Meme Dakwah Nusantara

Meme Dakwah Nusantara

Share

Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan pelajaran yang baik

06/06/2026

Empat Orang Berpengaruh di Sekitar Kita Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad mengutip penjelasan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tentang empat jenis orang berpengaruh yang kemungkinan ada di sekitar kita. Sebagian dari mereka merupakan orang baik yang layak dijadikan sahabat, sedangkan sebagian lainnya patut dijauhi karena dapat membawa pengaruh buruk dalam kehidupan.

1. Orang yang sedikit bicara tetapi gelap hatinya

Jenis pertama adalah orang yang tidak banyak berbicara, namun hatinya dipenuhi keburukan. Mereka termasuk ahli maksiat, jahat, dan bodoh. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengingatkan agar tidak menjadi bagian dari golongan ini dan tidak terlalu dekat dengan mereka karena mereka termasuk golongan yang membawa kepada azab.

2. Orang yang pandai berbicara tetapi gelap hatinya

Jenis kedua adalah orang yang fasih berbicara tentang hikmah dan agama, tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Mereka mengajak orang lain menuju Allah, namun dirinya sendiri justru menjauh dari-Nya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berpesan agar berhati-hati terhadap golongan ini. Ucapan mereka bisa terdengar indah dan menawan, tetapi keburukan hati dan maksiat mereka dapat menjerumuskan orang lain.

3. Orang yang sedikit bicara tetapi terang hatinya

Golongan ketiga adalah orang-orang yang dijaga Allah dan memiliki hati yang bersih. Mereka lebih banyak introspeksi terhadap diri sendiri dibanding sibuk menilai orang lain. Allah menerangi hati mereka dan menjaga mereka dari keburukan.

Mereka juga memahami bahaya terlalu banyak berbicara dan terlalu larut dalam pergaulan yang tidak bermanfaat. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyebut mereka sebagai wali-wali Allah yang berada dalam perlindungan-Nya. Bergaul dengan mereka dapat membawa keberkahan dan kecintaan Allah.

4. Orang alim yang mengajarkan dan mengamalkan ilmunya

Jenis keempat adalah ulama yang mempelajari ilmu agama, mengajarkannya kepada orang lain, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka termasuk orang yang mengenal Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Allah menitipkan ilmu yang mendalam kepada mereka dan melapangkan hati mereka untuk menerima hikmah. Karena itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengingatkan agar tidak menentang, menjauhi, atau meremehkan nasihat para ulama yang tulus.

Keempat jenis manusia ini bisa saja ada di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk memilih lingkungan pergaulan yang baik agar tidak terpengaruh oleh keburukan dan lebih dekat kepada orang-orang saleh yang membawa manfaat dunia dan akhirat.

Sumber: NU Online, Empat Orang Berpengaruh di Sekitar Kita Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, karya Alhafiz Kurniawan.

05/06/2026

Hukum Meninggalkan Shalat Jumat karena Hujan

Shalat Jumat merupakan salah satu kewajiban penting bagi setiap muslim laki-laki yang telah baligh dan berakal. Ibadah ini dilaksanakan setiap hari Jumat dan menjadi syiar besar dalam Islam. Karena itu, seorang muslim diwajibkan menghadiri shalat Jumat selama tidak memiliki uzur yang dibenarkan syariat.

Allah SWT berfirman:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:

> “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Jumu’ah: 9)

Ayat tersebut menjadi dalil wajibnya shalat Jumat bagi setiap muslim laki-laki yang memenuhi syarat. Para ulama menjelaskan bahwa perintah dalam ayat tersebut menunjukkan kewajiban karena tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum wajib.

Meskipun demikian, Islam adalah agama yang memberikan kemudahan. Dalam kondisi tertentu, syariat memberikan keringanan bagi seseorang untuk tidak menghadiri shalat Jumat apabila terdapat uzur yang dibenarkan.

Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar As-Syathiri menjelaskan bahwa terdapat beberapa uzur yang membolehkan seseorang meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah, seperti sakit, khawatir terhadap keselamatan diri, cuaca yang sangat panas atau sangat dingin, merawat orang sakit, menghadapi sakaratul maut keluarga, serta hujan lebat.

Beliau berkata:

> أَعْذَارُ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ كَثِيرَةٌ، مِنْهَا: الْمَرَضُ، وَالْخَوْفُ عَلَى الْمَعْصُومِ، وَشِدَّةُ الْحَرِّ، وَشِدَّةُ الْبَرْدِ، وَتَمْرِيضُ مَنْ لَا مُتَعَهِّدَ لَهُ وَكَوْنُهُ يَأْنَسُ بِهِ، وَإِشْرَافُ الْقَرِيبِ عَلَى الْمَوْتِ، وَالْمَطَرُ إِنْ بَلَّ الثَّوْبَ وَلَمْ يَجِدْ كِنًّا

Artinya:

> “Uzur-uzur shalat Jumat dan shalat berjamaah itu banyak, di antaranya: sakit, khawatir terhadap keselamatan, cuaca yang sangat panas, cuaca yang sangat dingin, merawat orang sakit yang tidak memiliki penanggung jawab, menunggu kerabat yang menghadapi sakaratul maut, serta hujan apabila membasahi pakaian dan tidak ada pelindung.”

(Syarh Yaqutun Nafis fi Mazhabi Ibn Idris, halaman 207-208)

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Minhajul Qawim.

> أعذار الجمعة والجماعة المطر إن بل ثوبه ولم يجد كنًا

Artinya:

> “Di antara uzur shalat Jumat dan shalat berjamaah adalah hujan apabila membasahi pakaian dan tidak ada pelindung.”

(Al-Minhajul Qawim, halaman 148)

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa hujan lebat dapat menjadi uzur yang membolehkan seseorang tidak menghadiri shalat Jumat, khususnya apabila hujan tersebut menyebabkan pakaian basah dan tidak ada pelindung yang memadai dalam perjalanan menuju masjid.

Namun apabila hujan tidak terlalu deras, perjalanan masih aman, dan tersedia pelindung seperti payung atau kendaraan, maka kewajiban shalat Jumat tetap berlaku dan harus dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Adapun seseorang yang tidak melaksanakan shalat Jumat karena uzur yang dibenarkan syariat, maka ia wajib menggantinya dengan shalat Dzuhur empat rakaat.

Syekh Abdurrahman Al-Jaziri menjelaskan:

> أما من لا تجب عليه الجمعة كالمريض ونحوه صلاة الظهر منه، ولو حال اشتغال الإمام بصلاة الجمعة

Artinya:

> “Adapun orang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, seperti orang sakit dan lainnya, maka dia boleh melaksanakan shalat Dzuhur meskipun imam sedang melaksanakan shalat Jumat.”

(Al-Fiqh ‘ala Mazahibil Arba’ah, jilid I, halaman 364)

Dengan demikian, hukum meninggalkan shalat Jumat karena hujan adalah diperbolehkan apabila hujan tersebut benar-benar menimbulkan kesulitan dan membahayakan. Namun jika kondisi masih memungkinkan untuk pergi ke masjid dengan aman, maka kewajiban shalat Jumat tetap harus dilaksanakan.

Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber:

Tulisan “Hukum Meninggalkan Shalat Jumat karena Hujan” karya Sunnatullah, dimuat di [NU Online.

05/06/2026

Sikap dan Perasaan Malu yang Mendatangkan Rahmat Allah

Rasa malu merupakan salah satu akhlak mulia yang dimiliki manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menghadapi berbagai keadaan yang menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga muncul perasaan malu. Namun dalam Islam, rasa malu tidak selalu dipandang buruk. Bahkan, rasa malu tertentu justru menjadi tanda kemuliaan iman dan sebab datangnya rahmat Allah SWT.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya sebagian dari pesan kenabian terdahulu adalah: jika kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah ses**amu.”
(HR Al-Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya rasa malu sebagai penghalang dari perbuatan dosa dan maksiat. Seseorang yang masih memiliki rasa malu akan berpikir sebelum melakukan keburukan, sebab ia sadar bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya.

Sebagian ulama juga memahami hadits tersebut sebagai bentuk peringatan. Maksudnya, jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, maka ia akan mudah melakukan apa saja tanpa mempedulikan dosa dan akibatnya.

Namun demikian, Islam juga menjelaskan bahwa tidak semua rasa malu itu baik. Ada rasa malu yang terpuji dan ada p**a rasa malu yang tercela.

Malu yang Mendatangkan Kebaikan

Rasa malu yang baik adalah malu untuk melakukan dosa, malu berbuat maksiat, dan malu melanggar perintah Allah SWT. Perasaan seperti ini dapat menjaga manusia dari perilaku buruk serta mendorongnya untuk memiliki akhlak yang mulia.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabat:

> “Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”

Kemudian Nabi menjelaskan bahwa malu kepada Allah berarti menjaga pikiran, menjaga perut dari yang haram, mengingat kematian, dan tidak terlalu mencintai gemerlap dunia.

Dengan demikian, rasa malu yang benar bukan sekadar malu kepada manusia, tetapi malu kepada Allah ketika hendak melakukan sesuatu yang dilarang-Nya.

Malu yang Tidak Dianjurkan

Di sisi lain, ada rasa malu yang justru tidak baik, misalnya malu bertanya tentang ilmu agama atau malu mengakui ketidaktahuan. Sikap seperti ini dapat menyebabkan seseorang tetap berada dalam kebodohan bahkan terjerumus pada kesalahan.

Karena itulah para sahabat Nabi tidak malu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang berbagai persoalan agama. Mereka memahami bahwa bertanya demi mencari ilmu adalah bagian dari kebaikan.

Peribahasa “malu bertanya sesat di jalan” juga mengandung pelajaran penting bahwa rasa malu tidak boleh menghalangi seseorang untuk belajar dan mencari kebenaran.

Menumbuhkan Rasa Malu kepada Allah

Rasa malu kepada Allah dapat ditumbuhkan dengan memperkuat ketakwaan dan kesadaran bahwa setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika seseorang selalu ingat kepada Allah dan akhirat, maka ia akan lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.

Orang yang memiliki rasa malu seperti ini akan berusaha menjaga ucapan, perbuatan, dan hatinya dari hal-hal yang dibenci Allah SWT. Dari sinilah lahir akhlak yang baik, kesopanan, serta perilaku yang membawa manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, rasa malu yang mendatangkan rahmat Allah adalah rasa malu yang mendorong seseorang menjauhi dosa, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya. Bukan malu untuk belajar, bertanya, atau mengakui kesalahan, melainkan malu ketika berbuat maksiat dan melanggar perintah Allah SWT.

Sumber:
Muhammad Iqbal Syauqi, “Sikap dan Perasaan Malu yang Mendatangkan Rahmat Allah” – [NU Online](https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/sikap-dan-perasaan-malu-yang-mendatangkan-rahmat-allah-4dCVO?utm_source=chatgpt.com)

05/06/2026

Ini Tiga Derajat Sabar dalam Kajian Tasawuf

Sabar merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Secara umum, sabar berarti menahan diri dari sesuatu yang tidak diridhai Allah SWT. Sikap sabar sangat dibutuhkan dalam kehidupan, baik ketika menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, maupun saat menghadapi musibah dan ujian hidup.

Dalam kajian tasawuf, para ulama membagi sabar ke dalam beberapa tingkatan sesuai dengan keadaan hati seseorang. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menukil pendapat para ulama makrifat mengenai tiga derajat sabar.

> وقال بعض العارفين اهل الصبر على ثلاثة مقامات أولها ترك الشهوة وهذه درجة التائبين وثانيها الرضا بالمقدور وهذه درجة الزاهدين وثالثها المحبة لما يصنع به مولاه وهذه درجة الصديقين

Artinya:

> “Sebagian ulama makrifat mengatakan, ‘Orang sabar terdiri atas tiga tingkatan. Pertama, orang yang sabar meninggalkan syahwat. Ini derajat orang yang bertobat. Kedua, ridha atas takdir. Ini derajat orang yang zuhud. Ketiga, mencintai apa yang dilakukan Allah terhadapnya. Ini derajat orang yang as-shiddiq.’”

(Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz IV, halaman 72)

Pertama, Sabar Meninggalkan Syahwat

Tingkatan pertama adalah sabar dalam menahan hawa nafsu dan meninggalkan syahwat yang dilarang Allah SWT. Orang yang berada pada maqam ini berusaha melawan dorongan dirinya agar tidak terjatuh dalam dosa dan maksiat. Tingkatan ini merupakan derajat orang-orang yang bertobat dan ingin memperbaiki dirinya.

Sabar pada tingkatan ini sangat penting karena hawa nafsu sering kali menjadi sebab seseorang jauh dari Allah SWT. Dengan kesabaran, seorang hamba mampu menjaga diri dari berbagai larangan agama dan tetap istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya.

Kedua, Ridha terhadap Takdir Allah

Derajat berikutnya adalah ridha terhadap segala ketentuan Allah SWT. Orang yang berada pada maqam ini tidak hanya mampu bersabar saat menghadapi ujian, tetapi juga menerima takdir tersebut dengan hati yang lapang dan penuh keyakinan bahwa semua ketentuan Allah mengandung hikmah.

Mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada dalam kekuasaan Allah SWT. Karena itu, mereka tidak mudah mengeluh atau menyalahkan keadaan. Inilah derajat orang-orang zuhud yang lebih mengutamakan kedekatan kepada Allah daripada kenikmatan dunia.

Ketiga, Mencintai Ketentuan Allah

Tingkatan tertinggi adalah mencintai segala sesuatu yang Allah tetapkan bagi dirinya. Pada maqam ini, seorang hamba tidak sekadar menerima takdir, tetapi juga merasa senang dan tenang dengan seluruh ketentuan Allah karena cintanya yang begitu besar kepada-Nya.

Orang yang mencapai derajat ini memandang setiap ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT. Mereka tetap bersyukur dan berbaik sangka kepada Allah dalam segala keadaan. Inilah derajat ash-shiddiqin, yaitu orang-orang yang sangat dekat kepada Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa maqam mahabbah atau cinta kepada Allah memiliki kedudukan lebih tinggi daripada sekadar ridha, sebagaimana maqam ridha lebih tinggi daripada maqam sabar biasa.

Keutamaan sabar juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman agar menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

> يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya:

> “Wahai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang sabar akan selalu mendapatkan pertolongan, bimbingan, dan pendampingan dari Allah SWT. Karena itu, kesabaran menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Selain itu, Allah juga menjanjikan pahala yang sangat besar dan tidak terhingga bagi orang-orang yang bersabar.

> إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

> “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa balasan bagi orang yang sabar tidak dapat dihitung, baik dari segi jumlah maupun keutamaannya. Allah SWT memberikan ganjaran yang sangat luas kepada hamba-hamba-Nya yang mampu bersabar dalam menjalani kehidupan.

Dengan demikian, sabar bukan sekadar menahan diri dari keluh kesah, tetapi juga menjadi jalan menuju kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Semakin tinggi tingkat kesabaran seseorang, semakin tinggi p**a derajatnya di sisi Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Sumber:

Artikel “Ini Tiga Derajat Sabar dalam Kajian Tasawuf” karya Alhafiz Kurniawan.

05/06/2026

Inilah Hikmah Libur Mengaji di Hari Jumat

Tradisi meliburkan kegiatan mengaji dan belajar mengajar pada hari Jumat telah lama dikenal di berbagai pesantren dan majelis taklim di Nusantara. Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap dijaga hingga sekarang. Sekilas mungkin muncul pertanyaan, mengapa kegiatan belajar justru diliburkan pada hari Jumat, padahal hari tersebut merupakan hari yang paling mulia bagi umat Islam?

Para ulama menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki hikmah dan dasar yang kuat dalam khazanah fiqih Islam. Salah satunya dijelaskan oleh ulama besar mazhab Syafi’i, Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Beliau menerangkan bahwa ada dua hikmah utama diliburkannya aktivitas belajar mengajar pada hari Jumat.

Hari Raya Kaum Muslimin

Pertama, hari Jumat merupakan hari raya umat Islam. Rasulullah SAW menyebut Jumat sebagai hari yang istimewa dan penuh kemuliaan. Karena itu, hari raya tidak selayaknya dipenuhi dengan aktivitas berat dan kesibukan yang melelahkan pikiran.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan:

> “Hikmah meninggalkan kegiatan mengajar dan berbagai kesibukan lainnya pada hari Jumat adalah karena Jumat merupakan hari raya kaum mukminin sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi. Hari raya tidak cocok diisi dengan berbagai kesibukan.”

Dengan demikian, libur mengaji pada hari Jumat bukan berarti meremehkan ilmu, melainkan memberikan kesempatan agar umat Islam dapat menikmati kekhusyukan dan kemuliaan hari Jumat.

Memperbanyak Ibadah dan Persiapan Jumat

Hikmah kedua adalah agar umat Islam memiliki kesempatan lebih luas untuk menjalankan amalan-amalan sunnah hari Jumat.

Di antara amalan tersebut ialah:

mandi Jumat,

membersihkan badan,

memotong kuku,

mencukur rambut atau kumis,

memakai wangi-wangian,

bersegera menuju masjid,

memperbanyak dzikir dan doa,

serta menunggu waktu mustajab pada hari Jumat.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan bahwa orang yang disibukkan dengan amalan-amalan tersebut tentu tidak pantas dibebani lagi dengan berbagai aktivitas lain.

Beliau juga menjelaskan bahwa setelah shalat Jumat, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah di masjid hingga waktu Ashar. Setelah Ashar, waktu dianjurkan digunakan untuk memperbanyak doa sampai matahari terbenam, karena pada hari Jumat terdapat waktu mustajab yang sangat diharapkan oleh kaum mukminin.

Tradisi Sejak Masa Sahabat

Tradisi meliburkan pengajian pada hari Jumat ternyata juga telah dikenal sejak masa sahabat Nabi. Dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin dijelaskan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah memberikan kebijakan libur mengaji Al-Qur’an sejak Kamis siang hingga Sabtu.

Kebijakan tersebut diberikan setelah beliau melihat anak-anak Madinah begitu antusias menyambut kedatangannya. Bahkan disebutkan bahwa Sayyidina Umar mendoakan keburukan bagi orang yang mengubah tradisi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi libur mengaji di hari Jumat bukan kebiasaan tanpa dasar, melainkan memiliki landasan dari para ulama dan juga praktik generasi salaf.

Mengisi Hari Jumat dengan Amal Saleh

Pada hakikatnya, libur mengaji di hari Jumat bukan berarti meninggalkan ibadah atau bermalas-malasan. Justru hari Jumat diarahkan untuk diisi dengan amal-amal saleh lainnya, seperti:

memperbanyak membaca Al-Qur’an,

membaca shalawat,

berdzikir,

bersedekah,

memperbanyak doa,

dan menghadiri shalat Jumat dengan penuh kekhusyukan.

Karena itu, tradisi ini mengandung nilai pendidikan ruhani agar umat Islam memahami bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada belajar di kelas atau majelis, tetapi juga mencakup kesiapan hati dalam menyambut hari yang penuh keberkahan.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber:
M. Mubasysyarum Bih, Hikmah Libur Mengaji di Hari Jumat, NU Online.

04/06/2026

3 Hadits Manfaat Baca Shalawat di Malam Jumat

Malam Jumat merupakan salah satu malam yang istimewa bagi umat Islam. Pada malam tersebut, banyak kaum muslimin memperbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, membaca tahlil, dan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Anjuran membaca shalawat di malam Jumat secara langsung disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sejumlah hadits. Shalawat bukan hanya bentuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga amalan yang mendatangkan banyak keutamaan dan keberkahan bagi orang yang membacanya.

Berikut beberapa hadits tentang manfaat memperbanyak shalawat di malam Jumat.

1. Dibalas Sepuluh Kali Lipat

Orang yang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

> قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أكثروا عليَّ من الصَّلاةِ في يومِ الجمعةِ وليلةِ الجمعةِ ، فمَن صلّى عليّ صلاةً صلّى الله عليه عشرًا. (رواه البيهقي)

Artinya:

> “Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat. Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR Imam Baihaqi)

Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan membaca shalawat. Setiap satu kali shalawat yang dibaca seorang hamba akan dibalas Allah SWT dengan sepuluh rahmat dan kemuliaan.

2. Mendapat Kedudukan Dekat dengan Rasulullah SAW

Selain mendapatkan pahala besar, orang yang banyak membaca shalawat juga akan memperoleh kedudukan yang dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda:

> وقال صلى الله عليه وسلم : أكثروا عليَّ من الصَّلاةِ يومَ الجمعةِ ؛ فإنَّ صلاةَ أمّتي تُعرضُ عليّ في كلّ يومِ جمعةٍ ، فمن كان أكثرهم عليّ صلاةً كان أقربهم منّي منزلةً. (رواه البيهقي)

Artinya:

> “Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku pada hari Jumat. Sesungguhnya shalawat umatku diperlihatkan kepadaku setiap hari Jumat. Barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, maka dia akan mendapatkan kedudukan paling dekat denganku.”
(HR Imam Baihaqi)

Hadits ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus memperbanyak shalawat sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus harapan agar dekat dengan beliau di akhirat nanti.

3. Mendapat Syafaat Rasulullah SAW

Keutamaan lain dari memperbanyak shalawat di malam Jumat adalah mendapatkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda:

> وقال صلى الله عليه وسلم : أكثروا عليَّ من الصَّلاةِ يومَ الجمعةِ وليلةِ الجمعةِ ، فمَن فعل ذلك كنتُ له شهيدًا وشفيعًا يومَ القيامةِ. (رواه البيهقي)

Artinya:

> “Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat. Barangsiapa melakukan hal itu, aku akan menjadi saksi baginya dan memberikan syafaat kepadanya pada hari kiamat.”
(HR Imam Baihaqi)

Syafaat Rasulullah SAW merupakan salah satu harapan terbesar setiap muslim pada hari kiamat. Karena itu, memperbanyak shalawat menjadi amalan yang sangat dianjurkan, khususnya pada malam dan hari Jumat.

Dengan demikian, membaca shalawat di malam Jumat memiliki banyak keutamaan, mulai dari mendapat balasan pahala berlipat, memperoleh kedudukan dekat dengan Rasulullah SAW, hingga mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti.

Wallahu a’lam.

Sumber:

Artikel “3 Hadits Manfaat Baca Shalawat di Malam Jumat” karya Muhammad Syakir NF di [NU Online]

04/06/2026

10 Dosa Besar yang Setara dengan Kekufuran

Islam mengajarkan umatnya untuk menjauhi segala bentuk dosa besar. Dalam Kitab Nashaihul Ibad, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang disyarahi oleh Syekh Muhammad Nawawi Banten menjelaskan adanya beberapa dosa besar yang bobotnya sangat berat hingga diserupakan dengan kekufuran.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebanyak 10 jenis orang di tengah umat ini yang berbuat kekufuran kepada Allah Yang Maha Agung. Tetapi mereka mengira bahwa mereka itu percaya.’” (Nashaihul Ibad, halaman 61).

Hadits tersebut bukan berarti pelakunya langsung keluar dari Islam, tetapi menunjukkan betapa besarnya dosa yang mereka lakukan. Berikut sepuluh dosa besar tersebut:

1. Membunuh Muslim atau Non-Muslim Damai Tanpa Hak

Membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan syariat merupakan dosa yang sangat besar. Islam sangat menjaga kehormatan jiwa manusia, baik muslim maupun non-muslim yang hidup damai.

2. Penyihir

Praktik sihir termasuk dosa besar karena melibatkan tipu daya, kebohongan, bahkan sering kali berkaitan dengan kesyirikan dan kerja sama dengan setan.

3. Dayyuts atau Tidak Memiliki Rasa Cemburu terhadap Kehormatan Keluarga

Dayyuts adalah orang yang membiarkan anggota keluarganya melakukan pergaulan bebas dan perbuatan maksiat tanpa rasa peduli.

Dalam hadits disebutkan:

Artinya, “Sungguh Allah tidak menerima pada hari kiamat ibadah wajib dan sunnah dari As-Shaqqur.” Sahabat bertanya, “Siapakah As-Shaqqur itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Seseorang yang memasukkan laki-laki ke dalam rumahnya.” (HR Bukhari dalam Tarikh).

4. Menolak Membayar Zakat

Orang yang memiliki kewajiban zakat tetapi enggan menunaikannya termasuk pelaku dosa besar karena zakat adalah rukun Islam dan hak orang miskin yang harus ditunaikan.

5. Meminum Khamar

Minuman keras dapat merusak akal, moral, dan kehidupan sosial. Karena itu Islam melarang keras khamar.

Syekh Nawawi mengutip hadits yang artinya:

“Peminum khamar pada hari kiamat kelak dikumpulkan sementara kendi tergantung pada lehernya dan cangkir pada tangannya. Ia lebih busuk daripada bangkai di muka bumi. Ia dilaknat oleh setiap orang yang melewatinya.”

6. Mampu Haji tetapi Tidak Mau Menjalankannya

Orang yang mampu secara fisik dan finansial tetapi enggan berhaji termasuk melakukan dosa besar.

Syekh Nawawi mengutip Surat Ali Imran ayat 97:

Artinya, “Siapa saja yang mengingkari, maka sungguh Allah Maha Kaya dari sekalian alam.”

Beliau menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan keyakinan atas kewajiban haji berarti telah mengingkari syariat Allah.

7. Menjadi Penyebab Fitnah dan Kekacauan

Orang yang s**a mengadu domba, memprovokasi, dan menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat termasuk golongan yang mendapat ancaman berat dalam Islam.

8. Menjual Senjata kepada Pihak yang Berperang

Membantu pihak yang menimbulkan kerusakan dan peperangan dengan menyediakan perlengkapan perang juga termasuk dosa besar.

9. Menyetubuhi Istri Lewat Dubur

Islam melarang hubungan suami istri melalui dubur karena bertentangan dengan fitrah dan tuntunan syariat.

10. Berzina dengan Mahram

Melakukan hubungan dengan perempuan yang masih memiliki hubungan mahram termasuk dosa yang sangat besar dan keji.

Di akhir penjelasan, Syekh Nawawi Banten menjelaskan:

Artinya, “Jika ia mengira bahwa semua perbuatan itu halal, maka ia tergolong kafir.”

Namun, apabila seseorang tetap meyakini bahwa perbuatan tersebut haram, maka ia tidak keluar dari Islam, meskipun dosanya sangat besar.

Sepuluh dosa besar ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar menjaga iman, akhlak, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim harus senantiasa bertaubat dan menjauhi segala perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Abdullah Alawi

Sumber: [NU Online](https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/10-dosa-besar-yang-setara-dengan-kekufuran-jrfuQ?utm_source=chatgpt.com)

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jakarta
24434