Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif Indonesia

Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif Indonesia

Share

L.I.K.E Indonesia Official Fan Page

07/10/2023

BROKEN HEARTED CHILD

Memangnya hanya orang dewasa yang bisa patah hati, kecewa dan depresi?

Kalau kamu dan pasangamu bertengkar, di depan anak-anak, apakah menurut kalian, anak-anak kalian asyik-asyik saja, makan es krim ketawa-tawa sambil mengamati kalian saling melontarkan kalimat kemarahan, perabotan rumah berterbangan dan di akhir pertengkaran, mereka mendengar,

'Asal kau tau ya, kalau bukan karena anak-anak, sudah kutinggalkan kau!"

"Kau liat anak-anak ini ya. Dia bukan anakmu!". (saking emosinya, lupa dia kalau anak-anak itu adalah anak hasiil kerjasama berdua)

"Izinkan aku kawin lagi! Bisa gila aku bertahan dengan kau dan anak-anak." (Padahal bisa nambah gila sih, kalok dia nambah istri dan nambah anak lagi)

"Aku menyesal sudah menikah sama kau, sampe punya anak 5 begini! Coba kalau aku jadi kawin sama Joni, aku sudah naik private jet ke mana-mana!)". --- dia ga mikir, kalau Joni bisa ngaco juga kalau rumah tangga gak pernah damai.

Pada saat dua orang dewasa yang sudah menikah, bertengkar, seringkali mereka hanya mementingkan ego mereka sendiri dan perasaan mereka sendiri. Kepentingan anak-anak, perasaan anak-anak dikesampingkan begitu saja bahkan ditiadakan.

Mana sempat lagi suami melihat si anak menangis cemas sambil bersembunyi di balik gordyn kamar.

Mana sempat lagi mereka memutuskan berhenti dan mulai menggendong anak bayi yang menangis karena terkejut dengan suara-suara keras.

Mana sempat lagi, mereka menghiraukan wajah anak-anak yang sendu, dan terkecam dalam ketakutan.

Kemarahan harus dilontarkan tepat waktu dan ruang.

Sampai suatu hari mereka terheran-heran,

Mengapa anak yang cerdas dan periang itu kini jadi pendiam dan nilai-nilainya jatuh.

Mengapa anak yang tadinya lembut dan penurut kini jadi anak yang acuh dan membangkang.

Mengapa anak yang tadinya gemuk menggemaskan makin hari makin kurus dan sakit-sakitan.

Mengapa anak yang tadinya berani, percaya diri dan supel, kini jadi anak yang minder dan penakut.

Teman-teman, pernahkah berpikir bahwa anak-anak kalian adalah manusia-manusia kecil yang juga punya perasaan, pikiran dan bisa depresi juga.

Pernahkah berpikir bahwa karakter dan masa depan mereka tergantung dari parenting dan kualitas pernikahan kalian berdua hari ini dan di masa lalu?

Pernahkah kalian minta maaf atas ketidaknyamanan yang mereka dapati karena kalian berdua bertengkar hebat?

Pernahkah kalian bertanya,
"Apa yang adek rasakan dan pikirkan tentang papa mama sekarang?" Setelah akhirnya anakmu diam dari tangisan hebatnya karena mendengar bentakan dan makian kalian di rumah.

Yuk, ikut aku.
Kita merendahkan hati kita untuk belajar menyelami hati anak-anak yang terluka dan remuk redam.

Besok malam, pukul 19.45 WIB dalam acara Chit, Chat and Chew dengan kedua teman saya, Psikolog dan Live Coach terkenal.

Bit.ly/LikeRic
Harga tiket RP 75K saja,
Tapi pencerahan yang akan kalian dapat dapat mengubah perspektif kalian.

See u.

Ric Erica

12/09/2023

Termasuk beruntung.

Ada yang suaminya diam,

Lalu tiba-tiba memukul, menjedotkan kepala istrinya ke dinding
Lalu mbantingi barang
Lalu pergi belanjain perempuan idamannya
Lalu pergi ke kos-kos an WIL nya ngadu
Lalu pergi ke karaoke, peluk-peluk LC
Lalu pergi sama temen-temennya
Lalu cari perempuaan lain, ehm ehm.

Kalau lagi kesel, memang susah menguasai diri
Bawaan merepettt aja
Mengeluarkan semua uneg-uneg di hati
Sampah-sampah yang terpendam sekian lama
Dan setelah ditumpahin tuh plongnya luar biasa

Tapi apakah sehat jika pola ini berulang terus dan terus?
Emosi? Merepet.
Emosi? Sindir-sindiri pasangan.
Beruntung jika pasangannya lebih dewasa.
Hanya membiarkan istrinya release emosi dan kemudian pergi cari angin sebentar jdia juga punya emosi lho, apa jadinya kalau dia bertahan saja dibrondong kalimat-kalimat yang menyakitkam itu) lalu p**ang membawa makanan kes**aan istrinya dan seplastik es jeruk segar karena maklum kalau emosi pasti istrinya laper.
Bagaimana jika sebaliknya?
Bagaimana dengan karakter anak-anak?
Bisa jadi minderan, pencemas, penakut, bisa jadi tidak pedulian, bisa jadi pembangkang, bisa jadi ridak betah di rumah.. manifest nya terlalu banyak.

Sekali-kali boleh.
Tapi jika berlanjut, dan terjadi terus sepanjang musim,
Pasangan yang tadinya baik-baik saja
Bisa saja menjadi tidak baik-baik saja.

Tawar.hati
Kepahitan
Pindah hati

Etapi,
Marah-marahnya kan gak lama.
Marah-marah tapi kan rumah jadi bersih.
Nangis jerit-jerit tapi kan abis itu manis dan hot lagi.
Terus dadem dan ketawa-tawa lagi.

He ehm
Pasangaanmu kan diemnya ga lama
Diem-diem tapi kan belanjain bakso dan es jeruk
Diem-diem kan perhatian
Diem-diem tapi bantuin kerjaan rumah.
Diem-diem jagain anak
Tapi bisa juga kan,
Diem-diem chat pacarnya
Diem-diem janjian kencan sama LC langganannya
Diem-diem selingkuh
Diem-diem nikah sirih
Diem-diem punya anak lagi...
Diem-diem....

Ric Erica

19/05/2022

8 HARI MENIKAH, LALU DICERAIKAN

Viral di medsos, perempuan baru dinikahi 8 hari, diceraikan suaminya karena tidak sengaja nasi yang dimakan suaminya terkena pakaian yang ia kenakan.

Ada sih beberapa ketidakcocokan lainnya, tapi sedianya bukanlah hal yang terlalu serius.

Mereka berkenalan tidak sampai satu bulan tanpa melalui masa pacaran yang cukup matang untuk saling mengenal.
Pertemuan pertama dia membawa seorang teman, sementara suaminya membawa orangtua dan adik-adiknya. Dan pada waktu pertemuan itu, calon mertua langsung menetapkan tanggal pernikahan yaitu tanggal 20 Maret.

Begini kronologisnya:

Tanggal 26 Februari Eka menerima CV yang dikirimkam via email tentang perjodohan (ta’aruf) itu.

Tanggal 27 Februari, pertemuan pertama.

Tanggal 6 Maret, pernikahan.

Tanggal 12 Maret, si suami dirawat di sebuah klinik karena Covid 19, dan saat itulah suaminya meminta Eka menyiapkan makanan, pakaian Eka terkena nasi yang hendak dimakan suaminya.

Tanggal 13 Maret, tragedi cuci beras salah cara.
Selama merawat suaminya di klinik, Eka sempat mengeluh nyeri karena PMS, namun si suami merasa tidak tahan dan menudingnya tidak taat serta malas.

Tanggal 14 Maret, diceraikan.

Tanggal 20 Maret, sedianya resepsi pernikahan.

Perempuan bernama Eka itu terakhir menjelaskan bahwa suaminya mengidap OCD (obsessive compulsive disorder) dan itu baru diketahuinya di hari ke 2 setelah mereka menikah. Di mana sang suami mengharuskan semua peralatan makan disterilkan dengan air panas (bahkan semua perabotan di rumah harus steril) dan beberapa permintaan khusus lainnya.

Itulah mengapa, kamu perlu waktu yang cukup untuk mengenali calon pasanganmu.
Waktu yang tidak hanya sekedar diukur dari lamanya pacaran saja, tapi lebih mendalam tentang kualitas pertemuan.

Kamu bisa melakukan checking / instropeksi tentang hal berikut:

1. Menggali karakter masing-masing untuk menentukan, apakah saya bisa menerima / memberi toleransi untuk sifat ini jangka panjang - sampai tua, dan salah satu dari kami lebih dulu pergi.

Apa kes**aannya, apa yang tidak dis**ainya?
Apa yang membuatnya bahagia, ap yang membuatnya marah / kecewa?
Apa kebiasaan-kebiasaan baiknya, yang membuat saya jadi berkembang?
Apa kebiasaan-kebiasaan buruknya?
Apa respon / reaksinya ketika menghadapi situasi yang tidak berpihak?
Bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih tua?
Bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang level ekonominya lebih sulit?
Bagaimana karakternya ketika ia berada pada kemacetan, dicurangi orang, dikhianati teman / karyawan?
Apakah ia orang yang tepat waktu, atau cenderung abai?
Apakah banyak kata-katanya yang bisa ia tepati, atau sekedar lip service saja?

Dari kejadian-kejadian kecil kamu bisa menggali banyak sekali informasi tentang si dia.

2. Apakah perbedaan kami ini bisa dijembatani dengan komunikasi? Atau apakah perlu effort khusus agar bisa selaras?
Entah saya yang menyesuaikan diri, atau dia yang mengalah, atau keduanya perlu menurunkan standard agar bisa sama-sama menikmati hubungan yang sehat dan manis?
Atau untuk hal-hal tertentu, perlu dibuat rules yang jelas, apa yang disepakati atau tidak disepakati dan bagaimana mengakomodirnya?
Atau,
Perlu pihak ke tiga untuk dimintai nasehat dan menengahi jika terjadi perselisihan tajam?

3. Checking pekerjaannya, pergaulannya, lingkungannya, bagaimana hubungan dia dengan orangtuanya - saudara-saudaranya dan apakah kamu bisa “OKE” dengan itu semua.

Jika hubungan mulai serius, lanjutkan dengan :

4. Checking, apakah ia bijak memperlakukan uang, apakah ia punya tabungan untuk masa depan, termasuk apakah ia punya hutang, bagaimana gaya hidupnya, apakah penghasilannya bisa menutupi biaya hidup? Bagaimana ia menyusun masa depannya?

Ini penting sekali ketika kalian memutuskan untuk menikah.

5. Bagaimana pandangannya tentang seorang perempuan.
Apakah ia memperbolehkan kamu berkarir, apakah ia memintamu 100% tinggal di rumah, bagaimana jika sekali-kali kamu pergi ke luar rumah berjumpa dengan teman-temanmu, juga sangat penting untuk dibicarakan.

6. Bagaimana tentang pengelolaan uang / harta? Perlukan melakukan perjanjian pra nikah? Siapa yang memegang keuangan dalam rumah tangga? Apakah semua gajinya kamu manage? Atau kamu hanya menerima uang bulanan, bicarakan tuntas.

7. Perencanaan punya anak, liburan, membeli rumah, membeli kendaraan juga perlu dibicarakan selama pacaran. Jangan hanya pandang-pandangan, senggol-senggolan, raba-rabaan, cium-ciuman lalu MBA!

8. Serta banyak hal lain yang perlu kamu find out sebelum kamu memutuskan melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius, yaitu pernikahan.
(LIKE Academy banyak sekali menyentuh hal-hal ini dalam setiap eventnya.)

Saya kenal beberapa sahabat, yang setuju bahwa untuk benar-benar mengetahui real character seseorang sebelum menikahinya adalah,

“Pergilah berlibur berdua, habiskan waktu berhari-hari berdua saja, maka semua topeng yang selama ini dikenakan akan terbuka sedikit demi sedikit. Setelah itu, putuskan, masih mau bersama atau berpisah.”

Banyak pasangan yang akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan impian pernikahan mereka setelah melalui phase ini.

“Saya pikir saya tidak bisa hidup bersama dia untuk waktu yang sangat lama. Terlalu banyak perbedaan mencolok yang tidak kelihatan selama ini, dan rupanya itu sangat mengganggu pikiran saya.”

“Selama ini saya kira dia sweet, tapi setelah bersama seminggu, ah dia rupanya orang yang emosional, ketika ada yang tidak berkenan, dengan mudahnya ia mengomeli saya - memaki bahkan mengungkit-ungkit semua kebaikannya. Saya pikir, kami sama-sama tidak akan bahagia jika tetap lanjut menikah.”

“Aku kaget. Ternyata orangnya sangat berantakan. Menggampangkan hal-hal yang menurutku penting. Ia bisa menghilangkan passport, berapa kali HP, kacamata, dompet tertinggal di tempat umum. Dia bisa belanja tanpa melihat harga lalu menyesalinya kemudian. Dia bisa secara impulsif meninggalkan saya p**ang ke hotel, hanya karena kami arguing!”

That’s it.
Kamu perlu pacaran yang lama dan banyak!
Bukan hanya sekedar cocok wajah, cocok body, cocok pemikiran, yuk ketemuan, lalu pendekatan. lalu menikah!
Maaf, aku terlalu straight tentang ini ya!

Mari,
Gunakan seluruh rasional, dan akal sehatmu.
Menikah bukan perjudian.
Tapi komitmen seumur hidup, tentang apakah kamu mempercayakan hidupmu - masa depanmu - kepada orang yang kelak nama belakangnya kau pakai.

Oh ya kembali pada kasus Eka.
Bersyukurlah Eka karena hanya delapan hari ia menanggung penderitaan. Bayangkan jika harus bersama dengan laki-laki yang OCD dan temperamental sedemikian rupa selama bertahun-tahun, bahkan jika sudah terlanjur hadir anak pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Jadi single tapi bahagia, jauh lebih indah daripada menikah tapi sekeluarga penyakitan!

Jakarta, 19 Mei 2022 : 10.40
Ric Erica

16/05/2022

UNTUK ANAK-ANAK YANG
TIDAK BERUNTUNG

Ketika mereka masih kecil-kecil, mereka tidak mendapat makanan yang cukup, tempat tinggal yang baik, minimal tempat tidur yang layak, bahkan pendidikanpun di nomorsekian kan karena orangtuanya masih berkutat seputar isi perut.

Ketika mereka masih kecil-kecil, kasih sayangpun mahal harganya,
Mereka lebih sering melihat orangtuanya bertengkar,
Ibu yang menangis, sudut matanya biru,
Suara ayah yang menggelegar,
atau sekedar bantingan pintu,

Teriakan, cubitan - pukulan - makian pun kerap dihadiahkan kepada mereka,
Jika ada satu dua tingkah mereka yang membuat marah.
Hak-hak mereka sebagai anak sering dirampas.
Menjawabpun hanya menambahi rasa marah.

Keberadaan mereka pun kerap jadi alasan,
Untuk bertahan dari Pernikahan Toxic,
Yang menyakitkan untuk semua.
Demi mereka, aku bertahan, kerap kalimat itu terucapkan,
Padahal jelas, tak ada yang bahagia tinggal di dalam rumah yang suhunya mencekam.

Ketika mereka masih kecil-kecil,
Mereka hanya bisa melihat teman-teman sebaya mereka memiliki peralatan sekolah yang lengkap, membawa bekal makanan yang lezat, serta memiliki mainan-mainan yang bagus,
Karena persoalan ekonomi yang membelit.
Belum cukup mapan, sudah menikah, melahirkan, tau-tau sudah lahir tiga anak tanpa sempat menanyakan kepada mereka,
“Apakah boleh ayah ibu punya adik untukmu?”

Di sela keinginan mereka untuk memakai baju yang bagus,
Memiliki mainan yang kekinian,
Membaca buku yang menarik,
Pergi tamasya melihat gunung atau laut,

Ada adik-adik yang juga membutuhkan susu, uang sekolah, dan harus dibawa ke dokter, karena sakit.
Lagi, mereka hanya menelannya dalam diam.

Dan sesaaat mereka beranjak besar dan dewasa,
Orangtua menitipkan pesan,

“Kalau sudah besar nanti, jaga ayah ibu ya nak, bahagiakan orangtuamu, keluarga harus nomor satu, jadilah anak yang berbakti, agar baik dan ringan langkahmu.”

Tidak pernah membahagiakan anak di masa-masa parentingnya,
Tapi menuntut dibahagiakan di masa tuamu.

Kurang cakap memenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya,
Namun memintanya menjaga dan memenuhi kebutuhanmu, ketika dia mandiri nanti.

Mari sejenak senyap dan berpikir,
Apa tujuan orangtua bercinta, melahirkan dan memiliki anak, adalah untuk sama-sama bahagia,
Atau
Untuk meletakkan bahagia, dan kepastian hari tua, sebagai tanggung jawab di pundak mereka?

Jakarta, 16 Mei 2022
Ric Erica

05/04/2022

Hidup itu, kayak melakukan gerakan yoga : semua orang punya kelenturan badan yang berbeda. Semua orang memulai latihan di waktu yang berbeda. Ada pemula, ada tingkat lanjut, ada pakar.

Jadi, NGGAK USAH NIRU GERAKAN ORANG LAIN!

Samalah dengan menjalani hidup kita… nggak usah niru keputusan orang lain…!

Ambillah keputusan yang PALING SESUAI dengan :
- kekuatanmu,
- level kedewasaanmu,
- kesiapan emosimu
- kemampuanmu mencari nafkah dll

👉🏼 Maka, hal yang paling penting dalam hidup, adalah : kenali dirimu…! ketahui apa maumu..! tetapkan tujuanmu…! Lalu tekadkan untuk mewujudkannya, DENGAN atau TANPA bantuan pasangan.

Jadi kita nggak akan jadi ‘korban’ orang lain maupun jadi ‘korban’ kehidupan.
Kita nggak akan jadi orang yang mewek :
- ‘abisnya suamiku pengangguran siiih…’
- ‘soalnya mertuaku dominan siiih…’
- ‘karena ortuku dulu miskin siiiih…’

Ah pret.
Kamu bisa bahagia dan jalan terus kalau kamu tahu mau menuju kemana dan MAMPU meraih kebahagiaan itu bagimu.

Kalau kamu memutuskan untuk bercerai, namun dibumbui dengan dendam (sampai bertekad melarang anakmu ketemu bapaknya)… ya itu namanya egois! Kan bapak dan anak nggak punya masalah…

Bagaimanapun, anak-anak memerlukan perhatian dan kasih sayang kedua ortunya, meskipun ortu sudah berpisah.

Memisahkan anak dari bapaknya itu, secara hukum dan secara nalar hanya bisa dibenarkan kalau bapaknya melakukan KDRT terhadap anaknya…

Membatasi anak, untuk bertemu pada bapaknya di saat-saat saja, itu masuk akal kalau bapaknya pemabuk dan penjudi… Maka memfasilitasi anak untuk ketemu bapak dalam keadaan bapaknya ‘waras’ itu, keputusan bijaksana.

Di situlah tercermin, kamu itu ibu sejati dan perempuan bermutu.

Jadi…?

Ya kalau mau BERCERAI MAH BERCERAI AJA.
Nggak usah pake dendam.

Kalau mau BERTAHAN MAH BERTAHAN AJA.
Nggak usah pake drama.

Memasuki kehidupan pernikahan itu, musti dengan KESADARAN PENUH untuk mau menanggung resiko cerai atau ditinggal mati.

Sama seperti kita mau dagang : siapkan diri untuk mampu mengatasi resiko bangkrut. Lakukan antisipasi agar tidak bangkrut, tentu. Tapi kalau bangkrutnya kejadian, kita nggak ‘mbanyaki’.

Tahu arti ‘mbanyaki’?
Itu bahasa jawa untuk orang yang kebingungan sampai tingkah dan emosinya ruwet kayak orang panik dan impulsif.

Sama seperti kita akan berkarir : siapkan diri untuk mampu mengatasi resiko dipecat. Lakukan antisipasi agar tidak dipecat, tentu. Tapi kalau kejadian dipecat, kita nggak salto kayang melintir.

JANGAN PERNAH MASUK KE SIKON HIDUP APAPUN, tanpa berpikir soal resikonya! Tanpa menyiapkan diri menghadapi resikonya.

This is life. S**t happens.

Nana Padmo
Selasa Legi, 5 April 2022, 11:25

26/03/2022

Waaaah…!
Kalau ini dijadikan seragam sekolah Indonesia… SUPER KEREN…!!! Sumpah!

Oh… tentu saja setiap daerah bisa membuat model seragam yang sesuai JATI DIRI BANGSA, terkait corak budaya lokalnya… 😍😍😍😍

Wah, bakal cakeppp banget…!
Memiliki kepribadian yang berakar pada tanah leluhur dan bangga dengan budaya sendiri, itu : ciri khas orang yang pede dan berharga diri.

Sumber : postingan mbak Nisa Alwis
https://www.facebook.com/1368243024/posts/10221761796938657/?d=n

24/03/2022

Kawans…
Ada banyaaaaaaak sekali orang yang curhat soal ibu-bapaknya. Papi-mami, umi-abah, ayah-bundanya. Termasuk mertuweee… 😅

Katanya, mereka itu mengekang lah…
Katanya, mereka itu s**a ikut campur dalam pola asuh anak lah…
Katanya, mereka itu fanatik dan dogmatik lah…
Katanya, mereka itu menempatkan anak-anaknya sebagai generasi sandwich lah…
Katanya, mereka itu memandang ‘cepat laku’ alias dikawini sebagai prestasi dalam hidup lah..

Lha kok jelek semua, imagenya generasi yang lahir di tahun 1946 sampai 1964 ini…?
Apa iya begitu? Masak nggak ada bagusnya? Tentu ada kaaaan?

Nah, kita memang selalu mengalami kesulitan jika berurusan dengan sesuatu atau seseorang yang tidak kita ‘kenali’ gimana-gimananya.

Jika kita ingin ‘menang’ menghadapi mereka… ya kita harus memiliki pengetahuan tentang mereka. Kita pelajari dimana celahnya. Kita tahu titik lemahnya. Kita tahu apa yang mereka s**ai. Kita paham apa yang akan membuat mereka melunak…

Memaki keadaan, tidak akan membantumu.
Mengajak mereka bertengkar, malah akan membuat sikon menjadi runyam.

Sebagai generasi yang ‘lebih modern’ dibandingkan mereka, yuk kita ambil cara-cara yang lebih empatik sekaligus rasional… Kalau istilah zaman milenial : kita kondisikan.

Yuk… ikutan acara diskusi santai dengan LIKE Academy. Murah koooook… cuma 55.000 saja.

Daftarnya bisa ke bit.ly/LikeRic ya

23/03/2022

SELF RELIANCE ~ Panggul sendiri ranselmu.

Mengamati reaksi-reaksi masyarakat atas kasus Kanti. Seorang ibu yang membunuh anaknya sendiri karena tidak ingin memberikan penderitaan hidup pada anaknya, aku jadi ingat 1 hal : self reliance. Kemampuan mengandalkan diri sendiri.

Aku pernah mendengar belasan penyataan milenial dan generasi Z yang menyatakan bahwa mereka tidak ingin punya anak.

mereka sama : tidak ingin memberikan kehidupan yang buruk, bagi anak-anaknya.
Tapi berbeda-beda :
- ada yang tidak ingin membuat anaknya menderita karena mereka sadar, mereka bukan ibu/ayah yang stabil secara emosi, karena parenting yang buruk di masa lalu, oleh ortu mereka.
- ada yang tidak mau mendatangkan anak-anak di bumi yang memiliki lingkungan alam yang semakin terpapar polusi dan semakin tak menentu.
- ada yang memutuskan begitu karena lebih s**a mengadopsi anak-anak panti asuhan. Kasihan katanya, sudah terlanjur lahir tapi tidak diinginkan.

Hidup, memang berat.
Kesadaran ini sudah kuperoleh sejak di bangku kuliah, ketika aku menjadi salah satu panitia, khususnya tim advance, untuk membuka lahan perkemahan bagi mahasiswa baru.

Perjalanan tim advance ini akan berat. Semua perlu berkontribusi secara setara.

Maka, aku memutuskan, apapun yang terjadi, aku harus mampu memanggul sendiri ranselku. Aku sadar, semua kawan lain (semuanya lelaki, cuma aku sendiri yang perempuan, pada saat itu) juga berjalan dengan bebannya masing-masing. Jadi aku membawa keperluanku seringkas mungkin, sesimpel mungkin, seringan mungkin.

Di perjalanan inilah aku mendapat komentar dari kawan-kawanku (yang semuanya lelaki itu),

“Jalan bawa elo itu enak, Nek. Elo nggak kayak CPU…”

“Apa itu CPU?”

“Cewe Pada Umumnya…”

Mereka lalu mengatakan, aku bukan perempuan yang kolokan, merepotkan, atau bikin ribet. Apalagi membuat perjalanan jadi lebih lambat. Tidak sama sekali.

Pernyataan kawan-kawan itu, meninggalkan bekas yang sangat mendalam pada jiwaku. Tiba-tiba aku tahu ‘siapa aku’ di mata orang lain.

Identitas diriku, kemudian berkembang sejalan dengan banyaknya kegiatan yang kuikuti dan organisasi yang kugeluti.

Intinya, aku ingat nasihat ibuku :
Jadi orang itu musti kayak berlian. Semua aspek diri terbentuk dengan baik.
- diajak pesta, nggak malu-maluin kalau kamu mampu dandan cantik dan percaya diri.
- diajak kerja, kamu bisa diandalkan kalau kamu gesit dan serba bisa.
- diajak diskusi, kamu menyenangkan kalau kamu pintar dan wawasanmu luas.

Itu kata ibuku sebagai bekalku sebelum aku berangkat ke Bandung untuk ngekost dan kuliah di sana.

Nah, ketika kemping itulah… aku nemu 1 hal lagi : orang itu asik kalau diajak naik gunung, juga nggak cengeng.

********

Belakangan, ketika sudah bekerja, dari buku-buku yang kubaca dan berbagai training yang kuikuti… aku menemukan kata self-reliance. Yaitu seseorang yang bisa mengandalkan dirinya sendiri, serta bisa diandalkan oleh orang lain.

Kalau diserahi tanggung-jawab, akan menunaikannya secara amanah sampai tuntas.
Nggak banyak alasan.
Apalagi menyalah-nyalahkan orang lain.

Kalau kalian mengikuti tulisanku, kalian akan melihat benang merah : apapun yang terjadi, aku tidak pernah menulis menyalahkan orang lain, menyalahkan presiden, menyalahkan menyalahkan ortu. Juga tidak menyalahkan mantan suami.

Tidak.

Orang yang self-reliance, akan mempertimbangkan, menghitung, dan mengukur kekuatan SESUAI KEKUATANNYA SENDIRI.

Jadi, jika kamu ingin punya anak… hitunglah BERAPA KEKUATANMU JIKA HARUS MENGHIDUPI ANAK ITU S.E.N.D.I.R.I.A.N.
Dengan demikian, semua tindakanmu terukur.

Syukur alhamdulillah Puji Tuhan, jika suamimu supportive, sehat terus dan penuh komitmen. Hidupmu jadi akan LEBIH RINGAN.
Tapi kalau suamimu terkapar sakit, minggat, atau bahkan meninggoy… hidupmu akan berjalan lancar saja karena SEMUANYA MEMANG SESUAI DENGAN KEKUATANMU.

Anak yang sudah kamu hadirkan di dunia, bisa kamu besarkan dengan baik. Itu namanya sembadha : berani berbuat, berani bertanggung-jawab. Sambil, tetap tidak menindas dirimu sendiri dengan beban-beban yang di luar kewajaran. Bagaimanapun, kita tetap harus adil pada diri sendiri : perlakukan dirimu dengan baik. Kamu berhak bahagia, berhak hidup seimbang, berhak istirahat.

Maka, kemampuan berpikir kritis itu perlu. Kalau nggak, kita akan jadi budak masyarakat, yang punya standar-standar nggak realitis. Disuruh nikah cepat, disuruh beranak terus sampai dapat jenis kelamin yang diinginkan, disuruh seragam dengan gaya hidup masyarakat sekitar, kalau berbeda akan dicurigai dan digosipi… dll

Lagi p**a kita tahulah, kayak apa mentalitas bangsa ini. Kalau melihat orang lain bekerja dengan rajin, malah dicibir dengan kalimat ‘ngapain ngoyo cari duit, kan duit nggak dibawa mati’… ‘cari muka ke atasan’… ‘menjilat pantat boss…’

Kalau melihat perempuan mandiri, malah komen ‘jadi cewe kok menakutkan. Siapa yang mau sama cewe kayak gitu?’

Ini kukasih contoh :

Di salah satu kantorku yang lama, pegawainya nggak bakal ‘gerak’ kalau nggak disuruh. Semuanya nggak punya inisiatif. Ketika aku berinisiatif, sebagian dari mereka mencibir ‘Si Nana cari muka… Sok mau ngasih liat kalau dia bisa kerja…’

Ketika boss datang dan memuji ketika melihat pekerjaan sudah selesai sebagian, aku tinggal bilang dengan manis, “Kami berinisiatif bersama pak… sambil menunggu, daripada nganggur…”

Nyahok lu semua. Muka kalian kubagusin juga ke depan boss kan?

Ini salah satu sifat orang yang memiliki self-reliance : mereka mampu mengerjakannya, DENGAN atau TANPA bantuan orang lain.

Tentu, pribadi yang memiliki self-reliance bisa memutuskan untuk tidak dimanip**asi dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Tentu, pribadi yang memiliki self-reliance bukanlah orang yang nggak butuh orang lain. Orang yang self-reliance tentu butuh orang lain. Tapi kalau nggak ada orang lain, dirinya pun mampu melakukannya sendiri.

Akibatnya apa?

Akibatnya :
- Orang yang self reliance nggak akan menyalah-nyalahkan suami/istri…
- Orang yang self reliance nggak akan menyalah-nyalahkan bos/anak buah…
- Orang yang self reliance nggak akan menyalah-nyalahkan nasib/ortu/tuhan/pemerintah/orang kaya/masyarakat/sistem ekonomi dll

Orang yang memiliki self-reliance cenderung tenang, nggak berisik. Karena dia tahu, dia bisa mengandalkan dirinya sendiri. Mereka juga relatif lebih stabil secara emosi, karena nggak memiliki ekspektasi yang kegedean pada pihak lain.

Itu makanya…. Pandai-pandailah MENGENALI KEKUATAN DIRI, dan hitunglah semua keputusan hidupmu berdasarkan KEKUATANMU… bukan berdasarkan daya suami atau daya ortu atau daya mertua.

Nana Padmosaputro
Rabu Pon, 23 Maret 2022, 20:22

20/03/2022

Kiat jitu, menghadapi kawan yang s**a ‘lupa’ membawa dompet kalau jajan bareng….

20/03/2022

KEBIASAAN BERPIKIR PRODUKTIF vs BERPIKIR SIA-SIA…

Kita semua ini punya PERASAAN.
Dan kita semua, juga punya kemampuan BERPIKIR.

Sayangnya, nggak semua orang mampu membedakan, apa itu berpikir produktif dan apa itu berpikir sia-sia, yang menurut masyarakat awam lalu diberi julukan : over thinking.

Berpikir yang produktif itu, selalu menghasilkan :
- ide/gagasan
- keputusan/sikap
- solusi
- perencanaan
- target-target
- pengetahuan/ilmu baru
- strategi baru

Nah, jadi paham kan, pikiran yang kayak apa yang sia-sia itu..? Ya yang kayak sekarang sedang banyak dipertontonkan oleh warganet termasuk beberapa kawan medsosku : prihatin ini itu… mengeluh ini itu… membahas perang, minyak goreng, tetangga nyeleweng, anak tetangga hamil, sampai bahas saldo rekening artis…

Lalu, itu semua hasilnya apaaa…?
Lha wong semua itu adalah hal-hal yang ada DI LUAR JANGKAUAN kita kok… Sama sekali tidak ada di wilayah KEKUASAAN kita.

Kita cuma ‘concern’ doang.
Bikin kita stres? Iya!
Bikin kita ikut sedih? Iya!
Bikin kita buang waktu? Juga iya!

Terus..????
Terus apa yang bisa terjadi dari aksi itu, coba?

Apakah sedih dan stresnya kita itu bikin perut pengungsi jadi kenyang? Apakah lantas bisa membuat minyak kelapa tiba-tiba ada di botol dapur kita tanpa ada yang memarut, memeras dan memasak lemak santannya???

Kita nggak bisa pergi ke Ukraina untuk bantu perang, kita juga nggak bisa ngumpulin donasi kayak kalau ada gempa di wilayah pelosok Indonesia (kalau ini yang terjadi, biasanya ada kawan medsos di lokasi tersebut yang bisa kita transferi duit kan?).

Terus apa?
Ya terus pada merepet sia-sia, lantas menjadi overthinking. Persis kayak motor dan mobil yang digas terus-terusan, di dalam garasi, dalam posisi gigi netral.

Kebayang nggak, betapa sia-sianya aksi itu..???

********

Memang, ada orang-orang yang membutuhkan katarsis (meluapkan perasaannya) dulu, supaya dadanya yang sesak dan perasaannya yang emosi itu : mereda. Setelah reda, mereka bisa berpikir jernih lagi.

Katarsis itu bagus bagi pemikir pemula, untuk mendapatkan kondisi yang prima untuk LANGKAH PENTING selanjutnya : berpikir yang produktif.

P.e.r.s.o.a.l.a.n.n.y.a…….. nggak semua orang, setelah katarsis lalu berpikir..!!!!
Buanyaaaaaak sekali yang lantas nggak ngapa-ngapain, karena sudah merasa lega..!!!

Masalahnya dibiarkan, tidak diselesaikan.

Nanti mereka akan mengeluh-ngeluh lagi, kalau masalah itu mencuat lagi…

Begitu aja terus sampai umur tinggal sejengkal lagi habis.

Kebiasaan sia-sia yang akhirnya membuat hidup juga separuh sia-sia.

********

Adalah bagus sekali, jika kita semua aware bahwa apa yang kita CONCERN-kan itu ada di luar influence dan kontrol kita… Sikap prihatin saja tidak akan mengubah keadaan. JUGA TIDAK MEMBANTU ORANG YANG SUSAH TERSEBUT.

Lalu bagaimana caranya sih, supaya kita mampu berpikir produktif, lalu MENGEMBANGKAN KEBIASAAN berpikir produktif bagi diri kita… dan juga berpikir solusional bagi masyarakat sekitar kita..?

Ingat ya…
Kalau kita ingin MENOLONG BANYAK ORANG sampai serupa pahlawan bangsa, maka kita perlu membiasakan diri menjadi orang yang sudah mampu menolong diri sendiri dulu….

Ini prosesnya :
1. Kuatkan dayamu di lingkaran kontrol (warna hijau). Jika orang melihat kamu sukses membangun hidup dan dirimu, kamu berpotensi memiliki pengaruh!!! Nah saat inilah, kontrolmu jadi meluas. Bukan hanya pada dirimu, tapi juga anak-anakmu, pegawaimu, temanmu, orang lain yang terinspirasi padamu.

2. Di tahap ini, kamu sudah mulai memiliki pengaruh. Nah, kuatkanlah dayamu di area ini. Jadilah inspirator, influencer, apapun lah… Dan gerakkan massa menuju ke arah kebaikan.

3. Lama-lama, lingkaran pengaruh dan kontrolmu akan MELUAS, SELUAS LINGKARAN KEPEDULIANMU…! Nah, di titik inilah kamu sudah bisa menjadi pengubah keadaan. Mungkin dengan sedikit protes atau demo, kamu bisa membuat kebijakan politik menjadi terpengaruh.
(Itu makanya, demo-demo yang diadakan oleh cecunguk-cecunguk yang bahkan sekedar melakukan gerakan sholat yang benar saja, belum bisa itu sangat menggelikan. Lha..! Melakukan kontrol atas dirinya pun (yaitu bertatacara ibadah) saja, dia nggak becus)

Btw, topik ini yang akan kubahas di talkshow HotSpot, yang diselenggarakan oleh LIKE Indonesia, malam ini…

Tujuannya agar peserta menjadi terampil berpikir produktif : berpikir yang ada gunanya. Supaya kita nggak jadi bagian dari buih-buih bangsa ini.

Sekian dan terima kasih

Nana Padmosaputro
Minggu Kliwon, 20 Maret 2022, 10:01

16/03/2022

MEMETAKAN PROBLEM

Mayoritas manusia, memiliki masalah dalam hidupnya… karena cara berpikir mereka sendiri.

Contoh :

:

Seorang perempuan mengadu padaku, bahwa rumah ortunya akan disita oleh bank. Lho kok bisa? Apakah rumah ortunya diagunkan ke bank?
“Bukan mbak. Nggak diagunkan. Suami saya cuma menaruh dokumen rumah, ke bank. Lalu banknya ngasih duit. Terus kok banknya sekarang malah mau menyita ya?”
“Ya itu namanya ‘diagunkan’ mbak. Jadi kalau suamimu nggak membayar utangnya, maka bank akan menyita agunannya, yaitu rumah.”
“Lho, jadi suami saya ngutang?”
“Lho, masak mbak nggak terpikir, ‘memangnya tugas bank itu bagi-bagi duit ke orang yang menitipkan surat rumah?’”

:

Saya pikir ini cuma rahasia kami berdua saja. Jadinya aman kalau kami s*x chat…”
“Memang aman, mbak Anita, andai saja mbak Anita memotret payudaramu TANPA mengikut sertakan wajahmu…! Sama seperti dia memotret p***snya tanpa wajahnya. Karena mukanya jauh dari p***s, maka selama ini cuma foto p***s saja yang kamu punya kan? Dan itu nggak bisa kamu pakai untuk membalas lelaki itu, karena telah menyebarkan fotomu yang full wajah plus payudara…”
“Huhuhuhuhu… mana saya kepikir sampai sana mbak?”
“Ya itulah. Nggak kepikir.”

:

“Saya nggak berniat nyeleweng, mbak… sumpah! Kami cuma chat-chat saja kok awalnya. Tapi karena jadi nyaman, lalu saya jatuh cinta… Hubungan kami jadi jauh dan atas dasar s**a sama s**a. Ternyata suami saya tahu, lantas saya diceraikan. Sementara cowok saya tidak mau menceraikan istrinya… dia tidak mau bertanggung-jawab pada saya…”

“Memangnya, sebelum mbak memutuskan untuk ‘mengikuti’ dorongan napsu, mbak sudah menghitung resikonya? Mbak adalah ibu rumah tangga, tanpa pekerjaan, beranak tiga, dan mbak tahu bahwa suamimu galak serta sangat memegang teguh aturan agama…”

“Ya tahu… tapi waktu itu nggak kepikir…”

:

“Kalau dapat warisan dari ortu, usahakan agar uang itu dijadikan aset… Kan uang itu diperoleh dari jual tanah, sawah, dan rumah milik almarhum ortu to? Rumusnya, jual aset harus jadi aset lagi… Jangan dijadiin baju, motor, mobil, atau biaya hidup…”

“Ah, iri bilang boooos!”

“Oooh, ya sudah kalau mengira aku iri. Sak bahagiamu saja…”
Beberapa bulan kemudian, mereka datang berhutang karena uang warisannya habis.

“Bener mbak, uangnya habis. Dulu itu maksudnya aset harus jadi aset itu gimana sih? Kalau uang warisan harus jadi aset, lalu kapan kami bisa menikmatinya?”

“Lhooo ya bisa langsung menikmati kok mas. Misalnya dulu itu uangnya dipakai beli rumah kecil, kan rumahnya bisa dikontrakkan… uang kontrak itu bisa langsung dinikmati. Jadi warisannya utuh, malah dapat uang bulanan…”

“Ooooo gitu tooo. Lha kalau uang warisannya nggak cukup untuk beli rumah, gimana?”

“Ya bisa dibelikan sepeda motor bekas, lalu diservis, lalu dijual lagi. Jadi bisnis jual beli motor bekas to mas?”

“Laaah mbaknya nggak ngasih tahuuu..”

********

Nggak berpikir jauh ke depan serta tidak memperhitungkan resiko, memang bisa berakibat runyam.

Banyak sekali orang, tidak mampu mengenali potensi-potensi masalah. Mereka baru sadar ketika sudah bermasalah!
Celakanya, hampir semua orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kenapa?

Menurut Albert Einstein, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah dengan menggunakan level berpikir yang sama, yang kita pakai untuk ‘menciptakan’ problem itu. Jadi, untuk mencari jalan keluarnya, kita harus lebih pintar dibandingkan ketika kita menjerumuskan diri kita ke dalam masalah.

Itulah makanya, kenapa kita lantas membutuhkan psikolog, coach, konsultan, konselor, advisor dan lain-lain.
Sayangnya, tidak semua orang memiliki dana untuk membayar jasa profesional.

Baiklah. Kami, L.I.K.E (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif) Academy mengadakan acara berharga murah saja, 55.000, untuk membahas bagaimana kita mencermati masalah sebelum menjadi masalah… mengatasi masalah ketika sudah jadi masalah.

Dengan demikian, diharapkan peserta mampu melihat dengan cermat, di mana letak kesalahan berpikirnya, di mana potensi masalah bisa timbul, dan bagaimana mengantisipasinya.

Detail acara ada di e-flyer. Silakan mencermati.
Sampai ketemu di hari Minggu.

Nana Padmosaputro

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jakarta