QuestParenting

QuestParenting

Share

Sinopsis buku QuestParenting

Buku ini menjelaskan secara runtut mengenai kaidah bersikap dan bertin

05/01/2026
04/01/2026

A.R.E.: Kunci Hubungan yang Tetap Terasa Dekat

Banyak pasangan sebenarnya masih saling mencintai. Mereka masih bersama, masih berbagi rutinitas, masih menjalani peran masing-masing.

Namun, ada satu hal yang perlahan memudar: rasa terhubung secara emosional. Hubungan terasa hambar, kaku, atau penuh jarak yang sulit dijelaskan.

Dalam proses couple coaching, kondisi ini sering muncul bukan karena kurangnya usaha, melainkan karena kebutuhan emosional yang tidak lagi terpenuhi.

Di sinilah konsep A.R.E. menjadi kunci penting untuk memahami kembali kedekatan dalam hubungan.

A = Accessibility (Keterjangkauan Emosional)
Accessibility bukan tentang selalu ada secara fisik, tetapi tentang rasa aman untuk mendekat.

"Apakah pasangan kita mudah dijangkau saat kita sedang butuh?
Ataukah ia terasa sibuk, tertutup, atau sulit ditemui secara emosional?
Hubungan menjadi kuat ketika masing-masing merasa, “Kalau aku datang, aku tidak ditolak.”

R = Responsiveness (Respon Emosional)
Banyak konflik terjadi bukan karena masalah besar, melainkan karena perasaan yang tidak direspons.

Responsiveness adalah kemampuan untuk benar-benar mendengar dan peduli pada perasaan pasangan. Bukan menyela, menghakimi, atau langsung memberi solusi, melainkan hadir dengan empati. Kalimat sederhana seperti, “Aku mengerti perasaanmu,” sering kali jauh lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang.

E = Engagement (Keterlibatan)
Engagement berarti tetap terhubung, bahkan saat situasi tidak nyaman.

Tidak menghilang saat konflik muncul, tidak menarik diri saat emosi memanas. Justru di momen sulit itulah keterlibatan emosional diuji. Kedekatan sejati lahir ketika pasangan memilih untuk tetap hadir dan bersama, bukan lari atau membangun tembok.

Dalam couple coaching transformasi diri, A.R.E. menjadi cermin yang membantu pasangan melihat pola hubungan mereka dengan jujur. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memahami apa yang kurang.

Ketika accessibility meningkat, responsiveness membaik, dan engagement terjaga, hubungan perlahan berubah menjadi ruang yang aman, hangat, dan saling menguatkan.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang tahu cara kembali terhubung setelah jarak muncul. Dan A.R.E. mengingatkan kita bahwa kedekatan emosional bukan keajaiban—ia bisa dibangun, dilatih, dan dipulihkan bersama.

Jika Anda dan pasangan merasa masih saling mencintai, tetapi kesulitan untuk benar-benar saling terhubung, proses couple coaching dapat menjadi ruang aman untuk memulainya kembali. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk belajar hadir, mendengar, dan bertumbuh bersama.

💜💜

Info jadwal sesi:
WA: 085 600 849 008
Coaching Transformasi Diri

25/10/2023

GEMA

Dunia di sekitarmu seperti sumur berlubang. Sumur itu menggemakan kembali suara yang kamu teriakkan.

Jika berteriak, “Bodoh,” kamu juga akan mendengar suara yang membalas, “Bodoh, bodoh, bodoh….”

Jika berteriak ke dalam sumur, “Aku menyayangimu,” kamu juga akan mendengar, “Aku menyayangimu, menyayangimu, menyayangimu….”

Jika suatu saat mendengar suara gema (pasangan, anak, saudara, teman, rekan kerja dan orang lain di sekitarmu) yang merisaukan perasaanmu—tanyakan pada dirimu sendiri,

"Apa perkataan yang selama ini aku ucapkan kepada mereka sehingga suara itu kembali menggema kepadaku?

❤️
Salam Coaching Transformasi Diri!
Henry Krijgsman

22/10/2023

Diam-diam aku bisa kembali ke masa lalu dan sekejap kemudian sudah berada di masa depan.

Aku bisa bertemu dengan dirimu tatkala masih kecil dan juga pada waktu kamu sudah tua.

Aku tidak pernah pergi darimu.
Aku bersamamu dari awal hingga akhir.

Siapakah aku?

22/10/2023

Manusia memiliki lima indera (pintu) untuk mempersilahkan tamu (informasi) masuk ke dalam otak.

• Visual (penglihatan)
• Auditori (pendengaran)
• Kinestetik (perasaan)
• Olfactori (penciuman)
• Gustatori (pengecap)

Kelima pintu itu disebut sebagai sistem representasi. Sistem untuk mencerminkan kenyataan di luar (External Representation) menjadi gambaran di dalam benak pikiran (Internal Representation).

Saat ini, dari kelima pintu, visuallah yang paling dominan. Hampir 63% orang menggunakan pintu visual untuk mengamati dunia ini.

Dari dunia visual, kita bisa belajar bahwa orang yang berbahagia cenderung menggambarkan dunia (di dalam pikirannya) sebagai pengalaman yang penuh warna-warni.

Sedangkan bagi yang mengalami stress apalagi yang sudah masuk ke fase depresi, gambaran mereka cenderung berubah menjadi tidak berwarna (hitam putih) bahkan semakin lama berangsur-angsur semakin gelap.

Perubahan warna dan kualitas gambar ternyata mempengaruhi kondisi perasaan seseorang. Gambaran yang berwarna, dengan bentuk yang luas dan lebar, cenderung membuat seseorang merasa bahagia.

Sebaliknya, gambaran yang tidak berwarna, atau abu-abu, dengan bentuk sempit dan sesak, meningkatkan perasaan gelisah dan frustasi.

Inilah sekelumit gambaran cara mengubah kondisi mental-emosional (states) seseorang.

Saat sesi, kelima pintu dicek satu per satu untuk memastikan tidak ada yang terkunci. Barulah proses perubahan gambar dimulai melalui pertanyaan coaching.

Salam Coaching Transformasi Diri!
Henry Krijgsman

22/10/2023

Just be, as you are. Don’t focus on things you have no control over.

22/10/2023

Hanya karena penasaran—APA yang sebenarnya terjadi pada saat kamu mengikuti sesi coaching transformasi diri?

22/10/2023

Coaching Transformasi Diri melatih kekuatan pikiran dan perasaanmu melalui kuasa perkataanmu.

Bagimu, kata-katamu kini tak lagi jadi batu sandungan melainkan batu loncatan.

Langkahmu akan menjadi ringan, tanpa beban, kamu mampu melompat ke tingkat kehidupan yang lebih baik.

Keajaiban itu terjadi hanya dengan duduk bersama, berbicara, menceritakan kisah hidupmu, dan kemudian Tuhanlah yang mengubahmu dari dalam saat momen eksternalisasimu berlangsung.

Keseluruhan proses ini disebut sesi coaching transformasi diri.

❤️
Henry Krijgsman

Part #3

22/10/2023

Eksternalisasi adalah proses memuntahkan keruwetan pikiran dan kesesakan perasaan melalui percakapan (dialog).

Saat berlangsung, proses ini tidak boleh terganggu, karena sekali terusik eksternalisasi akan terhenti. Bayangkan saja, muntahan yang seharusnya keluar justru tertelan kembali.

Pada momen penting inilah, sesi coaching transformasi diri menjamin eksternalisasimu berjalan sesuai keinginanmu.

Tumpukan sampah mental-emosionalmu (trauma) dimuntahkan secara lisan.

Pengalaman melegakan itu tentu tak bisa terwakilkan oleh tulisan singkat ini. Kamu perlu mengalami sendiri perasaan tersebut—barulah bisa merasakan kelegaan yang belum pernah kamu rasakan seumur hidupmu.

Semua beban yang membebanimu menjadi ringan, terangkat dari pundakmu, kamu punya kekuatan mengubah alur hidupmu.

Part #2

22/10/2023

Hanya karena penasaran—APA yang sebenarnya terjadi pada saat kamu mengikuti sesi coaching transformasi diri?

Ada beberapa situasi yang mendorong kamu mengikuti sesi coaching. Mulai dari menata pola pikir hingga keinginan terbebas dari jerat dilema kehidupan.

Kamu perlu tahu, tiap klien menahan bobot persoalan yang berlainan. Ada yang ringan, berat, dan ada juga yang melampaui batas.

Tak ayal lagi, jika itu yang terjadi padamu maka pikiran dan perasaan pun tak kuasa menahan beban seberat itu di dalam kehidupanmu ini.

Sekali lagi kamu perlu ingat, tiap klien punya daya yang berbeda, beda hambatan beda p**a ukuran beban.

Kini masuk ke bagian persoalan, dari sekian banyak permasalahanmu, beberapa tema yang berulang selalu didominasi oleh dua perasaan ini yaitu takut dan khawatir.

Dua emosi purba ini—ketakutan dan kekhawatiran—selalu setia bergandengan tangan, berjalan bersama menyertai umat manusia, di sepanjang sejarah peradaban dunia.

Karena sudah begitu terbiasa ditemani oleh ketakutan dan kekhawatiran, kamu menjadi terbiasa merasakan kehadiran mereka.

Bahkan di saat jaman telah berubah, kehidupanmu jauh dari bahaya, negara menjamin keamananmu—toh secara diam-diam kamu tetap merasakan ketakutan dan kekhawatiran.

Sisi buruk dari hal itu, kamu sering merasakan kepahitan hidup. Tak hanya sekali melainkan berulang kali kamu hanyut terbawa perasaan.

Sebagai manusia, memang itulah dilemamu: kekalutan antara pikiran dan perasaanmu.

Pada saat sesi coachinglah pikiran dan perasaanmu yang selama ini membeku perlahan mulai meleleh—masing-masing punya kesempatan berkeluh kesah tentang ketakutan dan kekhawatiran yang menekan dan menimpamu selama ini.

Proses ini disebut eksternalisasi.

Part #1

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jakarta