04/05/2026
Elegi di Ujung Lorong Sekolah
Hari ini lonceng berdentang
bukan sebagai panggilan belajar,
melainkan sebagai genderang perpisahan
yang memecah dada kami perlahan.
Kelas XII,
kalian berdiri di ambang gerbang waktu,
sementara kami—guru-guru tua di pelataran ini—
hanya mampu menahan hujan di pelupuk mata.
Esok tak akan ada lagi suara tergesa
yang memanggil lorong-lorong pagi:
"Ayo cepat, bel sudah berbunyi..."
Tak akan ada lagi langkah-langkah terlambat
yang kami tegur dengan wajah pura-pura garang,
padahal diam-diam kami bahagia
karena sekolah ini masih ramai oleh kalian.
Tak akan terdengar lagi tanya sederhana
yang dahulu terasa biasa:
"Mengapa tidak datang sekolah?"
"Mana catatan?"
"Mana tugas?"
"Mengapa pakaianmu tak sesuai aturan?"
"Mengapa matamu masih berat oleh kantuk?"
"Mengapa tak datang ekstra?"
Ah, kata-kata yang dulu kalian anggap omelan,
ternyata adalah bentuk cinta
yang tak pandai mencari nama.
Esok aula akan sunyi.
Tak ada lagi seruan riang:
"Ayo berkumpul di aula..."
yang menggema seperti burung-burung pagi.
Tak ada lagi tepuk tangan gugup,
tak ada lagi tawa yang pecah
karena candaan kecil di sela pengarahan.
Bengkel akan kehilangan jejak tangan kalian,
lab akan kehilangan napas penasaran kalian.
Mesin-mesin akan diam,
meja-meja praktikum akan menunggu sia-sia,
karena tak ada lagi suara:
"Ayo siap praktik di bengkel atau di lab..."
Wahai anak-anak kami,
kalian mungkin tak pernah tahu,
betapa setiap kenakalan kalian
adalah warna di dinding usia kami.
Betapa setiap pelanggaran kecil kalian
menjadi cerita yang kelak kami rindukan
saat sekolah ini terlalu tertib dan terlalu sepi.
Jika pernah tangan ini keras menegur,
jangan kenang nadanya,
kenanglah niatnya.
Jika pernah suara ini meninggi,
jangan simpan lukanya,
simpanlah doanya.
Sebab guru hanyalah manusia
yang mencintai dengan cara sederhana:
mengajar, menunggu, menasihati,
lalu diam-diam mendoakan
di setiap malam yang panjang.
Hari ini kami melepas kalian
bukan dengan tangan kosong,
melainkan dengan serpih hati
yang ikut kalian bawa ke dunia luas.
Jaga diri kalian baik-baik.
Di luar sana jalan tak selalu rata,
langit tak selalu teduh,
dan manusia tak selalu sebaik sekolah ini.
Namun pergilah.
Tumbuhlah lebih tinggi dari harapan kami.
Menanglah atas takut kalian sendiri.
Jadilah cahaya
di tempat yang mungkin gelap dan asing.
Dan jika suatu hari kalian lelah,
ingatlah:
pernah ada sebuah sekolah kecil GONZAGA MBAY
yang menyebut nama kalian dalam doa.
Bapak dan Ibu hanya mampu berkata
dengan suara yang patah di ujung bibir:
Terima kasih
karena telah mengisi tahun-tahun kami
dengan gaduh yang indah.
Maaf
karena cinta kami sering terdengar
seperti marah.
Terima kasih
Maaf.
Dan...
teruslah berjuang.