Rima Institut Indonesia

Rima Institut Indonesia

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Rima Institut Indonesia, Educational consultant, Jakarta.

Photos from Rima Institut Indonesia's post 19/06/2026

Ada perempuan yang Rasulullah ﷺ datangi langsung ke rumahnya — untuk memerintahkannya menjadi imam shalat bagi seluruh isi rumahnya. Beliau juga yang menetapkan muazin untuk rumah itu.
Namanya: Ummu Waraqah binti Abdillah.
Hafizah. Perawi hadits. Penjaga Al-Qur’an sebelum kodifikasi resmi.
Dan satu lagi: Rasulullah ﷺ menyebutnya al-syahidah — orang yang mati syahid — jauh sebelum kematiannya terjadi.
Ia minta izin ikut Perang Badr sebagai perawat. Rasulullah ﷺ menolak — tapi dengan kata-kata yang mengangkat derajatnya lebih dari keikutsertaan itu sendiri:
“Tinggallah di rumahmu. Sesungguhnya Allah akan memberikan kesyahidan kepadamu.”
Hidupnya diisi dengan menjaga Al-Qur’an, shalat, dan ilmu. Bukan di medan perang. Tapi di rumah yang menjadi tempat ibadah.
Dan Allah memenuhi apa yang Rasulullah ﷺ katakan.
Tag seseorang yang menjaga dalam diam — seperti Ummu Waraqah. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 18/06/2026

Rasulullah ﷺ selalu ingat namamu.
Nama anakmu. Nama hewan peliharaanmu. Hal kecil yang kamu ceritakan berbulan-bulan lalu.
Di era kita saling scroll dan lupa nama orang yang baru kita follow — ini adalah yang paling langka dari beliau.
Anas bin Malik punya burung peliharaan kecil yang mati. Rasulullah ﷺ — jauh kemudian — bertanya: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan si burung kecil?”
Beliau ingat. Bukan karena itu penting secara strategis. Tapi karena Anas penting baginya.
Dan para sahabat berkata: ketika berbicara dengan Rasulullah ﷺ, setiap orang merasa bahwa merekalah yang paling beliau perhatikan.
Hari ini, coba satu hal: hadir sepenuhnya untuk satu percakapan. Tanpa mengintip layar. Ingat satu hal yang dikatakan — dan tanyakan besok.
Itu cara paling sederhana untuk meneruskan akhlak beliau. Geser. 🤍

Komentar pertama:
akhlak islamicreminder renunganislam dakwahislam muslimahIndonesia sejarahislam quoteislam islamicquotes muslimah tarb

Photos from Rima Institut Indonesia's post 17/06/2026

Juwayriyah binti Al-Harits hanya datang untuk satu hal kecil: meminta bantuan menebus kebebasannya sendiri.
Ia tidak datang dengan rencana besar. Tidak punya strategi untuk membebaskan siapapun.
Tapi keesokan harinya, setelah Rasulullah ﷺ menikahinya — para sahabat satu per satu membebaskan seluruh tawanan Bani Musthaliq. Tanpa diperintah. Tanpa diminta.
Mereka berkata: “Keluarga mertua Rasulullah ﷺ? Tidak layak untuk kami tahan.”
100 keluarga bebas. Dalam satu hari.
Aisyah berkata tentangnya: “Aku tidak pernah melihat perempuan yang lebih besar berkahnya bagi kaumnya dari Juwayriyah.”
Kamu tidak perlu punya rencana besar untuk menjadi perantara kebaikan yang besar. Kadang cukup hadir — dan Allah yang menggerakkan sisanya.
Tag seseorang yang hidupnya menjadi berkah bagi banyak orang tanpa mereka sadari. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 16/06/2026

Ali bin Abi Thalib ingin melamar Fathimah.
Tapi ia mondar-mandir berhari-hari — datang ke rumah Rasulullah ﷺ, duduk, diam, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Berulang kali.
Ketika akhirnya ia bicara dan mengakui bahwa ia tidak punya apa-apa yang berarti, Rasulullah ﷺ tidak berkata “tunggu dulu, kumpulkan lebih banyak.”
Beliau bertanya satu pertanyaan:
“Apa yang ada di tanganmu sekarang?”
Ali menjawab: hanya baju besi dari perang.
“Jual itu. Jadikan mahar.”
Baju besi itu terjual. Fathimah menerima. Pernikahan itu melahirkan Hasan, Husain — nama-nama yang disebut dan dicintai umat Islam sampai hari kiamat.
Dari satu baju besi. Dan satu keberanian untuk akhirnya mulai.
Kamu punya apa hari ini? Mulai dari sana. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 13/06/2026

12 orang berkumpul diam-diam di lereng Bukit Aqabah.
Malam hari. Musim haji. Tanpa ada yang tahu.
Mereka bukan tokoh besar. Bukan pemimpin kabilah. Hanya orang-orang yang setahun lalu mendengar dakwah di Makkah — dan memutuskan untuk kembali dengan membawa lebih banyak teman.
Perjanjian yang mereka buat malam itu sederhana: tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mendurhakai Rasulullah ﷺ dalam kebenaran.
Tidak ada yang memberi tahu mereka bahwa malam itu akan ada di buku sejarah 1.400 tahun kemudian. Bahwa dari 12 orang itu, tahun depan akan datang 73 orang — yang membuka jalan bagi seluruh umat Islam untuk berhijrah ke Madinah.
Mereka hanya melakukan apa yang terasa benar — pada malam itu, dengan apa yang mereka punya.
Tidak ada perubahan besar yang tidak dimulai dari malam yang terlihat biasa.
Malam ini, komitmen kecil apa yang bisa kamu buat? 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 11/06/2026

Ummu Habibah binti Abu Sufyan hijrah ke Habasyah bersama suaminya.
Di sana, suaminya meninggalkan Islam. Masuk Kristen. Mulai mabuk. Lalu wafat.
Ia tidak bisa pulang ke Makkah — ayahnya, Abu Sufyan, adalah pemimpin penentangan Islam. Tidak ada yang menunggunya. Tidak ada jalan kembali.
Ia terdampar sendirian di negeri orang — dengan satu putri kecil dan satu keimanan yang tidak pernah ia lepaskan, meski semua “tekanan sosial” mendorongnya ke arah lain.
Lalu Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada Raja Najasyi — meminta Raja menjadi wakil beliau dalam akad nikah. Dari jarak 2.000 kilometer.
Mahar 400 dinar dibayar Raja Najasyi. Akad dilaksanakan di Habasyah. Dan Ummu Habibah menjadi istri Rasulullah ﷺ — tanpa pernah hadir langsung.
Keimanan yang tidak goyah di saat paling sepi — itulah yang paling bernilai. Tag seseorang yang perlu ini hari ini. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 08/06/2026

Rasulullah ﷺ pernah dituduh gila. Penyihir. Pendusta. Oleh ribuan orang. Bertahun-tahun.
Dan cara beliau merespons — tidak ada yang bisa menandinginya.
Ketika Abu Bakar mulai membalas cacian seseorang untuk membela beliau, Rasulullah ﷺ justru berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu.
Abu Bakar bertanya kenapa. Beliau menjawab:
“Selama kamu diam, ada malaikat yang membelaku. Ketika kamu membalas, malaikat itu pergi — dan aku tidak mau duduk bersama syaitan.”
Beliau tidak membalas. Bukan karena tidak bisa. Tapi karena beliau tidak mau memberikan kekuatan kepada seseorang dengan membiarkan raut mukanya berubah karena mereka.
Reaksimu kepada serangan adalah satu-satunya hal yang sepenuhnya dalam kendalimu.
Musuhnya tidak bisa mengendalikan cara beliau merespons. Dan itu yang membuat mereka akhirnya tidak berdaya. Geser. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 08/06/2026

Shafiyyah binti Huyay kehilangan ayahnya, saudaranya, dan suaminya.
Dalam satu hari. Hari yang sama.
Di Perang Khaibar.
Ia menjadi tawanan. Dan di hari yang paling hancur dalam hidupnya, Rasulullah ﷺ menawarkan pilihan: bebas dan kembali kepada kaumnya — atau masuk Islam dan dinikahi beliau.
Shafiyyah menjawab tanpa lama:
“Aku memilih Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada keinginanku untuk kembali kepada Yahudi.”
Bukan pilihan yang dibuat dalam kondisi stabil. Bukan setelah semua tenang.
Ini pilihan yang dibuat di titik paling nol — dan itulah yang membuatnya paling kuat.
Kehilangan tidak selalu mengakhiri sesuatu. Kadang ia membuka ruang untuk sesuatu yang tidak bisa datang selama yang lama masih ada.
Tag seseorang yang perlu kisah ini malam ini. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 07/06/2026

Hari itu, Madinah seperti membisu.
Orang-orang di pasar berhenti berdagang. Di jalan-jalan, orang berjalan tanpa tujuan. Bilal tidak bisa menyelesaikan azannya — suaranya terhenti di tengah kalimat.
Umar berdiri di depan masjid dengan pedang — menolak percaya. Berteriak bahwa siapapun yang mengatakan Rasulullah ﷺ telah wafat akan ia penggal lehernya.
Lalu Abu Bakar datang. Masuk ke kamar. Membuka kain yang menutupi wajah beliau. Menciumnya. Dan berkata:
“Engkau tetap baik ketika hidup dan ketika wafat.”
Kemudian ia keluar dan berkata kepada semua orang:
“Barangsiapa menyembah Muhammad — ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah — maka Allah hidup dan tidak akan pernah mati.”
Kita merindukan seseorang yang tidak pernah kita temui. Dan itu adalah bentuk cinta yang paling dalam.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad. 🤍

Photos from Rima Institut Indonesia's post 06/06/2026

Musa melarikan diri dari Mesir tanpa tahu ke mana.
Tanpa peta. Tanpa uang. Tanpa rencana. Baru saja membunuh seseorang secara tidak sengaja dan mendengar namanya ada di daftar orang yang dicari Fir’aun.
Ia hanya bisa berdoa satu kalimat:
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
Lalu berjalan. Ke arah yang terasa benar.
Dan Allah tidak memberi peta lengkap. Ia memberi satu langkah — lalu menunggu Musa berjalan sebelum memberi langkah berikutnya.
Di Madyan, Musa membantu dua perempuan asing di sumur — tanpa tahu itu akan membuka seluruh babak berikutnya. Beberapa jam kemudian ia sudah punya tempat tinggal, makanan, dan tuan rumah.
Dari satu kebaikan kecil yang tidak ia rencanakan.
Untuk kamu yang hari ini tidak tahu langkah selanjutnya — ambil satu langkah yang ada. Geser. 🤍

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Jakarta