10/04/2021
✒ Menentukan Awal Ramadhan
Awal Ramadhan ditentukan dari melihat hilal. Dengan melihatnya sendiri, dari kesaksian orang lain yang melihatnya, atau mendapat kabar tentang terlihatnya hilal.
Maka jika ada seorang 'adl (muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak berakhlak buruk) mengaku telah melihat hilal maka awal Ramadhan sudah bisa ditetapkan dengannya.
Rasûlullâh shallallâhu 'alayhi wasallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمُوْه فَصُوْمُوْا. (متفق عليه)
"Jika kalian melihat hilal maka puasalah" (muttafaq 'alayhi, Al-Bukhâry no.1900, Muslim no.1080)
Apabila hilal tidak terlihat, atau tidak ada seorangpun yang bersaksi telah melihatnya, wajib menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari. Dan tidak bisa ditetapkan awal Ramadhan dengan selain 2 cara ini, melihat hilal atau menggenapkan bulan Sya'ban. Rasûlullâh shallallâhu 'alayhi wasallam bersabda,
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
"Puasalah jika kalian telah melihat hilal, dan iftharlah (hari idul fitri) jika kalian melihatnya. Jika hilal tidak terlihat maka sempurnakan bilangan Sya'ban menjadi 30." (Muttafaq 'alayh, Al-Bukhâry no.1909, Muslim no.1081)
Dan akhir Ramadhan ditetapkan dengan melihat hilal bulan Syawwal dengan persaksian 2 orang 'adl. Jika tidak ada 2 orang 'adl, maka Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.
Sumber : Kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar
✅ Follow akun Baik Berbagi :
▪️Instagram :
▪️Facebook : Baik Berbagi
Semoga bermanfaat