28/10/2021
Tulisan tersebut ditulis oleh seorang pedagang dari Persia yang pada suatu kesempatan mengadakan perjalanan ke daerah Asia Tenggara, pedagang itu bernama Sulayman (851). Ia melaporkan tentang p**au-p**au (Kep**auan Nias) yang ia temui, di mana ia menceritakan bahwa penduduk di daerah itu memakan buah pohon kelapa, menghasilkan tuak, dan membasuh tubuh mereka dengan minyak kelapa. selain itu ia menceritakan adanya suatu kebiasaan atau adat istiadat, di mana jika seorang pemuda ingin menikah, maka ia harus membawa satu kepala musuh yang telah ia kalahkan. Apabila pemuda itu berhasil membawa dua kepala manusia maka ia boleh memiliki dua orang isteri. Selain itu, apabila ia mampu memenggal 50 kepala musuh, maka ia dapat memiliki 50 orang isteri.
Sekitar seratus tahun kemudian. Seorang pelaut bernama Bozorg Van Ramhormoz (950) menulis tentang kebiasaan dan adat istiadat masyarakat Nias kuno. Dalam Kitab Adjaib al-Hind, ia memberitahukan bahwa di Kep**auan Nias terdapat orang-orang Anthropofag. Mereka memenggal kepala-kepada manusia. Apabila jumlah kepala yang dikumpulkan banyak, maka mereka sangat bangga. Selain itu, ia mengatakan bahwa mereka membeli lempengan kuningan dengan harga yang mahal dan menjaganya, karena logam itu bagi mereka sama harganya dengan emas. Terdapat tiga p**au lain yang ada di sebelah Kep**auan Nias yang bernama Barawa. Penduduk p**au itu juga Anthropofag. Mereka menyimpan tengkorak-tengkorak dengan seksama, karena menurut mereka benda-benda itu berharga dan dibutuhkan untuk berdagang.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menjawab Hoax Tentang Adat Pernikahan Suku Nias", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465/617a942b0101901524160d82/menjawab-hoax-tentang-adat-pernikahan-suku-nias?page=2&page_images=1
Kreator: De Geas Official
Kompasiana merupakan Media Warga (Citizen Media) yang mengusung semangat berbagi dan saling terhubung (sharing, connecting)