04/05/2020
Pagi ini, tanggal 2 Mei 2020 adalah pagi kedua menulis bersama SiniKini, sebuah komunitas yang kutemukan di masa-masa pandemic Covid-19. Aku membuka whatsapp group dan membaca topik menulis hari ini. Topik ini membawa ingatanku kepada satu sesi pelatihan kepemimpinan. Sebelum materi disampaikan, pembicara bertanya kepada kami, para peserta, siapa orang yang berpengarauh dalam hidup kami.
Satu pribadi muncul di benakku, beliau adalah almarhum kakekku. Hatiku langsung menyetujui apa yang ada di benakku saat itu.
Setelah nenekku meninggal, di penghujung usianya, kakekku memilih untuk tinggal bersama kami, aku dan dua adikku. Bukan sekali dua kali paman-pamanku mengajaknya untuk tinggal bersama mereka. Almarhum kakek menolak ajakan-ajakan itu dengan alasan bahwa Ia sudah betah di rumah yang kami tempati, dan Ia tidak ingin menganggu keluarga paman-pamanku.
Di balik itu kami semua tahu, bahwa alasan sesungguhnya Ia menolak adalah karena Ia ingin menjaga aku dan adik-adikku yang saat itu masih dibawah umur.
Aku melihat seorang pribadi yang tenang dalam menghadapi masalah. Lewat beliau aku belajar beliau aplikasi menyelesaikan masalah dengan ‘win-win solution’, yang istilahnya kudapati belakangan melalui buku-buku yang baca.
Tiada kehormatan tanpa pengorbanan. Penghormatanku kepada Kakek karena aku melihat begitu banyak pengorbanan yang Ia berikan untuk aku dan adik-adikku.
Beliau mengajarkan aku arti ‘tahu-diri’ lewat hal-hal kecil kehidupan sehari-hari. Suatu malam, ketika kami berempat makan bersama, sambil makan beliau berkata,
“Kalau makan bersama-sama di meja makan bersama banyak orang, apalagi yang orang yang baru dikenal atau atasan, kalian harus pura-pura.”
“Pura-pura apa, Kong?” tanyaku menghentikan sumpitku untuk mengambil lauk di tengah meja....
*tidak muat cerita*
Lanjut ceritanya akan publish di tempat lain.