan persis sama.
Adik-adik sudah tumbuh,
aku pun sudah punya anak yang memanggilku “mami”.

Tapi di dalam dada ini
masih ada seorang kakak
yang merasa belum cukup memberi,
masih ada seorang anak
yang rindu dipeluk tanpa syarat.

Jika suatu hari aku benar-benar pulang,
biarlah aku tidak perlu kuat.
Biarlah aku tidak perlu jadi apa-apa.

Biarlah aku hanya menjadi
anak yang menangis
di pelukan pertama
yang menyambutnya di pintu rumah.

10/02/2026

Mandi keringat cuma karena gendong Adek Kirana yang lagi demam.

Belum lama ini Kakak Felicia baru sembuh—sekarang gantian adiknya tumbang.

Beginilah jadi ibu.
Tidur bisa ditunda, badan boleh capek,
asal anak tetap hangat dalam pelukan.

Saudara kandung memang sering bergantian sakit,
dan ibu… selalu jadi benteng paling depan.

Pelan-pelan ya, Nak.
Mami di sini. Selalu.

09/02/2026

I remember school debate when I supported the motion 'Education is better than money'...

"MONEY PLEASE FORGIVE ΜΕ"

I was a child

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jakarta