12/07/2021
PENULIS
ROYHAN FIRDAUSY. Lahir di Situbondo. Mengenyam pendidikan Islam di Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) Fakultas Syari’ah Jurusan Ahwal asy-Syakhsiyah. Selanjutnya, belajar di Pesantren Bayt al-Quran untuk memperdalam ilmu al-Quran di bawah bimbingan para pakar, seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Dr. Muchlis M. Hannafi, Dr. Ahsin Sakho, Dr. Ali Nurdin dan Dr. Husnul Hakim, sekaligus melanjutkan studi Ilmu Tafsir di Pascasarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ), Jakarta, hingga meraih gelar magister.
Beberapa karya tulisnya, antara lain: Raja Jatuh Cinta (Suara MQ, 2008), Malikun Naum (Active, 2009), Kiaiku Pahlawanku (al-Qalam, 2017), Siapa atau Bagaimana (as-Shofwah, 2017), Halalkan atau Tinggalkan (Bashish Publishing, 2017), Pelita Sang Ahli Sujud (Quanta, 2017), Mengislamkan Hermeneutika (2018), Bergegaslah (Tinta Medina, 2018), Di balik Kehendak Tuhan (Quanta, 2019), Homoseksualitas (Bashish Publishing, 2019), Malaikat Bertanya Nabi Menjawab (Quanta, 2019), Aku Tak Sempurna, Tapi Luar Biasa (Quanta, 2019).
Untuk berinteraksi dengan penulis bisa ditilik:
Kanal Youtube: Baca Saja
Kontak: 081287074041
Facebook: Royhan Firdausy
Surel: [email protected]
12/07/2021
SINOPSIS
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki tujuan hidup. Manusia tanpa tujuan hidup bak berjalan tanpa arah, yang bisa jadi akan tersesat atau terus-menerus dalam kesulitan. Allah sendiri menciptakan manusia dan makhluk lainnya tidak sia-sia, yang berarti ada maksudnya. Untuk mengetahui tujuan hidup yang sejati, manusia perlu mengenal dan belajar banyak hal. Dan, hal terdekat yang perlu dikenali adalah diri sendiri. Siapa kita? Dari mana asal kita? Lalu, untuk apa atau siapa diri kita?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dan penting tersebut ada dalam buku ini. Lewat penggalian yang tekun dan mendalam terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis Nabi yang berbicara tentang manusia, disertai pandangan pakar tafsir dan hadis baik klasik maupun kontemporer, buku ini membantu kita untuk mengenal diri kita secara tepat dan lebih baik. Tak hanya diri yang fisik, tetapi juga diri yang nonfisik. Dari situlah kita mengenal dunia, karakternya, dan nilai-nilainya, sebagai jalan kita untuk menjadi pribadi yang saleh, berkualitas, dan dicintai Allah.
***
“… buku ini menarik untuk menjadi refleksi bagi peningkatan keberislaman kita yang berkemanusiaan.” —Husein Ja’far Al Hadar, penulis sekaligus Da’i Islam Cinta di Youtube: Jeda Nulis
“Kali ini, Royhan datang lagi seperti biasa dalam tulisannya yang rinci dan runtut, dengan tema bagaimana sesungguhnya posisi manusia di hadapan Tuhan. Dengan sadar posisi itu, maka manusia juga semestinya sadar bagaimana harus mengambil peran yang terbaik selama hidupnya di dunia.” —Kalis Mardiasih, penulis, periset dan anggota Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian
12/07/2021
DATA BUKU
Judul: Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam
Penulis: Dr. Abdul Aziz, MA
Editor: Ahmad Baedowi
Genre: Sosial/Politik
Cetakan: I, Maret 2011
Ukuran: 15 x 23 cm
Tebal: 424 halaman
ISBN: 978-979-3064-98-7
04/07/2021
PENULIS
Prof. Yasonna Hamonangan Laoly, SH., MSc., Ph.D. lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, pada 27 Mei 1953. Ia adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Kabinet Kerja yang menjabat sejak 27 Oktober 2014.
Yasonna memulai pendidikan dasar di SR Katolik Sibolga pada 1959. Enam tahun kemudian, usai tamat dari SR tahun 1965, ia melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sibolga dan lulus tahun 1968. Di kota yang sama, Yasonna menghabiskan masa-masa SMA. Ia masuk ke SMA Katolik Sibolga pada 1968, dan lulus pada 1971.
Cita-citanya yang tinggi membawanya pergi jauh dari rumah. Ia merantau ke Medan, belajar ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, lulus tahun 1978. Lima tahun kemudian, mulai tahun 1983 hingga 1984, ia mengikuti Internship in Higher Education Administration Roanoke Collegedi Salem Virginia, Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan kuliah strata dua di Virginia Commonwealth University. Tahun 1986, Yasonna berhasil menyandang gelar Master of Science (MSc.) di usia 33 tahun.
Dahaga ilmu tak membuatnya berhenti belajar. Di Negeri Paman Sam p**a, ia meneruskan pendidikan strata tiganya di North Carolina State University, Amerika Serikat. Pada 1994, tepat di usia 41 tahun, Yasonna memperoleh gelar Ph.D. dari universitas tersebut.
Kurang lebih 8 tahun kuliah di Amerika, banyak prestasi yang Yasonna torehkan. Ia menjadi salah satu mahasiswa Indonesia yang cemerlang, dan mampu bersaing dengan para mahasiswa dari banyak negara lain di dunia. Yasonna mendapatkan penghargaan Outstanding Graduate Student Award Virginia Commonwealth University pada 1986, mendapatkan penghargaan Alpha Kappa Delta International Sociology Honor Society tahun 1987, dan Sigma Iota International Honor Society tahun 1993.
Puncak akademik ia peroleh di tahun 2019. Melalui SK Menristekdikti RI Nomor 25458/M/KP/2019, terhitung sejak 1 Juni 2019, Yasonna diangkat menjadi Guru Besar dengan jabatan Profesor dalam Bidang Kriminologi pada Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta.
Yasonna mulai bekerja sebagai Pengacara & Penasihat Hukum tahun 1978-1983, kemudian menjadi Pembantu Dekan Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen pada kurun 1980-1983.
04/07/2021
SINOPSIS
Saat pertama dipercaya menjadi Menteri Hukum dan HAM, saya rasakan betul Kementerian Hukum dan HAM ini begitu besar. Ada banyak tugas yang mesti kami emban, yang satu sama lain tak berkait. Sangat kompleks. Persoalan penjara/lapas, misalnya, tak ada hubungan sama sekali dengan urusan imigrasi. Begitu p**a dengan administrasi hukum umum, HAM, perancangan undang-undang, dan kekayaan intelektual, masing-masing punya urusan yang tak saling berhubungan.
Maka, lahirlah kemudian “birokrasi digital”, yang kami yakini bisa menjadi jawaban untuk mengurai seluruh kepelikan yang ada di Kementerian Hukum dan HAM. Kami terus-menerus melakukan inovasi, menghadirkan birokrasi digital hampir di seluruh layanan publik yang menjadi tanggung jawabKementerian Hukum dan HAM. Dengan birokrasi digital, pelayanan menjadi jauh lebih efektif, efisien, cepat, dan akurat. Publik dapat mengakses informasi dari birokrasi sewaktu-waktu, 24 jam tanpa menunggu jam buka pelayanan kantor.
Buku ini ditulis sebagai kado untuk rakyat Indonesia yang kini sudah memasuki era digital. Kehadiran birokrasi digital menjadi sebuah kebutuhan hari ini. Kian meneguhkan babak baru birokrasi Indonesia, babak pelayanan tanpa atap.
***
“Andai terobosan birokrasi digital yang dilakukan Kementerian Hukum dan HAM ini direplikasi oleh seluruh jajaran kementerian/lembaga (termasuk pemerintah daerah), maka akan memberi harapan baru untuk optimalnya pelayanan publik menuju masyarakat bangsa yang sejahtera.”
— Dr. Laode Ida, Anggota Ombudsman RI
04/07/2021
DATA BUKU
Judul: Manajemen Sengketa Partai Politik: Sebuah Ikhtiar Penataan Kelembagaan Politik di Negeri Demokrasi
Penulis: Prof. Yasonna H. Laoly, SH., MSc., Ph.D.
Genre: Hukum/Politik
Cetakan: I, September 2019
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 376 Halaman (2 cm)
Berat: 380 gr
ISBN: 978-602-6577-45-0
30/06/2021
“Buku ini merupakan hasil kajian yang sangat penting bagi khazanah politik Islam, khususnya dalam konteks Indonesia yang sesekali masih berlangsung tarik-menarik antara negara agama dan negara sekuler.” —Prof. Dr. M. Bambang Pranowo
PENULIS
ABDUL AZIZ bin Ahmad Junaidi (lahir di Cianjur pada 24 September 1954) adalah anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI masa bakti 2007-2012. Sebelum menjadi anggota KPU, karier kerjanya di Departemen Agama RI pun boleh dikatakan sukses. Berbagai posisi penting pernah ia jabat, antara lain sebagai Direktur Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah (Ditmapenda) Ditjen Bagais (2002-2005); Direktur Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Ditpekapontren) Ditjen Bagais (2001-2002); Direktur Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum Negeri (Ditbinpaisun) Ditjen Binbaga (2000-2001); dan Sekretaris Ditjen Binbaga (2000).
Riwayat pekerjaannya yang sukses itu ia rintis mulai dengan menjadi dosen tidak tetap mata kuliah Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1975-1981). Aziz juga pernah menjadi awak kabin Garuda dan Merpati pada musim haji (1974, 1975, dan 1979), sebelum kemudian beralih profesi menjadi wartawan majalah Risalah Islamiyah (1979-1981) serta pekerja sosial dan editor bulletin “Bina Desa” INDHRRA (1981-1983). Manajer Program Kependudukan dan KB, LKK PBNU (1983-1986), ini mengawali karier kerjanya di Departemen Agama sebagai Peneliti Sosial pada Balai Penelitian Keagamaan dan Kemasyarakatan (1986-1996). Pada periode 1996-2000, Aziz sempat menduduki jabatan struktural eselon IV dan III di lingkungan Balitbang Departemen Agama. Setelah menempati beberapa pos eselon II di Departemen Agama selama rentang masa 2000-2005, Aziz kembali menjadi peneliti hingga mencapai jenjang Peneliti Utama bidang Agama dan Kemasyarakatan, dan harus non aktif dari pos ini ketika dilantik menjadi anggota KPU-RI pada Oktober 2007. Selesai dari KPU-RI, ia kembali menjadi Peneliti Utama, sampai diangkat sebagai Staf Ahli Menteri Nakertrans bidang Ekonomi dan SDM (2013-2014), lalu pensiun sebagai pegawai negeri sipil pada September 2014.
30/06/2021
SINOPSIS
Para pemikir dan aktivis Islam politik meyakini bahwa pengorganisasian masyarakat Muslim Arab di Madinah pada masa Rasulullah saw dan Khulafair Rasyidun merupakan wujud Negara Islam. Keyakinan ini sejatinya lebih didasarkan pada pemahaman normatif-ideologis—ketimbang historis-sosiologis—atas sejarah Islam awal. Tak pelak, pemahaman ini menempatkan Negara Islam pada posisi sakral, bahkan dianggap tipe ideal bentuk negara yang wajib dibangun kembali oleh umat Islam dewasa ini.
Buku ini menawarkan pandangan baru yang sangat kritis untuk menguji kesahihan keyakinan tersebut. Dengan pendekatan dan metode interpretasi historis-sosiologis, penulisnya memaparkan secara proporsional kontribusi Islam dan tradisi Arab (jahiliah) bagi pembentukan negara (state formation) pada masa-masa awal. Pandangan baru ini membuka ruang pemahaman yang lebih mendekati realitas sebenarnya atas kehidupan masyarakat Muslim Arab masa itu.
Alhasil, penulis menyimpulkan bahwa pengorganisasian kekuasaan pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin bukanlah wujud (final) Negara Islam, melainkan baru sebatas “Chiefdom Madinah”, yakni sebentuk pranata kekuasaan terpusat pra-negara (pre-state) yang jadi sumbu tata kelola masyarakat di Madinah dan wilayah taklukannya. Pengorganisasian kekuasaan pada masa itu menyerap banyak elemen sosial-budaya setempat, bersifat sementara, ad hoc, dan belum menampakkan bentuknya yang matang, di mana Islam dan tradisi Arab jahiliah sama-sama memberi andil bagi Chiefdom Madinah.
***
“Studi tentang Negara Madinah tak pernah habis-habisnya dikaji. Berbagai pendekatan telah dilakukan, ada yang bersifat kritis-historis, ada p**a yang bersifat teologis-normatif. Adakah Negara Madinah itu sebuah doktrin teologis yang bersifat finalistis ataukah eksperimentasi sejarah yang bersifat kondisional? Buku ini menarik dimiliki dan dibaca, Saudara Abdul Aziz menyajikan hasil penelitian ilmiahnya seputar proses pembentukan Negara Madinah yang sangat kaya dengan inspirasi, aspirasi, dan nilai-nilai bagi pembentukan negara modern.” —Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30/06/2021
DATA BUKU
Judul: Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam
Penulis: Dr. Abdul Aziz, MA
Genre: Sejarah
Penerbit: Alvabet
Cetakan: 1, Mei 2016
Ukuran: 15 cm x 23 cm
Tebal: 428 halaman
ISBN: 978-602-9193-85-5
28/06/2021
PENULIS
CHASE F. ROBINSON adalah seorang sejarawan Timur Tengah pra-modern. Pada 1992, ia memperoleh gelar Ph.D. dari Departemen Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Harvard. Tahun 1993, ia bergabung dengan Fakultas Oriental Studies and Wolfson College, Oxford, tempat ia mengajar selama 14 tahun. Ia juga general editor di Cambridge Studies in Islamic Civilization, anggota dewan editorial Past & Present, dan aktif melakukan penelitian dalam bahasa Eropa dan Timur Tengah.
Ia juga sangat produktif menulis, karyanya lebih dari 40 artikel—terkait geografis dan kronologis Timur Tengah dan Islam pra dan awal modern—yang banyak dipublikasikan di The New York Times, The Times Literary Supplement, the Chronicle of Higher Education, Times Higher Education, dan Inside Higher.
Dalam bentuk buku, ia sudah menulis dan mengedit sembilan buku, diantaranya Empire and Elites after the Muslim Conquest (2000); A Medieval Islamic City Reconsidered: An Interdisciplinary Approach to Samarra (2001); Texts, Documents and Artefacts: Islamic Studies in Honour of D.S. Richards (2003); Islamic Historiography (2003) volume pertama The New Cambridge History of Islam (2010); The Works of Ibn Wadih al-Ya’qubi: An English Translation (2017); dan buku terbarunya, Islamic Civilization in Thirty Lives: The First 1,000 Years (oleh Penerbit Alvabet diterbitkan dengan judul Para Pembentuk Peradaban Islam, 2018), melalui karya ini ia dianugerahi Outstanding Academic Title tahun 2017 oleh CHOICE.
28/06/2021
SINOPSIS
Selama seribu tahun pertama, para pemikir agama, pemimpin politik, ahli hukum, penulis, saintis, dan filsuf telah membentuk peradaban Islam. Siapa sajakah mereka? Seperti apa kehidupan mereka? Dan bagaimana cara mereka memengaruhi dunia?
Dalam buku ini, sejarawan Chase F. Robinson menelusuri tradisi panjang dalam keilmuan Muslim untuk menuliskan biografi tokoh-tokoh Muslim terkemuka. Dimulai dari Nabi Muhammad pada abad ke-7 hingga era Timur Lang menaklukkan dunia dan masa kejayaan Imperium Utsmani di bawah Sultan Mehmed II pada abad ke-15. Dari jantung Islam di Mekkah, lalu menjangkau Afrika Utara dan Iberia di barat hingga ke Asia Tengah dan Timur, Robinson menelusuri kebangkitan dan kejatuhan negara-negara Islam tak hanya melalui sosok pemimpin politik dan militer yang bekerja mengamankan atau memperluas kekuasaan, tetapi juga mereka yang mengembangkan hukum Islam, ilmu pengetahuan, dan kesusastraan. Selain tokoh terkenal yang mewarnai lanskap ini—semisal Ali bin Abu Thalib; pahlawan era Perang Salib, Shalahuddin; atau penyair Rumi—ada p**a tokoh kurang terkenal seperti Ibnu Fadlan, yang perjalanannya di Eurasia membawa catatan menarik tentang Vasiga Volga kepada Khalifah Abbasiyah; Karimah al-Marwaziyya, cendekiawan wanita abad ke-11 ahli sunnah Nabi; juga Abu al-Qasim Ramisht, pedagang kaya raya abad ke-12. Dari sini, tampaklah potret menarik masyarakat Islam dalam suatu narasi yang kaya dan beragam.
Inilah bacaan mencerahkan bagi siapa saja yang ingin belajar lebih banyak ihwal peradaban Islam awal. Dilengkapi banyak ilustrasi dan peta, buku ini secara gamblang menggambarkan kehidupan di semua lini dunia Islam pra-modern.
28/06/2021
DATA BUKU
Judul: Para Pembentuk Peradaban Islam: Seribu Tahun Pertama
Penulis: Chase F. Robinson
Genre: Sejarah
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Januari 2019
Ukuran: 15 X 23 cm
Tebal: 388 halaman (2 cm)
Berat: 400 gr
ISBN: 978-602-6577-42-9