19/05/2022
8 HARI MENIKAH, LALU DICERAIKAN
Viral di medsos, perempuan baru dinikahi 8 hari, diceraikan suaminya karena tidak sengaja nasi yang dimakan suaminya terkena pakaian yang ia kenakan.
Ada sih beberapa ketidakcocokan lainnya, tapi sedianya bukanlah hal yang terlalu serius.
Mereka berkenalan tidak sampai satu bulan tanpa melalui masa pacaran yang cukup matang untuk saling mengenal.
Pertemuan pertama dia membawa seorang teman, sementara suaminya membawa orangtua dan adik-adiknya. Dan pada waktu pertemuan itu, calon mertua langsung menetapkan tanggal pernikahan yaitu tanggal 20 Maret.
Begini kronologisnya:
Tanggal 26 Februari Eka menerima CV yang dikirimkam via email tentang perjodohan (ta’aruf) itu.
Tanggal 27 Februari, pertemuan pertama.
Tanggal 6 Maret, pernikahan.
Tanggal 12 Maret, si suami dirawat di sebuah klinik karena Covid 19, dan saat itulah suaminya meminta Eka menyiapkan makanan, pakaian Eka terkena nasi yang hendak dimakan suaminya.
Tanggal 13 Maret, tragedi cuci beras salah cara.
Selama merawat suaminya di klinik, Eka sempat mengeluh nyeri karena PMS, namun si suami merasa tidak tahan dan menudingnya tidak taat serta malas.
Tanggal 14 Maret, diceraikan.
Tanggal 20 Maret, sedianya resepsi pernikahan.
Perempuan bernama Eka itu terakhir menjelaskan bahwa suaminya mengidap OCD (obsessive compulsive disorder) dan itu baru diketahuinya di hari ke 2 setelah mereka menikah. Di mana sang suami mengharuskan semua peralatan makan disterilkan dengan air panas (bahkan semua perabotan di rumah harus steril) dan beberapa permintaan khusus lainnya.
Itulah mengapa, kamu perlu waktu yang cukup untuk mengenali calon pasanganmu.
Waktu yang tidak hanya sekedar diukur dari lamanya pacaran saja, tapi lebih mendalam tentang kualitas pertemuan.
Kamu bisa melakukan checking / instropeksi tentang hal berikut:
1. Menggali karakter masing-masing untuk menentukan, apakah saya bisa menerima / memberi toleransi untuk sifat ini jangka panjang - sampai tua, dan salah satu dari kami lebih dulu pergi.
Apa kes**aannya, apa yang tidak dis**ainya?
Apa yang membuatnya bahagia, ap yang membuatnya marah / kecewa?
Apa kebiasaan-kebiasaan baiknya, yang membuat saya jadi berkembang?
Apa kebiasaan-kebiasaan buruknya?
Apa respon / reaksinya ketika menghadapi situasi yang tidak berpihak?
Bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih tua?
Bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang level ekonominya lebih sulit?
Bagaimana karakternya ketika ia berada pada kemacetan, dicurangi orang, dikhianati teman / karyawan?
Apakah ia orang yang tepat waktu, atau cenderung abai?
Apakah banyak kata-katanya yang bisa ia tepati, atau sekedar lip service saja?
Dari kejadian-kejadian kecil kamu bisa menggali banyak sekali informasi tentang si dia.
2. Apakah perbedaan kami ini bisa dijembatani dengan komunikasi? Atau apakah perlu effort khusus agar bisa selaras?
Entah saya yang menyesuaikan diri, atau dia yang mengalah, atau keduanya perlu menurunkan standard agar bisa sama-sama menikmati hubungan yang sehat dan manis?
Atau untuk hal-hal tertentu, perlu dibuat rules yang jelas, apa yang disepakati atau tidak disepakati dan bagaimana mengakomodirnya?
Atau,
Perlu pihak ke tiga untuk dimintai nasehat dan menengahi jika terjadi perselisihan tajam?
3. Checking pekerjaannya, pergaulannya, lingkungannya, bagaimana hubungan dia dengan orangtuanya - saudara-saudaranya dan apakah kamu bisa “OKE” dengan itu semua.
Jika hubungan mulai serius, lanjutkan dengan :
4. Checking, apakah ia bijak memperlakukan uang, apakah ia punya tabungan untuk masa depan, termasuk apakah ia punya hutang, bagaimana gaya hidupnya, apakah penghasilannya bisa menutupi biaya hidup? Bagaimana ia menyusun masa depannya?
Ini penting sekali ketika kalian memutuskan untuk menikah.
5. Bagaimana pandangannya tentang seorang perempuan.
Apakah ia memperbolehkan kamu berkarir, apakah ia memintamu 100% tinggal di rumah, bagaimana jika sekali-kali kamu pergi ke luar rumah berjumpa dengan teman-temanmu, juga sangat penting untuk dibicarakan.
6. Bagaimana tentang pengelolaan uang / harta? Perlukan melakukan perjanjian pra nikah? Siapa yang memegang keuangan dalam rumah tangga? Apakah semua gajinya kamu manage? Atau kamu hanya menerima uang bulanan, bicarakan tuntas.
7. Perencanaan punya anak, liburan, membeli rumah, membeli kendaraan juga perlu dibicarakan selama pacaran. Jangan hanya pandang-pandangan, senggol-senggolan, raba-rabaan, cium-ciuman lalu MBA!
8. Serta banyak hal lain yang perlu kamu find out sebelum kamu memutuskan melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius, yaitu pernikahan.
(LIKE Academy banyak sekali menyentuh hal-hal ini dalam setiap eventnya.)
Saya kenal beberapa sahabat, yang setuju bahwa untuk benar-benar mengetahui real character seseorang sebelum menikahinya adalah,
“Pergilah berlibur berdua, habiskan waktu berhari-hari berdua saja, maka semua topeng yang selama ini dikenakan akan terbuka sedikit demi sedikit. Setelah itu, putuskan, masih mau bersama atau berpisah.”
Banyak pasangan yang akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan impian pernikahan mereka setelah melalui phase ini.
“Saya pikir saya tidak bisa hidup bersama dia untuk waktu yang sangat lama. Terlalu banyak perbedaan mencolok yang tidak kelihatan selama ini, dan rupanya itu sangat mengganggu pikiran saya.”
“Selama ini saya kira dia sweet, tapi setelah bersama seminggu, ah dia rupanya orang yang emosional, ketika ada yang tidak berkenan, dengan mudahnya ia mengomeli saya - memaki bahkan mengungkit-ungkit semua kebaikannya. Saya pikir, kami sama-sama tidak akan bahagia jika tetap lanjut menikah.”
“Aku kaget. Ternyata orangnya sangat berantakan. Menggampangkan hal-hal yang menurutku penting. Ia bisa menghilangkan passport, berapa kali HP, kacamata, dompet tertinggal di tempat umum. Dia bisa belanja tanpa melihat harga lalu menyesalinya kemudian. Dia bisa secara impulsif meninggalkan saya p**ang ke hotel, hanya karena kami arguing!”
That’s it.
Kamu perlu pacaran yang lama dan banyak!
Bukan hanya sekedar cocok wajah, cocok body, cocok pemikiran, yuk ketemuan, lalu pendekatan. lalu menikah!
Maaf, aku terlalu straight tentang ini ya!
Mari,
Gunakan seluruh rasional, dan akal sehatmu.
Menikah bukan perjudian.
Tapi komitmen seumur hidup, tentang apakah kamu mempercayakan hidupmu - masa depanmu - kepada orang yang kelak nama belakangnya kau pakai.
Oh ya kembali pada kasus Eka.
Bersyukurlah Eka karena hanya delapan hari ia menanggung penderitaan. Bayangkan jika harus bersama dengan laki-laki yang OCD dan temperamental sedemikian rupa selama bertahun-tahun, bahkan jika sudah terlanjur hadir anak pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
Jadi single tapi bahagia, jauh lebih indah daripada menikah tapi sekeluarga penyakitan!
Jakarta, 19 Mei 2022 : 10.40
Ric Erica