16/09/2026
Tidak semua perjuangan menuntut ilmu terasa manis.
Ada lelah yang harus ditahan, rindu yang harus dipendam, keinginan pulang yang berkali-kali datang, dan hari-hari ketika rasanya ingin menyerah. Tapi barangkali, justru di situlah nilai sebuah perjuangan.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Para ulama pun tidak mendapatkan ilmu dengan jalan yang selalu mudah. Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Imam Al-Bukhari رحمه الله melakukan perjalanan ke berbagai negeri demi mengumpulkan dan mempelajari hadis. Mereka rela meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang nilainya jauh lebih panjang daripada sekadar kenyamanan dunia.
Maka jangan heran jika belajar di pondok terkadang terasa pahit.
Sebab ilmu memang sering kali meminta pengorbanan: waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan air mata.
Hari ini mungkin kita hanya terlihat sedang duduk menyetorkan hafalan.
Mengulang ayat yang sama berkali-kali.
Tersendat, lupa, kemudian mengulang lagi.
Namun siapa tahu, dari ayat-ayat yang kita perjuangkan hari ini, Allah sedang membentuk hati yang kelak jauh lebih kuat.
Jangan ukur keberkahan mondok dari seberapa nyaman hari-harinya. Ukurlah dari seberapa banyak diri kita berubah karenanya.
Kalau hari ini terasa berat, bertahanlah.
Kalau hari ini rindu rumah, bersabarlah.
Kalau hafalan terasa sulit, ulangilah lagi.
Karena kelak, ketika masa mondok telah selesai, mungkin kita akan sadar:
yang dulu kita anggap sebagai masa paling pahit, ternyata adalah salah satu nikmat terbesar yang pernah Allah titipkan.
Dan semoga setiap ayat yang pernah kita perjuangkan di pondok menjadi saksi bahwa kita pernah bersungguh-sungguh berjalan menuju Allah.