30/05/2026
“Kalau Ujian Matematika Tidak Lagi Melahirkan Coretan, Jangan-Jangan murid Kita Sedang Belajar Menebak, Bukan Menalar.”
Ada fenomena kecil saat ujian untuk mapel Matematika, tetapi maknanya menurut saya besar sekali.
Di meja siswa sudah tersedia kertas buram. Seharusnya ini menjadi alat bantu berpikir: tempat menulis rumus, menghitung, mencoba langkah, mencoret yang salah, lalu menyusun ulang jawaban.
Tetapi sampai ujian selesai, beberapa kertas justru tetap kosong. Bersih. Seolah tidak pernah dibutuhkan.
Di titik itu saya berpikir: ini bukan sekadar soal anak mau pakai kertas atau tidak. Ini bisa jadi gambaran yang lebih dalam tentang bagaimana mereka belajar selama ini.
Matematika seharusnya melatih penalaran.
Melatih anak membaca masalah, memecahnya, menghubungkan informasi, mencoba strategi, lalu menemukan jawaban dengan jalan berpikir yang masuk akal.
Tetapi kalau saat berhadapan dengan soal anak tidak menulis apa-apa, tidak menghitung apa-apa, dan tidak meninggalkan jejak proses apa-apa, maka kita perlu jujur pada diri sendiri: jangan-jangan yang selama ini tumbuh bukan budaya menalar, melainkan budaya menebak.
Menebak pilihan yang paling masuk akal.
Menebak dari bentuk jawaban.
Menebak dari kebiasaan soal-soal sebelumnya.
Menebak dari insting.
Dan ketika budaya menebak lebih dominan daripada budaya menalar, maka ujian bukan lagi ruang pembuktian kemampuan berpikir. Ujian hanya berubah menjadi arena memilih kemungkinan.
Ini tentu tidak adil untuk anak.
Karena mereka terlihat mengikuti pembelajaran, tetapi belum tentu benar-benar dibentuk untuk berpikir mandiri.
Mereka terlihat mengerjakan soal, tetapi belum tentu punya bekal untuk mengurai persoalan.
Kertas buram yang kosong itu akhirnya seperti pesan diam:
anak-anak kita mungkin tidak kekurangan soal,
tetapi masih kekurangan latihan berpikir yang sesungguhnya.
Maka refleksinya bukan sekadar mengapa mereka tidak mencoret kertas.
Refleksinya adalah:
apakah soalnya terlalu sulit?..atau sudahkah sekolah, guru, dan lingkungan belajar memberi ruang yang cukup bagi anak untuk belajar proses, bukan sekadar hasil?..atau Pemerintah yang terlalu memaksakan harus sesuai standar?..
Karena di Matematika, jawaban benar memang penting.
Tetapi jalan menuju jawaban itu jauh lebih penting.
Kalau jalan itu tidak pernah dilatih, maka suatu saat anak akan terbiasa mencari hasil tanpa memahami proses.
Dan itu bukan hanya masalah di ruang ujian.
Itu bisa terbawa ke cara mereka menghadapi kehidupan.
Ss :yuni karisma