01/05/2020
Pada tahun 1913 – 1919, Soewardi sempat menjalani masa pembuangan di Belanda. Selama di Belanda, ia banyak belajar tentang politik dan pendidikan. Semasa menjalani masa tahanan di negeri Belanda, ia tidak pernah berhenti belajar dan menggali ilmu pengetahuan. Hal tersebut mengantarkan nya untuk berkenalan dengan gagasan pemikiran Frederich Wilhelm August Froebel, seorang pakar pendidikan asal Jerman.
Sepulangnya kembali ke Indonesia, Soewardi memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan. Pendidikan eksklusif ala pemerintah kolonial membuat Soewardi resah, karena hanya orang-orang Eropa dan keturunan bangsawan yang bisa sekolah. Soewardi yang telah bergaul dengan berbagai pemikiran, memiliki ide untuk menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan. 3 Juli 1922 ia mendirikan perguruan “Taman Siswa”, yang membuka kesempatan bagi siapapun untuk bisa bersekolah dengan mudah dan murah. Tujuh tahun berselang, Soewardi resmi menanggalkan gelar ningrat pada dirinya, dan berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara juga menuliskan gagasan nya tentang pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Menurut Ki Hajar, pendidikan nasional adalah pendidikan berdasar garis hidup bangsa nya. Dan ditujukan untuk keperluan pri kemanusiaan yang didapat mengangkat derajat negeri dan rakyat sehingga berkedudukan sama dan layak bekerjasama dengan bangsa lain. Atas berbagai jasa nya terhadap pendidikan Indonesia, melalui keppres no.316 tahun 1959, tanggal kelahirannya yakni 2 Mei, ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional.
-kumparan
24/04/2020
23/04/2020
28/02/2020
30/12/2019
25/11/2019
19/10/2019
10/10/2019
02/10/2019