Rafatechtv

Call Directions Website Contact the school

Rafatechtv Rasionalitas yang berpijak pada logika dan bukti empiris menjadi fondasi science (ilmu pengetahuan) dalam memahami evolusi dan ontologi (hakikat keberadaan).

Kita telah merdeka secara literal, tetapi belum sepenuhnya merdeka secara esensial.Kita memang telah terbebas dari penja...
19/08/2026

Kita telah merdeka secara literal, tetapi belum sepenuhnya merdeka secara esensial.

Kita memang telah terbebas dari penjajahan secara formal dan memiliki kedaulatan sebagai sebuah bangsa. Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada pergantian bendera, pengakuan kedaulatan, atau terbebasnya suatu bangsa dari kekuasaan asing.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika manusia mampu menentukan nasibnya sendiri, berpikir secara bebas, berdiri dengan martabatnya sendiri, serta terbebas dari kemiskinan, ketertinggalan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai bentuk ketergantungan.

Sebab, sebuah bangsa dapat merdeka secara politik, tetapi belum tentu merdeka secara ekonomi. Dapat berdaulat secara hukum, tetapi belum tentu berdaulat dalam menentukan arah kehidupannya. Dapat terbebas dari penjajahan fisik, tetapi masih terbelenggu oleh mentalitas, struktur sosial, dan ketimpangan yang diwariskan dari masa lalu.

Kemerdekaan bukan sekadar tidak dijajah oleh bangsa lain; kemerdekaan adalah kemampuan untuk menentukan masa depan sendiri.

Karena itu, proklamasi mungkin telah menyatakan bahwa kita merdeka. Tetapi mewujudkan makna kemerdekaan dalam kehidupan nyata adalah pekerjaan yang belum pernah benar-benar selesai.

JANGAN LAGI MENGANGGAP RAJA LEBIH TINGGI DARI KITADi zaman sekarang, kita masih sering menyebut seseorang sebagai "raja"...
16/08/2026

JANGAN LAGI MENGANGGAP RAJA LEBIH TINGGI DARI KITA

Di zaman sekarang, kita masih sering menyebut seseorang sebagai "raja" dan memperlakukannya seolah-olah dia lebih tinggi dari manusia biasa.

Mari kita sederhanakan.

Raja juga manusia.

Dia makan nasi seperti kita.
Dia bisa sakit seperti kita.
Dia bisa salah seperti kita.
Dia bisa tua seperti kita.
Dan dia juga akan mati seperti kita.

Lalu apa yang membuat dia lebih tinggi?

Kalau jawabannya hanya karena dia keturunan raja, itu bukan kelebihan. Dia hanya lahir dari keluarga tertentu.

Tidak ada seorang pun yang memilih lahir sebagai anak raja atau anak rakyat biasa.

Karena itu, jangan menjadikan keturunan sebagai ukuran nilai seseorang.

Kita boleh menghormati sejarah dan budaya. Kita boleh menghargai adat. Tetapi menghormati budaya tidak berarti harus menganggap manusia tertentu lebih tinggi.

Masalahnya bukan pada kata "raja".

Masalahnya adalah ketika kata itu membuat kita berpikir:

"Dia harus dihormati lebih tinggi."

"Pendapatnya pasti lebih benar."

"Kita harus tunduk kepadanya."

"Dia berbeda dari kita."

Padahal belum tentu.

Kalau seseorang memang baik, hormatilah karena kebaikannya.

Kalau dia bijaksana, hormatilah karena kebijaksanaannya.

Kalau dia berjasa, hormatilah karena jasanya.

Bukan karena darahnya. Bukan karena nama keluarganya. Bukan karena leluhurnya.

Feodalisme tidak akan hilang hanya dengan mengganti sistem pemerintahan.

Feodalisme hilang ketika cara berpikir kita berubah.

Berhenti menganggap manusia tertentu lebih tinggi hanya karena lahir dari keluarga tertentu.

Kita boleh menghormati manusia. Tetapi jangan menyembah status.

Karena pada akhirnya, raja dan rakyat sama-sama manusia.

MEMBEDAH FEODALISME DARI KACAMATA ONTOLOGIDi berbagai daerah, masih ada seseorang atau keluarga yang disebut raja, bangs...
16/08/2026

MEMBEDAH FEODALISME DARI KACAMATA ONTOLOGI

Di berbagai daerah, masih ada seseorang atau keluarga yang disebut raja, bangsawan, atau pemegang kedudukan adat. Gelarnya diwariskan turun-temurun, lalu masyarakat memberikan penghormatan khusus.

Tapi mari bertanya secara ontologis:

Apa yang sebenarnya membedakan seorang raja dari manusia biasa?

Apakah tubuhnya berbeda? Darahnya berbeda? Apakah ia memiliki kemampuan membaca pikiran, mengetahui masa depan, mengendalikan alam, atau memiliki kekuatan supranatural hanya karena keturunan raja?

Tidak.

Ia lahir seperti manusia, makan seperti manusia, bisa sakit, menua, dan akhirnya mati seperti manusia lainnya.

Maka gelar "raja" tidak menciptakan manusia dengan hakikat yang lebih tinggi. Ia tetap manusia.

Lalu dari mana kekuasaannya berasal?

Sebagian besar justru dari kepercayaan masyarakat yang mengakuinya.

Ketika masyarakat percaya seseorang istimewa, mereka menghormatinya. Karena dihormati, ia memperoleh perlakuan khusus. Perlakuan khusus kemudian dianggap sebagai bukti bahwa ia memang istimewa.

Terbentuklah lingkaran:

kepercayaan → penghormatan → kekuasaan → legitimasi → kepercayaan.

Di sinilah feodalisme dapat bertahan.

Mengkritik feodalisme bukan berarti membenci budaya. Kita bisa menghormati sejarah, leluhur, dan adat tanpa menganggap keturunan tertentu memiliki martabat lebih tinggi.

Keturunan bukan prestasi.

Jika seseorang bijaksana, hormati kebijaksanaannya. Jika berjasa, hormati jasanya. Jika mampu memimpin, nilai kepemimpinannya.

Tetapi jangan menganggap seseorang lebih tinggi hanya karena ia lahir dari keluarga tertentu.

Tradisi boleh diwariskan. Budaya boleh dilestarikan. Tetapi feodalisme tidak harus ikut diwariskan.

Sebab sebelum menjadi raja atau rakyat biasa, kita semua adalah manusia.

“Jangan Ngomong Pajak, Lihat Dulu Kelakuan Kalian!”DPR buka suara soal gerakan Stop Bayar Pajak?Lucu sekali! Seakan-akan...
04/09/2025

“Jangan Ngomong Pajak, Lihat Dulu Kelakuan Kalian!”

DPR buka suara soal gerakan Stop Bayar Pajak?
Lucu sekali! Seakan-akan mereka paling peduli sama negara, padahal kelakuan mereka sendiri bikin rakyat muntah darah!

1. Tunjangan Naik, Perut Rakyat Turun!
Di tengah rakyat pusing bayar beras, listrik, bensin, DPR malah enak-enakan naik tunjangan. Katanya wakil rakyat, tapi hidupnya malah jauh lebih nikmat daripada rakyat. Gaji, tunjangan, fasilitas, semua numpuk. Coba sekali aja DPR rasain hidup dengan gaji UMR, masih bisa ceramah soal pajak nggak?

2. UU Perampasan Aset, Kok Malah Mandek?
UU ini penting buat ngembalikan duit hasil korupsi yang digarong pejabat dan kolega mereka. Tapi DPR kayak sengaja nahan. Kenapa? Takut kepentingannya kebongkar? Atau jangan-jangan banyak yang ketar-ketir kalau aset haramnya disikat negara?

3. Korupsi Jadi Tradisi.
Rakyat disuruh taat pajak, tapi di Senayan sendiri banyak yang doyan ngutil duit rakyat. Dari suap, bansos, sampai proyek infrastruktur. Kalau sudah ketahuan pun hukumannya sering cuma main-main. Ini namanya rakyat dipalak dua kali: sekali lewat pajak, sekali lewat korupsi!

4. Rakyat Jadi ATM Pejabat.
Pajak rakyat ditarik habis-habisan, tapi baliknya ke mana? Jalan masih banyak rusak, sekolah ambruk, rumah sakit antri panjang. Sementara mobil mewah, rumah elite, dan gaya hidup jetset pejabat malah makin jadi. Jangan salahkan rakyat kalau akhirnya muak!

👉 Jadi DPR, tolong ya, jangan sok paling benar bicara soal pajak.
Buka suara itu gampang, yang susah itu buka hati, buka telinga, dan buka mata lihat penderitaan rakyat!

Kalau kalian mau rakyat patuh bayar pajak, buktikan dulu kalau kalian pantas dipercaya. Jangan minta rakyat taat, sementara kalian sendiri hobi mengkhianati!

Negara Tidak Peduli Kamu NganggurDi negeri ini, rekening yang tidak digunakan selama 3 bulan bisa disita oleh negara.Tan...
02/08/2025

Negara Tidak Peduli Kamu Nganggur

Di negeri ini, rekening yang tidak digunakan selama 3 bulan bisa disita oleh negara.
Tanah yang dibiarkan kosong selama 2 tahun juga bisa diambil alih oleh negara.

Tapi kamu, manusia, yang menganggur bertahun-tahun—tidak ada yang datang menanyakan kabarmu. Tidak ada yang menggandeng tanganmu dan berkata, “Ayo, kita bantu kamu bangkit.”

Ironi ini bukan sekadar sindiran, tapi potret nyata bahwa sistem lebih peduli pada benda mati daripada kehidupan manusia.
Yang tak berfungsi dianggap mubazir. Tapi manusia yang tak diberi ruang untuk berkembang justru dianggap beban.

Kalau negara bisa menyita rekening dan tanah karena dianggap nganggur,
maka seharusnya negara juga hadir untuk menyelamatkan mereka yang kehilangan harapan karena tak punya pekerjaan.

Negara tak boleh cuma menghitung aset.
Negara juga harus menghitung jiwa.

Kepunahan TuhanPernahkah kita bertanya, ke mana para dewa itu pergi?Dulu, Zeus menggelegar di langit dengan petirnya. Ap...
15/07/2025

Kepunahan Tuhan

Pernahkah kita bertanya, ke mana para dewa itu pergi?

Dulu, Zeus menggelegar di langit dengan petirnya. Apollo menyinari bumi dengan kereta matahari. Dewa-dewa Romawi seperti Jupiter, Mars, dan Venus berkuasa atas manusia, perang, dan cinta. Di banyak budaya lain, matahari, bulan, bahkan gunung dianggap sakral—mereka adalah Tuhan bagi orang-orang zaman itu.

Tapi kini? Semua itu hanya mitos. Nama-nama mereka tinggal di buku sejarah, film, dan simbol planet. Tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Tanpa doa, tanpa pemujaan, kekuatan mereka lenyap.

Apa penyebabnya?
Keyakinan berganti – Agama-agama baru muncul, menggeser yang lama.
Ilmu pengetahuan berkembang – Hal-hal yang dulu disakralkan kini bisa dijelaskan logis.
Simbol berubah jadi cerita – Patung Zeus tinggal artefak museum.

Apakah para Tuhan itu mati karena manusia berhenti percaya? Atau mereka memang tidak pernah ada?

Bagaimana jika suatu saat… Tuhan yang sekarang kita sembah pun bernasib sama?

Apa pendapatmu?
Tulis di kolom komentar 👇

RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN KITA BUKAN SOAL FASILITAS, TAPI POLA PIKIRPendidikan di Indonesia sering kali lebih sibuk ...
15/06/2025

RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN KITA BUKAN SOAL FASILITAS, TAPI POLA PIKIR

Pendidikan di Indonesia sering kali lebih sibuk mengurus hal-hal yang tidak esensial.
Rambut terlalu panjang? Digunting di depan umum. Seragam tak lengkap? Disuruh pulang.
Tapi bagaimana dengan rasa ingin tahu siswa? Kemampuan berpikir kritis?
Apakah itu pernah benar-benar diperiksa?

Kita mendidik anak-anak untuk patuh, bukan untuk berpikir.
Untuk menghafal, bukan memahami.
Untuk diam, bukan bertanya.

Kita ingin melahirkan generasi hebat seperti Einstein atau Newton,
tapi kita takut jika mereka mulai mempertanyakan.

Pendidikan bukan soal rambut rapi dan sepatu hitam,
tapi tentang bagaimana membuat anak-anak jatuh cinta pada ilmu pengetahuan.

Kalau masih begini terus, kita akan terus tertinggal — bukan karena tak mampu,
tapi karena tak diberi ruang untuk bertumbuh.

Kenapa Bau Kopi Bikin Mood Jadi Lebih Baik?Ternyata, aroma kopi bisa memicu otak untuk melepaskan dopamin—hormon yang bi...
18/05/2025

Kenapa Bau Kopi Bikin Mood Jadi Lebih Baik?

Ternyata, aroma kopi bisa memicu otak untuk melepaskan dopamin—hormon yang bikin kita merasa senang dan tenang. Bahkan, hanya mencium baunya saja sudah cukup untuk mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.

Ini alasan kenapa banyak orang merasa lebih semangat hanya dengan aroma kopi di pagi hari.

Udah ngopi hari ini?

Gurita Punya 3 Jantung dan Darah Biru!Tahukah kamu? Gurita adalah makhluk laut yang sangat unik. Mereka punya 3 jantung ...
14/05/2025

Gurita Punya 3 Jantung dan Darah Biru!

Tahukah kamu? Gurita adalah makhluk laut yang sangat unik. Mereka punya 3 jantung — dua untuk memompa darah ke insang, dan satu lagi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Yang lebih menarik lagi, darah gurita berwarna biru karena mengandung hemosianin, bukan hemoglobin seperti manusia. Zat ini membantu mereka bertahan di kedalaman laut yang dingin dan miskin oksigen.

Luar biasa banget ya, betapa hebatnya ciptaan alam ini!
Kalau kamu bisa punya satu kemampuan gurita, kamu pilih:

1. Bisa kamuflase

2. Punya 3 jantung

3. 8 tangan buat multitasking

Tulis jawabanmu di kolom komentar!


11/05/2025

Setelah Kirim Anak Nakal ke Barak Militer, KDM Kini Sasar Orang Dewasa Pemabuk dan Tinggalkan Keluarga

Tak hanya untuk anak-anak, KDM justru akan memperluas program tersebut. KDM menyebut akan menyasar orang dewasa dalam rangkan penanganan perilaku buruk yang sulit ditangani.

Menurut KDM, banyak problem orang dewasa yang bisa diselesaikan dengan memberikan pendidikan kedisiplinan baru. Sehingga diharapkan orang-orang dewasa yang bermasalah dapat berubah menjadi baik.

"Problem orang dewasa itu, mabuk setiap hari meninggalkan istrinya kan gak bisa dipidana, orang yang bertengkar di rumah tidak bisa dipidana, orang yang tidak pernah balik ke rumahnya meninggalkan tangung jawab terhadap anaknya kan gak bisa dipidana. Tidak semua hal bisa dipidana.

YouTube: https://youtube.com/shorts/jpebqNFpaLA?si=syLUlYulx7whaYX8

゚

Address

Taruna
Jakarta
13760

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rafatechtv posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Rafatechtv:

Shortcuts

Share

Category