04/05/2026
:
Indonesian Women Artists: On The Map
Diselenggarakan oleh Yayasan Cemara Enam bersama Badan Layanan Umum Museum dan C***r Budaya, pameran seni rupa kontemporer ini akan berlangsung di Galeri Nasional Indonesia mulai April hingga Juni 2026.
Mengusung tema “On the Map – Art, Science, Technology & Culture”, pameran ini tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga menggali relasi erat antara seni dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta denyut budaya yang membentuk kehidupan modern. Dua belas seniman dari beragam generasi turut ambil bagian: Bibiana Lee, Citra Sasmita (bersama Cinta Bumi Artisan), Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNa Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito —masing-masing membawa kekhasan medium dan pendekatan artistik, dari lukisan, instalasi, hingga karya berbasis media baru.
Makna “on the map” sendiri menjadi upaya sadar untuk meletakkan para perupa perempuan dalam peta seni yang lebih luas, sekaligus menegaskan keberadaan, suara, dan perspektif khas mereka. Lebih dari sekadar apresiasi estetis, pameran ini menjelma menjadi refleksi kritis terhadap peran perempuan dalam lintasan seni rupa Indonesia, seraya membangkitkan kesadaran publik akan pentingnya kesetaraan dan keberagaman di dunia seni.
📝 & 📸 : Shinta Dewi (Magangers26 #2)
02/05/2026
1 Table, 10 Minds :
(Hari 2) TrilogiLakon - Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah bersama Teater Garasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Karya kedua, Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), menghadirkan pembacaan atas apa yang disebut sebagai “kenyataan ketiga di Indonesia”, kali ini dengan jarak yang lebih dekat dan konkret. Teater Garasi menyelami kawasan pesisir utara Jawa, sebuah wilayah yang berada di persimpangan berbagai arus budaya: Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), Jawa Barat (Bandung), hingga Jakarta.
Proyek ini digarap selama enam bulan, dengan riset yang berlangsung bertepatan dengan musim panen di Indramayu, sebuah musim yang identik dengan perayaan. Masyarakat menggelar berbagai bentuk hajatan: dari hiburan rakyat, rasulan, hingga upacara ritual. Pertunjukan ini pertama kali dipentaskan di Jakarta pada Oktober 2010, lalu kembali hadir di Yogyakarta pada Maret 2011.
Sebagai bagian kedua dari trilogi, Tubuh Ketiga memperdalam eksplorasi atas serpihan kebudayaan yang berada di antara berbagai kutub: tradisi dan modernitas, desa dan kota, kolonial dan pascakolonial. Ia berbicara tentang ruang “antara” tentang yang sudah mapan sekaligus yang masih mencari bentuk.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://youtu.be/vJxrFcaIAc4
30/04/2026
:
"Narasi Personal dalam Praktik Fotografi"
Buku foto sering dianggap layaknya album, hanya sebagai tempat penyimpanan foto secara fisik. Padahal, fungsinya bisa lebih dari itu. Ia dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan yang begitu dalam dan penuh makna. Bahkan, untuk sesuatu hal yang sulit diucapkan oleh pembuatnya sendiri.
Sebab, ada foto-foto yang pada awalnya dibuat memang tidak pernah ditujukan untuk dilihat orang lain. Dirasa terlalu pribadi. Namun, ketika disusun menjadi sebuah buku, gambar-gambar itu justru menemukan pembacanya. Ceritanya terasa sangat dekat, meski kita tidak mengenal siapa pun di dalamnya.
Ya, di situlah kekuatan dari buku foto personal. Kemampuannya menghadirkan cerita yang sangat intim, tetapi tetap dapat dirasakan secara luas. Kisah-kisah yang sangat pribadi. Tentang cinta, kehilangan, keluarga, maupun identitas yang begitu personal, namun dapat beresonansi kuat. Bahkan, pada pembaca yang memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda.
Artikel mataWaktu bisa dibaca lebih lengkap di matawaktu.org
30/04/2026
Record Store Day (RSD) merupakan perayaan internasional tahunan yang diadakan setiap Sabtu ketiga bulan April. Pada tahun ini , jatuh pada tanggal 18 April. Tujuannya yaitu merayakan budaya rekaman independen. Acara ini diharapkan dapat menyatukan seluruh elemen yang ada di industri musik untuk mendukung rilisan fisik seperti vinyl, kaset, dan CD.
Membawa semangat itu p**a, mataWaktu merayakan RSD. Tahun ini merupakan kedua kalinya. Pertama kali, mataWaktu menyelenggarakannya di tahun 2024. RSD mataWaktu: No Music, NO!SE tahun ini memiliki program baru, yaitu Groove Story. Program yang akan menjadikan musik sebagai gerbang untuk mengungkapkan perjalanan hidup tak hanya musikus atau komponis, namun siapapun yang mencintai musik sekaligus sebagai gerbang lini masa perjalanan hidupnya.
Terima kasih kepada para penampil , , , , , ; para pendukung acara .records, , , , , .id, , , serta seluruh sahabat mataWaktu yang telah hadir, berpartisipasi, dan memberikan dukungan penuh dalam perayaan ini.
Kehadiran dan antusiasme sahabat sekalian menjadi energi yang tak ternilai, serta alasan utama bagi kami untuk terus melangkah. Sampai jumpa kegiatan mataWaktu selanjutnya.
24/04/2026
10 Minds, 1 Table : TrilogiLakon
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah bersama Teater Garasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Je.ja.l.an lahir dari proyek pertunjukan Teater Garasi yang dimulai pada akhir 2007 dan pertama kali dipentaskan pada Mei 2008. Setelah sebelumnya menelusuri isu-isu abstrak dalam proyek Waktu Batu (2001–2006) : waktu, transisi, dan identitas. Kolektif Teater Garasi ingin masuk dan menelisik ihwal kenyataan-kenyataan yang tergelar dalam realitas sehari-hari dan memaparkan “teater keseharian” (theatre of everyday life) yang hidup di ruang-ruang urban.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://bit.ly/1Table10MindsJejalan
14/04/2026
Yayasan Riset Visual mataWaktu
merayakan RECORD STORE DAY
no music, NO!SE
17 - 19 April 2026
Program Groove Story mataWaktu menjadikan musik sebagai gerbang untuk mengungkap perjalanan hidup, tak hanya bagi musikus atau komponis, namun untuk siapapun yg mencintai musik sebagai penanda kisahnya.
GRVSTRY (registrasi : 100K/ orang/ show)
Ridho Hafiedz & Jay Subyakto
Jumat, 17 April 2026
20.00 - 22.00 WIB
Gema Swaratyagita & Sri Hanuraga
Sabtu, 18 April 2026
20.00 - 22.00 WIB
Hari Pochang & Oscar Motuloh
Minggu, 19 April 2026
20.00 - 22.00 WIB
> Registrasi via online go.matawaktu.org/nomusicnoise
> narahubung: mataWaktu official +62-895635115773 | Oca +62-8567005807 (WA ONLY)
-------------------
PHOTO BOOK DISCUSSION (registrasi : gratis)
Firdaus Fadlil - Buku Foto WOODSTOCK 1994
Sabtu, 18 April 2026
15.30 - 17.30 WIB
-------------------
BAZAAR (registrasi : gratis)
PiringanHitamRecords / JazzGunung / Plainsong / TokoNoma / Yolayolayola.id
Vinyl, CD, Poster, Kaos, Artwork, Photo book
17 - 19 April, 11.00 - 19.30
-------------------
Acara ini didukung oleh :
Bursa Kamera Profesional
PiringanHitamRecords .records
Getback Coffee
Jazz Gunung
Silver Seven Records
Plainsong
TokoNoma
Yolayolayola.id .id
13/04/2026
:
Diskusi & Pemutaran Film “513 Minus 3”
Sebuah pembacaan ulang atas perayaan Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, tradisi Paskah yang telah hidup lebih dari lima abad, sempat terhenti oleh pandemi, dan kini kembali di tengah perubahan zaman. Melalui film karya Feri Latief, kita diajak melihat bukan hanya ritual, tetapi juga ingatan, iman, dan kehidupan yang menyertainya.
Bersama Romo Franz Magnis-Suseno, Hilmar Farid , dan Feri Latief , yang dimoderatori oleh Berto Tukan , diskusi mengupas lapisan-lapisan makna: dari devosi mendalam kepada Bunda Maria (Tuan Ma), hingga bagaimana iman diterjemahkan ke dalam kebudayaan lokal yang cair dan hidup.
Semana Santa hadir sebagai ruang perjumpaan antara spiritualitas dan tradisi, antara sejarah dan praktik keseharian. Namun, di tengah arus pariwisata dan institusionalisasi, muncul pertanyaan tentang bagaimana menjaga sakralitas tanpa kehilangan kedekatan yang dulu terasa begitu intim dan partisipatif.
Simbol-simbol ritual seperti “Rabu Trewa” pun dibaca ulang, bukan sekadar bunyi, tetapi penanda, ingatan, dan juga jejak sejarah.
Pada akhirnya, diskusi ini mengingatkan: bahwa praktik keagamaan tidak berhenti pada seremoni, melainkan harus terus hidup dalam nilai menghormati martabat manusia, merawat ruang aman, dan menjaga kemanusiaan itu sendiri.
Lebih lengkapnya dapat ditilik di youtube mataWaktu https://youtube.com/live/X83l3Z-Nkk8
09/04/2026
Dear kawan Jurnalis,
Ikuti Lomba Foto Jurnalistik Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) "Potret Inspirasi Menuju Keberlanjutan"
Tampilkan momen terbaikmu dalam menangkap isu lingkungan hingga aksi inspiratif cinta lingkungan BLDF bertema:
1. Penghijauan dan pelestarian di sepuluh kawasan candi (kawasan candi Prambanan, situs Ratu Boko dan kompleks Candi Ijo, Candi Gedongsongo, Candi Barong, Sambisari dan Banyunibo, kawasan Candi Dieng, dan kawasan percandian Muarajambi)
2. Terrestrial planting (peran pohon trembesi di jalur nasional pantura)
3. Biodiversity conservation (macan tutul jawa dan elang jawa)
4. Marine and coastal ecosystem (ekosistem mangrove)
5. Organic waste management (pengelolaan sampah organik)
✨ Deadline 30 April 2026 | Pkl.12.00WIB
✨ Dewan juri : Oscar Motuloh (Anggota Dewan Etik Pewarta Foto Indonesia)
✨ 18 karya terbaik akan dipamerkan di Eartform 2026
✨ Total hadiah jutaan rupiah
📸 Daftarkan karyamu sekarang: http://bit.ly/LombaKaryaFotoJurnalistikBLDF2025
25/03/2026
buku foto sebenarnya tidak hanya menyajikan gambar, melainkan juga merupakan hasil dari proses produksi yang melibatkan banyak pihak. Di antara para pembuat dan pengorganisir buku foto terdapat fotografer, editor, penulis teks, penerbit, sponsor, hingga pembaca yang menjadi target publikasi. Setiap peran tersebut memiliki pengaruhnya dalam menentukan bagaimana sebuah narasi visual dibangun. Pemilihan gambar, urutan penyajian, serta konteks teks yang menyertainya dapat memengaruhi cara pembaca memahami foto. Dengan demikian, buku foto bukan sekadar kump**an gambar, melainkan sebuah konstruksi naratif yang terbentuk melalui berbagai keputusan editorial dan relasi kuasa yang menyertainya.
Pada akhirnya yang dapat kita simpulkan dari semua itu, yakni menarasikan Indonesia melalui buku adalah proses yang tidak pernah selesai. Setiap era atau periode akan menghadirkan cara pandang yang berbeda. Namun, yang terpenting adalah buku visual menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah geografis, melainkan juga konstruksi imajinasi kolektif yang terus dibangun melalui gambar, teks, arsip, dan ingatan untuk memahami diri sebagai sebuah bangsa. Semakin banyak buku yang lahir dari perspektif berbeda, semakin kaya p**a bayangan impian kita dari Indonesia yang tercipta.
Artikel mataWaktu bisa dibaca lebih lengkap di matawaktu.org